ME AND MY LAST LOVE

ME AND MY LAST LOVE
C60. Sang mantan



Seorang perempuan yang sangat lemah terus menatap pintu ruangan di rumah sakit yang sudah jadi tempat tinggalnya itu berharap orang yang dinantikan nya menunjukkan batang hidungnya akan tetapi hari berlalu minggu pun di lewatinya hingga beberapa bulan berlalu tidak ada kabarnya juga.


"Apakah benar dia melupakan ku? Apakah perceraian itu sangat membuat nya marah? Theo.. aku menunggumu disini mengapa kau tak pernah datang lagi untukku? Aku sangat sedih atas ini, aku tak berharap kau akan meninggalkan ku sejauh ini, bercerai bukan berarti memutuskan ikatan pertemanan yang sudah kita bangun sejak kecil. aku sangat merindukanmu dihari terakhir ku menjalani kehidupan." Ucap Jia Li mantan istri Theo atau lebih tepatnya ibu kandung dari anak perempuannya Theo.


"Tidak bisakah engkau memberikan kesan baik disaat-saat terakhir ku, tak lama lagi operasi terakhirku akan berjalan dan kau tak menemui ku walaupun sebentar saja. bukan seperti ini yang aku inginkan darimu, berpisah. aku sangat ingin kamu bahagia itulah mengapa aku mengambil keputusan cerai dengan mu, hikss.. siapa yang akan peduli pada wanita penyakitan seperti ku ini aku akan mati lalu untuk apa juga Theo datang kesini, iya aku akan mati hahaha hiksss.."


Keadaan nya sangat frustasi ia tak punya harapan untuk hidup lebih lama lagi, dan juga tidak bisa menyalahkan takdir ataupun mantan suaminya itu. Dulu Theo sangat ingin menemani nya setiap hari dan yakin jika suatu penyakit pasti ada obatnya tapi Jia sendiri lah yang membuat Theo berhenti memberi harapan padanya.


"Dokter bisakah kau suntik mati saja tubuhku ini, aku tidak ingin hidup lagi dokter!!!" Teriak Jia Li dalam kelemahan dan dokter terus memberikan Jia semangat dalam hidupnya.


"Mohon bu Jia jangan pernah bicara yang tidak baik begini, saya akan berjuang membuat Bu Jia sembuh kembali dan saya yakin bu Jia bisa melawan penyakit ini bersabarlah sebentar lagi sakitmu akan hilang dan sehat seperti sedia kala. fokus dan tenangkan dirimu, baiklah aku coba periksa lagi ya." Sahut dokter dengan sabar.


"Aku merasa sudah tak ada keberuntungan dalam hidupku bahkan di saat-saat terakhir ku, aku hanya sendiri disini hidupku sangat sepi dan sudah tak berarti jadi untuk apa aku hidup, semoga operasi terakhir ini membawa kematian biar aku bisa merasakan hilang dari dunia ini." Keputusasaan itu membuat Jia mendahului apa yang sudah ditakdirkan, memang setiap kehidupan pasti akan mengalami kematian tapi bukan berarti putus harapan dari setiap usaha karena setiap usaha yang kita lakukan akan membuahkan hasil yang baik jika dalam diri ditanam niat yang baik.


Dokter sudah tak bisa berbicara apa-apa lagi dengan pasien yang sudah berputus asa atas kesembuhan nya, dia hanya bisa menjalankan tugasnya dengan sebaik mungkin untuk hasil nya murni diserahkan kepada sang pencipta.


Support keluarga sangat penting dalam diri nya tetapi Jia Li berasal dari anak broken home jadi orang tuanya tak pernah ada untuknya karena telah memiliki keluarga masing-masing dan Theo lah yang selama ini selalu ada untuknya.


"Tenang lah bu Jia, saya akan membuatmu lebih nyaman lagi ya." Ucap dokter sembari memberikan suntikan yang di dalamnya terdapat kandungan obat tidurnya. Tak lama Jia pun tertidur nyenyak.


Sementara itu Xinyue sangat bersemangat melakukan operasi nya ia sudah tak sabar melihat dunia dan orang-orang yang sangat disayanginya.


"Oma berapa hari lagi Yuyu dapat melihat?."


"Eemm.. sebentar lagi, Yuyu sangat siap untuk operasi ya Oma doakan semoga diberi kelancaran agar Yuyu segera melihat Oma."


"Yey terimakasih Oma Yuyu berjanji akan selalu menemani Oma dan berlibur bersama Oma jika sudah dapat melihat ya." Sahut Xinyue.


"Hahaha.. anak baik tapi sebentar dulu ya Oma harus kasih terapi untuk pasien Oma. Yuyu diam disana ya jangan pergi jauh." Ucap nenek.


Profesi yang ditekuni oleh nenek adalah ahli terapi akupunktur, setiap saat sibuk dengan menyembuhkan berbagai penyakit tidak termasuk kanker ganas yang hinggap di tubuh Jia Li. Hanya sakit ringan yang berhubungan dengan syaraf dan kesuburan wanita.


Disamping itu Xinyue sangat bergembira karena sebentar lagi dapat melihat dunia begitu juga dengan Adi karena Ani setiap saat berusaha selalu ada untuknya membuat Adi sangat bahagia.


"Qiara? yuk makan bersama bu guru. masakan kamu sangat lezat aku sudah habis dua porsi besar sudah lama aku gak makan sebanyak ini. makasih ya Ani jadi merepotkan mu sampai masak segala untukku, masakan mu sama seperti masakan ibuku sama-sama lezat. Terakhir kali aku makan masakan ibu saat sekolah menengah pertama usai. Abis itu ibuku sakit dan gak bisa menggerakkan tubuhnya karena penyakit stroke." Ujar Adi.


"Baguslah jika kamu suka aku akan lebih sering masak untuk mu dan Qiara, aku janji akan terus berada di sampingmu Di." Jawab Ani.


"Gak apa-apa aku mengerti maksudmu begini juga udah membuatku nyaman." Balas Ani tersenyum.


"Seperti yang Nayla ajarkan padaku bahwa aku harus tetap berjalan bersamamu berada disampingmu terus menggenggam tanganmu agar kamu gak pernah merasa sendiri lagi. itulah yang bisa aku lakukan untukmu supaya hatimu terketuk dan aku bisa memiliki nya." Gumam Ani dalam hati.


"Ehh, sejak kapan paman Adi pulang? bukan nya sedang bekerja ya. Qiara sampai mengantuk menunggu paman pulang hoammm.. tetapi tidak bisa tidur nyenyak karena lapar. Hihihi.." Ujar Qiara.


"Hahahaha.. tidurnya terlalu lama makanya jadi lapar dech, ayo sini dekat paman. bu guru Ani sudah masak banyak makanan untuk Qiara." Sahut Adi yang melihat Qiara baru bangun dari tidurnya.


"Haishhh.. Qiara sudah tahu paman, kan pulang sekolah bareng Qiara tadi siang dan Qiara juga di ajak kerumahnya bu guru sebentar mengganti pakaian. Bu guru sengaja masak banyak untuk Qiara tapi paman lebih dulu yang menghabiskan nya hughh..." Timbal Qiara tak bersemangat.


"Hahaha.. masih banyak sayang. tadi bu guru sudah masak lagi untuk Qiara nih yuk makan sini." Balas Ani dan Qiara pun berjalan mendekati Ani.


"Hehe, maaf paman sangat lapar jadi habis dech. Nanti paman akan memberikan hadiah kesukaan Qiara apapun itu paman berjanji." Tutur Adi.


"Apapun? Benar ya paman nanti Qiara ingin apapun itu paman harus memberikannya untukku." Balas Qiara lagi dan Adi hanya mengangguk saja.


"Oyaa.. Adi? kamu pasti di undang kan ke acara pernikahan Nayla? Bagaimana jika kita pergi bersama soalnya aku juga dapat undangan darinya." Ucap Ani memberi saran.


"Oh itu ya, baiklah kita pergi bersama." Jawab Adi setuju tetapi Ani ingin mereka memakai pakaian couple agar terlihat seperti sepasang kekasih lainnya dan ingin mempersiapkan semuanya dengan sempurna.


"Emm.. boleh aku meminta satu hal?." Sahut Ani.


"Apa? Katakan saja pasti aku bantu menyelesaikan semampu ku." Tanya Adi dan Ani menjawabnya.


"Bisakah kita berpakaian seragam atau lebih tepatnya pakaian couple, jika kamu enggak bisa juga gak apa-apa koqq. Ini hanya keinginan ku aja."


"Oh, hanya itu aja? kirain, kamu mau aku membantu masalah mu. kalau hanya ini aja sih bukan masalah jika kita memakai baju couple, aku percaya padamu untuk mencari pakaian terbaik untukku dan untukmu ya." Jawab Adi dengan senang hati menerima permintaan Ani.


"Wahh.. beneran? Aku gak nyangka kamu bisa secepat ini setuju denganku. baiklah aku akan mencari pakaian yang pas dan serasi untuk pria dan wanita. makasih ya Adi telah membuatku bahagia." Sahut Ani dengan senyuman.


"Iya sama-sama, kamu pegang kartu kredit ku aja ya dan bisa menggunakan nya untuk membeli kebutuhan di acara pernikahan Nayla nanti. kalau bisa sekalian sepatunya samaan juga beli tas yang dirasa cocok dengan pakaian kita." Jawab Adi sembari memberikan kartu hitam kepada Ani.


"Hehe, makasih banyak Adi. Aku janji akan membeli seperlunya aja." Sambut Ani dengan bahagia.


"Aku memang gak salah pilih dalam jatuh cinta pada pria. Adi pria yang baik dan mengerti keinginanku." Gumam Ani dalam hati.