
Nayla sungguh bahagia bisa mengenal pria baik seperti Theo. Ia terus memandang cincin berlian yang melingkar di jari manisnya itu sedangkan Theo hanya bisa menatap kekasih hatinya dengan senyuman karena Theo bisa merasakan apa yang saat ini Nayla rasakan.
"Suka?." Tanya Theo.
"Iya, sangat cantik dan ini pertama kalinya aku diberi cincin. Aku sangat bahagia makasih ya sayang." Jawab Nayla.
"Sama-sama syukur kalau kamu menyukainya."
"Jam berapa ini bukan nya ini hari pertama Putra sekolah? Dia udah siap belum ya?." Tanya Theo.
"Oh iya aku sampai melupakan adik ku, ya udah aku cek ke kamarnya dulu ya kayaknya tadi lagi siap-siap dia." Jawab Nayla lagi.
"Dek, udah belum kakak tunggu diluar ya? Nanti langsung ke mobil kakak ipar." Teriak Nayla dan Putra menjawab dengan teriakan juga.
"Iya kak sebentar lagi Putra selesai."
"Hoammm.. udah pagi lagi, malasnya mau bangun dari tempat ternyaman ini. Ahh.. sebentar lagi saja aku bangun." Gumam Meimei kembali melanjutkan tidurnya ia tak peduli dengan keadaan sekitarnya.
"Putra mana? Bukannya kamu tadi ingin menemuinya?." Tanya Theo kembali karena tak melihat adanya Putra disamping Nayla.
"Hehe, sebentar lagi juga kesini tunggu aja ya." Nayla pun masuk ke dalam mobil Theo dan tak lama kemudian Putra datang dengan pakaian seragam yang beberapa bulan ini berada di lemarinya. Nayla melihat Putra dengan bahagia karena adiknya itu masih selamat dan bisa sekolah lagi.
"Putraku.. semangat ya. pakai topi nya dan tetap makan makanan yang udah kakak bawakan dalam tas mu ingat!!! jangan takut dan jangan biarkan teman mu memegang wajahmu oke?." Ucap Nayla dan Putra pun menjawab.
"Baiklah kak aku akan mengingat perkataan kakak dan juga lebih berhati-hati pada wajah baruku ini."
"Emm.. tunggu dulu, seperti kita gak bisa berangkat sama-sama soalnya aku gak bisa nunggu Putra sampai jam sekolahnya usai. Gak apa-apa kan jika ke sekolah nya sama paman Bai?" Ucap Theo dia ingat ada janji meeting pagi ini dengan koleganya dan Nayla sangat pengertian.
"Gak apa-apa koqq sayang kita bisa berangkat sama paman Bai aja. Aku menunggu sampai sekolah Putra usai ya karna ini hari pertama adikku masuk sekolah lagi."
"Iya hati-hati ya, sampai jumpa sore harinya." Jawab Theo dan Nayla hanya tersenyum kemudian ia berangkat ke sekolah Putra bersama supir pribadi dirumah Theo.
Sementara itu Adi sangat bekerja keras dikantornya, di lihat nya semua data yang ada diatas mejanya perlahan memperhatikan setiap kertas tersebut hingga matanya tertarik melihat secarik kertas undangan dari perusahaan Ling Queen Square dan ternyata itu adalah kartu undangan pernikahan Theo dan Nayla.
"Ternyata perusahaan ini juga berkerja sama dengan perusahaan yang dipimpin oleh calon suaminya mantan terindah ku. Apakah aku bisa menyaksikan semuanya? Apakah hatiku udah siap menerimanya? Semua bisa terjawab saat aku hadir di pernikahan nya nanti." Gumam Adi sembari memperhatikan foto Nayla bersama lelaki lain.
Entahlah ia bisa atau tidak menghadiri acara pernikahan mantan pacarnya itu. Mungkin Nayla dan Theo masih belum tahu jika Adi sekarang yang memimpin perusahaan ibunya itu.
"Putra hati-hati jangan berlari, jalan dengan pelan saja." Ucap Nayla karena melihat Putra sangat bersemangat masuk ke dalam kelasnya.
"Kakak besar? Apakah benar aku melihatnya kembali sekolah lagi?." Ucap Qiara dan perlahan Putra menghampirinya.
"Hai Putra senang bisa melihat mu kembali dan belajar bersama kami lagi." Ucap Gita.
"K-kakak besar? Syukurlah kakak udah sembuh apakah Qiara masih bisa jadi teman baik buat kakak?." Sahut Qiara dan Putra pun menjawab nya.
"Iya, aku hanya sedikit tidak nyaman dengan wajahku sekarang tapi kamu tetap menjadi adik kecilku walaupun tak datang menemuiku lagi saat sakit. Dan kakak bilang kamu pergi jauh koqq sekarang ada disini?."
"Kakak besar makin tampan ya nanti juga terbiasa dengan wajah tampan mu itu, aku tidak jadi pergi karena aku ingin terus berteman dengan kakak besar dan paman Adi menyetujui jika kami tetap tinggal disini. Aku bukan tidak mau datang kerumah sakit lagi tapi paman Adi sangat sibuk jadi aku tak bisa pergi sendiri menemui kakak. Kakak.. boleh aku peluk?." Balas Qiara lagi dan ia mendekati Putra.
"Boleh kok tapi jangan sentuh wajahku ya." Jawab Putra dengan senang hati dan mereka pun berpelukan, Qiara sangat senang karena Putra tak menjauhinya ia tak ingin meninggalkan Putra lagi.
"Kakak besar makasih ya udah menyelamatkan Qiara dari kecelakaan itu."
"Tidak apa-apa karena sekarang aku juga udah sembuh kamu jangan mengingat itu lagi ya, jangan khawatir aku baik-baik saja. Oyaa.. makasih udah kasih aku gelang persahabatan sampai kapan pun, aku menyukainya karena bisa dipakai sampai dewasa." Tutur Putra bahagia.
"Haha bukan hadiah spesial hanya sebuah gelang kenangan saja, dan ucapan terimakasih ku kak."
"Hahaha yaudah kita fokus belajar lagi ya."
"Baiklah kak tunggu ibu guru datang oke." Sahut Qiara lagi ia mengeluarkan buku pelajaran.
Di saat teman-teman sekelas Putra menyambut kehadiran Putra dengan senang hati beda di luar kelas karena Nayla menunggu Putra sendirian hingga membuatnya jenuh, ia hanya bisa bermain handphone nya tak coba menghubungi kekasihnya karena takut mengganggu meeting nya.
Tiba-tiba Bu guru Ani menghampiri Nayla yang berdiam diri dengan handphone nya.
"Hai Nayla, sendirian aja nih? Menunggu Putra ya." Sapa Ani dengan basa basi nya dan Nayla pun menoleh ke arah sumber suara itu.
"Ehh Bu guru Ani sedang ada jadwal mengajar ya? Sebentar aja aku menunggu Putra disini takut ada apa-apa dengan wajahnya maklum habis operasi jadi aku tetap jagain dia." Jawab Nayla
"Oh begitu ya, iya nih ada jadwal mengajar hari ini." Balas Bu guru Ani lagi sembari duduk dekat Nayla karena jam mengajarnya belum mulai.
"Bu guru sangat rajin ya datang tepat waktu. by the way gimana nihh hubungan kamu sama Adi? Apakah progres nya udah meningkat? Ehehe.. maaf jadi kepo tingkat dewa nihh." Sahut Nayla yang ingin tahu apakah Adi sudah move on darinya.
"Ahh itu ya, aku udah pernah nyatakan perasaan ku padanya tapi katanya lebih baik jalani saja yang terjadi apa adanya. jika waktunya udah tepat kami akan langsung menikah saja." Jawab Ani mengatakan yang sejujurnya pada Nayla.
"Oh begitu, tapi lebih baik seperti itu sih tunggu beberapa bulan jika Adi gak ada niatan mau mulai hubungan berarti hatinya belum terketuk. Nah.. aku kasih tahu tips nya agar Adi mudah jatuh cinta padamu caranya adalah lebih sering bertemu dengannya, dia kan sangat menyayangi ibunya tapi ibunya telah tiada jadi sesering mungkin kamu ajak Adi ke pemakaman atau lebih sering menemaninya." Ujar Nayla memberi saran pada Ani, ia ingin Adi bisa menerima wanita lain dan hidup dalam kebaikan lebih banyak lagi melakukan hal yang positif.
"Terimakasih ya tips darimu sangat membantu, karena aku dan dia jarang bertemu jadi mulai sekarang aku putuskan untuk terus mendekati nya dan lebih sering bersama nya." Balas Ani dengan senang karena merasa ada teman curhatnya.
Ani sama sekali tak cemburu terhadap Nayla, ia yakin Nayla perempuan yang baik hatinya jadi tak akan merusak kebahagiaan yang ia ciptakan pada Adi nanti nya lagian Nayla sudah memiliki kekasih.
Tak terasa mereka berbincang lumayan lama hingga terhenti saat bel sekolah berbunyi tanda dimulainya suatu pelajaran dan Ani pamit masuk ke kelasnya guna memberikan ilmu untuk anak didik nya itu dan Nayla mempersilahkan Ani berlalu dari hadapan nya. Nayla tetap setia menjaga Putra.