
Nayla menyelesaikan semua pekerjaan nya dengan baik. Tak terasa sudah hari ketujuh mereka di Jepang. Nayla sangat merindukan Putra, ia begitu bersemangat untuk kepulangan nya ke China. Ada banyak tempat yang Nayla kunjungi bersama Lingmei. waktu seminggu sangat cepat berlalu. Lingmei sebetulnya masih ingin mengajak Nayla jalan-jalan mengelilingi kota Tokyo. Tetapi ia tak bisa memisahkan ibu kecil pada Putra. Kali ini Lingmei tak egois.
Kali ini Lingtheo ikut satu pesawat bersama Lingmei dan Nayla. Mereka berangkat pagi hari menuju China.
"Kak? Aku ingin ke toilet sebentar. kakak duduk disini saja dekat ibu kecil. ia tertidur pulas sepertinya ibu kecil cukup kelelahan beberapa hari ini." Ucap Lingmei pada Lingtheo yang berada di belakang kursi Lingmei. Lalu ia pun bergegas ke toilet dalam badan pesawat.
Lingtheo duduk disebelah Nayla, ia memandang wajah Nayla yang sedang tertidur. Terlihat lucu dengan wajah imutnya.
Nayla yang saat itu tertidur tak sadar menjatuhkan kepalanya pada bahu Lingtheo yang kekar. kemudian tangan Nayla merangkul tubuh Lingtheo seperti sedang memeluk bantal guling saja.
Wajah Nayla semakin dekat dengan Lingtheo, Lingtheo tersenyum memandang nya kemudian mencium kening nya tanpa tersadar.
"Banyak hal yang aku alami bersama dia. Wanita ini begitu membuatku bahagia saat bersama nya. Perasaan yang sudah lama tak aku rasakan, apa mungkin aku sudah jatuh cinta? Setelah Jia Li tak menemani hariku, aku merasa hidupku sudah tak berwarna. Tetapi setelah mengenal gadis kecil ini, warna yang semula hitam kini berubah warna-warni."
Lingtheo terjaga dalam lamunannya, ia berpikir dalam hatinya. Ia mencium rambut Nayla dengan bibirnya.
Kepala Nayla menggubris sentuhan Lingtheo, mempererat pelukannya, lalu ia mengigau. "Emm.. ibu kecil sayang sekali sama Meimei."
"Gadis kecil ini, saat tidur pun bisa berbicara." Ucap Lingtheo.
Saat Lingmei kembali, ia melihat Lingtheo sudah merasa nyaman berada dekat ibu kecil. Ia pun membiarkan tempat duduknya di isi kakaknya. Lalu ia duduk di kursi kakaknya mendengar kan musik headphone yang berada ditelinga nya. perjalanan cukup panjang. Mereka beristirahat dengan tenang.
"Hoamm.."
"Meimei? Apakah masih lama sampai China?" Tanya Nayla yang masih memejamkan kedua matanya dengan menggeliatkan tubuhnya.
"Ahh..."
Lingtheo yang mendengar kemudian menutup mulut Nayla dengan tangan nya lalu berkata.
"Diamlah, sebentar lagi kita akan sampai. Jangan berteriak, kamu akan membuat orang lain terganggu."
"Kenapa kamu yang disini, Meimei mana? Astaga!! aku memelukmu. Maafkan aku, wajar saja tubuhnya terasa lebih hangat ternyata bukan Meimei." Ucap Nayla tersenyum malu.
"Tidurlah sebentar lagi. biarkan seperti ini saja, aku masih mengantuk."
Nayla hanya menurut saja lalu mereka pun tidur kembali, tetap pada posisi semula. Entah apa yang dipikirkan Nayla ia terasa nyaman bersama Lingtheo. Atau mungkin karena kelelahan saja, jadi ia tak menggubris perkataan Lingtheo.
Tak lama kemudian pesawat yang ditumpangi mereka pun mendarat dengan selamat..
"Kakak... Kakak.. Putra rindu." Sahutan Putra terdengar jelas saat Nayla keluar dari bandar udara internasional Hongqiao Shanghai, China. Putra yang saat itu melihat Nayla berlari dengan kencang menghampiri Nayla.
"Kakak!! Kakak sudah kembali, hore. Putra sangat merindukan kakak." Sahut Putra dan memeluknya dengan erat.
"Sayangku.. huhuhu.." Nayla begitu merindukan adiknya itu. Mencium pipi Putra berkali-kali.
Adi yang saat itu berada dekatnya kembali memeluk Nayla, terlihat matanya sedang menyimpan kesedihan. Nayla terus memandangi wajah dengan tatapan penuh pertanyaan.
"Apakah kamu baik-baik saja?"
"Tak mengapa, aku ingin memelukmu lebih lama lagi. diamlah sejenak."
Entah mengapa air mata Adi menetes dengan sangat deras, apa yang terjadi padanya. Nayla merasa sangat khawatir.
Apakah Putra telah merepotkan nya selama Nayla berada di Jepang.
"Menangislah, jika itu bisa menenangkan perasaan mu. Maafkan aku tak berada disamping mu saat dirimu membutuhkan ku." Ucap Nayla menyalahkan dirinya atas kesedihan yang dirasakan Adi saat ini.
Adi tak membalas perkataan Nayla, ia terus saja memeluk Nayla. Lingtheo memperhatikan keduanya lalu berpikir.
"Siapa pria ini, mengapa begitu dekat dengan gadis kecil. Apakah kekasihnya? Kenapa aku merasa tak enak hati saat melihat mereka berpelukan. Lalu siapa anak kecil itu." Lingtheo mendekati keduanya bersama Lingmei.
Namamu siapa? bisakah paman menjadi temanmu?" Tanya Lingtheo sambari memberi gantungan tas bergambar pemeran anime Jepang bernama Taki Tachibana dalam serial film kimi no nawa. Putra yang melihatnya merasa senang karena ia sangat menyukai semua berjenis anime.
"Paman baik, namaku Putra. Sepertinya paman menyukai anime, Putra pun suka. Paman bisa main kerumah Putra karena Putra ada banyak komik anime, kak Nayla suka membelikan Putra buku komik. katanya agar Putra tak merasa jenuh saat dirumah." Tutur Putra bercerita pada Lingtheo.
"Ternyata anak ini adalah adiknya. Sangat pintar saat berbicara." Gumam Lingtheo dalam hatinya.
"Wahh.. kita bisa membaca komik bersama kalau begitu, paman akan ke rumah Putra saat ada waktu luang. Oh ya, siapa paman yang sedang bersama kak Nayla?" Ucap Lingtheo menyambung ceritanya. Ia masih penasaran.
"Oh pria itu, namanya paman Adi. Ia hanya teman kak Nayla. Ia yang menjaga Putra saat kak Nayla berada dijepang." Balas putra dengan tersenyum memandangi gantungan tas yang diberikan Lingtheo.
"Jadi begitu, baiklah sekarang kita sudah menjadi teman. ini hari pertemanan kita." Lingtheo memberikan jari kelingking nya pada Putra lalu putra membalasnya dengan jari kelingking yang terlihat kecil. Mereka kemudian berjanji telah menjadi teman.
"Putra, mari kita pulang." Ajak Nayla menghampiri Putra yang sedang bersama Lingtheo.
"Nay? Besok silahkan istirahat dahulu. Tak perlu masuk kerja, lakukan pekerjaan mu setelah besok. Atau sama dengan lusa." Tutur Lingtheo memberikan dispensasi pada karyawan nya. Lingtheo begitu baik.
"Wah. Terimakasih atas kebaikanmu. Aku bisa beristirahat dirumah. karena pekerjaan ku udah selesai jadi izinkan aku untuk pulang terlebih dahulu. Sampai jumpa lagi Meimei anak kecil ku." Ucap Nayla sembari memeluk Lingmei. Lalu Lingmei memberikan kenang-kenangan sehelai pakaian pada Nayla yang ia beli saat dijepang. Mengembalikan beberapa lembar Yuan Nayla yang ia ambil saat dimakam. dengan senang ia berkata.
"Ini uang ibu kecil aku kembalikan. Ibu kecil sangat lucu, ia berbahasa Mandarin saat dijepang. Hahaha..' aku menjadi translate nya saat berbicara pada anak kecil dimakam kak." Ucap Lingmei bercerita pada Lingtheo.
Nayla menebarkan senyum nya yang tersipu dengan wajah memerah, melihat Lingtheo yang menyeringai mendengar perkataan Lingmei. Mereka pun pulang ke kediaman masing-masing.
Adi tak berbicara sepanjang jalan. Ia terlihat murung, lalu Nayla berkata.
"Ada masalah apa? Ceritakan saja. Aku akan mendengarkan mu."
"Belakangan ini kondisi kesehatan mamaku menurun, saat papaku berbicara padanya. untuk mengakhiri pernikahan yang sudah mereka bangun selama 25tahun lamanya. Papaku berkata, ia ingin menikahi wanita pilihan nya. Aku merasa sedih saat mendengar nya. tetapi mamaku tak bisa berbuat apa-apa." Ucap Adi meluapkan semua keadaan nya.
"Ya Tuhan. Masalahmu sungguh besar. Bagaimana papamu bisa meninggalkan mamamu yang sedang sakit keras. Aku turut bersedih atas masalah yang menimpa keluarga mu. Apakah Rika adalah wanita pilihan papamu?"
"Aku tak tahu harus berbuat apa untuk mengembalikan keluarga seperti dulu. Rasanya sangat tak mungkin, keputusan papa sudah tak bisa di ubah. Aku hanya fokus pada kesembuhan mamaku. Memang benar ia adalah wanita pilihan papa untuk menggantikan posisi mamaku. Rika merampas semua yang aku miliki. Wanita itu benar-benar ular." Ucap Adi merasa dendam atas Rika.
"Jangan ada dendam, semua yang Rika lakukan akan mendapatkan balasannya dari Tuhan. Sabarkan dirimu, ingat selalu untuk menjaga mamamu." Sahut Nayla mencoba menenangkan Adi.
Adi yang mendengar perkataan Nayla hanya terdiam. terlihat sangat kacau dalam hidupnya.
"Astaga kakak. Handphone ibu kecil tertinggal dalam tas ku. saat ia pergi ke toilet menitipkan handphone nya padaku. Aku lupa memberikan nya, ia pasti membutuhkan nya. Sebaiknya kita putar balik saja. Menelusuri arah petunjuk yang terdapat pada handphone nya, sepetinya Adi adalah pria yang bersama nya. Namanya ada dalam petunjuk arah di handphone ibu kecil." Ucap Lingmei memberi tahu.
Mereka pun melaju mengikuti arah yang diberikan Adi pada ponselnya. Jadi, saat Nayla sedang berada dimana pun Adi bisa mengetahui nya melalui sambungan petunjuk arah. Begitu pula dengan Nayla.
Sesampainya mereka dirumah Nayla. Lingmei meminta Lingtheo untuk menemaninya mencari rumah Nayla. Ia pun bertanya pada tetangga Nayla dan akhirnya menemukan rumahnya lalu mengetuk pintu rumah Nayla.
"Tok..tok..tok.."
"Siapa yang bertamu, apakah teman Putra? Putra akan membuka nya." Gumam Putra berbicara sendiri.
"Wahh paman baik, akhirnya paman datang kerumah Putra. Tapi apa tidak terlalu cepat. kita baru saja bertemu, emm.. sebentar Putra akan mengambil buku komiknya dalam kamar." Ucap Putra merasa senang akan kedatangan Lingtheo. Tetapi sebelum Putra pergi Lingtheo sudah menyodorkan buku komik yang dia ambil dalam mobilnya.
"Ini adalah komik terbaru. Silahkan Putra baca saja, paman baru sudah membacanya. Paman tak bisa lama bertamu nya karena adik paman hanya ingin memberikan handphone kak Nayla yang tertinggal. Apakah kak Nayla nya ada? Mengapa sendirian?" Tanya Lingtheo pada Putra.
"Betul, ibu kecil kemana?" Sambung Lingmei sambil melihat keadaan rumah Nayla. Lalu Putra berkata.
"Kakak sedang mandi, aku akan berikan handphone nya pada kakak saat selesai mandi. dan terimakasih sudah memberi Putra komik terbaru."
"Oh begitu baiklah kita sudah berteman. Aku akan meminjam komikmu lain waktu ya. Hati-hati dirumah. Tutup pintunya dan biarkan terkunci." Ucap Lingtheo sembari beranjak pergi.
Lingmei hanya menurut perkataan kakak nya, ia juga merasa letih dalam perjalanan nya, ia memutuskan untuk beristirahat dahulu. Lain waktu akan berkunjung kerumahnya Nayla.
*****