ME AND MY LAST LOVE

ME AND MY LAST LOVE
C44. KE MALL



Qiara berlari kencang meninggalkan semuanya karena begitu sedih melihat keadaan Putra.


"Nay, aku pamit dulu ya. Qiara kayaknya sedih banget karena ini." Ucap Adi yang melihat Qiara semakin menjauh dari pandangan nya.


"Iya Di, gak apa-apa nanti juga Qiara lupa dengan semuanya, masih anak kecil. Sesaat sedih nanti ada teman baru udah lupa lagi tentang hari ini kan?"


"Iya sih, mungkin aku terlalu mengkhawatirkan mereka. Oya, sekali lagi aku minta maaf atas kesalahan ku padamu." Sahut Adi.


"Emm, yaa. Kamu hati-hati disana ya. Besok aku juga akan ke Jepang bersama Theo."


Mendengar ucapan Nayla, Adi jadi penasaran apa hubungan mereka. Karena Nayla selalu bersama pria tersebut. Sekarang bilang ingin ke Jepang. Pasti ada apa-apanya diantara mereka.


"Wah, ada apa nih? Koqq bisa samaan kita. Jangan bilang kamu mengikuti ku ya. Hahaha'.."


"Yaa kali aku mengikuti mu sampai sejauh itu, aku kan mau menikah sebentar lagi. Jadi, Theo kan keturunan Jepang China. Di Jepang ada keluarga nya juga. Selain itu ingin melihat Xinyue, anak perempuan yang akan menjadi anak sambung ku."


"Secepat ini kamu melupakan semua tentang kita Nay, baru beberapa bulan kita berpisah. Dengan mudahnya kamu bicara menikah di depanku. Hatiku akan senang jika kamu menikah denganku tapi aku sadar akan kenyataan bahwa kamu benar-benar akan menikah dengan pria lain, kejadian itu.. betul-betul membuatmu berpaling dariku. tapi jika dengannya kamu lebih bahagia maka, aku hanya bisa melihat kebahagiaan mu walau hatiku sakit." Batin Adi menatap dalam Nayla.


"Adi? Kamu mendengarkan ku?."


"Oh yaa, aku dengar koqq. Selamat kalau begitu ya, jadi dia seorang duda? Kamu mencintainya?"


"Yaa.. aku sangat mencintainya, aku juga gak tahu kenapa begitu mudah rasa ini tumbuh." Jawab Nayla, "mungkin karena dia jauh lebih baik dari kamu Di, gak cukup waktu lama untuk berpaling darimu. Kamu hanya masa lalu yang gak akan pernah aku ingat lagi." Gumam Nayla dihatinya.


"B-baiklah kalo gitu, aku juga senang dengarnya. Udah dulu ya, mungkin semuanya udah menungguku disana. Semoga Putra cepat sembuh." Ucap Adi meski rasa itu sakit tapi dia tetap bisa tersenyum.


"Yaa.. sampai jumpa lagi yaa Di, semoga kamu cepat mendapatkan pengganti aku ya." Balas Nayla.


"Semoga kita gak akan pernah ketemu lagi, karena aku gak akan kuat melihat mu bahagia dengannya. Gak semudah itu mencari pengganti mu Nayla." Gumam Adi dalam hati, ia tak membalas perkataan Nayla hanya melemparkan senyum palsu yang menutupi kesedihannya.


Tak terasa waktu udah menunjukkan pukul satu siang, Nayla bergegas pergi mencari makan sekalian membeli gaun untuk makan malam bersama pria yang sangat dia cintai itu.


"Hughhh... Akhirnya aku ada kesempatan untuk pergi dari rumah sakit. Pulang kerumah dulu dech setelah nya pergi ke mall melihat gaun." Gumam Nayla berjalan meninggalkan rumah sakit. Kemudian menunggangi sebuah mobil yang dipesannya lewat aplikasi online.


Sementara itu...


"Untuk rencana ke depan nya tolong koordinasi kan lagi mengenai pakaian model terbaru, ciptakan juga gaun yang indah untuk pernikahan. Aku ingin bagian perancangan harus sebaik mungkin mendesain nya dengan unsur kelembutan, mewah dan elegan. Gunakan warna yang sakral dan menciptakan nuansa romantika." Ucap Theo di meeting kali ini, mereka yang mendengar kan turut mencatat juga. Tak ingin melakukan kesalahan.


"Baiklah pak, saya rasa kalau ada kendala kami selaku staf bisa menyelesaikan tugas ini sebaik mungkin bagaimanapun juga semua bekerja saling membantu. Untuk laporan laba-rugi akan segera di sampaikan pihak keuangan." Sahut manager lalu disambung staf accounting lain nya.


"Bapak tenang saja ya, selama ini kondisi perusahaan selalu mengalami peningkatan, membesar peluang pemasaran juga sangat menguntungkan bagi perusahaan. Kami sudah bertahun mengabdikan diri bagi perusahaan karena perusahaan ini juga memiliki integritas yang sangat baik untuk karier bagi karyawan seperti kami. Juga gaji dan bonus diluar sepadan dengan kinerja kami. Saat ada masalah dengan cepat kami menyelesaikan semua itu."


"Baiklah, rapat kali ini saya tutup dan kalian bisa kembali ke ruangan masing-masing." Ucap Theo singkat kemudian mereka perlahan meninggalkan ruangan rapat guna melanjutkan pekerjaan mereka kembali. Terlihat raut wajah senang saat mereka keluar dari ruang rapat.


Bagaimana tidak, Theo sangat memprioritaskan kepentingan karyawan nya. Membuat suasana nyaman dan baik dalam memimpin. Jika ada masalah ia juga tak segan membantu menyelesaikan.


Itulah mengapa perusahaan nya selalu menjadi nomor satu di negara nya. Banyak juga yang ingin bekerja sama dengannya, tapi Theo selalu memilih kolega sesuai pemikiran nya sendiri tanpa campur tangan staf yang lainnya. Ia pun bergegas turun ke lapangan melihat langsung kondisi perusahaan nya.


"Semuanya silahkan dirapikan, jangan sampai ada yang berantakan karena pemilik dari mall ini akan berkunjung." Ucap supervisor mengarahkan karyawan yang bekerja di mall tersebut.


Mereka dengan cekatan merapikan tempat nya dan berdandan agar terlihat rapi dan menarik.


Tiba-tiba Nayla juga datang ke mall tersebut karena hanya mall itu tempat terdekat dari rumahnya dan ia juga merasa rindu suasana tempat nya bekerja itu. Ia datang bukan untuk bekerja melainkan mencari gaun untuk makan malam bersama pemilik mall itu. Tentu dengan menyamar agar Theo tak melihatnya.


Memakai sweater di musim panas kali ini Nayla merasa sangat tidak nyaman dan kaca mata hitam yang menutupi matanya agar tak terlihat jelas wajahnya. Kemudian ia bertemu dengan Rakha yang sedang stand by di counter yang ia jaga.


"Sussstttt.." Nayla mendesis ke arah Rakha.


Rakha ternotifikasi dengan suara itu ia menoleh dan di perhatikan nya seseorang yang aneh. Melihat ia melambaikan tangan ke arahnya Rakha bergumam sambil memperhatikan nya terus.


"Siapa sih? sangat aneh, tapi aku datangin saja mungkin dia butuh bantuan."


Tak lama kemudian..


"Ada yang bisa kami bantu sis?" Ucap Rakha sopan.


"Ada, bisa bawakan saya ke counter gaun malam? Karena saya tertarik membeli gaun." Bisik Nayla.


Rakha seperti mengenal suara itu tapi ia tetap profesional dalam bekerja. Diantarnya Nayla ke sebuah koleksi gaun malam yang indah dan memiliki banyak warna. Nayla melihatnya dengan mata terpanah. Ia bingung memilih yang mana karena semua terlihat bagus dengan bahan terbaik.


Tentunya dengan harga yang lumayan juga, satu gaun bisa menghabiskan satu bulan gajinya. Ia geleng-geleng kepala melihat harganya tapi harus membelinya karena tak ingin membuat malu kekasihnya. Nayla bukan berasal dari keluarga kurang mampu, ia terlahir dengan serba ada. Tapi takdirnya lah yang merubah nya menjadi orang biasa. Sejak kematian kedua orangtuanya ia tak pernah membeli pakaian untuknya.