
Setelah membeli es cream. Nayla memutuskan untuk pulang saja, tetapi Putra masih ingin bermain. Lalu mereka pun bermain sampai matahari terbenam.
"Kakak.. Putra bahagia bisa selalu bersama kakak. Putra tak akan pergi meninggalkan kakak,Putra berjanji akan selalu menemani kakak."
"Adikku.. kakak pun begitu, selalu ada Putra membuat kakak mengerti kehidupan, membuat kakak percaya. bahwa hidup adalah kebahagiaan. saat bersama orang yang kita anggap sangat berarti. setidaknya kakak punya alasan, mengapa kakak hidup di dunia ini. Itu karena adanya Putra." Tutur Nayla.
Pikiran Nayla kemudian tertuju pada Adi. Mengapa ia tak bisa dihubungi? Lalu Nayla mencoba menghubungi nya kembali tetapi hasilnya nihil. Ia tetap tak dapat kabar dari Adi. Setelah tadi pagi, ia belum juga menghubungi ku.
Putra yang melihat kakaknya seperti sedang berpikir banyak lalu mendekati nya dengan cepat. Tangan nya berayun-ayun depan wajah Nayla. Kenapa kakak melamun. Apa yang dipikirkan nya.
"Kakak...!!!!"
Teriak-an Putra membuat orang lain menoleh ke arah nya. Mereka melihat Putra dengan pandangan kebingungan.
"Astaga.. sayang.. dirimu membuat semua orang kaget." Ucap Nayla dengan lembut sambil memegang kepala Putra.
"Sudahlah mari kita pulang."
"Hmm.. Baiklah."
Disamping itu...
Lingmei bersiap diri untuk mengunjungi kakak iparnya tersebut. Ia pergi bersama Lingtheo, sebetulnya ingin memperkenal kan ibu kecil nya tetapi ia merasa takut mengganggu waktu istirahat ibu kecilnya. Kemudian memutuskan untuk tidak bersama ibu kecil.
"Kakak, aku ingin membeli beberapa jenis buah dahulu. Kakak bisa berhenti sebentar depan supermarket." Ucap Lingmei dengan terburu-buru.
Tak lama kemudian mereka berhenti pada supermarket yang sangat megah. Lingmei masuk sendiri saja dengan keadaan tergesa-gesa, ia berlari kecil mencari keberadaan buah.
"Wahh.. ini dia buahnya." Lingmei mengambil buah apel. saat diambilnya, tangan Lingmei tersentuh sebuah tangan yang lebih besar, ia menoleh kan pandangan nya. Menyusuri tangan siapa yang ia pegang, Ternyata tangan seorang pria yang sedang tersenyum melihatnya.
"Maaf. Aku tak sengaja. Silahkan kakak ambil saja apelnya." Ucap Lingmei.
"Hahaha..' santai saja." Balasnya tenang.
Lingmei hanya tersenyum. Ia bergegas mengambil banyak buah, takut kakaknya terlalu lama menunggu. Jadi, ia tak ingin banyak berbicara pada pria itu.
Setelahnya mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit. Dimana, Jia Li dirawat dengan lamanya.
Lingtheo berjalan menghampiri ruang khusus Jia Li, tetapi saat berjalan ia melihat Adi yang sedang duduk tepat di depan disebuah ruangan. Lingtheo berpikir bukan nya ini pria yang bersama Nayla tadi pagi. Mengapa ia disini, siapa yang sakit? Terlihat wajahnya sangat sedih. Apa aku telepon Nayla saja, tapi ini sama sekali tak ada hubungannya dengan ku. Sebaiknya aku tak ikut campur.
Lingtheo berhenti diruangan khusus Jia Li dirawat. Tangannya menyentuh pintu agar terbuka. Ruangannya sangat besar terdapat televisi dan lemari pendingin didalamnya. Ada sofa yang empuk, sangat lebar sehingga bisa untuk tidur saat ada yang lelah menjaga pasien nya.
"Kakak.. Meimei datang." Teriak Lingmei menghampiri Jia Li sambil memegang sekeranjang buah segar.
Mata Jia Li yang tertutup rapat kemudian perlahan membuka matanya. Jia Li berusaha beranjak dari tempat tidur nya tetapi kondisinya sangat lemah.
Wajah pucat, Mata sayu, sangat kurus, rambutnya yang rontok dan keringat sebesar biji jagung di sekujur tubuhnya.
Ia terdiam memandang Lingmei, kondisinya begitu memprihatinkan. Terdapat kabel dan selang yang menancap dalam tubuhnya. Bahkan saat buang air kecil saja Jia Li harus memakai selang yang terdapat pada saluran kemihnya.
Wanita itu sudah tak ada semangat untuk hidupnya, dokter sering kali memberinya obat tidur agar ia bisa istirahat dengan tenang tanpa menyakiti tubuhnya. Rasa depresi yang amat dalam ia rasakan, ingin mengakhiri hidupnya.
Penyakit nya tak kunjung ada kesembuhan, itulah sebabnya ia sangat memaksa Lingtheo untuk mencari penggantinya.
Jia Li menderita kanker serviks. dimana
Kanker serviks adalah kanker yang muncul pada sel-sel di leher rahim. Kanker ini terjadi saat ada sel-sel di leher rahim alias serviks yang tidak normal, dan berkembang terus dengan tidak terkendali. Sel-sel abnormal ini dapat berkembang dengan cepat, sehingga mengakibatkan tumbuhnya tumor pada serviks. Tumor yang ganas ini kemudian akan berkembang dan menjadi penyebab kanker serviks.
Jia Li sudah melakukan operasi berkali-kali dan memang tak mudah untuknya menjadi sembuh kembali. Penyakit ini perlu memakan waktu lama agar sembuh kembali. Rasa sakit yang amat sangat menyiksa nya bertahun-tahun, membuat Lingtheo tak tega untuk meninggalkan nya.
"Kakak, Meimei datang bersama kak Theo. Kak Jia pasti merindukan kakak ku kan? Ia sudah datang menemuimu."
"Aku.. su.. dah.. tak kuat, segera mencari penggantiku dalam hidupmu. bawalah wanita itu pada diriku, aku tak mampu menahan rasa sakitnya terlalu lama."
"Biarkan aku tenang menjalani kehidupan ku di alam lain, kamu bahagialah di kehidupan mu selanjutnya. Aku tak bisa menemani.. mu.."
"Kenapa selalu ini yang kau ucapkan. perkataan mu membuat ku sedih. Aku tak bisa jatuh cinta pada wanita lain." Tutur Lingtheo sedikit kesal atas ucapan yang di lontarkan Jia Li.
"Kakak bicaralah dengan pelan, kak Jia hanya ingin kau bahagia dengan kehidupan mu." Sahut Lingmei.
"Meimei berkata benar, aku tahu kau hanya merasa kasihan atas diriku. bukan mencintaiku hanya peduli pada kesehatan ku. Aku tahu, semenjak diriku tak bisa selalu berada disamping mu. saat itu juga rasa cinta mu perlahan menghilang sedikit demi sedikit."
"Bukalah hatimu untuk wanita lain. Aku akan merasa bahagia jika kau melakukan nya untukku." Ucap Jia Li dengan nada yang sedikit pelan. Ia berbicara tentang keinginan nya.
"Aku kan memikirkan nya. dan beri aku waktu untuk itu. sembari menunggu kesembuhan mu." Balas Lingtheo.
"Kakak, beristirahat lah. Jangan terlalu banyak memikirkan kak Theo. Meimei akan membantunya untuk mencari penggantimu." Sahut Lingmei.
Jia Li hanya tersenyum kecil melihat Lingmei, kemudian Lingtheo mengupas buah perlahan memotong nya hingga menjadi bagian kecil, lalu memberi suapan pada Jia Li.
"Meimei setelah ini, minta Bai untuk menjemputmu, kakak masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan di mall. Jangan pergi tanpa meminta izin pada kakak ya." Tutur Lingtheo.
"Hoamm.. baiklah, Meimei ingin tidur sebentar sambil menunggu kakak menjaga kak Jia." Lingmei berbaring di sofa lalu menggeliat kan tubuhnya.
Lingtheo mengusap wajah Jia Li dengan pelan kemudian Jia Li perlahan tertidur kembali. Dipegang nya tangan Jia Li yang semakin mengurus membuat nya sedih. Ia sebenarnya tak ingin mencari wanita lain, Jia Li sangat menginginkan nya. Lalu Lingtheo berpikir untuk mewujudkan impian terakhir dari pasangan nya ini.
Sementara itu Adi sangat sedih melihat mamanya dalam keadaan kritis, akibat pertengkaran Adi bersama papa nya.
Dengan lancang papanya memukul Adi tepat di depan mamanya. Membuat mamanya pingsan hingga dibawa ke rumah sakit. kondisinya semakin memburuk membuat mamanya menjadi kritis. Adi sangat marah saat melihat papanya membawa Rika tinggal dirumahnya. sungguh manusia tak ada hati, beraninya membawa wanita lain ke dalam rumah tangganya.
Lingtheo keluar sejenak. Ia sudah tak melihat keberadaan Adi yang sedang terduduk tadi. Maksudnya, Lingtheo ingin mendekatinya dan bertanya tetapi ia sudah tak terlihat ditempatnya semula.
Ia pun masuk ke dalam lagi.
"Meimei bangunlah, kakak ingin pergi sekarang yaa. kamu masih mau disini atau ikut pulang. kakak harus menyelesaikan beberapa pekerjaan dahulu." Bisik Lingtheo dengan pelan.
"Aku ingin pulang saja. apa tak mengapa meninggalkan kak Jia yang sedang tertidur. Meimei belum berpamitan tapi tak tega membangun kan tidurnya."
"Tak mengapa, sebelum ia tertidur. kakak sudah mengatakan semuanya."
"Baiklah. Paman Bai sudah menunggu kak. Meimei makan dirumah saja. kakak jangan lupa makan dulu ya."
"Iya, setalah ini kakak akan makan dahulu. kasih kakak kabar jika sudah sampai rumah." Ucap Lingtheo.
Mereka pun meninggalkan Jia Li yang masih tertidur. dan Lingtheo melanjutkan pekerjaan nya munuju mall.
Semua pekerjaan ia lakukan hingga larut malam termasuk melihat hasil dari pengambilan gambar pakaian brand yang di iklan kan nya. Ia juga melihat fotonya bersama Nayla.
Lalu mengambil selembar foto tersebut kemudian menyimpan dalam buku catatan. Entah mengapa ia melakukan itu. Lalu ia berbicara.
"Tolong pasang gambar ini dengan banner terbesar, lalu tempelkan pada dinding samping mall ini. lakukan pekerjaan ini dengan sebaik mungkin." Ucap Lingtheo memberikan tugas pada manager, lalu manager berkata.
"Ini sangat bagus, orang-orang akan melihatnya. pakaian couple memang sering kali menjadi incaran para kaum muda. tetapi kita juga mengeluarkan pakaian couple khusus orang tua."
"Saya akan melaksanakan perintah bapak sesuai yang bapak inginkan. Apa tak masalah jika wajah bapak terlihat menjadi bintang iklan sendiri."
"Tak masalah. biarkan para saingan kita mengkritik perusahaan kita, aku tak peduli atas perkataan orang lain. Yang terpenting perusahaan kita tetap menjadi nomor satu China." Balas Lingtheo menaikkan sudut bibirnya.
"Karena semua tentang pekerjaan sudah kita bahas, maka dari itu saya cukupkan sampai disini saja." Ucap Lingtheo beranjak dari tempat duduknya.
"Terimakasih pak." Sahut manager sembari mengantar Lingtheo keluar ruangan rapat.