Love You Too Much

Love You Too Much
Liburan Bersama



Keesokan harinya, mereka semua berkumpul di rumah Ethan.


Setelah mempersiapkan barang-barang yang mereka butuhkan, para Pria mengendarai 3 mobil.


Ethan bersama keluarganya, Chris bersama Laurine dan Jason bersama There berada di mobil lainnya.


Jessica tersenyum melihat Alva yang berada di gendongannya..


Putranya itu saat ini sedang tidur dan dari tadi tidak rewel sama sekali.


"Apa kamu mengantuk sayang?


Kamu boleh menidurkan Alva di tempat tidurnya."


"Tidak Kak. Aku malah tidak bisa mengalihkan pandanganku dari Alva."


Ethan tersenyum pada Jessica.


"Baiklah sayang."


Setelah beberapa jam kemudian, mereka sampai di villa keluarga Ethan yang berada di puncak bogor.


Mereka semua keluar dari mobil.


Pemandangan yang begitu indah dengan udara sejuk di sekitar villa.


Pohon-pohon hijau beserta taman yang berisi bunga-bunga membuat kagum setiap orang yang memandangnya.


"Kamu suka sayang?"


Jessica tersenyum dan kemudian menganggukkan kepalanya.


"Aku sangat suka Kak."


"Bagaimana dengan kalian? Kalian suka tempat ini?"


"Tempat ini bagus. Pemandangan disini juga indah." ucap Jason.


"Aku setuju." ucap There.


"Aku rasa aku akan betah di tempat ini.


Apalagi ada wanita cantik ini."


Chris memegang bahu Laurine yang berada di sampingnya.


"Kak..."


Pipi Laurine tampak merona.


Mereka semua hanya bisa terkekeh melihat kemesraan dua orang itu.


Terutama Ethan dan Jessica, yang terlebih dahulu merasakan hal itu.


"Baiklah, saat ini kita membereskan barang-barang kita terlebih dahulu. Setelah itu, kita akan bersiap-siap untuk makan malam." ucap Ethan.


Mereka semua langsung membereskan barang-barang mereka.


Malam harinya, mereka mempersiapkan makan malam


Mereka masak makan malam di luar, di dekat kolam renang dengan menu makan malam ayam barbequ.


Namun yang uniknya, setiap Pria tidak ingin merepotkan pasangan masing-masing. Sehingga makan malam hanya dipersiapkan oleh Ethan, Jason dan Chris.


Jessica, There dan Laurine tersenyum melihat Para Pria yang tampak begitu serius mempersiapkan makan malam untuk mereka.


Apalagi dengan apron merah muda itu, mereka terlihat menggemaskan.


"Bukankah mereka begitu romantis? Mereka bahkan tidak mengizinkan kita bekerja dari


tadi." ucap Laurine.


"Ya, kamu benar Lau. Tapi, apa mungkin para Pria bersikap romantis seperti ini hanya sebelum menikah saja?" tanya There.


"Aku pikir tidak seperti itu Lau. Kamu lihat saja Kak Ethan, dia masih saja bersikap romantis walaupun sudah menikah."


"Hemm..


Apa Kak Ethan adalah Suami yang romantis Jess?"


Jessica tersenyum dan kemudian menganggukan kepalanya.


"Sangat. Kak Ethan adalah Suami yang sangat romantis Re."


"Boleh kami tahu salah satu sikap Kak Ethan yang romantis?"


Jessica berpikir sejenak sambil melihat ke arah Ethan yang sedang tertawa pada Jason dan Chris.


"Semenjak aku mengandung, Kak Ethan selalu di sampingku, menemaniku, memenuhi semua keinginanku bahkan saat aku mengidam yang aneh-aneh.


Dan yang paling romantis menurutku adalah setiap malam Kak Ethan akan memijat dan mengompres kakiku."


Laurine dan There saling tersenyum satu sama lain.


"Kamu beruntung Jess." ucap There.


"Aku yakin, kelak kalian akan merasakan kebahagiaan yang kurasakan.


Dokter Chris dan Kak Jason akan memperlakukan kalian sama dengan apa yang dilakukan Kak Ethan padaku.


"Aku juga berharap seperti itu.


Hemm, entah mengapa aku ingin segera menikah." ucap There sambil menahan dagunya dengan tangannya.


Cincin yang berada di jari manisnya membuat tatapan Jessica dan Laurine terpusat pada benda itu.


"Apa Kak Jason sudah melamarmu Re?" tanya Jessica pada There.


"Iya, aku yakin itu cincin pertunangan." ucap.Laurine


There menjadi salah tingkah. Ia kemudian tersenyum dan perlahan menganggukkan kepalanya.


"Woww, selamat Re...


Aku sangat bahagia."


Jessica memegang erat tangan There.


Ia begitu bahagia mendengar kabar baik Sahabatnya itu.


"Selamat Re. Akhirnya kamu menyusulku juga."


"Aku sangat bahagia untuk kalian berdua. Segeralah menikah agar Alva juga memiliki teman bermain."


"Hem...


Jika salah satu anak kami nanti perempuan, ataupun keduanya perempuan, bagaimana jika kita menjodohkan salah satu dari mereka?" tanya Laurine.


"Ide yang bagus. Paling tidak, aku tidak khawatir jika anakku memiliki Menantu yang cerewet nanti."


Laurine terkekeh setuju.


"Kamu tahu Re? Aku juga berpikiran sama sepertimu."


"Aku juga setuju dengan kalian. Alva juga harus memiliki Mertua baik bukan?" ucap Jessica.


Mereka bertiga tertawa satu sama lain.


"Apa yang sedang mereka bicarakan sehingga tertawa seperti itu?" tanya Chris.


"Apa mereka sedang menertawakan kita karena memakai apron ini?"


Jason melihat ke arah apron merah muda yang sedang mereka pakai.


"Aku harap tidak. Sebenarnya aku juga tidak nyaman memakai apron ini." ucap Ethan.


"Tapi kau setuju untuk memakainya tadi." ucap Jason.


"Aku hanya ingin menyenangkan hati Istriku.


Aku tidak akan tega untuk menolaknya."


"Apa jika menjadi Suami harus bersikap sepertimu? Aku harus belajar bagaimana caraku memperlakukan Laurine saat menjadi Suaminya nanti."


"Kau mencintai Laurine. Kamu harus menyenangkan hatinya bukan?" tanya Ethan.


"Aku setuju dengan Ethan. Aku juga akan memperlakukan Clare dengan sangat baik saat aku menjadi Suaminya."


"Aku senang mendengarnya." ucap Ethan.


Makan malam telah siap, mereka semua berkumpul untuk makan malam bersama.


"Bagaimana rasanya sayang?" tanya Ethan.


"Iya, bagaimana rasanya Lau?" tanya Chris.


"Clare..." Jason menatap There.


Mereka bertiga menunggu jawaban Jessica Laurine dan There tentang penilaian masakan mereka.


Jessica tersnyum melihat ekspresi Ethan yang begitu lucu.


"Makanan ini sangat enak." ucap Jessica.


"Aku setuju." ucap There


"Aku juga. Kamu pandai memasak juga sayang." ucap Laurine pada Chris.


Ketiganya akhirnya bernapas lega setelah mendengar Jessica, There dan Laurine memuji masakan mereka.


Tiba-tiba terdengar suara tangisan Alva di dalam kereta dorongnya.


Ethan langsung mendekati Putranya itu bermaksud untuk menenangkannya.


Namun saat Ethan menggendong Alva, Putranya itu berhenti menangis dan kemudian tersenyum manis padanya.


"Aku rasa Alva juga ingin memuji masakan kita." ucap Chris.


"Ya, aku juga berpikir seperti itu." ucap Jason.


Mereka semua tertawa satu sama lain.


Tingkah menggemaskan Alva semakin mengidupkan suasana kebahagiaan mereka.


Canda dan tawa juga terselip di setiap obrolan mereka.