
Putra memperhatikan gerak gerik para penculik yang duduk dari kursi depan supir. Supir tersebut mengobrol dengan seseorang yang berwajah seram.
Qiara terus melihat Putra dengan kebingungan. "Apa yang sedang kakak kecil lakukan, padahal aku menyuruhnya untuk segera bertanya. Ia malah terdiam saja." Pikir Qiara kemudian ia berkata.
"Om badut, om badut akan menghubungi siapa. Apakah sudah punya nomor telepon orang tuaku? Minta saja uang pada mereka. Aku rasa mereka cukup banyak uang karena selama ini terus bekerja hingga tak ada waktu buat menemani Qiara belajar atau bermain." Ungkap Qiara pada seorang badut yang sedang duduk santai di samping nya.
"Sudah ada nomor telepon dari salah satu orang tua kalian. berdiamlah anak baik." Balas seorang badut tersebut.
"Halo. Anak bapak sekarang sedang bersama kami. Siapkan uang 100.000 Yuan jika anak bapak ingin selamat. Jangan coba-coba melapor polisi, jika itu sampai terjadi. Kami tak akan segan-segan menyakiti anak bapak."
"Anak mana? Anak saya sedang makan bersama saya. Anda jangan coba-coba menipu saya. Tutt.."
"yahh. sambungan telepon nya ditutup."
"Kenapa bisa begitu? bukannya kamu udah bilang anaknya sedang bersama kita. Lalu mengapa ia tak ada rasa panik."
Sahut supir dengan mengangkat alis sebelah kanan ke atas menatap penculik.
"Aku juga tak tahu. Ia bilang anaknya sedang bersama dia, lalu ini anak siapa yang kita culik?" Ucap penculik.
"Sebentar aku akan melihat foto nya dahulu." Balas sang supir mencari-cari selembar kertas foto anak yang diculik.
Tak lama kemudian ia menemukan nya. Setelah dilihatnya ternyata bukan Putra anak yang mereka targetkan.
"Ahh.. dia beneran bukan anaknya. Badut bodoh!! bagaimana bisa ia salah culik."
Teriak penculik dengan rasa kesal
Putra pun berani mendekati mereka yang sedang berbincang serius. Putra nampak kaget dengan raut wajah keduanya. Lalu ia berkata. " Ada apa om, sepertinya om penculik sedang kebingungan?"
Mereka tak mendengarkan perkataan Putra, terlihat mereka sedang berpikir keras dengan melihat selembar foto. Qiara pun beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Putra. Ia berkata. "Kakak kecil apa ada masalah?"
"Aku tak tahu, tapi aku melihat mereka sedang memperhatikan selembar foto. Aku ingin melihat foto siapa yang mereka lihat." Ucap Putra sembari meninggikan lehernya mencari tahu.
"Oh begitu. biar Qiara yang berbicara."
"Om gendut. Aku tahu nomor telepon orang tuaku. Hubungi mereka saja. tapi aku juga tak yakin jika mereka mau menjawab telepon dari orang asing. Aku yang anaknya saja sering kali diabaikan telepon nya. emm.. tapi om gendut coba saja. ia punya banyak uang. tentu bisa menyelamatkan Qiara dari om gendut."
"Lalu foto siapa yang sedang om gendut pegang. Qiara juga ingin melihatnya dong." Ucap Qiara sambil melirik foto tersebut.
"Ini foto anak yang kami culik. Tapi, tak mengapa anak mana saja tetap bisa mendapatkan uang atas tebusannya." Jawab seorang penculik bertubuh bongsor sembari memberikan selembar foto pada Qiara.
Putra bergegas melihatnya. Ia begitu penasaran siapa yang ada dibalik foto tersebut.
"Coba kakak lihat dulu itu foto siapa?"
Qiara melihat foto tersebut dengan sangat jelas, beriringan dengan Putra.
"Betul inikan Xi, om gendut kok bisa ada foto Xi sihh om gendut. Xi sudah lama pulang sekolahnya. Om gendut datang terlambat sih. Anaknya udah lama pulang, tak akan bisa menculik dia. Jadinya salah culik dech." Ucap Qiara berbicara tanpa berhenti.
"Benar dia adalah Xi. teman sekelas kami. Rumahku juga berdekatan dengan rumah Xi." Sambung Putra. Tetapi penculik tersebut tak menghiraukan ucapan Qiara dan Putra.
Mereka terus memperhatikan catatan nomor telepon yang baru saja Qiara ucapkan dan berpikir.
"Ada benarnya juga, jika anak ini bukan anak yang di foto tersebut tetapi kita masih bisa menghubungi orang tua dari anak perempuan ini. kita akan mendapatkan uang yang lebih banyak. sepertinya anak ini berbicara benar." Ucap penculik tersebut pada sang supir yang tak lain adalah temannya sendiri.
Lalu mereka pun menuruti perkataan Qiara tetapi tak ada jawaban dari orang tua Qiara, mungkin mereka sangat sibuk. Berulangkali dihubungi tak ada tanda-tanda telepon nya akan dijawab.
Lalu para penculik memutuskan untuk membawa Qiara dan Putra ke sebuah rumah kosong.
Sementara itu...
Adi merasa bahagia karena Nayla sudah berhasil menolong nya untuk keluar dari tempat yang sangat buruk tersebut.
"Syukurlah aku akhirnya bebas. Aku harus secepatnya menemui Nayla guna meminta maaf sekaligus berterima kasih padanya." Tutur Adi dengan leganya.
Ia bergegas menuju ke kediaman Nayla tetapi yang didapatkan nya hanya kesunyian, rumah Nayla tampak sepi dan tak ada tetangganya yang mengetahui keberadaan Nayla. Akhirnya ia memutuskan untuk pulang terlebih dahulu. Bersiap mandi dan makan lalu ia akan mencoba untuk kerumah Nayla lagi. Ia berjalan keluar dari gang sempit lalu ke jalan raya, mencari taksi yang akan membawanya kerumah yang sehari semalam udah ditinggalkan nya.
"Bagaimana keadaan mama? Memang benar apapun yang akan terjadi padaku dan mama tak akan ada yang peduli. Papa sama sekali sudah berubah, bukan seperti papa yang ku kenal dulu. Aku tak bisa terus memikirkan sifat yang papa berikan padaku dan mama. Aku hampir saja kehilangan akal sehatku gara-gara semua ini. Aku bisa melukai Nayla dengan tanganku sendiri. Ini benar-benar sudah diluar kendaliku." Gumam Adi melamun dalam mobil taksi yang menyetir sedikit lambat.
Adu terus melamun sepanjang jalan. Tak lama kemudian terdengar suara mobilnya terhenti tepat depan rumah yang sangat besar nan luas halamannya.
Rika berada dirumah Adi dengan santai, dia memperhatikan taksi yang berhenti di depan rumahnya. Ia terlihat seperti sedang berpikir sambil melirik ke arah taksi tersebut.
"Siapa yang datang? Apakah ada tamu nya Hans, aku harus berdiam diri dikamar dahulu dech. walaupun aku cukup penasaran siapa orang tersebut. Lebih baik aku mencari aman saja dulu." Gumam Rika dalam hati, Ia bergegas masuk kedalam rumahnya Adi. saat Adi belum turun dari taksi. dan tak melihat keberadaan Rika.
Ia tampak melihat depan rumah yang sangat sepi tetapi pintu terbuka lebar.
"Apa papa ada dirumah?" Gumam Adi dalam hati, ia melangkah sembari memperhatikan keadaan rumah.
Tepat di depan pintu seorang bibi yang sudah lama bekerja dirumah Adi menyapa dan memperhatikan tubuh Adi yang penuh dengan luka memar.
"Aden? Mengapa bisa tubuh Aden penuh dengan luka memar, astaga biar bibi bantu mengompres lukanya."
"Tak perlu bi, aku tak apa-apa. Ini hanya luka biasa tak sakit sama sekali. Oh ya bi, apakah papa ada pulang kerumah?"
"Duhh.. aku harus jawab apa sama Aden. Calon istri tuan tak mengizinkan aku berbicara banyak mengenai tuan." Pikir bibi lalu menatap Adi dengan sedikit gugup yang dirasakan nya.
"Emm.. itu den, tuan udah berangkat kerja. Tuan selalu pulang kerumah tapi tuan berpesan tak di izinkan siapa pun masuk dalam kamarnya." Jawab bibi.
"Jelas, Aden tak boleh masuk ke kamar tuan. Ada calon istrinya, hanya akan membuat kekacauan dirumah ini. Hughh.. semoga saja Aden tak coba masuk ke kamarnya tuan. Kalau sampai itu terjadi aku tak bisa berpikir hal buruk yang akan terjadi dirumah ini." Balas bibi dalam hatinya.