Love You Too Much

Love You Too Much
Kabar Gembira



Ethan dan Jessica melambaikan tangan pada keluarga yang pergi menggunakan mobil satu per satu.


Ethan perlahan meraba tangan Jessica.


Jessica menatap Ethan yang sedang memandangnya dengan tatapan menggoda.


Tiba-tiba Ethan menggendongnya dan membawanya menuju kamar.


"Kak.."


Ethan mencium kening Jessica.


Mereka sudah sampai di depan kamar.


Ethan membuka pintu kamar menggunakan tangan kirinya.


Ia kemudian langsung meletakkan tubuh Jessica ke atas ranjang.


Ethan perlahan mendekati tubuh Jessica dan berada di atasnya.


Keduanya saling tersenyum.


"Kamu sangat cantik malam ini sayang."


Jessica tersenyum namun kemudian mengerucutkan bibirnya.


"Berarti hari-hari kemarin aku tidak cantik Kak?"


"Tidak sayang, kamu selalu cantik. Aku begitu terpesona dengan kecantikanmu, termasuk hari ini."


Jessica tersipu mendengar pujian Ethan.


Ethan mengelus pipi Jessica dengan lembut.


Ia kemudian mencium kening Jessica, turun ke hidung mancung itu, dan berakhir di bibir Jessica.


Bibir itu perlahan menempel sempurna di bibir Jessica.


Mulanya hanya menempel, lama kelamaan ada pergerakan di sana.


Ethan ******* bibir Jessica dengan lembut.


Ia mengecap seluruh rasa bibir Jessica dengan begitu gencar seakan-akan ia meluapan kerinduannya pada bibir itu.


Setelah beberapa saat akhirnya Ethan melepaskan ciumannya.


Ethan mengelus bibir Jessica yang sedikit bengkak dan kemudian menatap Jessica dengan tatapan penuh cinta.


Ethan berganti posisi menjadi posisi berlutut.


Ia perlahan membuka jas dan kemeja yang melekat di tubuhnya.


Jessica duduk di hadapan Ethan.


Setelah membuka semua pakaian yang melekat di tubuhnya, Ethan membuka kancing gaun yang digunakan Jessica.


Tubuh Jessica menegang saat Ethan mengecup bahu polosnya.


Kini gaun itu sudah terlepas dari tubuhnya.


Ethan membaringkannya kembali dan berada di atasnya.


"Aku sangat mencintaimu Jess." ucap Ethan


"Aku juga sangat mencintaimu Kak."


Ethan tersenyum dan kemudian menautkan kedua tangan mereka.


Ethan kembali mencium Jessica dan melakukan aktivitas intim yang sering mereka lakukan dulu.


Keesokan paginya, Jessica bangun di dalam pelukan Ethan. Ia tersenyum bahagia saat melihat wajah Ethan berada di depannya.


Tiba-tiba rasa mual muncul kembali.


Jessica langsung melepaskan tubuhnya dari Ethan dan berlari ke kamar mandi.


Jessica lagi-lagi hanya memuntahkan cairan putih dari mulutnya.


Ethan mendengar suara Jessica dari kamar mandi.


Ia langsung keluar dari tempat tidur dan menghampiri Jessica.


Gadis itu masih muntah.


Ethan memegang rambut panjang Jessica dan mengelus punggungnya dengan lembut.


"Apa kamu baik-baik saja sayang?"


Jessica menganggukkan kepalanya.


"Wajahmu sangat pucat, Kakak akan mengantarmu ke rumah sakit. Aku begitu mengkhawatirmu Jess."


"Baiklah Kak."


"Mandilah, setelah itu kita akan berangkat ke rumah sakit.


Kakak menyiapkan sarapan kita dulu."


"Baik Kak."


Setelah itu, Ethan keluar dari kamar mandi.


Jessica memandang dirinya di depan cermin.


Sebenarnya apa yang terjadi dengannya?


Dia sudah sering mengalaminya akhir-akhir ini.


Awalnya ia mengira ini akibat stres karena berpisah dengan Ethan.


Namun ia semakin tidak yakin dengan keadaan tubuhnya.


Jessica kemudian teringat dengan sesuatu.


Ia sudah lama tidak datang bulan.


(Apa aku hamil?)


Jessica kemudian memegang perut ratanya.


Apa janin sudah tumbuh di dalam rahimnya?


Jessica perlahan tersenyum.


Alangkah bahagianya dia jika memang benar dia hamil.


Kebahagiaannya akan lengkap saat itu.


--


Setelah sarapan, Jessica dan Ethan akan berangkat ke rumah sakit. Namun tiba-tiba suara handphone Ethan berdering.


Ethan mengangkat panggilan itu.


"Halo..


Apa? Mengapa bisa seperti itu? Bukankah aku sudah menyuruh kalian untuk berhati-hati?"


Jessica mendengar percakapan Ethan dari belakang. Tampaknya perusahaan sangat membutuhkan Ethan sekarang.


"Aku akan berbicara padamu nanti. Aku sedang ada urusan penting saat ini."


Ethan menutup panggilannya.


Jessica menghampiri Ethan.


"Ada apa Kak? Apa masalah serius di kantor?"


"Tidak ada sayang. Hanya masalah kecil saja."


"Tidak Kak, aku pikir kantor sangat membutuhkan Kakak sekarang."


"Jess.."


"Kak, pergilah. Kakak tenang saja, aku akan meminta There menemaniku ke rumah sakit."


Ethan menghembuskan napasnya.


"Aku akan segera memberitahu Kakak hasil rumah sakit nanti."


"Baiklah sayang, hati-hati ya.


Segera telepon aku jika terjadi apa-apa padamu."


Jessica menganggukkan kepalanya.


"Aku akan mengantar Kakak keluar."


Ethan mencium kening Jessica.


"Aku pergi sayang."


Jessica tersenyum pada Ethan.


"Hati-hati Kak."


Kali ini Ethan mencim pipi Jessica dan kemudian masuk ke dalam mobil.


Ethan menyalakan mobilnya dan melambaikan tangannya pada Jessica.


Jessica melambaikan tangannya juga pada Ethan.


Jessica kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Ia mengambil Test pack yang berada di dalam sakunya.


Setelah memasukkan urinenya ke dalam alat itu, Jessica menunggu hasilnya.


Ia menutup garis itu dengan ibu jarinya.


Jantung Jessica berdegup dengan kencang.


Ia kemudian memberanikan dirinya melihat hasilnya.


Dan ia begitu terkejut melihat hasilnya...


Ia positif HAMIL.


Dua garis itu membenarkan dugaannya bahwa ia sedang hamil saat ini.


Jessica begitu bahagia.


Ia memegang perutnya yang masih rata.


Ada janin tumbuh di dalam sana, calon anaknya bersama Ethan.


Jessica meneteskan air matanya.


Ia begitu terharu dengan Berkat luar biasa yang diberikan Tuhan padanya.


Jessica mengambil handphone nya dan kemudian mengirim pesan pada There.


Tak lama, There membalas pesannya.


Gadis itu mau menemaninya ke rumah sakit.


Ia ingin mengetahui berapa usia kandungannya saat ini. Ia sudah cukup lama mengalami tanda-tanda kehamilan, namun ia baru mengetahuinya sekarang.


"Sayang, maafkan Mama tidak mengetahui kehadiranmu dengan cepat.


Terima kasih sayang, kamu hadir dalam kehidupan Mama dan Papa.


Papa pasti akan senang saat mengetahuinya nanti. Mama dan Papa sangat mencintaimu sayang."


Jessica meneteskan air matanya lagi.


Baru kemarin ia merasakan kebahagiaannya, dan sekarang kebahagiaannya bertambah lagi.


"Puji Tuhan, terima kasih banyak Tuhan."


--


Jessica dan There sudah sampai di rumah sakit. Mereka langsung menuju resepsionis.


Mereka duduk berdampingan.


Jessica mengeratkan tangannya. Ia begitu tidak sabar mendengar hasilnya nanti.


There memegang tangan Jessica dengan lembut.


"Kamu pasti baik-baik saja Jess."


Jessica tersenyum pada There.


"Terima kasih banyak Re."


"Sama-sama Jess."


"Nona Jessica Ornetha Jeconiah."


Seorang Suster menghampiri mereka.


"Nona, masuklah. Dokter sudah menunggu anda."


Jessica langsung berdiri.


Ia menatap There sebentar.


"Terima kasih Suster."


Jessica kemudian masuk ke dalam ruangan.


"Duduklah Nona."


"Apa benar anda mengalami gejala mual-mual akhir-akhir ini?"


"Iya Dok."


"Baiklah, saya akan memeriksa keadaan anda"


Dokter itu memeriksa denyut nadi Jessica. Tak lama kemudian Dokter itu tersenyum pada Jessica.


"Apa anda belum mengetahuinya?"


"Saya baru mengetahuinya pagi ini Dok."


"Kandungan anda sudah memasuki usia 6 Minggu."


Jessica menutup mulutnya. Ia begitu terlambat mengetahui kehadiran bayinya.


"Selamat anda sudah menjadi seorang Ibu sekarang. Anda harus menjaganya dengan hati-hati, karena usia kandungan anda masih sangat rentan."


"Apa Suami anda datang bersama anda?


"Tidak Dok, Suami saya sebenarnya ingin menemani saya tadi. Namun saya menyuruhnya pergi ke kantor, karena ada urusan penting."


"Suami anda pasti sangat senang mendengar kabar ini."


"Iya Dok, dia pasti sangat bahagia."


Beberapa saat kemudian, Jessica keluar dari ruangan.


There langsung menghampiri Jessica.


"Bagaimana hasilnya Jess? Kamu pasti baik-baik saja Kan?"


Jessica meneteskan air matanya dan kemudian memeluk There.


"Ada apa Jess? Apa ada sesuatu terjadi padamu? Kamu bisa memberitahuku, aku akan selalu berada di sampingmu Jess."


Jessica melepaskan pelukannya.


"Aku hamil Re.."


There membelalakkan matanya.


"Hamil?"


There begitu senang mendengar perkataan Jessica barusan.


"Kamu beneran hamil Jess?"


Jessica langsung menganggukkan kepalanya.


"Sudah enam minggu."


There langsung memeluk tubuh Jessica dengan erat. Ia juga ikut menangis.


"Selamat Jess, aku begitu bahagia saat ini."


There melepaskan pelukannya.


"Kamu sudah menjadi seorang Ibu sekarang Jess. Aku begitu bahagia, aku akan menjadi seorang Bibi."


Jessica tertawa bahagia.


There kemudian mengelus perut Jessica.


"Sayang, semua orang pasti tidak sabar menunggumu datang ke dunia ini. Termasuk Aunty. Aunty sangat mencintaimu."


Jessica dan There kembali berpelukan.


Jessica dan There kemudian pergi ke Mall untuk belanja makanan sehat. There yang memintanya. Ia sudah menjadi Gadis yang cerewet sekarang.


There membelikannya buah-buahan dan Susu Ibu Hamil.


Bahkan There membelikkan banyak vitamin agar bayinya tumbuh dengan sehat.


"Duduklah di sini. Kamu tidak boleh lagi lama-lama berdiri Jess."


Jessica tersenyum melihat perlakuan There padanya.


"Bagaimana denganmu Re?"


"Bagaimana apanya Jess?"


"Bagaimana hubunganmu dengan Kak Jason?"


"Hem, sejauh ini hubungan kami biasa saja. Sepertinya kami memang ditakdirkan hanya sebagai teman saja Jess. Kami tidak cocok sebagai sepasang kekasih."


There sebenarnya sudah menyerah dengan cintanya. Jason sama sekali tidak memiliki perasaannya. Apalagi sebentar lagi Jason akan kembali ke Amerika.


Sudah tidak ada lagi harapan untuknya.


"Kamu tidak boleh berkata seperti itu Re.


Semalam aku melihat Kak Jason menggenggam tanganmu, apa kamu tidak berpikir bahwa Kak Jason sudah memiliki perasaan padamu?


Ia bahkan mengajakmu berdansa dengannya."


Memang semalam Jason mengajaknya berdansa. Pria itu juga menggenggam tangannya.


Jessica memegang tangan There.


"Re, kamu tahu bukan bahwa hubunganku dengan Kak Ethan jauh lebih sulit dari hubungan kalian? Kamu pasti bisa bahagia bersama Kak Jaso.


Aku yakin Kak Jason sudah memiliki perasaan padamu.


Aku sudah lama mengenalnya Re.


Dia tidak akan mau menggenggam tangan Gadis jika ia tidak memiliki perasaan pada Gadis itu.


Berjuanglah Sahabatku. Kamu harus segera menyusulku, hem?"


There tersenyum dan kemudian menganggukkan kepalanya.


Jessica tahu, bahwa keduanya sudah saling mencintai sekarang. Tatapan Jason pada There semalam sama dengan tatapan Jason padanya dulu.


Pria itu sudah mencintai There, Sahabatnya.


Ia bahagia sekaligus lega.


Dua orang penting di dalam hidupnya, akhirnya dapat menemukan kebagiaan mereka.