ME AND MY LAST LOVE

ME AND MY LAST LOVE
C78. Welcome to the world



Sudah mendekati hari persalinan secara fisik dan mental Ani mempersiapkan semuanya, beberapa hari Adi tidak bekerja membuat perusahaannya sedikit kesulitan dalam urusan pemberkasan. Terpaksa Adi mengizinkan sekretaris mengunjungi nya hanya untuk tanda tangan berkas penting. Memang hubungan nya dengan Mahendra telah membaik tapi Adi tak percayakan urusan perusahaan pada ayahnya tersebut walaupun ayahanda ingin sekali membantu anaknya itu.


"Kira-kira kapan bapak akan kembali bekerja?." Tanya sekretaris di sela-sela bos nya fokus melihat isi berkas nya.


"Belum tahu, menunggu istri lahiran dulu." Jawab Adi tanpa kepastian.


"Hmm.. banyak permasalahan di kantor, para vendor juga ingin bertemu denganmu." Ujarnya.


"Kan banyak orang penting di perusahaan kita yang bisa mengurusnya, nanti juga kembali bekerja lagi koqq." Sahut Adi berpikir banyak orang yang bisa di andalkan dalam perusahaan.


"Sayang.. apa gak sebaiknya kamu ke kantor aja, aku ada bibi yang jagain koqq." Ucap Ani pelan.


"Gak boleh, justru di saat seperti ini aku harus siaga menemani mu. Sudahlah jangan pikirkan masalah perusahaan ya, nanti aku adakan meeting virtual aja." Jawab Adi tersenyum.


"Ibu beruntung sekali punya suami seperti bapak ya. Perhatian dan idaman semua wanita." Sahut sekretaris tapi Ani tiba-tiba tidak senang mendengar wanita lain memuji suaminya itu.


"Kalau sudah selesai sebaiknya kembali ke kantor saja ya, dan semoga kamu segera menikah." Ucap Ani dan Adi hanya tersenyum melihatnya.


"Baiklah, saya permisi dulu ya pak." Jawab sekretaris dengan cepat. Belum berjalan ia malah menatap orang yang menghampirinya.


"Loh pak Mahen, apa kabarnya pak?." Ucapnya lagi berbasa-basi pada mantan direktur perusahaan tempatnya bekerja.


"Baik, sedang ada masalah atau hanya kebetulan mampir saja?." Tanya Mahendra.


"Hanya tanda tangan berkas." Balas Adi singkat.


"Oh begitu ya, baiklah. Silahkan kembali bekerja maaf menganggu." Ucap Mahendra mempersilahkan sekretaris pergi. saat ingin berlalu tiba-tiba Ani mengerang kesakitan.


"Arghhhh.." Ani melihat kakinya dibasahi oleh air ketuban ditambah lendir darah mengikuti setelahnya. dan yang melihat langsung panik.


"Sayanggg... Kamu kenapa? Apakah sangat sakit?." Ucap Adi khawatir dan ikut panik.


"Sepertinya aku ingin melahirkan, cepat panggil ambulans." Jawab Ani dan mereka segera berlari mencari pertolongan.


"Huhuhu.. sakit sekali, hmm.. aduh." Ucap Ani merasakan dahsyatnya kontraksi.


"Sabar ya sayang, kita akan segera sampai ke rumah sakit." Ujar Adi di tengah perjalanannya.


"Berusaha atur nafasnya Bu, pikiran harus tenang ya berdoa selalu agar diberikan kelancaran. Kembali atur nafasnya lagi, kita berjuang bersama ya." Ucap perawat dalam ambulans.


Ani mengikuti perkataan perawat itu walaupun sakit luar biasa yang dirasakan nya.


"Semangat sayang, kamu pasti bisa!." Tutur Adi.


"Nyerinya arghhhh..." Teriak Ani tak tahan.


Ketika sampai di rumah sakit Ani langsung dibawa ke ruang persalinan yang sudah di pesan Adi dari jauh-jauh hari, persiapan pakaian yang dibutuhkan juga sudah ada di sana. Adi menunggu lama sampai hari ini dari persiapannya. Suaminya sangat bisa mengurus kebutuhan istri.


Bidan bergegas mengecek bukaan jalan lahir bayi ternyata sudah sangat dekat sekitar bukaan delapan lambat sedikit saja Ani bisa melahirkan di jalanan, untunglah waktunya pas.


Ani sekuat tenaga melahirkan seorang bayi untuk suaminya, Adi yang melihat kejadian berlangsung terus menangis. Perjuangan seorang perempuan begitu luar biasa diambang hidup dan matinya ia juga mengingat ibunda yang juga melahirkan nya dengan susah payah seperti istrinya saat ini.


Butir keringat terus membasahi sekujur tubuhnya hingga nafas panjang terakhir dengan mengerang berhasil mendengar tangisan sang bayi perempuan yang imut dan cantik bertanda perjuangannya telah usai dalam proses persalinan.


"Sayang terimakasih telah berjuang seberat ini untukku dan buah hati kita." Ucap Adi penuh tangisan haru dan Ani tersenyum walaupun masih sangat pucat wajahnya.


"Terimakasih dokter telah berjasa membantu istriku dari awal kehamilan nya." Ucap Adi.


"Sudah menjadi tugas saya ya pak." Balas dokter perempuan dengan bahagia.


"Saya dan istri saya sudah mempersiapkan sedikit hadiah untuk dokter dan perawat yang membantu istri saya dalam persalinan nya. Mohon bu dokter dan yang lain menerimanya ya."


"Hahaha.. terimakasih pak tak perlu repot-repot tapi kami akan menerima dengan senang hati."


Adi hanya tersenyum kemudian memberikan banyak bingkisan untuk mereka, suasana ruang itu menjadi penuh dengan kebahagiaan yang sebelumnya sangat mencekam hingga membuat Adi bernafas lega, bangga karena telah menjadi seorang ayah.


Adi mengunggah gambar anaknya ke akun pribadinya melalui media sosial dan Nayla yang saat itu sedang aktif dalam aplikasi tersebut ikut melihat gambar anak Adi. dan membaca caption dalam gambarnya.


"Menjadi ayah bagimu adalah kebahagiaan terbesarku." Tulis Adi emoticon hati.


Nayla tersenyum tetapi dalam hatinya sangat sedih, ia berpikir ingin seperti Ani. Theo yang melihat Nayla terus melamun setelah kesembuhan nya itu berinisiatif mengajak keluar menghirup udara segar.


"Sayang? Mengapa terdiam begitu." Sapa Theo.


"Gak apa-apa sayang, hanya sedang melihat handphone aja." Balas Nayla tersenyum.


"Oya kita pergi healing yuk?." Ajak Theo.


"Enggak ahh.. ingin dirumah aja." Tolak Nayla.


"Apa yang bisa aku lakukan agar dia melupakan tentang anak, Hmm.. semakin berat." Gumam Theo dalam hatinya.


"Aku gak ingin melihatmu terus seperti ini. Kau mengabaikan ku dan terus berpikir kesalahan mu." Ungkap Theo dan Nayla menatapnya.


"Kalau begitu kita pergi melihat anaknya Adi aja gimana?." Saran Nayla.


"Apa? Mantanmu udah punya anak kah?." Jawab Theo cemberut sekalinya bicara ia malah mengatakan mantan nya. Tetapi Theo berpikir lagi mungkin sebetulnya sangat ingin melihat bayi itu hanya saja yang lebih ia kenal sebagai teman adalah mantan nya.


"Eemmm.. iya sih, tapi kalo kamu gak mau juga gak apa-apa. Aku dan dia menjadi teman, aku juga sangat dekat dengan istrinya." Tutur Nayla lesu.


"Baiklah kita akan kesana melihat bayinya. Ingat hanya melihat bayinya! Jangan bapaknya oke?." Ucap Theo cemburu.


"Hahaha.. tentu, kamu cemburu ya?."


"Siapa yang cemburu! Aku hanya gak mau kamu kenapa-kenapa. Sering dekat dengannya takut melukai kamu lagi." Sahut Theo sinis.


"Enggak koqq sayang, dia pria baik dan.."


Theo langsung mencium bibir Nayla dengan panas membara, dan Nayla kaget hingga susah bernafas. Ia berusaha melepaskan dengan cepat tetapi ditahan Theo. Tenaganya lebih kuat dari Nayla hingga lama sentuhan itu dirasakan nya.


"Aku akan menghukum mu karna memuji pria lain di hadapan ku." Balas Theo dan kembali mencumbu istrinya. Nayla hanya bisa pasrah.


Di lain tempat Rakha juga melihat postingan Adi dan memberi tahu pada Meimei.


"Emm.. ingin kesana kah?." Tanya Meimei.


"Bersama mu ya?." Balik tanya Rakha.


"Hehe, ayok. Kita membeli kado untuk baby nya." Senyum Meimei dan Rakha jadi salah tingkah.