ME AND MY LAST LOVE

ME AND MY LAST LOVE
Chapter 25. Sangat Kacau



Pikiran Adi sangat kacau, ia memendam amarah yang sangat hebat. Adi pergi meninggalkan rumah sakit tersebut lalu mencari udara segar saat malam hari. kakinya melangkah ke sebuah club' malam. Ia ditemani banyak wanita tetapi Adi menolak hingga membuat semua wanita yang mendekatinya menjauh. Adi sangat marah. Ia meminum banyak wine kontrol emosinya tak stabil. hingga membuat nya mabuk.


Lingtheo keluar meninggalkan mall. Ia terasa sangat lapar lalu memutuskan mencari restaurant terdekat di mall.


Ia makan sendiri dalam suasana restaurant yang sudah sepi, tetapi mendengarkan musik klasik yang menemani makan malamnya.


"Kakak. Maaf Meimei baru memberi kabar, Meimei habis pulang dari rumah ibu kecil. di ajak nya makan malam bersama Putra. Masakan ibu kecil sangat enak, Meimei begitu menyukainya. Putra juga baik, ia mau membaca komik bersama ku saat selesai makan." Tulis Lingmei pada sebuah aplikasi pengirim pesan. Ia mengirim pesan tersebut pada Lingtheo. Lingtheo menerima nya beserta foto masakan Nayla.


"Hughh.. dasar anak manja. bilangnya mau langsung pulang ternyata mampir dulu ke rumah Nayla." Balas Lingtheo.


"Masakannya terlihat enak. pasti dirimu banyak makan." Sambung nya.


"Hahaha..' mau bagaimana lagi, masakan ibu kecil sangat enak. kakak coba saja lain waktu makan bersama."


Lingtheo tak membalas pesan Lingmei. Ia melanjutkan makan malam nya yang tersisa sedikit lagi.


Setelah selesai makan, Lingtheo memutuskan untuk pulang. Melihat jam ditangannya sudah larut. Ia melanjutkan perjalanan tetapi belum jauh dari restaurant ia melihat Adi keluar dari mobilnya tepat di gang jalan masuk kerumah Nayla.


"Itu sepertinya pria yang bersama Nayla. mengapa ia bertamu kerumah Nayla saat malam hari seperti ini. pasti Nayla juga sudah tertidur. dia akan menggangu waktu istirahat nya." Gumam Lingtheo.


Sudahlah bukan urusan ku. mengapa aku harus memikirkan orang lain. Lingtheo mengemudi mobil nya dengan santai sambil menikmati musik.


"Tok.. tok.. tok.."


Nayla terbangun mendengar suara pintu rumahnya diketuk. Ia sebetulnya sudah terlelap dalam tidurnya. Tetapi suara ketukan pintu mengganggu nya. Ia pun beranjak dari ranjangnya. Nayla melihat orang yang berada di depan pintu dari jendela rumahnya.


"Untuk apa Adi kesini saat larut malam? Apa ada hal yang sangat penting?" Pikir Nayla sejenak. lalu ia membuka pintu rumahnya dan bertanya pada Adi.


Krekk..


Bau alkohol yang sangat tajam. Membuat Nayla menutup hidung nya.


"Kamu mabuk? Astaga.. kenapa bisa dirimu seperti ini." Ucap Nayla.


"Hahahaha..' wanita sialan, merusak kehidupan ku. Aku membenci mu." Tutur Adi sangat keras. Matanya menatap Nayla dengan tajam. warna merah pada matanya membuat Nayla ketakutan.


"Kamu bicara apa, aku bukan wanita seperti yang kamu ucapkan. Adi kamu tau aku kan. kamu masih sadar kan?"


"Hmm.. emm.. aku benci wanita seperti mu. kenapa Rika menghancurkan keluarga ku. kamu tahu, mamaku sedang berada dirumah sakit dengan kondisi yang sangat kritis."


"Astaga. Tetapi aku bukan Rika. Aku Nayla, kamu sedang tak sadar." Ucap Nayla ketakutan. Ia dengan cepat mencari handphone guna meminta pertolongan. Tetapi belum sampai kamar, rambut Nayla di tarik hingga rontok. Nayla mulai menangis.


"Kakak.."


"Jangan dekati kakak.!!! Putra tutup pintu kamar nya segera, menurutlah perkataan kakak!!! kunci kamarnya. pasang headphone mu. Jangan dengarkan kakak. Akan akan baik-baik saja jika Putra menurut perintah kakak!!"


Putra pun berlari dengan cepat, ia mengunci kamarnya dan memasang headphone pada kedua telinganya. Tetapi ia menangis, melihat kakaknya diperlakukan seperti itu. Putra hanya bisa menuruti perkataan kakaknya.


Ia berdoa pada Tuhan dengan rasa takutnya.


"Lindungilah kak Nayla."


Nayla teriak dengan keras tetapi tak ada tetangga yang memberikan pertolongan.


Ia berlari ke kamar mengambil handphone nya, Adi terus saja memegang tangan Nayla dengan emosi yang tinggi. Ia mencabik-cabik pakaian Nayla dengan ganasnya.


"Adi sadarlah.. jangan lakukan ini padaku.. aku mohon.." Ucap Nayla dengan suara gemetar. tubuhnya begitu ketakutan, Nayla menangis. Lalu memukul kepala Adi dengan tangan gemetar.


"Hahahaha..' kemana kau akan pergi. Aku akan menghancurkan hidupmu di depan papa."


Nayla berada di kamarnya memegang handphone dengan tangan gemetar hebat. Ia begitu ketakutan. Ia menekan tombol telepon tetapi Adi lebih cepat menghampiri nya, handphone nya pun terjatuh. Nayla dilempar dalam ranjang nya dengan keras hingga keningnya membentur sisi meja yang berada dekat ranjangnya.


"Tidak.. jangan.. Adi.. jangan.." Nayla menggelengkan kepalanya menatap Adi.


Ia semakin ketakutan dengan mata Adi yang sangat merah.


"Diamlah.. aku ingin membawamu ke surga. papa tak akan mengetahui nya. kita bisa selingkuh darinya, aku masih muda. aku lebih kuat dari papa. aku bisa memuaskan mu sampai pagi." ucap Adi dengan sangat nafsu.


"Jangan.. aku mohon.."


"Aku tak bisa memberi harga diriku untuk mu, aku.. aku.. tak ingin dengan cara seperti ini. Tolong!! Adi.. jangan lakukan.. aku mohon.."


Pakaian Nayla di robek dengan paksa hingga hanya memakai kaos dalam saja. Adi terus menciumi leher Nayla dengan nafsu sekaligus rasa marah yang hebat.


Lalu Nayla menendang perut Adi dengan keras, ia memberontak saat Adi mencium leher nya. Adi pun terjatuh dari ranjang.


Nayla mencari handphone dan menemukan nya, dengan cepat ia menghubungi Lingtheo. karena hanya Lingtheo yang namanya mudah dicari.


"Tut..Tut..Tut.."


Nayla berlari ke dapur, sembunyi dari Adi. Tetapi dengan cepat Adi menyusul nya.


"Theo..!!"


"Tolong aku.. aku mohon.. aku takut." Ucap Nayla gemetar dengan menangis kencang.


"Halo.. Nay.. aku segera kesana." Lingtheo sangat khawatir ia putar balik arah dengan kecepatan sangat tinggi.


Handphone Nayla diambil Adi lalu di lempar kan nya ke dinding hingga hancur berkeping-keping. Adi memeluk Nayla melanjutkan merobek pakaian Nayla hingga Nayla nyaris tak mengenakan pakaian. Nayla memberontak dengan sekuat tenaganya.


Lalu mereka terjatuh bersamaan. Adi begitu bernafsu melihat Nayla, ia menduduki Nayla yang tertidur dilantai melepaskan bajunya.


"Apakah aku harus merelakan diri dalam keadaan seperti ini. Ini sungguh menyakiti ku. Lingtheo.. tolong aku." Gumam Nayla dalam hati sembari terus memberontak dari Adi.


"Plak!!!"


Adi menampar pipi Nayla agar Nayla terdiam, wajah Nayla memerah atas tamparan Adi. Mulutnya ditutup dengan baju Adi. Sehingga Nayla tak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia menangis dan tak bisa bergerak saat Adi mencium sekujur tubuhnya.


"Tidakkk..."


Teriak Nayla dalam hatinya.


"Seseorang tolong aku..!!!"


Lingtheo berlari dengan cepat, ia sangat khawatir pada Nayla. Ia mengetahui Adi pasti berbuat yang tidak-tidak. "Nayla.. tunggulah sebentar. Aku akan sampai."


Lingtheo mendobrak pintu Nayla dengan keras, hingga para tetangga yang mendengar keluar dari rumahnya.


"Nayla.. Nay.. pria sialan."


Lingtheo memukul Adi dengan sekuat tenaga nya. "Ini pukulan untuk pria seperti mu, ini pukulan karena telah melukai Nayla. Ini pukulan atas apa yang perbuat pada Nayla."


Adi sudah tak berdaya. Ia nyaris pingsan. Beberapa pukulan yang diberikan Lingtheo tak sebanding dengan perbuatannya pada Nayla. Untunglah Nayla masih selamat.


"Maafkan aku.. aku terlambat, aku disini. Tak akan ada yang bisa melukaimu." Tutur Lingtheo menangis melihat Nayla. Ia menutupi semua tubuh Nayla dengan jas nya. Terdapat luka dan lebam di sekujur tubuh Nayla.


"Makasih sudah menyelamatkan hidupku untuk kesekian kalinya. Aku tak apa-apa, Adi belum menodai ku. Karena kamu telah datang." Ucap Nayla dalam pelukan Lingtheo, ia masih merasa trauma atas perbuatan Adi. tapi ia cukup tenang melihat Lingtheo sudah berada dekatnya. Ia memejamkan kedua matanya dalam pelukan Lingtheo.


Tak lama kemudian polisi datang. Lingtheo sudah melaporkan Adi ke polisi atas perbuatannya pada Nayla.


Lingtheo menggendong Nayla ke dalam kamarnya. Mengambil air hangat untuk mengelap semua tubuhnya yang berbau alkohol. Ia tak merasa canggung dalam situasi darurat seperti ini.


Lingtheo melihat banyak luka lebam pada Nayla. Adi sangat kasar padanya.


"Bertahanlah sejenak. Luka nya harus dibersihkan dahulu. Aku akan lakukan dengan pelan agar tak terasa sakit pada lukamu." Ucap Lingtheo sambil meniup luka Nayla, ia mengelap seluruh tubuh Nayla. Lalu mengganti pakaian dengan yang baru. Memberi perban pada luka di kening nya.


Nayla sangat ketakutan sampai ia tak memperhatikan luka pada tubuhnya. Tak terasa keningnya sudah berdarah.


Ia memberikan segelas air minum pada Nayla, membuat Nayla semakin tenang.


Lingtheo menemani Nayla hingga tertidur. Ia juga berbicara pada Putra untuk membuka pintunya.


Putra dengan cepat membuka pintu, ia menangis tersedu-sedu depan Lingtheo.


"Paman baik.. bagaimana keadaan kak Nayla, apakah ia terluka parah. Putra sangat ingin menolong nya tetapi kakak berteriak untuk masuk dalam kamar."


"Tak mengapa, kakakmu baik-baik saja. Sudah jangan menangis ya, Putra sudah benar untuk tidak keluar kamar. kakak sudah tertidur, apakah Putra ingin melihatnya?" Tanya Lingtheo.


"Aku ingin melihat kakak."


"Tapi berjanji lah jangan menangis didepan nya ya. hanya melihat saja."


"Baiklah Putra berjanji"


Mereka pun pergi kekamar Nayla. Putra melihat Nayla yang terluka. Ia merasa sedih tapi menahan tangisnya. Lingtheo memeluk Putra dengan erat.


"Putra ingin menemani kakak."


"Tapi Putra harus tidur, ini masih malam. Jika Putra sakit siapa yang akan menjaga kak Nayla." bisik Lingtheo dengan pelan.


Putra tak menjawab perkataan Lingtheo, ia berlari menuju kamarnya. Lingtheo terlihat bingung ia pun melihat Putra.


"Paman baik, Putra ingin tidur dekat kak Nayla saja. biarkan Putra membawa kasurnya dalam kamar kak Nayla."


"Silahkan saja." Lingtheo hanya melihat Putra menarik kasurnya sekuat tenaga tetapi tak bergerak.


"Paman baik.. Putra tak bisa, apakah paman baik bisa membantu Putra."


Lingtheo pun tersenyum, kemudian ia membawa kasur Putra masuk dalam kamar Nayla. Mereka pun tertidur bersama dalam kasurnya. Tetapi Lingtheo bersama Putra tidur dilantai dengan kasurnya. pintu kamar Nayla dibiarkan terbuka.


*****