ME AND MY LAST LOVE

ME AND MY LAST LOVE
C36. Rakha tersenyum kembali



"Dia kemana?" Tanya Theo singkat pada adiknya.


"Kakak baru sampai udah tanyain dia!" Jawab Lingmei cemberut, adik kesayangannya ini selalu minta di perhatikan walaupun dalam keadaan genting. Yaa.. Theo sedikit khawatir saat tidak ada Nayla dalam sorot matanya. Ia mengerti betul gimana terpuruknya Nayla sekarang.


"Sudahlah jangan cemberut gitu, kamu sudah dewasa lohh dek. kakak hanya tanya aja, kakak perhatian sama kamu. Ini kakak bawain makanan" sahut Theo si kakak yang paling the best Lingmei punya dan akan tetap jadi adik manja nya Theo.


"Aaaa.. makasih kakak sayang, kebetulan aku lagi lapar, paling tau yaa kebutuhan adiknya. Ibu kecil dia tadi pamit pulang tapi udah lama sih, aku akan menghubungi nya untuk kakak" Ceria Meimei saat melihat makanan yang dibawakan Theo.


"Oyaa kak, hubungan dia bersama pacarnya sudah tidak ada bahkan aku lihat ibu kecil masih trauma sama pacarnya itu, Meimei sihh gimana kakak aja yaa, tapi ibu kecil orang yang baik. Vibes positif gitu lohh kak hari-hari dihabiskan buat hal yang positif, aku rasa dia pilihan yang tepat buat kakak." Meimei melanjutkan makannya. Perbincangan ini sepertinya serius sekali, Theo berpikir benar apa yg di ucapkan adiknya.


"Katanya kamu mau menghubungi Nayla, koqq malah cerita masa depan kakak sih!"


"Yaa... Kakak kan harus move on, ga bisa terus mengharapkan kak Jia. Apalagi...." Perkataan Lingmei dipotong begitu saja oleh Lingtheo.


"Sudahlah.. kakak tau apa yang harus kakak lakukan, jadi menelpon Nayla tidak?"


"Ahh.. ya sudah, dengan kakak menjawab begini pun Meimei sudah tau kesimpulan nya." Senyum Lingmei sambil mengalihkan matanya pada ponsel yang ia pegang.


"Astaga, aku lupa! Aku harus kerumah sakit sekarang juga. Emm.. tapi jawab aja dulu telpon Meimei biar dia tidak khawatir." Gumam Nayla memperhatikan ponselnya dari tadi berdering dengan nama tak asing itu, yakni Meimei.


"Ahh iya? Tunggu yaa aku akan kesana. Apa? Oh gitu, aku sedang di makam. Baiklah, makasih ya." Teleponnya pun terputus. Nayla mengusap air mata yang jatuh membasahi pipinya dan tetep menunggu kedatangan Meimei yang seharusnya akan segera sampai karena jaraknya tidak begitu jauh.


Tak lama kemudian Nayla sedikit kaget karena yang datang bukan hanya Meimei melainkan Theo juga datang ke makam tersebut.


"Hai, are you okay?" Tanya Theo. Nayla hanya tersenyum tipis dan bergumam dalam hatinya. "Mengapa dia juga datang? Ternyata lumayan perhatian juga. Ahh sudahlah kenapa aku berpikir banyak, wajar saja dia kan udah jadi teman."


"Seperti nya kakak ingin bicara banyak sama ibu kecil, sebaiknya aku pergi dulu dech biar kakak lebih leluasa bincangnya." Gumam Meimei.


"Ehmmm.. kak? Meimei pulang pake taksi online saja yaa, kakak sama ibu kecil kerumah sakit duluan saja, aku ada urusan sebentar." Ucap Lingmei sambil memberi kode kedipan mata.


"Adik yang pengertian, makasih untuk ini." Gumam Lingtheo dalam hati dan tak lama terdengar suara.


"Loh gak papa kah, apa gak sekalian aja bareng kesana. Kan satu arah juga." Jawab Nayla.


"Tidak perlu, biarkan Meimei naik taksi online saja dia sudah biasa seperti itu. Lagian jaraknya kan jadi jauh kalau harus antar Meimei dulu. Walaupun satu arah tapi lebih dulu sampai kerumah sakit daripada rumahku." Sahut Lingtheo.


"Kalau pulangnya bersama untuk apa aku datang kemakam begini, aku ingin tawar menawar denganmu. Tentu orang lain tak perlu ada disini." Gumam Lingtheo menatap dalam Nayla.


Nayla hanya diam saja dan Meimei pun berkata


Nayla hanya tersenyum dan Meimei pun meninggalkan Nayla bersama Lingtheo berjalan menyusuri pemakaman tetapi matanya terpanah pada sosok pria dengan wajah sendu di depan batu nisan sebuah makam.


"Emm.. kasian, aku coba hibur ahh.. mungkin bisa mengurangi kesedihan nya walau sedikit saja."


Meimei mendekati pria itu dengan sapu tangan yang ia pegang lalu menyodorkan nya pada pria tersebut. Pria itu pun menoleh ke arah Meimei.


"Terimakasih" ucapnya singkat.


"Rina?" Gumam Lingmei dalam hati, ia memperhatikan batu nisan itu dengan serius.


"Siapa dia? Apa mungkin saudara nya? Wafatnya beberapa bulan yang lalu. Tapi tanggal lahir nya seumuran dengan pria yang menangis ini sepertinya. Apa kembaran nya yaa?" Seketika kepala Lingmei dipenuhi pertanyaan ingin tahu yang dalam tentang hubungan pria ini dan orang yang sudah meninggal ini.


"Jangan menangis, aku mengerti rasanya kehilangan karena aku juga ditinggalkan kedua orang tuaku. Aku yakin kamu pasti kuat dengan semua ini." Lingmei coba buka suara.


"Wanita ini, siapa dia? Mengapa peduli pada orang yang tidak dikenalnya. Apa hidupnya tidak punya masalah sama sekali sampai bisa peduli urusan orang lain." Gumam Rakha penasaran. Dia ingin berbicara tapi dia lebih memilih diam.


"Apa itu saudaramu? Maaf aku hanya ingin tahu saja. Tidak perlu dijawab jika tidak penting." Ucap Lingmei lagi ia terus mengajak Rakha berbicara.


"Dia kekasihku." Sahut rakha dengan wajah sendunya, baru kali ini dia bisa berbicara.


"Pria ini, dia pria baik. Aku kok tidak rela melihat ia terluka begini. Dia harus melanjutkan hidupnya, menangis begini hanya akan membuat nya berada dalam kepedihan, aku harus bisa bikin dia jatuh cinta. Aku akan mengajak mu keluar dengan cinta yang indah. Kamu pria baik berhak bahagia." Gumam Lingmei, entah apa yang ada dipikiran Lingmei. Ia menjadi jatuh cinta pada pandangan pertama karena baru kali ini ia melihat pria seperti ini.


"Emm.. kamu pasti sangat mencintai Rina, mungkin sebagian hidupmu dihabiskan bersama Rina. Dan aku yakin Rina pasti bahagia banget saat bersama kamu. Tapi apakah Rina bahagia saat melihat kamu menangis seperti ini?" Lingmei berbicara sangat pelan dan lemah lembut. Rakha menatap Lingmei, ia mendengar apa yang dikatakan Lingmei. Wanita ini berbeda dari kebanyakan wanita yang mendekati nya. Ia merasa tersanjung atas ucapan Lingmei.


"Aku dan Rina sudah bersama sejak kecil, dan ia menerima cintaku dengan bahagia. Saat kami baru merasakan kebahagiaan itu tiba-tiba dia pergi karena kesalahanku. Aku tak bisa memaafkan diriku sendiri, aku bukan kekasih yang baik. Hiks"


"Aku paham maksud mu, Rina juga tidak ingin pergi dengan cara seperti ini. Bertemu dengan mu mungkin keberuntungan bagi Rina, tapi berpisah denganmu bukan keinginan nya karena hidup kita tak lepas dari yang namanya takdir. Aku tau, kamu sangat terluka tapi aku juga tau, dengan kamu seperti ini Rina pasti jauh lebih tersiksa. Kamu harus berani bangkit agar Rina juga bisa tersenyum dialam sana."jawab Lingmei dengan senyuman, dan Rakha sangat terkesima.


"Benar apa yang dikatakan wanita ini, aku tak bisa terus begini kalau tidak Rina pasti akan merasakan sakitnya juga. Rina maafkan aku, aku akan berubah dan mengejar apa yang dulu kita cita-citakan. Aku harus move on." Gumam Rakha


Lingmei pun ingin pergi dari hadapan Rakha tetapi sebelum pergi ia memberikan sebuah permen karet berwarna pink kepada Rakha.


"Aku pergi dulu ya, aku tak ingin bicara kamu harus kuat tapi aku sangat merasakan apa yang kamu rasakan sekarang. So, kamu harus bisa melewati nya dengan sabar." Ucap Lingmei beranjak lalu pergi sebentar saja ia menoleh kebelakang dan bergumam. "Aku yakin kamu jodohku, suatu saat kita pasti bertemu kembali."


Rakha hanya melihat Lingmei yang pergi menjauh lalu menatap permen karet yang berada ditangan nya. Ia tidak akan memakan nya tapi menyimpan untuk menjadi kenangan. "Wanita yang lucu, tingkahnya membuatku merasa nyaman. Rina kamu enggak marah kan sama aku, maaf. Aku jadi memuji wanita lain dihadapan mu." Senyum Rakha.