
Seseorang mengetuk pintu ruangan Laurine.
Ia melihat ke arah sumber suara.
"Masuk...." ucap Laurine.
Pintu terbuka, menampilkan Monica yang sedang tersenyum padanya.
"Hai Kak...
Aku membawa ini untuk Kakak."
Laurine melihat bungkus makanan yang berada di tangan Monica.
"Kakak pasti bosan dengan makanan di sini, jadi aku membawakan semua ini untuk Kakak"
"Tapi ini terlalu banyak Mon."
Monica tersenyum geli melihat ekspresi Laurine.
"Kita akan makan bersama Kak.
Aku juga sudah sangat lapar dari tadi."
"Ayo kita makan Kak.
Sepertinya kita harus makan di sofa. Tempat tidur bukan tempat yang tepat."
Laurine masih berada di atas ranjang.
Monica akan mengetahui kakinya yang terluka jika ia turun dari ranjang.
Apa yang harus ia lakukan?
"Kak, kemarilah Kak.
Aku sudah sangat lapar." ucap Monica dengan wajah memelas.
"Kamu lebih baik makan duluan Mon.
Aku belum lapar."
"Baiklah Kak."
Syukurlah, ucap Laurine di dalam hati.
Setelah selesai menghabiskan makanannya, Monica memasukkan sisa makanannya ke dalam plastik.
"Kak, aku akan membuang sampah makanan.
Aku pergi sebentar Kak."
"Baiklah Mon."
Laurine pikir ini saatnya ia pergi ke kamar mandi.
Dari tadi ia ingin buang air, namun ia berusaha menahan dirinya karena ada Monica di dalam ruangannya.
Laurine perlahan menggerakkan kaki kanannya yang berbalut perban dan kemudian kaki kirinya.
Laurine berusaha turun dari ranjang.
Namun saat kaki kirinya ingin mencapai lantai, Laurine terjatuh.
Bersamaan dengan pintu kamarnya yang terbuka.
"Kak Laurine.." ucap Monica yang terkejut melihat Laurine dengan posisi merangkak di lantai.
Ia langsung menghampiri Laurine.
"Kakak tidak apa-apa?"
Mata Monica tertuju pada perban yang berada di kaki kanannya.
"Apa yang terjadi dengan kaki Kakak?"
Laurine hanya diam, tidak menjawab pertanyaan Monica.
"Apa Kakak berusaha untuk menyembunyikannya dariku?
Karena Kakak tidak ingin aku memberitahu Dokter Chris?
"Aku baik-baik saja Mon.
Kemarin aku terjatuh di kamar mandi. Tapi sekarang, kakiku sudah baikan Mon."
"Kakak berbohong. Aku bisa melihat bahwa kaki Kakak masih sakit. Iya kan Kak?"
Laurine diam membisu.
Monica akhirnya tahu kebenarannya.
"Sampai kapan Kakak akan membohongi perasaan Kakak sendiri?
Kakak mencintai Dokter Chris kan?"
Laurine menatap wajah Monica yang berusaha untuk meyakinkannya.
"Aku melihatnya Kak. Aku melihat Kakak menangis saat melihat Dokter Chris bersama Gadis itu."
Ya, beberapa hari yang lalu saat ingin ke ruangan Laurine, Monica melihat Laurine berdiri di depan ruangan yang ia ketahui bahwa Chris sedang berada di sana untuk memeriksa pasien.
Saat itu, ia melihat kesedihan di wajah Laurine.
Sehingga ia bisa meyakini bahwa Laurine juga memiliki perasaan yang sama dengan Dokter Chris.
Hanya saja, Gadis itu selalu menepis perasaannya sendiri.
"Jika Kakak terus begini, kalian tidak akan pernah bersama. Dokter Chris sudah menyatakan perasaannya pada Kakak, mengapa Kakak tidak memberitahu perasaan Kakak juga?"
"Gadis itu sepertinya benar-benar berniat mendekati Dokter Chris. Aku tahu, Dokter Chris tidak memiliki perasaan apa-apa pada Gadis itu.
Tapi, bisa saja Dokter Chris menyerah dan akhirnya memilih Gadis itu.
Karena Dokter Chris mengira bahwa Kakak tidak mencintainya."
Monica memegang pundak Laurine.
"Apa Kakak bisa merelakan Pria yang Kakak cintai bersama orang lain?"
Laurine meneteskan air matanya.
Ia tidak bisa membayangkan bagaimana hal itu akan benar-benar terjadi nantinya.
Chris, ia tidak bisa merelakan Pria itu untuk orang lain.
"Katakan padanya Kak.
Katakan..."
"Apa Kakak mencintai Dokter Chris?" tanya Monica untuk membuat Laurine mengakui perasaanya.
Laurine menatap wajah Monica sejenak dan kemudian menganggukkan kepalanya.
"Aku mencintainya Mon, aku mencintainya.."
Monica membawa Laurine ke dalam pelukannya.
"Dari awal aku sudah mengetahuinya Kak.
Monica melepaskan pelukannya.
"Yang harus Kakak lakukan saat ini adalah dengan mengakui perasaan Kakak pada Dokter Chris.
Berjuanglah untuk cinta Kakak.
Segera temukan kebahagiaan Kakak, hem?"
Laurine menganggukkan kepalanya.
"Terima kasih banyak Mon. Kamu sudah meyakinkanku tentang perasaanku."
"Sama-sama Kak. Tidak tega rasanya jika aku membiarkan Kakak dan Dokter tidak bersama padahal kalian saling mencintai satu sama lain.
Lagian aku tidak suka dengan Gadis itu.
Dia masih kecil, tapi begitu ingin mendekati Dokter."
"Kakak harus merebut tempat Kakak, hem?"
"Iya Mon. Aku akan merebutnya kembali."
--
Laurine duduk di balkon kamar.
Rasanya hatinya begitu lega saat tadi ia mengakui perasaannya pada Monica.
Laurine memegang dadanya.
Jantungnya berdegup dengan kencang saat menyadari bahwa pada akhirnya ia jatuh cinta dengan Chris.
Sekeras apapun usahanya selama ini untuk menepis perasaannya pada Chris , akan berakhir dengan penderitaan bagi dirinya sendiri.
Ia begitu sakit setiap kali melihat Chris bersama Gadis itu, menjadi bukti bahwa sebenarnya ia sudah mencintai Pria itu.
"Kakak harus memberitahu perasaan Kakak pada Dokter Chris."
Laurine menatap handphone nya.
Dia sudah mencoba menghubungi Chris dari tadi. Namun Chris sama sekali tidak menjawab panggilannya.
Tadi Monica memang memberitahunya bahwa Chris sedang berada di luar kota saat ini.
"Mungkin Kak Chris sedang sibuk.
Aku akan memberitahunya saat ia kembali ke rumah sakit."
Tiba-tiba Laurine mendengar suara seorang Gadis yang begitu ia kenali.
Gadis itu, pikir Laurine.
Gadis itu kedengarannya sedang berbicara dengan orang lain lewat telepon.
"Aku sudah mengajaknya datang ke pesta malam ini.
Aku akan memperkenalkannya pada kalian." ucap Gadis itu.
"Ya, aku sangat yakin. Dokter Chris pasti menyukaiku juga. Malam ini aku akan menyatakan perasaanku secara langsung padanya. Aku akan menjadikannya sebagai Kekasihku. Aku sangat tidak sabar."
Apa? Gadis itu akan menyatakan perasaanya pada Chris?
Tidak, tidak.
Laurine tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
Gadis itu tidak bisa mengambil Chris darinya.
Laurine memegang erat tongkat yang ia gunakan.
Dari tadi ia berdiri di depan ruangannya menunggu Gadis itu keluar.
Tiba-tiba pintu itu terbuka, dan ia melihat Gadis itu keluar menggunakan Gaun pesta yang sudah terpasang sempurna di tubuhnya.
Gadis itu keluar bersama Ibunya.
"Apa Dokter sudah menunggu di bawah?" tanua Ibu Gadis itu.
"Sepertinya sudah Bu. Dokter Chris tadi mengatakan padaku bahwa jam segini ia akan sampai di depan rumah sakit."
Hati Laurine begitu hancur mendengar pernyataan Gadis itu.
Itu berarti Chris menyetujui ajakan Gadis itu untuk pergi bersamanya ke pesta itu.
"Apa penampilanku sudah terlihat sempurna Ma?"
"Tentu saja sayang. Kamu terlihat sangat cantik. Mama yakin, Dokter Chris akan menjadikanmu sebagai Kekasihnya."
Gadia itu tersenyum puasa mendengar jawaban Ibunya.
"Ayo sayang, tidak baik membuat Dokter menunggumu terlalu lama."
"Ayo Ma."
Mereka langsung pergi menuju lift.
"Tidak, ini tidak boleh terjadi."
Laurine langsung mempercepat langkahnya menuju lift.
Lift itu belum terbuka juga.
Dengan rasa tidak sabaran, Laurine memutuskan turun menggunakan tangga darurat.
Laurine melangkahkan kakinya dengan cepat.
Ia tidak perduli dengan kondisi kakinya yang masih belum pulih.
Yang ia pikirkan saat ini adalah bagaimana bertemu dengan Chris duluan sebelum Gadis itu.
Ia membayangkan penampilan Gadis itu yang ia akui terlihat begitu menawan.
Bagaimana jika malam ini Chris dan Gadis itu benar-benar pacaran?
Ia tidak bisa membiarkan itu.
Ia akan menyesal seumur hidup jika hal itu benar-benar terjadi.
Piluh mulai membasahi tubuh Laurine.
Bisa dibayangkan bagaimana dari lantai 4 ia harus turun ke lantai 1 dengan kondisi kaki seperti itu.
Rasa lelahnya tidak ia pedulikan.
Napasnya juga mulai tersenggal-senggal.
Laurine akhirnya dapat mencapai lantai satu.
Ia tersenyum. Ia melangkahkan kakinya dengan cepat.
Namun kakinya kanannya keram sehingga ia terjatuh ke lantai.
Kakinya begitu sakit.
Laurine menangis sambil memegang kakinya yang sulit untuk berdiri.
Laurine berusaha untuk berdiri namun ia terjatuh lagi.
"Aku tidak boleh begini. Aku harus bertemu dengan Kak Chris." ucap Laurine dengan menyemangati dirinya sendiri.
Ia akhirnya dapat berdiri dengan kaki kanannya yang ia seret-seret.
Laurine bahkan tidak memakai tongkatnya lagi.
Laurine melihat sekelilingnya untuk mencari keberadaan Chris.
Dia melangkahkan kakinya lagi, hingga matanya tertuju pada Gadis itu dan Ibunya yang sudah masuk ke dalam mobil.
Laurine melangkahkan kakinya dengan cepat untuk mengejar mobil itu.
"Kak Chris...." panggil Laurine.
Ia mengejar mobil itu, namun ia sama sekali tidak mampu menghentikannya.
Laurine terjatuh di depan pintu masuk.
Ia tidak mampu lagi mengejar mobil itu.
"Kak Chris.." ucapnya dengan suara lemah.
Laurine menatap kepergian mobil itu.
Air matanya mulai keluar.
Ia menundukkan wajahnya sambil menangis tersedu-sedu.
Laurine merasa kisah cintanya sudah berakhir saat ini.
Pria itu sudah pergi bersama Gadis lain.
Selamanya, ia akan menyesali perbuatannya selama ini.
Tidak akan ada lagi Chris di sisinya.
Ini semua salahnya.
Laurine masih dalam posisi itu hingga ada sebuah bayangan yang tiba-tiba muncul menutupi bayangannya.
Laurine menyadari kehadiran seseorang di hadapannya.
Ia menghapus air matanya dan kemudian menaikkan wajahnya untuk mengetahui siapa orang itu.
Air matanya kembali menetes saat melihat sosok yang sedang berada di hadapannya.
Perasaannya begitu campur aduk.
Apa yang harus ia lakukan?