ME AND MY LAST LOVE

ME AND MY LAST LOVE
Chapter 33. Perjuangan



Sementara itu...


Adi mengemudi dengan sedikit melamun, banyak sekali pertanyaan yang muncul dalam pikirannya, ia merasa hidup sangat tak adil. mengapa hanya ia yang merasakan sangat kesulitan dalam keluarganya. Sedangkan papa nya sangat bahagia diluar sana bersama wanita baru. Mengapa ibunya yang harus merasakan sakit di hianati dan sakit dalam kesehatan nya.


"Aku tak tega melihat ibu, aku sangat merasa sedih atasnya. Tuhan.. beri keadilan pada setiap masalah yang tercipta. Aku tak mampu memikul nya dalam kesendirian." Pikir Adi.


Dalam lamunannya, Adi tak menyadari seorang anak kecil menyebarang begitu saja tanpa mempedulikan kendaraan yang sedang melintas. Terdengar sorak orang-orang yang memperingati Adi untuk berhenti mengemudi. Jika tidak, anak kecil itu akan tertabrak karena nya. Untung saja Adi langsung sadar akan sorakan banyak orang. Ia bergegas menghentikan laju mobilnya. Ia turun dari mobil dan mengecek keadaan anak kecil tersebut.


"Apa adik tak mengapa? Dimana orang tuamu, bagaimana bisa kamu menyebrang saat banyak kendaraan yang melintas, mari kakak bantu untukmu menyebarang." Ucap Adi.


"Hikss.. aku terburu-buru, ibuku sedang sakit. Ayah ku sudah meninggal. Aku ingin membelikan nya obat di apotik yang ada diseberang sana. Itulah sebabnya aku menyebarang sendirian saja." Balas anak kecil tersebut.


Adi kembali tersadar, jika ia tak sendiri. Masih banyak orang lain yang mengalami hal serupa dengannya bahkan anak ini masih sangat kecil untuk menanggung semua masalah yang ia hadapi, tapi ia tak pernah menyerah sekalipun sangat membahayakan nyawa nya. Adi memeluk anak kecil tersebut, ia memberikan beberapa lembar Yuan pada anak itu, sebagai bentuk terimakasih nya karena membuat Adi tersadar. Bahwa apapun kesulitan yang kita hadapi jangan pernah berhenti berjuang dan melewatinya dengan penuh semangat, karena hidup akan terus berjalan sampai waktunya kembali ke sang pencipta dengan damai.


Adi juga mengantarkan nya menyebarang dan menunggu nya menebus obat untuk ibunya, kemudian anak kecil tersebut merasa bahagia, atas apa yang dilakukan Adi padanya. Anak itu masih bisa tersenyum melewati semua masalah dalam hidupnya. dan perlahan Adi pun meninggalkan nya.


Ia melaju dengan kecepatan tinggi, jiwa nya kembali semangat untuk bertemu dengan ibunya. dan sesampainya disana adi segara masuk ke ruangan ibunya. Yang terpasang banyak alat kedokteran dalam tubuh ibunya. Adi mencium punggung tangan ibunya dengan menangis dan berkata.


"Mama.. Aku akan terus menunggu kesembuhan mu, aku yakin. Mama tak akan pernah meninggalkan ku dalam kesendirian, karena aku hanya punya mama dalam hidupku. kuat dan berjuanglah untuk anakmu Ma. Aku masih sangat membutuhkan Mama. Bantu aku melewati hari yang sangat sulit ini. Aku yakin Mama akan sembuh."


Kemudian Adi mencium kening mama nya dengan dipenuhi kerutan yang bermunculan dalam tubuh Mama nya. Tanda Mama nya sudah tidak muda lagi.


Adi terus terduduk memandang mamanya berharap mama nya membuka mata namun mama nya masih saja terpejam hingga membuat Adi tertidur.


Sementara itu Putra dan Qiara di bawa kerumah kosong, terlihat sangat seram dengan rerumputan yang menjulang ke atas. Rumah tua yang sangat kotor dan tak berpenghuni, namun menjadi markas para penculik itu. Membawa tawanan nya kesana agar tak ada yang mengetahui keberadaan mereka.


"Kakak kecil, Qiara ingin pulang. Qiara gak mau tinggal dirumah seram ini. Qiara menyesal ikut di culik. dirumah lebih nyaman ternyata daripada disini, duhh.. mana perut Qiara sudah lapar." Ucapnya sedikit berisik.


"Hiks.. kakak kecil kok berbicara gitu, aku udah baik mau menemani kakak. Sebenernya kakak kenapa sih, berubah begitu saja padahal kemarin sangat baik padaku." Tanya Qiara sedikit kaget akan sikap Putra padanya.


"Entahlah, aku membenci pamanmu. Yang akhirnya ber-imbas padamu juga. Aku membuat kakak ku khawatir dengan kejadian ini, aku harus segera pergi dari sini agar secepatnya bertemu kakak ku. Tapi kamu malah mengikuti ku, itulah yang membuat ku sedikit repot karna mu." Balas Putra.


"Hmm.. aku kan ada disini juga karena menemani kakak, aku janji gak akan merengek lagi. kita harus kabur dari sini sebelum malam tiba, atau kita akan kesulitan melihat jalan saat gelap." Ucap Qiara sambil memegang perutnya yang kelaparan, bekal yang ia bawa sudah habis saat jam istirahat sekolah nya. Perut nya pun mengeluarkan bunyi yang tiada berhenti.


"Kruk.. kruk.. kruk.."


"Baiklah aku akan pikirkan caranya keluar dari sini, aku ada permen dari om badut tadi sepertinya ga ada racun, karena aku melihat saat di mobil om badut itu memakan permen yang sama bungkusnya dengan permen yang ia kasih ke aku. Apa kamu mau makan permen nya?" Jawab Putra sedikit perhatian pada Qiara.


"Jika yang dikasih ke kakak kecil itu adalah permen beracun bagaimana? Apa Qiara akan mati, Qiara gak mau makan nya jika kakak kecil enggak memakan nya. Biarkan saja Qiara kelaparan." Sahut nya dengan sedikit tak senang.


"Nanti kamu bisa sakit, jika tak makan apapun saat kelaparan. Oke, baiklah. Kakak juga akan memakan nya kita bagi dua saja permen coklat ini." Ucap Putra mengeluarkan permen berpita lucu, terkesan agak mahal karena bungkusnya. Ia membelah menjadi dua bagian, karena permen nya sangat lembut seperti jelly dan memberikan sebagian pada Qiara. Mereka memakan permen nya tanpa ada keraguan, suasana panas membuat keduanya sedikit kehausan.


Keriang keriut suara pohon bambu bertiup angin, membuat para penculik sedikit mengantuk tetapi tetap terjaga dengan tangan memegang senjata tajam untuk berjaga jikalau ada yang membuat keberadaan mereka terancam.


Putra memperhatikan para penculik itu dengan diam, ia memikirkan cara untuk keluar dari rumah seram itu. Ia melihat ke langit-langit plafon rumah yang sudah rapuh dan bersarang laba-laba itu. Tapi tak ditemukan nya ide untuk keluar melalui plafon itu karena sangat tinggi.


Putra menemukan adanya pemanas ruangan yang biasanya digunakan saat cuaca dingin atau turun salju. Tapi tungku itu sangat kotor, ia berpikir dengan cepat untuk pergi melalui tunggu itu saja. Biarpun kotor, tapi sangat membantu dalam penyamaran nya. Dengan wajah yang hitam karena Arang kayu maka penculik tak akan mengenal mereka. Lebih mudah untuk keluar dari rumah tua di tengah hutan lebat ini.


"Kakak udah punya ide agar kita bisa secepatnya meninggalkan rumah seram ini, tapi Qiara harus berjanji jangan merepotkan kakak. Bantu kakak untuk bekerja sama kali ini, jangan membuat situasi menjadi semakin sulit." Tegas Putra memperingati Qiara dalam misi menyelamatkan diri dari genggaman para penculik itu.


"Qiara berjanji tak akan berbuat kesalahan lagi untuk misi menyelamatkan diri kali ini. Aku percaya pada kakak kecil. jadi, ga mau merusak semuanya begitu saja. Oke, semangat kakak kecil kita pasti bisa keluar dari sini." Ucap Qiara sedikit berbisik lalu ia memakan permen nya dengan pelan.