ME AND MY LAST LOVE

ME AND MY LAST LOVE
C63. Langit malam



"Meimei?." Rakha terkejut karena tak menyangka bertemu Meimei untuk ketiga kalinya dan ternyata lamunan Rakha kala itu menjadi jawaban atas doa nya. Ia berpikir jika Meimei adalah wanita yang dikirim Tuhan untuknya.


"Eh.. kalian sejak kapan saling mengenal?." Tanya Nayla dan mereka saling tatap sembari tersenyum.


"Hehe, di pemakaman. Ceritanya panjang Nay, Oyaa.. aku kesini untuk memberi mu ucapan selamat atas pernikahan mu." Ujar Rakha.


"Makasih sudah datang Rakha. Ada Adi juga tuh." Balas Nayla sembari mengambil bingkisan dari Rakha tak lama kemudian Marissa muncul dibalik badan Rakha.


"Selamat ya atas pernikahan nya. Suami mu sangat tampan ya, kamu beruntung sekali." Sambung Marissa lalu Rakha melihat siapa suami Nayla.


"Loh bapak? Ehh maaf maksudku bapak adalah pemilik Grup Ling Queen Square kan? Jadi Nayla menikah dengan pemilik mall tempatnya bekerja?." Tanya Rakha dengan perasaan tak menyangka jika Nayla bisa menaklukkan hati sang CEO.


"Ya. Terimakasih sudah datang ya." Ucap Theo singkat karena ingin terlihat berwibawa.


"Oh begitu, aku sangat bahagia bisa datang di acara pernikahan bapak dan pernikahan ini sungguh megah." Jawab Rakha.


"Hahahaha.. biasa saja. Nikmati lah makanan nya ya." Balas Theo tersenyum.


"Ibu kecil, dia siapa?." Tanya Meimei.


"Teman, aku gak nyangka kamu sudah mengenal Rakha." Jawab Nayla.


"Ahh itu biasa aja, Oyaa... Rakha dia siapa?." Tanya Meimei menunjukan Marissa.


"Kenalin aku pacarnya Rakha." Balas Marissa dengan menyodorkan tangannya tetapi Meimei hanya diam saja.


"Jangan bikin malu, aku bukan siapa-siapa kamu. Dan gak akan pernah menjadi siapapun dalam hidupmu." Bisik Rakha pada Marissa.


"By the way mengapa kau memanggil Nayla dengan sebutan ibu kecil?. Kamu siapanya Nayla?." Tanya Rakha dan Meimei tak menjawabnya.


"Hahahaha.. dia adalah adik ipar ku. Adik dari suamiku. CEO tampan yang menjadi keberuntungan ku." Puji Nayla bahagia mengenal Ling Theo.


"Emm.. aku rasa panggilan itu gak bisa ku gunakan lagi, sekarang aku menjadi adik ipar mu jadi harus memanggil mu dengan benar." Ucap Meimei lesu.


"Pelan-pelan saja nanti juga terbiasa dek." Ujar Theo dan Nayla hanya tersenyum.


"Oh jadi Meimei adiknya bapak Theo ya. Aku gak pernah tahu jadi mohon maaf." Sambung Rakha.


Rakha memanggil Theo dengan sebutan bapak untuk menghormati bahwa Theo adalah atasan nya dan Theo pun tak keberatan untuk itu.


"Oyaa.. kalau begitu kalian mengobrol saja dulu ya. Aku dan Nayla harus menyapa kolega lainnya." Balas Theo yang hendak pergi dari tempatnya semula dan mereka hanya mengiyakan nya.


"Haishhh.. ya sudah kalian silahkan mencicipi makanan disini ya. Aku pergi dulu." Ucap Meimei sembari meninggalkan Rakha dan Marissa.


"Dia jodohku, aku harus mendekatinya." Batin Rakha mencari cara agar Marissa tak mengikuti nya selalu.


Ingin menyusul keberadaan Meimei, Rakha malah di cegah oleh Adi yang saat itu baru saja melihat kedatangan Rakha dan juga Marissa.


"Ehh ada Rakha, udah lama disini? Koqq aku baru lihat." Sapa Adi sembari memegang sepiring kecil kue tart yang baru saja diambilkan oleh Ani.


"Adi? Oh itu aku baru aja datang. Bagiamana kabarmu? Gak jadi pindah ke Jepang kah?."


"Seseorang menahanku disini bagaimana bisa aku pergi begitu saja. Hihihi.."


"Oh begitu ya, sangat cantik. Kapan menyusul Nayla hehe.."Puji Rakha setelah melihat Ani.


"Ini juga lagi proses menjemput jodohku, kalau begitu biarkan aku pergi menemui nya ya." Ujar Rakha yang ingin beranjak pergi.


"Heiii... Kau pergi kesini bersama seorang wanita bagaimana mungkin kau meninggalkan nya begitu saja." Balas Adi karena melihat Rakha datang bersama Marissa.


"Dia bukan siapa-siapa ku, mengapa aku harus peduli. Lagian enggak ada yang menyuruhnya untuk ikut bersama ku." Ucap Rakha dan Marissa yang mendengar nya merasa sakit hati.


"Apa mungkin aku memang gak bisa membuat Rakha jatuh cinta padaku, haruskah aku pergi dari hidupnya? Tapi hati ini selalu ingin berada dekat dengannya. Aku akan berjuang sekali lagi agar hatiku benar-benar mengerti bahwa apapun yang kita inginkan jika takdir berkata tidak maka tidak akan pernah terjadi walaupun hatiku tulus mencintai nya." Batin Marissa pergi dari hadapan mereka karena sangat malu dan sedih dengan perkataan Rakha.


"Kasian wanita itu ya." Ucap Ani yang melihat Marissa pergi meninggalkan mereka.


"Sudahlah jangan menghawatirkan nya ya, jika seseorang gak bisa mencintaimu maka jalan terbaik adalah melupakannya. Memang sakit tapi lebih sakit jika bertahan tanpa dianggap." Tutur Adi dengan kata-katanya yang bijak.


"Begitu ya, kalau aku akan terus berusaha membuat nya jatuh cinta padaku." Balas Ani.


"Tergantung waktu, mungkin Rakha sudah berusaha untuk mencintainya tapi tetap gak bisa. Jika udah tau alasannya seharusnya wanita itu akan mengerti bahwa cinta gak bisa dipaksakan."


"Emm.. iya juga sih, berusaha juga ada batasnya ya. kalau terlalu memaksakan itu artinya bukan cinta tapi terobsesi pada keinginan nya yang sangat ingin memiliki Rakha." Ucap Ani lagi.


"Ya sudah kita bercerita tentang hubungan kita aja. Biarkan mereka menyelesaikan dengan sendirinya." Tutur Adi dan Ani pun tersenyum.


Sementara Rakha terus mencari keberadaan Meimei yang entah pergi kemana. Hampir semua tempat telah Rakha datangin hanya untuk melihat apakah gadis itu ada disana atau tidak.


Hingga berada lah Rakha pada tempat terakhir yang ditujunya adalah rooftup gedung yang tinggi dan megah itu. barulah mata Rakha melihat sosok wanita cantik yang sedang membaringkan tubuhnya tanpa peduli itu kotor atau bersih. Ia menatap langit yang indah pada malam hari sama seperti Rakha yang selalu memandang langit menitipkan kerinduan nya pada Rina.


"Ternyata kamu disini. Aku mencarimu ke semua tempat dan ini adalah pencarian terakhir ku." Ujar Rakha memandang Meimei dengan tulus.


"Mengapa mencariku? Apa aku telah membuatmu jadi rindu?." Tutur Ling Mei tersenyum kemudian ia beranjak duduk dan Rakha mendekatinya lagi.


"Hahaha.. ternyata kau sangat narsis ya. Mengapa mencari tempat gelap dan sunyi?."


"Karena aku sangat lelah ditengah keramaian."


"Oya? Bukan karna cemburu sama Marissa." Tatap Rakha dan Meimei menjawab lagi.


"Hahaha.. mengapa aku cemburu? Pertama bertemu denganmu keadaan mu saja masih gak bisa menerima kepergian Rina kan?."


"Ehh.. iya juga ya. Syukurlah kamu mengerti karena aku sama sekali gak suka dengan Marissa. Sudah berulang kali aku memarahinya dan bersikap kasar tapi tetap saja dia mengikuti kemanapun aku pergi. Entahlah mengapa dia begitu terobsesi denganku membuatku makin ilfil aja."


"Mungkin karna dia gak bisa dapatin hatimu jadi dia berusaha keras agar kau menerima nya dengan rasa kasian. Tapi aku yakin koqq kalau kamu bukanlah pria yang berbelas kasihan pada orang lain. Kau terus melakukan sesuatu berdasarkan pikiran dan hatimu." Sahut Meimei dengan cerdas karena bisa menebak hati setiap orang yang berada dekatnya.


"Mungkin benar apa katamu. Dan aku berjalan kesini juga karna pikiranku mengatakan jika aku harus menjelaskan ini padamu. Emm.. suka langit malam hari ya?." Tanya Rakha.


"Suka, karena aku melihat kedamaian dalam langit di malam hari. Sangat cantik dengan bintang dan bulan yang selalu menemani nya membuatku mengerti bahwa dunia gak seindah langit malam."


"Sama sepertimu sangat cantik. Tapi sulit digapai seperti langit dan hanya yang berada di langit lah yang bisa mengatakan jika bumi itu indah. Aku setiap malam melihat langit karena aku yakin Rina berada disana diantara bintang-bintang malam. Walaupun sudah gak bisa digapai tapi aku akan selalu mengingat kenangan nya."


"Kamu pria yang baik, siapapun itu yang memiliki mu gak akan cemburu pada masalalu mu karna gak ada yang lebih menyakitkan daripada kehilangan."


"Hahaha.. makasih telah menghiburku." Ucap Rakha semakin kagum dengan sifat Meimei. Biasanya seseorang akan marah atau tak suka jika membahas masa lalu serta menganggap itu tidak penting tapi pemikiran Meimei sangat berbeda dari yang lain. Ia sangat mengerti Rakha.


Keduanya tersenyum memandang langit yang sama tetapi dengan hati yang belum saling memiliki. walaupun memiliki kepercayaan yang sama dengan takdir berkata, jika kalian berjodoh maka langit pun tak bisa memisahkan cinta diantara kalian. Untuk itu biarkan waktu yang menjawab semuanya karena dengan seiring berjalannya waktu takdir itu dibentuk.


****