ME AND MY LAST LOVE

ME AND MY LAST LOVE
C38. Xinyue



Setelah sampai disebuah restoran mereka memesan makanan dan langsung menyantap nya dengan sangat lahap, maklum saja semenjak tahu bahwa Putra diculik Nayla tidak bisa makan dan tidur dengan tenang. Bahkan ia seharian ini belom makan apapun, kantung mata yang hitam dan mata bengkak karena menangis semua sebab akibat adiknya itu. Nayla begitu menyayangi adiknya rela melakukan apapun asal adiknya dalam keadaan baik-baik saja. Mereka makan sambil berbincang hangat. Keduanya saling bercerita, Nayla pun bertanya dan Theo mulai bercerita tentang anaknya itu.


"Jadi namanya Xinyue? Pasti sangat cantik seperti aku kan? Aku pengen ketemu sama Yuyu."


"Hahahaha, ternyata kamu orangnya sangat narsis ya. Yuyu pasti cantik dong, gak kalah cantik sama kamu. Tapi.."


"Tapi apa?" Nayla menatap Theo yang kelihatan sedih, ada rasa kurang nyaman dalam hatinya. Tapi apapun itu harus bercerita pada Nayla.


"Sekarang usianya 5 tahun, saat usianya 2tahun kami mengalami kecelakaan sebuah pesawat terjatuh dihutan. Untungnya saat itu aku sedang menjaga Yuyu di toilet sehingga bukan berada di bagian kepala pesawat. Jadi masih terselamatkan dan jatuhnya juga enggak terlalu melesat cepat. Ada persiapan di dalamnya tapi karena kami di toilet gak mendengar suara apapun."


Lingtheo melanjutkan ceritanya dengan menghembuskan nafas dalam. Dan Nayla masih menjadi pendengar setia sambil berpikir, lalu berkata. " Pesawat Menhua Air bukan?"


"Iya, kamu tau?"


"Kecelakaan itu juga yang berhasil membuatku dan adikku menjadi anak yatim piatu. Orang tuaku turut dalam pesawat tersebut, nyawanya gak bisa diselamatkan lagi. Untungnya enggak terjadi kebakaran ya." Ucap Nayla masih mengingat.


"Aku turut berdukacita ya, memang betul pesawat itu. Aku juga melihat isinya para pebisnis. Aku dan anakku masih selamat tapi anakku kehilangan penglihatannya, ada pecahan kaca dalam matanya sehingga kedua matanya cacat permanen."


"Ya Tuhan, Yuyu?! Bahkan anak yang gak bersalah pun ikut dihukum. Aku akan menjaganya dengan baik seperti anakku sendiri, karena aku membesarkan Putra pun sendiri jadi pasti bisa merawat Yuyu." Ucap Nayla merasa iba.


"Aku percaya kok sama kamu, kamu memang pilihan yang tepat. Emm.. kabar bahagia nya Yuyu sudah mendapatkan donor mata yang cocok untuknya. Dan operasi nya akan dilakukan secepatnya. Aku ingin kamu menjadi orang pertama yang dilihat nya. Selama ini ia sangat merindukan ibunya, tapi ibunya sedang sakit keras seringkali koma. Aku gak bisa mempertemukan mereka. Maka, aku bicara pada Yuyu bahwa ibu sedang di luar negeri. Aku sengaja merahasiakan semuanya. Aku mau, kamu jadi ibunya. Gak peduli mau sambung atau kandung bagiku semuanya sama aja, yang terpenting selalu ada buat Yuyu."


"Itu juga yang membuat kamu ingin menikah denganku? karena aku akan menggantikan posisi ibu kandungnya? Aku suka anak-anak sudah lama jadi kamu tenang saja yaa." Balas Nayla dengan senyuman. Dan Theo berkata.


"Benar, aku ingin anakku melihat ibunya saat pertama kali dia bisa melihat lagi. Waktu itu usia 2 tahun ingatannya belom terbentuk jadi memori dalam otaknya mengenai ibunya belom ada. Kamu hadir disaat yang pas, karena ibu kandungnya gak bisa melaksanakan tugasnya sebagai seorang ibu."


"Siap komandan!! Aku akan menjadi ibu yang baik buat Yuyu seorang." Ucap Nayla penuh semangat.


"Tapi sebelum itu kita harus merencanakan pernikahan dan sebelum menikah kita temui Yuyu dulu ya agar ia bisa mengingat suaramu." Jawab Theo dan Nayla hanya mengangguk tanda paham.


"Aku jadi gak sabar ketemu Xinyue."


"Hahahaha, kirain gak sabar pengen menikah dengan cowok seganteng aku." Theo mulai percaya diri mengeluarkan pesona nya.


"Hahahaha hahaha, udah ahh.. sakit perut ku baru selesai makan di depan orang narsis." Ucap Nayla.


"Tapi bener kan? Ayoo ngaku!." Sahut Lingtheo


"Iya iya ganteng, baik lagi." Jawab Nayla.


"Hughhh...." Theo menaikkan kedua bahunya dengan rasa bangga di depan Nayla.


"Emm.. Xinyue dimana? Aku gak pernah lihat kamu dengan nya dan dirumahmu juga sepi."


"Dia di urus nenek, di Jepang. Nanti kita kesana ya setelah operasi Putra. Sekalian minta restu ke nenek. Saat Yuyu operasi mata, kita mengadakan pernikahan. Operasi Yuyu bersamaan dengan operasi Jia Li dihari yang sama." Ucap Theo.


"Kamu tahu Jia?." Tanya Theo serius.


"Emm, gak pernah ketemu sihh tapi lihat fotonya sudah. Gak sengaja lihat pas dikamar kamu."


Lingtheo mengingat kembali saat pertama bertemu Nayla dan langsung mengajak kerumahnya. Enggak menyangka ingatan Nayla sangat kuat.


"Emangnya kamu yakin itu dia?"


"Yaa.. mungkin aja, kan fotonya seperti sepasang merpati, ehh.. salah dech, yang benar sepasang beo. Hufffttt.. hahaha..."ledek Nayla.


Theo yang tadi mendengar dengan serius tiba-tiba hilang semangat nya untuk melanjutkan cerita. Tetapi ia senang melihat Nayla tertawa lepas padahal hidupnya selama ini juga gak mudah.


"Udah selesai meledek nya? Maksud ku makan nya udah selesai?" Tutur Theo.


"Owhhhh... Jangan marah yaa, aku hanya bercanda aja. Aku udah kelar nihh, apa kita udah bisa kerumah sakit sekarang?" Jawab Nayla.


"Udah bisa sihh, tapi.."


"Tapi apa?"


Tiba-tiba Theo memperhatikan lekat wajah Nayla, seperti sebuah adegan akan berciuman dalam serial FTV. Begitulah posisi mereka sekarang.


"Deg' Deg' Deg'..." Jantung Nayla berdegup dengan kencang seperti sedang berada dalam wahana roller coaster, ia menatap Theo.


"Duhh.. dia mau ngapain, koqq aku gugup yaa. Apakah kita akan mulai melakukan nya disini?" Ucap Nayla dalam hatinya. Nayla memejamkan kedua matanya guna bersiap. Tiba-tiba sebuah benda nan lembut menyentuh bibirnya yang imut itu. Lalu Nayla pun membuka matanya.


"Kalo makan tuh yang rapi, masih banyak kotoran makanan hinggap dibibirmu. Di liat orang akan merusak citraku sebagai pria paling ganteng di seluruh muka bumi ini. Karna di sampingku ada wanita pencicilan. Hehe, mana gigimu coba liat dulu?" Ucap Theo sembari meletakkan tissue yang digunakan mengelap wajah Nayla.


"Hughhh.. aku kira dia mau ngapain, hanya mengelap bibirku saja. Pikiranku udah kesana, mana posisi udah siap banget. Malunya diriku." Gumam Nayla dihatinya kemudian ia tersadar kembali lalu membuka bibirnya lebar-lebar hingga terlihat giginya yang bersih dan rapi itu.


"Ada ga?"


"Yaa.. untungnya sih ga ada. Ya udah ayok kita berangkat sekarang!."


"Hmm.. ayok"


Mereka pun pergi meninggalkan restoran tersebut tetapi di dalam mobil Nayla tertidur sangat pulas, ia baru bisa tidur dengan nyenyak setelah Theo berhasil menolong Putra. Sedikit lega pikiran nya.


"Haishhh.. tidurnya sangat pulas, gak mungkin aku bawanya kerumah sakit. Gak tega juga membangunkan nya, lebih baik ku bawa ke perusahaan aja. Dia bisa tidur disana selama itu juga, aku bisa menyelesaikan pekerjaan ku. Lagian operasi Putra besok dilakukannya jadi Nayla masih bisa istirahat sebentar." Pikir Lingtheo.


Mereka pun melaju ke mall yang diatasnya terdapat kantor, yaitu perusahaan Lingtheo.