
Adi hanya terdiam, memperhatikan bibi dengan serius. Tetapi pikirannya teralih pada perutnya yang sangat kelaparan. Ia pun tak ingin bertanya banyak pada bibi.
"Aku sangat lelah, siapkan makanan untuk ku ya bi. Aku akan segera mandi dahulu sembari menunggu bibi menyajikan makanan untukku." Ucap Adi beranjak pergi meninggalkan bibi.
Bibi pun menghembuskan nafasnya dengan lega. kali ini Adi tak banyak bertanya itu sudah membuat bibi tak berada dalam situasi sulit. Ia bergegas ke dapur menghangatkan makanan untuk Adi.
"Gubrakk.."
"Ahh.. sakit sekali, sialan aku sampai terjatuh karena memperhatikan siapa yang datang kerumah Hans. aku tak bisa melihat benda ini sehingga membuatku terjatuh. Aduh.. sakit." Ucap Rika.
"Emm.. aneh, suara apa itu. sangat kencang, aku ingin mengecek nya. Siapa tahu ada maling dikamar papa." Gumam Adi yang penasaran, ia melangkah kan kaki ke kamar papanya kerena mendengar suara keras dibalik kamar papanya.
"Gawat, Aden sepertinya akan membuka pintu kamar tuan. Aku harus menghentikan nya atau kekacauan dirumah ini akan semakin menjadi." Ujar bibi bergegas menghampiri Adi.
"Adeenn.." Adi menghentikan langkahnya melihat bibi yang memanggil nya dengan teriak.
"Emm.. ada apa bi?" Ucap Adi.
"I.. itu. Makanan udah siap, segera di santap den, kalau sudah dingin tak akan berasa enak lagi." Jawab bibi.
"Sebentar aku ingin ke kamar papa dulu, sepertinya ada keributan yang terdengar. Aku ingin lihat mungkin sesuatu yang membahayakan sedang mengintai."
"Tak perlu Aden. Maksudnya, biar bibi saja yang melihatnya. Aden silahkan makan saja. Mungkin hanya suara pekerja yang sedang merenovasi kamar tuan, jadi biarkan bibi saja." Ucap bibi
"Hmm.. begitu ya bi, aku cukup penasaran sih tapi ya sudahlah aku juga sudah lapar. Bibi saja yang mengeceknya." Tutur Adi perlahan meninggalkan bibi dan makan dengan santai.
Bibi pun membuka pintu kamar Hans yang tak lain ialah papa Adi.
"Krekk..."
Mata Rika melihat ke pintu yang perlahan terbuka, ia masih berada dilantai dengan kaki kesakitan.
"Bibi.."
"Sssttt" telunjuk bibi mengarah ke bibirnya tanda tak perlu berbicara.
"Nona ada apa? Mari bibi bantu berdiri."
"Aku terjatuh, kakiku sedikit memar. Aku butuh obat. Bibi tolong ambilkan obatnya." Ucap Rika sedikit berbisik.
"Bibi tak bisa mengambil obat sekarang, Aden sedang dirumah. Ia akan curiga, mungkin setelah Aden pergi bibi bisa membawakan obat buat Nona." Balas bibi memperhatikan luka di kaki Rika.
"Ya sudah aku mengalah untuk kali ini."
"Mohon maaf Non, bibi akan pergi sebentar menemani Aden makan."
"Hughh.. baiklah, aku akan tahan sekarang, tunggu sampai aku menjadi nyonya besar dirumah ini. Akan aku menyingkirkan yang namanya Adi. Aku akan membereskan kan nya dengan tanganku sendiri." Gumam Rika dalam hati, matanya penuh dengan kejahatan.
"Bagaimana keadaan nyonya den? Bibi ingin kesana merawat nyonya tapi bibi juga tak bisa meninggalkan pekerjaan rumah." Ucap bibi pada Adi yang sedang makan. Adi tiba-tiba berhenti makan mendengar perkataan bibi.
"Aku belum melihat mama lagi bi, aku akan kesana setelah ini. Ada hal yang aku urus jadi belum sempat melihat keadaan mama. Tapi sepertinya mama masih kritis di rumah sakit. Bibi tak perlu kesana, biar Adi saja. kita bisa bagi tugas karena rumah tak bisa ditinggal." Jawab Adi yang tiba-tiba ingin pergi melihat ibunya padahal makannya belum selesai.
Tiba-tiba ada seorang yang menggedor pintu rumah Adi dengan kencang. Membuat mereka kaget mendengar nya.
"Siapa yang bertamu dengan tidak sopan. Biar bibi yang membuka pintu nya den."
"Astaga, ini gawat. Mana Aden. Mana.."
Ucap sang supir yang biasa menjemput Qiara saat Adi tak bisa menjemput Qiara.
"Mamang ada apa, coba bicara dengan tenang." Ucap Adi menghampiri.
"Begini den, itu anu.. nona kecil, itu.."
"Hmm.. ngomong yang jelas dong, kamu ihh.. bikin panik saja." Sahut bibi.
"Coba bicara dengan pelan. Tak mengapa, ada apa dengan Qiara?" Ucap Adi.
"Nona kecil.. itu.. pas mamang ke sekolahnya, nona kecil.. mamang tak bisa menemukan nona kecil den." Ucap mamang dengan ketakutan, ia berbicara dengan terbatah-batah.
"Astaga.. bagaimana bisa Qiara tak ada disana. Apa yang kamu lakukan sampai tak bisa menjaga seorang anak." Ucap bibi dengan menyalahkan mamang.
"Apaa.." Adi berteriak keras, ia panik dan bergegas mencari Qiara. Ia menyetir dengan kencang menuju sekolahnya Qiara. Ia melupakan untuk melihat ibunya dirumah sakit gara-gara kejadian Qiara hilang. Masalah begitu banyak yang menimpanya. Lukanya belum sembuh tetapi ia sangat berusaha kuat dalam menyikapi nya. Adi benar-benar sendiri saat situasi seperti ini.
Adi berpikir untuk menghubungi Rakha. Tetapi ia kembali mengingat saat terakhir kali bertemu Rakha. Ia terpukul akan kepergian Rina. Adi pun mengurungkan niatnya untuk menghubungi Rakha, kemudian ia menghubungi Nayla tetapi nomor handphone Nayla tak bisa dihubungi. Ia sama sekali tak ingat kejadian pada malam itu. Adi tak ingin memberi tahu papanya karena ia sudah tahu jawaban yang akan papanya berikan.
Ia melaju dengan kecepatan tinggi sehingga sangat cepat sampai ke sekolah nya Qiara. Ia melihat ada beberapa mobil terparkir disana salah satu nya mobil kepolisian, ia bergegas menuju ruang kepala sekolah yang tak jauh dari pintu utama.
"Nayla.." Adi memanggil Nayla saat melihat Nayla yang sedang menangis karena Putra. Ia juga melihat ada Lingtheo dan Lingmei yang menemani Nayla. Beberapa polisi sedang mengamati rekaman cctv dengan serius.
"Putra dan Qiara hilang. Mereka diculik aku telah terlambat menjaga adikku. Aku bukan kakak yang baik. Huhuhu.." tutur Nayla dengan badannya yang masih gemetar, ia melihat Adi sangat ingin memeluknya tapi kemudian teringat akan perlakuan Adi padanya.
Nayla memalingkan wajahnya dalam tubuh Lingtheo. Adi yang melihatnya sontak saja bersedih. tapi ia tak bisa menyalahkan Nayla atas kesalahan yang sudah ia perbuat.
"Tak apa, Putra akan baik-baik saja. Ia anak yang pintar tak akan mudah untuk para penculik menyakiti nya. kita akan segera menemukan Putra." Ucap Lingtheo memberi ketenangan untuk Nayla. Ia mengelus kepala Nayla dengan lembut. Adi yang melihatnya hanya bisa pasrah akan keadaan.
"Hidupku benar-benar sudah tak berguna, aku tak bisa berada dekat Nayla saat Nayla dalam kesulitan. Aku melukainya sehingga ia merasa trauma dekat denganku. Apakah aku harus merelakan mu walaupun aku mencintaimu, tapi cintaku telah membuat luka yang sangat dalam pada hidupmu. Aku bukan pria yang baik." Gumam Adi dalam hati yang terus melihat Nayla dalam diam.