
"Hmm.. bagaimana aku akan berbicara pada Lingtheo, ia menyelamatkan ku dari kejahatan Adi. tapi aku tahu, Adi bukanlah pria yang jahat. masih banyak pekerjaan yang harus ia urus." Gumam Nayla sembari berjalan.
Tin..Tin..Tin..
"Minggir dong!! Jangan berjalan terlalu tengah. Jika tertabrak menyalahkan orang lain. padahal emang pejalan kaki nya aja yang salah." Teriak bapak-bapak yang menyetir mobilnya.
Nayla yang melamun langsung tercengang dengan gerutu bapak tersebut. Ia memandang wajah bapak itu. lalu bapak tersebut menoleh ke arahnya yang terlihat sedang banyak berpikir.
"Mohon maaf pak." Tutur Nayla.
"Tak mengapa, jangan melamun saat dijalan. Ini bisa membahayakan nyawamu. Adik mau kemana? Mungkin bapak bisa membantu mengantar."
"Tak perlu pak. rumah saya belakang jalan raya ini, saya bisa sendiri." Tolak Nayla secara halus. Tangan nya berayun-ayun menandakan tak ingin.
"Baiklah jika begitu, berhati-hati."
Nayla hanya melihat mobil tersebut yang berlalu dengan cepat. Ia melanjutkan lamunannya. "Bagaimana aku menghubungi Lingtheo, handphone ku saja sudah dirusak Adi tadi malam. Apa ia akan datang untukku. Nayla.. kenapa kamu begitu banyak berharap. Lingtheo dan aku sangat berbeda, tak akan mungkin ia mau berteman dengan orang rendahan seperti ku. Aku mengenalnya hanya karena diriku mirip orang tuanya. Tak lebih dari itu."
Disamping itu..
"Kakak kecil. kenapa tak berangkat sekolah bersama Qiara. Aku lihat pak supirnya terus melaju meninggalkan rumah kakak kecil. padahal aku sudah berpesan untuk berhenti dekat rumah kakak kecil. paman Adi juga tak mengantar ku, aku menunggu nya sangat lama tapi bibi berkata Qiara harus berangkat sekolah sekarang. Maka dari itu, Qiara tak bisa berangkat bersama kakak kecil. Kakak kecil kenapa diam saja? Apa kakak kecil sedang sakit gigi." Tutur Qiara melihat Putra yang berwajah datar. Ia tak mengerti Putra mengapa.
"Kakak berbicara lah, mengapa diam saja. kakak kecil mengapa?"
Qiara terus berbicara lalu menyentuh tangan Putra kemudian Putra menjawab.
"Jangan sentuh aku!!"
"Kakak.. kok marah, Qiara salah apa. Apa Qiara hari ini nakal? Jika iya maafkan kesalahan Qiara." Qiara terlihat sedih atas apa yang diucapkan Putra.
Tatapan mata Putra sangat tajam. Ia sepertinya masih marah atas yang dilakukan paman nya pada kakaknya.
Sehingga ia jadi membenci Qiara.
"Putra mengapa begitu marah sama Qiara, tak biasanya kamu bersikap keras seperti ini." Ucap Gita yang dari tadi memperhatikan keduanya.
"Aku mendengar ada keributan dirumahmu semalam. Siapa yang berkelahi. Sebetulnya aku ingin melihat nya bersama Adam tetapi orang tua kami tak mengizinkan untuk keluar rumah." Sambung Xi memberitahu.
"Saat itu aku sedang bermain game hingga larut malam bersama Adam. Ia berada dirumahnya dan aku sendiri juga dirumahku. Kedua orang tua ku keluar rumah, tapi tak berselang lama ibuku juga masuk rumah dan bilang tak boleh keluar rumah." Sambung ceritanya.
"Oh begitu wajar saja kakak kecil kelihatan tak baik hari ini." Tutur Qiara.
"Diammmm!!!!!"
"Pamanmu yang sudah membuat kakakku luka, aku membenci pamanmu. Jangan harap bisa berteman dengan ku lagi. Aku tak ingin berteman dengan penjahat seperti pamanmu."
"Oh ternyata pamannya Qiara orang yang jahat. Aku juga tak ingin berteman dengan Qiara, ia juga pasti jahat seperti pamannya. Teman-teman jangan berteman dengan Qiara. Ia anak yang jahat seperti pamannya." Ucap Gita saat mendengar cerita Putra.
"Betulkah? Aku juga tak ingin berteman sama Qiara kalau begitu." Ucap siswa lain. Semua menatap Qiara dengan melihat kesalahan pamannya.
"Aku anak yang baik. Aku tak seperti yang kalian bilang. Kakak kecil mengapa begitu jahat membicarakan paman. Ia orang yang baik, seringkali membantu kakak kecil tapi mengapa bilang dia jahat. Hiks.. hiks.. hiks.." Qiara menangis.
"Baik hanya karena ingin dekat dengan kakakku. setelah dekat ia berani menyakiti nya hingga semua tubuhnya terluka. Aku tak menyukai paman seperti pamanmu. Mulai sekarang kita tak bisa berteman." Tegas Putra.
"Jangan begitu kakak. Hiksss.. Qiara menyukai kakak kecil, Qiara akan selalu menjadi teman kakak kecil." balas Qiara.
"Sudah jangan bertengkar, Qiara berhenti menangis. Ibu guru akan masuk dalam kelas, jika akan belajar. Mungkin Putra hanya sedang marah saja." Ucap Xi mencoba menenangkan Qiara.
Qiara pun mengelap air matanya, lalu fokus pada papan tulis. Menunggu waktunya belajar. Tak lama kemudian seorang guru memasuki kelasnya.
"Selamat pagi semuanya."
"Sebelum memulai kegiatan belajar kita pada pagi ini, marilah kita berdoa menurut kepercayaan masing-masing."
"Berdoa mulai." Semua siswa berdoa.
"Berdoa selesai. Baiklah berhubung sekolah akan memasuki tahun ke-11 pendirian nya. Maka, pihak sekolah akan mengadakan perayaan dalam memeriahkan ulang tahun sekolah. Ibu guru akan membagikan undangan untuk semua orang tua siswa-siswi di kelas ini. Agar ikut berpartisipasi dalam perayaan yang akan di adakan di sekolah."
"Silahkan semua siswa untuk mengambil satu persatu undangan nya, lalu berikan segera ke orang tua kalian saat jam belajar hari ini usai. Simpan dalam tas baik-baik dan jangan sampai rusak. Undangan ini akan berguna untuk mereka menghadiri acara sekolah nanti."
"Baik Bu guru.." semua siswa pun mengambil undangan satu persatu dengan rasa senang. tetapi tidak dengan Qiara, ia berkata.
"Bu guru, Qiara tak perlu mengambil undangan nya. Qiara tahu, orang tuaku tak akan datang untuk menghadiri acara nya. Mereka tak akan ada waktu untuk itu. Lagian Qiara sudah terbiasa tanpa mereka."
"Ambil saja, salah satu dari anggota keluarga mu bisa datang menghadiri acaranya. Tak perlu harus orang tua. tetapi lebih baik jika kedua orang tua bisa datang. Jika tak bisa juga tak mengapa yang penting ada perwakilan nya. Qiara jangan sedih ya."
"Hmm.. baiklah Qiara akan mengambil nya. Jika tak ada yang datang, jangan salahkan Qiara ya bu." Ucap Qiara lemas.
Putra memasukkan undangan nya dalam tas dengan rapi. Ia tak berpikir banyak, apakah kak Nayla nya bisa menghadiri acaranya atau tidak. Yang ada dalam pikirannya hanya kebaikan untuk kakaknya. Semua siswa-siswi tertib belajar dengan tenang hingga usai jam pelajaran.
"sepertinya aku harus membeli handphone baru, tetapi tabunganku sangat tipis. Aku memerlukan nya saat jam makan siang Putra. bagaimana aku akan membeli handphone ku dalam waktu yang sangat cepat. Apa sebaiknya aku membelinya dengan cara kredit saja." Nayla melamun dalam kamarnya.
"Handphone ku sudah tak bisa di benarkan lagi, kerusakan nya sangat parah. Aku harus bagaimana menghubungi Lingtheo. Apa aku pergi kerumahnya saja. Apa ini tidak memalukan. Aku masih mengingat kejadian dalam rumahnya saat itu. nanti ia berpikir, aku begitu menyukainya sampai datang kerumahnya. Hughh.. aku harus bagaimana?"
"Hmm.. sudahlah, akan aku pikirkan nanti. bagaimana membebaskan Adi. Mataku masih mengantuk. tidur sebentar ahh.. waktu menjemput Putra masih lama." Gumam Nayla kemudian memejamkan kedua matanya dan terlelap. belum lama ia terlelap Lingmei datang mengetuk pintu.
"Kok pintunya tak terkunci. Ibu kecil, apa ibu kecil ada didalam? Meimei masuk ya." Teriak Lingmei dari luar.
Ia tak mendengar sahutan dari Nayla. Ia merasa khawatir, lalu masuk dengan cepat menuju kamar Nayla. Dilihatnya Nayla sedang tertidur lelap. Ia mengelus rambutnya sambil tersenyum.
Ia menunggu Nayla yang sedang tertidur, merapikan rumah nya Nayla dan mencuci piring bekas makanan yang dimasak Lingtheo, Meimei jadi ingat. Ini pertama kalinya Lingtheo masak setelah bertahun-tahun ditinggalkan ibu.
"Kakak bisa memasak untuk ibu kecil sepertinya kakak menyukai ibu kecil, aku tak pernah melihat kakak masak, ibuku yang mengajarin kakak masak dari kecil. Mereka sering kali menghabiskan waktu bersama hanya untuk mencoba menu masakan baru. kakak sangat senang saat bersama ibu, hari-hari nya selalu ditemani ibu. setelah ibu tiada, kakak membenci masak. Ia tak bisa masak lagi saat ibu telah tiada."
"Baru sekarang kakak bisa masak setelah sekian lama kepergian ibu, apa karena ibu kecil mirip ibuku? Itulah sebabnya kakak memasak untuknya. Ini sedikit membingungkan tapi aku bahagia kakak akhirnya memberanikan diri untuk mulai memasak." Gumam Lingmei sambil membersihkan semua piring.
Nayla terbangun karena mendengar suara berisik dari dapur, ia mencoba melihat siapa orang dibalik dapur. "Apa Lingtheo telah datang? tak ku sangka ia mau menemui ku dibalik status keluarganya yang tinggi." Gumam Nayla berharap yang datang adalah Lingtheo.
Saat dilihatnya Lingmei yang datang. Ia pun terkulai lemas.
"Mengapa ibu kecil terlihat lemas setelah melihat ku, apa ibu kecil mengharapkan orang lain yang datang?"
"Tidak. bukan begitu, aku kira yang datang Theo. ternyata Meimei. sedang apa kamu nak?"
"Oh jadi kakak ku sudah mencuri perhatian mu sehingga ibu kecil ingin dia yang datang. Apakah ibu kecil sudah menyukai kakakku? Aku hanya melakukan pekerjaan kecil."
"Tak perlu ini merepotkan mu, ibu kecil bisa melakukan nya." Nayla bergegas mengambil spons yang berada ditangan Lingmei.
"Hmm.. ini tidak merepotkan sama sekali. Meimei bisa melakukan nya lagian tadi juga tak ada kerjaan. Jadi mencari kegiatan yang bisa dilakukan."
"Ibu kecil belum menjawab pertanyaan ku, Apakah ibu kecil menyukai kakak?"
"Tidak. aku hanya ada perlu untuk berbicara dengannya. Sebetulnya aku ingin menghubungi nya tetapi handphone sudah rusak."
"Ternyata ibu kecil tak menyukai kakak ku, kenapa aku manjadi sedih atas ucapan ibu kecil." Ucap Lingmei dalam hatinya. Lalu ia berkata. "Oh. Ada perlu apa dengan kakak? Mungkin Meimei bisa membantu ibu kecil?"
"Ini masalah Adi. Ibu kecil ingin Lingtheo segera mencabut laporannya di kantor polisi mengenai perbuatan Adi."
"Kenapa? Bukannya ia telah jahat dengan ibu kecil, kok mau menolong mengeluarkan ia dari hukumannya. Ia pantas di sana dengan perbuatan jahatnya." Ucap Lingmei.