
"lalalallaaa, syalaalaaa" gumam Lingmei berlari kecil menuju ruang Putra. Yaa, ia sekarang sudah berada dirumah sakit dengan semangat nya. Tapi siapa sangka di ruangan Putra tidak terlihat siapapun yang menunggu disana. Membuat Meimei sedikit hilang semangat nya padahal sangat ingin tahu kabar terbaru hubungan kakaknya itu.
"Haishhh, koqq sepi sihh? Kemana kakak membawa ibu kecil ya? Sudah jam segini masih belom ada kabarnya juga. Aku benar-benar di lupakan."
"Hmm.. okelah tunggu sebentar lagi aja mungkin mereka sedang dijalan. Tapi inikan hari pertama mereka memiliki hubungan, apa akan dihabiskan malam ini dengan kebahagiaan. Hughh.. tenang Meimei, mereka gak akan mungkin bersenang-senang dalam keadaan salah satu dari anggota keluarga nya sakit. Yapp, benar seperti ini saja mikirnya. Lagian belum tentu juga ibu kecil menerima cinta kakak, hahaha.. ternyata aku telah meremehkan kakakku sendiri, aku akan sangat tertawa saat ada seorang wanita yang menolaknya. Secara selama ini ribuan bahkan jutaan wanita mengejar dia. Tapi kakak hanya bisa mencintai satu wanita saja dalam hidupnya. Hoamm, aku jadi memikirkan nya sampai mengantuk. Lebih baik tidur dulu sambil menunggu mereka datang. Untunglah kakak sudah memesan satu kamar di rumah sakit ini khusus keluarga istirahat. Tidur dirumah sakit juga bukan masalah besar bagiku."
Meimei pun berjalan menuju kamar yang disampingnya terdapat ruangan Putra, ia tetap menjaga Putra tak pulang kerumahnya. Lingmei pun tertidur dengan nyaman, disamping kenyamanan tidur Lingmei terdapat Adi yang sangat khawatir pada kondisi ibunya.
Dikabarkan kini, kondisi ibunya Adi semakin memburuk dan Adi sangat gelisah tak berhenti dia bolak balik berjalan menunggu kabar ibunya di depan ruang unit gawat darurat. Wajahnya cemasnya tak bisa disembunyikan lagi. Dia lebih panik hari ini saat tau ibunya kembali kritis karena biasanya dia hanya bisa menerima semuanya. Sudah biasa baginya mendapatkan kabar seperti ini, tapi hari ini dia benar-benar dalam kekhawatiran.
Tak lama kemudian...
Ceklek!! Terdengar suara pintu terbuka. Dan Adi langsung sigap menoleh ke arah suara, keluar seorang dokter setengah baya dengan keringat di bagian wajahnya. Seperti habis melakukan pekerjaan berat, wajahnya sedikit tak nyaman saat melihat Adi yang sudah dari tadi menunggu.
"Dokter? Bagaimana keadaan ibu saya dok?" Sambut Adi dengan cepat. Ia sudah tak sabar menunggu kabar ibunya itu. Dokter sangat berat menjelaskan nya. Ia dapat merasakan kesedihan yang Adi rasakan tetapi sebagai dokter ia harus tetap menyampaikan nya.
"Nak Adi yang tabah ya, saya sudah melakukan tugas saya sebaik mungkin tapi saya bukan pemegang takdir, jika Tuhan ingin mengambil nyawa seorang maka dengan mudah dilakukannya. Turut berduka cita nak, semoga kamu dikuatkan oleh takdir ini." Ucap dokter dengan menepuk bahu Adi yang saat itu terdiam membisu, sedetik kemudian dia histeris.
"Dokter!! Anda bicara apa!! Tidak mungkin... Ini tidak mungkin dokter!!!, Coba periksa lagi dokter, anda salah. Mama gak mungkin tiada. Huhuhuhu..."
Adi merasa sangat terpukul, apakah ada sakit yang luar biasa dari sakitnya kehilangan. Bahkan dunia ikut menangis ketika kamu kehilangan orang yang kamu sayangi, itulah yang dirasakan Adi.
Ia melihat ibunya lalu memeluknya dengan kencang, tubuh itu digerakan sehebat mungkin tak akan pernah bisa bergerak lagi, raga yang ditangisi nya itu sudah tak bernyawa lagi. Kini Adi mengalami sakit yang luar biasa, tapi tak ada seorang pun berada di sampingnya. Ia sendiri dalam kesedihan.
"Mamaaaa... Kenapa secepat ini Ma, aku masih butuh mama disampingku, untuk siapa aku hidup kalo bukan untukmu. Tapi kenapa kau malah meninggalkan ku dalam kesendirian. Mamaaa.."
Adi terus menangis sejadinya, semua orang yang pernah kehilangan pasti akan merasakan juga.
Waktu menunjukkan pukul 02.00 dan saat itu juga Meimei terbangun dari tidurnya.
"Hoammmm, jam berapa ini? Haduhh kakak belom juga kembali. Kemana dia hari ini, ku coba telpon dech. Mau jam berapa kesininya sihh." Gerutu Lingmei sendiri, ia siap menelpon kakaknya itu.
"Haishhhhhh... Apakah dipikiranmu kakak bisa melakukan hal seperti itu?"
"Mungkin aja, lagian bukan masalah jika sepasang kekasih melakukan suatu hubungan intim, atau kakak ditolak sama ibu kecil ya? Hahahaha.."
"Heyyyy... Mana mungkin ada wanita yang bisa menolak pesona kakakmu ini, bahkan seorang putri bangsawan pun akan terpesona pada kakak."
"Haiyooo.. percaya dirinya sangat tinggi, tapi memang sesuai kenyataan sihh, jadi kenapa gak melakukan nya? Bukannya sudah lama kakak gak merasakan gairah cinta, eakkk.."
"Ya ampun, kau sangat bisa berbicara seperti ini pada seorang kakak laki-laki. Untunglah kau punya kakak sebaik aku, aku gak akan mungkin melakukan nya saat wanita itu belum siap, kau tau kan? Kakak begitu menghargai seorang wanita."
"Ohh iyaa juga yaa, terus sekarang jadi dimana? Kenapa ibu kecil belum kembali? Aku dirumah sakit sendiri jaga Putra. Baik sekali diriku ini."
"Di kantor, Nayla sedang tidur. Aku sengaja gak mengganggu nya dulu. Ia terlihat lelah, biarkan dia istirahat dulu. Jangan ganggu, besok kami akan kesana ya." Jawab Theo.
"Oh begitu, ya sudah. Tapi kenapa kakak masih terjaga jam segini? Sedang apa?"
"Kerja."
"Ya Tuhan, kutuklah kakakku ini yang gak bisa jauh dari kerjaan. Sudah larut loh, jaga kesehatan mu kak. Jangan terlalu keras pada diri sendiri. Istirahat sekarang ya, yang cukup."
"Hmm.. seperti biasa adikku ini pasti akan mengatakan awalan yang pahit, walaupun sangat perhatian. Ya sudah, kau juga istirahat lah. Telepon aja kalau ada apa-apa ya. Setelah ini kakak akan tidur." Jawab Theo.
"Nah, gitu dong.! Hidup dihabiskan bekerja terus, bagaimana bisa...." Tut Tut Tut sambungan telpon pun tertutup. Lingmei menghembuskan nafasnya.
"Hughhh... Kakakkkkkkkk.. beraninya mematikan telpon saat aku berbicara, dasarrr.."
Dibalik kekesalan Lingmei ada senyuman dalam wajah Lingtheo. Kemudian dia tertidur disamping Nayla. Hanya tidur saja bukan seperti yang dikatakan adiknya itu.