
Keesokan harinya...
Cuaca pagi disapa dengan kehangatan mentari tetapi tidak dengan isi rumah Adi. Tiada lagi kehangatan yang tercipta karena masuknya pelakor dalam rumah itu mencoba menguasai semua harta yang seharusnya milik Adi.
Hanya surat wasiat dari mendiang ibunya yang bisa menolong Adi untuk mengambil kembali apa yang seharusnya ia miliki. Adi menunggu kehadiran kuasa hukum dari Ibunda Adi yang sudah berjanji akan datang kerumah Adi pagi ini.
Segelas kopi hangat menemaninya dalam menunggu kuasa hukum tersebut. Tak lama kemudian suara pintu di ketuk mengisyaratkan adanya tamu yang ingin berkunjung, Rika dengan cepat ikut pergi ke ruang tamu karena sebelumnya ia berada dalam kamar suaminya yakni papanya Adi.
Adi dengan cepat membuka pintu dan dilihatnya ada seorang pria dengan setelan jas membawa tas dinasnya. Ia melemparkan senyuman ke arah Adi.
"Selamat pagi pak, silahkan masuk." Sapa Adi.
"Makasih nak, tolong panggilkan juga papa kamu ya bapak menunggu nya disini." Ucap kuasa hukum.
"Baiklah pak silahkan duduk dahulu." Jawab Adi sopan, Rika yang mendengar nya langsung bergegas ke kamar menemui suaminya itu.
"Pa? Ada yang datang sepertinya orang penting, papa di suruh ke ruang tamu ia ingin berbicara juga pada papa." Ucap Rika serius.
"Siapa? Pagi sekali bertamu ke rumah orang. Ah sudahlah Paling orang perusahaan minta tanda tangan." Jawab papanya Adi yang tak ingin beranjak dari tempat tidur nya.
"Emm.. papa temuin aja dulu, siapa tau emang penting. Tapi kayaknya bukan orang perusahaan dech soalnya beliau kenal Adi juga." Balas Rika, ia juga ikut penasaran siapa sosok pria tersebut.
"Ahh.. ya sudahlah ayo kita lihat saja." Tutur papanya Adi, ia pun beranjak dan melihat siapa sosok yang dibicarakan Rika.
Adi menjamu kuasa hukum ibunya dengan secangkir teh hangat dengan pendamping kue lezat. Ia sangat ramah dan bercerita tentang mendiang ibunya Adi, kuasa hukum sedikit merasa iba pada Adi tapi Adi tetap terlihat tegar.
Tiba-tiba mata papanya Adi tertuju pada kuasa hukum ibunya Adi sebut saja namanya Benzema, berdetak kencang jantungnya karena urusan dengan mendiang ibunya Adi belum usai juga.
"Ahh sial!! Mengapa aku sampai melupakan semua harta yang udah aku persiapkan, gara-gara sibuk dengan nafsuku menginginkan tubuh perempuan pikiran ku jadi teralih sampai lupa mengalihkan semua harta yang sebelumnya atas nama Mahira. Habislah diriku kali ini, sangat bodoh.!!!" Gumam papanya Adi. lalu mereka mendekati kuasa hukum tersebut dan semua yang disana ikut berkumpul dalam ruang tamu dengan serius.
"Baik karna semua udah ada disini tanpa membuang waktu lagi saya akan segera membacakan surat wasiat yang di tulis secara langsung oleh mendiang ibu Mahira Bimantara Putra." Ucap Benzema.
"Saya yang bertanda tangan di bawah ini. Nama.."
"Langsung ke inti nya aja pak." Potong Rika
"Baiklah." Sahut kuasa hukum ibunya Adi dan ia pun membaca ke inti dari surat wasiat tersebut.
"Bahwa, saya adalah pemilik yang sah atas harta kekayaan yang meliputi 2 rumah mewah, 3 Vila, dan perusahaan yang bergerak di bidang konveksi dengan saham sebanyak 100% atau semuanya. Dengan ini saya bermaksud mengibah wasiatkan atas harta kekayaan saya kepada Adi Bimantara Putra anak saya dan Mahendra suami saya. Untuk itu adapun pembagian harta kekayaan ini sebagai berikut, 2 rumah dan 2 Vila serta 80% saham perusahaan jatuh kepada anak saya yang bernama Adi Bimantara Putra." Ucap Benzema dengan tegas.
"Tunggu dulu!! Gak bisa gitu dong ini gak adil. Yang selama ini bertanggung jawab penuh atas perusahaan itu kamu pa, kenapa jadi milik Adi sahamnya. Yang 80% seharusnya atas nama Mahendra, bapak Benz salah baca pasti ya." Ucap Rika yang langsung menolak keras menyelesaikan isi dari surat wasiat tersebut. Ia begitu marah karena semua harta jatuh pada Adi.
"Stop!! Mohon maaf terganggu silahkan dilanjutkan lagi pak. Saya ingin mendengar semua yang ditulis ibu saya semasa hidupnya tolong yang tidak ada kepentingan jangan berisik." Tegas Adi.
Rika sangat kesal pada Adi yang sok berkuasa dan tidak terima atas isi surat tersebut. Ia bergumam dalam hatinya. "Yang benar saja masa Mahendra gak bisa jadi ahli waris nya bakalan miskin dong. Ahh... Massa aku harus kerja lagi, tidak! Aku akan mengambil semua bagian dari Mahendra."
"Sebuah vila seisinya dan 20% saham perusahaan dijatuhkan kepada suami saya Mahendra. Saya berikan hak serta kekuasaan untuk memegang, mengurus, dan menguasai semua harta peninggalan saya. saya tulis dalam keadaan sesadar-sadarnya tanpa paksaan siapapun. untuk melaksanakan surat ini saya menitipkan kepada bapak Benzema selaku notaris." Ucap Benzema menyelesaikan tugas nya. Dan Adi sangat terharu karena sejauh ini Ibunda nya mempersiapkan semua untuk masa depan nya.
"Mungkin bapak salah, selama ini saya tidak pernah melihat istri saya bisa menulis. Ini tidak sah, anda bisa saya tuntut ya." Ucap Mahendra padahal sudah tahu bahwa surat wasiat itu benar ditulis oleh Mahira tapi ingin terlihat baik di depan Rika.
"Betul itu, orang selama ini juga Mahira penyakitan." Sambung Rika yang membuat Adi mengepalkan tangannya.
"Maaf surat wasiat ini benar adanya tidak bisa di ganggu gugat dan bersifat mutlak kalau begitu saya pamit dulu jika tidak ada kepentingan lagi." Sahut Benzema dengan tegas.
"Makasih banyak pak, lain kali saya akan menjamu bapak dengan persiapan lagi hati-hati dijalan pak." Jawab Adi dengan senyuman dan Benzema pun membalas senyum lalu pergi meninggalkan rumah Adi. Adi berbicara kepada papa nya yang terlihat shock harta selama ini ia nikmati akan segera sirna. Rika hanya terdiam tetapi merencanakan sesuatu untuk kedepannya.
"Jika papa masih ingin tinggal disini silahkan tetapi aku gak ingin ada perempuan murahan ini berada dirumah ibuku."
"Apa??? Aku sekarang ibu sambungmu sopan sedikit kalau berbicara, lagian aku juga gak sudi tinggal serumah dengan anak durhaka seperti kamu." Sahut Rika dan Adi melimpali nya lagi
"Anda bilang sopan? Haha.. lihatlah dirimu sekarang, apa tergambar seperti orang yang memiliki sopan santun? Sangat hina."
Rika kesal dan ingin menampar Adi tetapi berhasil dihalau papanya Adi dan ia berkata
"Ayo kita pergi dari rumah ini, masih ada Vila tempat kita tinggal."
"Tunggu!! Untuk besok dan seterusnya aku yang akan memimpin perusahaan, papa hanya bisa bekerja sebagai wakil direktur." Ucap Adi.
"Haishhh kamu jadi miskin pa!!!. Jual aja sahamnya untuk modal aku ingin buka usaha butik." Jawab Rika mempercepat aksinya ingin mengambil semua bagian Mahendra yang diberikan Mahira.
"Tapi kamu tidak pernah terjun ke dunia usaha gitu, apa bakal maju?." Sahut Mahendra.
"Hmm.. aku pernah kerja di mall sedikit banyaknya masih mengerti dunia fashion." Balas Rika lagi.
"Ya sudah, segera mungkin aku akan minta staf perusahaan untuk mencairkan dana nya. Adi? Kamu dengarkan? Papa ingin menjual semua saham papa padamu. Tolong di percepat pembayaran nya." Tutur Mahendra dengan mudahnya.
"Baiklah, kalau begitu jabatan papa disana hanya karyawan biasa. Karena udah gak ada lagi saham papa disana, aku gak mungkin mempekerjakan orang biasa dalam lingkup rahasia perusahaan." Perkataan Adi sangat menyakitkan bagi Mahendra
Tapi dia hanya bisa menerima semuanya.
Rika sama sekali tidak peduli dengan perasaan Mahendra, yang ada dipikiran nya ingin secepatnya memiliki harta warisan suaminya itu.