Love You Too Much

Love You Too Much
Diam-diam memperhatikan



Semenjak mengetahui kehamilan Jessica, Ethan berubah menjadi Suami yang Protective.


Ethan juga begitu memanjakan Jessica.


Ia diperlakukan layaknya seorang ratu.


Seperti Pagi ini, Ethan memutuskan untuk tidak bekerja hanya untuk menemani Istrinya.


Ethan menarik Jessica ke dalam kamar mandi.


Ia mengambil sikat gigi Jessica dan menaruh pasta gigi di sana.


Hal kecil namun terlihat romantis untuk Jessica.


"Terima kasih Kak."


Mereka menyikat gigi mereka bersama.


Tidak hanya itu.


Setelah selesai mandi, rambut Jessica tampak basah. Ethan berinisiatif sendiri .mengeringkan rambut Jessica.


Jessica tersenyum di depan cermin.


Ethan memang benar-benar memanjakannya.


"Kamu tahu sayang? Jika anak kita seorang laki-laki, ia akan tampan seperti diriku.


Dan jika ia perempuan, ia akan manis seperti diriku juga.


Seperti ini.."


Ethan mengambil rambut Jessica.


Dan menirukan bagaimana anak perempuan mereka nantinya.


Jessica tersenyum geli melihat Ethan mempraktikkannya menggunakan rambutnya


Ethan begitu lucu dan menggemaskan.



"Bukankah aku memiliki senyum yang manis sayang? Kamu harus mengakuinya. Karena kamu salah satu korban dari pesonaku."


Jessica tersenyum sambil memegang lembut pipi Ethan.


"Aku juga begitu mengagumi senyum itu sayang. Bagaimanapun, kita sama-sama korban."


Ethan mencium pipi Jessica.


"Baiklah, selanjutnya aku akan menyisir rambutmu sayang.


Mulai hari ini, aku akan memperlakukanmu layaknya seorang ratu."


"Kak, tapi.."ucap Jessica.


Bagaimanapun diperlakukan layaknya seorang ratu juga sedikit berlebihan untuk Jessica.


Ia juga memiliki kewajiban sebagaim seorang Istri.


"Sayang, kamu memiliki tanggung jawab yang lebih besar dibandingkan diriku. Kamu mengandung anak kita. Kamu juga akan merasakan sakit nantinya. Dan sebagai Suami, tugasku adalah melayanimu dan memberikan perhatian yang besar padamu."


Jessica tersenyum penuh haru mendengar kalimat Ethan.


Ethan mengelus kepala Jessica dengan lembut.


"Aku tidak mau terjadi apa-apa padamu dan bayi kita sayang."


Jessica langsung memeluk Ethan dengan erat.


Ia begitu kagum dengan Suaminya.


Ethan mencium puncak kepala Jessica dengan penuh perasaan.


--


Laurine duduk di tepi ranjangnya sambil memandang ke luar jendela.


Sudah berhari-hari ia di rawat di rumah sakit, namun Pria itu sama sekali tidak berniat mengunjunginya.


Chris mengatakan bahwa ia mencintainya, namun mengapa Pria itu tidak pernah mengunjunginya?


Walaupun Chris berjanji untuk tidak mengganggunya, apakah cinta Pria itu hanya sebesar itu padanya?


Tidak ada perjuangan sama sekali.


Lebih baik ia pulang ke rumah


Atau kalau perlu, ia dirawat di rumah sekalian.


Pria itu yang kemarin memaksanya untuk tetap tinggal di rumah sakit.


Bukannya membuatnya cepat pulih, malah membuat salah satu bagian tubuhnya merasakan sakit.


Ya, hatinya.


Kesepian dan kegelisahan sedang melanda hatinya saat ini.


Dulu saat dirawat di rumah sakit, Chris akan menemaninya dan mengajaknya jalan-jalan walau hanya di sekitaran rumah sakit.


Perlahan, air mata Laurine mulai menetes.


Ia bodoh, sangat bodoh.


Mengapa ia malah menyalahkan Chris?


Bukankah ia yang meminta Chris menjauhinya?


"Apa yang sebenarnya aku lakukan?


Sadarlah Lau. Kamu tidak boleh begini.


Kamu harus segera sembuh agar bisa kembali ke rumah secepatnya."


Laurine langsung menghapus air matanya.


--


Beberapa menit kemudian, Laurine keluar dari ruangannya. Ia berencana keluar untuk menghirup udara segar.


Lagian ia sangat bosan terus-terusan di dalam ruangannya.


Laurine menyusuri tiap ruangan.


Matanya menangkap ruangan yang tidak asing baginya, ruangan Chris.


Entah mengapa, Laurine berjalan menuju ruangan itu.


Bukannya belok, Laurine malah lurus ke depan.


Laurine perlahan mendekati ruangan Chris dan melihat Chris dari kaca luar.


Pria itu sedang menangani Pasien, seorang Gadis muda yang terlihat bersama Ibunya.


Beberapa saat kemudian, Pasien itu keluar dari ruangan Chris.


Laurine langsung menepi dari tempatnya.


Laurine melihat keduanya pergi dari sana. Namun ia sempat mendengar pembicaraan keduanya.


"Bukankah Dokter Chris sangat tampan Bu?"


"Benar sayang. Dokter Chris sangat tampan dan baik juga. Apa kamu menyukainnya?"


"Iya Bu, aku menyukainya. Aku sangat ingin menjadi Kekasih Dokter Chris."


"Ibu sangat setuju kalau begitu sayang."


Laurine memutuskan kembali ke ruangannya setelah mendengar pembicaraan itu.


Ia menundukkan kepalanya.


Entah mengapa saat ini perasaanya begitu campur aduk.


Air mata kembali lolos membasahi wajahnya.


Tiba-tiba seseorang masuk ke dalam ruangan Laurine.


Laurine langsung menghapus air matanya.


Monica melihat Laurine tampak seperti baru menangis.


Ia langsung menghampiri Laurine yang sedang duduk di tepi ranjang.


"Apa yang terjadi dengan Kakak? Kakak baik-baik saja?" tanya Monica dengan penasaran.


Laurine berusaha menghindari tatapan Monica. Ia tidak mau Monica tahu bahwa ia barusan ia menangis.


"Aku baik-baik saja Monica."


"Baiklah Kak. Apa Kakak perlu sesuatu?"


"Tidak." ucap Laurine yang langsung berbaring di ranjang.


"Baiklah Kak. Aku akan memeriksa kondisi tubuh Kakak."


Selama pemeriksaan, Laurine berusaha menyembunyikan wajahnya dari Monica.


Walaupun Laurine mengatakan bahwa ia baik-baik saja, Monica tahu bahwa Laurine berbohong padanya.


Gadis itu pasti sedang menyembunyikan kesedihannya. Terbukti dengan matanya yang masih terlihat basah saat dia masuk tadi.


Apa yang sebenarnya terjadi pada Laurine?


"Beristirahatlah Kak. Nanti Malam aku akan kembali lagi."


Laurine tampak diam saja.


Monica menaikkan selimut ke tubuh Laurine.


Ia kemudian keluar dari ruangan Laurine dan pergi ke ruangan Chris.


Ia akan memberitahu Chris soal ini.


Monica mengetuk pintu ruangan Chris.


"Masuk.." ucap Chris dari dalam.


Monica langsung masuk ke sana.


"Duduklah Mon.


Monica duduk di hadapan Chris yang tampak sedang sibuk.


"Apa ada yang ingin kamu katakan padaku?"


tanya Chris sambil melihat ke berkas yang berada di tangannya.


"Ini soal Kak Laurine Dok."


Seketika kegiatan Chris terhenti, dan langsung menatap Monica.


"Apa ada sesuatu terjadi padanya?" tanya Chris dengan nada khawatir.


"Katakan padaku Mon."


"Tadi saat aku masuk ke ruangannya, tidak sengaja aku melihatnya sedang menangis.


Aku mencoba bertanya keadaanya Dok, namun sepertinya dia tidak ingin aku mengetahuinya."


"Apa Dokter tahu apa yang sedang terjadi dengannya?"


Chris berpikir sejenak.


Ia sebenarnya juga tidak tahu apa alasan Laurine menangis.


Memang dulu Gadis itu sering menangis di ruangannya.


Namun alasannya pada saat itu adalah Ethan.


Kalau sekarang, apa mungkin Laurine masih menangisi Ethan?


Memang Gadis itu masih mencintai Ethan. Tapi bukankah Laurine sudah mengikhlaskannya demi kebahagiaan Ethan?


Apa yang sebenarnya terjadi pada Laurine?


Chris sangat khawatir dengan gadis itu.


Chris tidak bisa menahan dirinya lagi.


Walaupun ia sudah berjanji, tapi hatinya tidak bisa tinggal diam.


Ia melangkahkan kakinya menuju ruangan Laurine.


Chris melihat Laurine sudah tidur dari luar.


Ia kemudian membuka pintu ruangan Laurine dengan hati-hati.


Chris perlahan mendekati ranjang.


Laurine tidur dengan begitu damai.


Chris menaikkan selimut yang tidak menutupi seluruh tubuh Laurine.


Untuk beberapa saat, Chris duduk dengan memandang Laurine yang sedang tidur.


Ia hanya ingin memastikan Laurine baik-baik saja.


Selain itu, ia juga begitu merindukan Laurine.


Akhir-akhir ini, mereka tidak pernah bertemu.


Ia ingin mengunjungi Laurine, tapi ia sadar bahwa ia tidak boleh egois. Itu hanya akan melukai Laurine nantinya.


"Apa yang terjadi denganmu Lau?


Aku sangat ingin mengunjungimu, namun aku sudah berjanji padamu untuk tidak mengganggumu lagi."


"Apa karena aku menahanmu di sini?


Maaf, maafkan aku."


Setelah lama berada di ruangan Laurine, Chris beranjak dari duduknya.


Ia menatap Laurine sebentar, dan kemudian pergi dari sana.


Laurine dengan mata tertutup, perlahan meneteskan air matanya.


Ya, ia belum tidur sama sekali.


Laurine memang tidak bisa tidur walaupun ia sudah berusaha menutup matanya.


Hingga akhirnya, ia mendengar langkah seseorang masuk ke dalam ruangannya.


Aroma parfum yang begitu ia kenal, membuat Laurine tetap menutup matanya.


Ia tahu siapa orang itu.


Chris menaikkan selimut padanya dan kemudian duduk di dekatnya.


Entah mengapa, kehadiran Chris membuatnya begitu nyaman. Bahkan Pria itu dari tadi memandangnya.


Walaupun mata Laurine tertutup, tapi ia tahu bahwa Chris sedang memandanginya.


Perasaan Laurine mencelos saat Chris mengatakan bahwa Pria itu sebenarmya berniat untuk mengunjunginya.


Akhirnya, ia mendapatkan jawaban dari pertanyaannya.


Itu artinya, Chris masih peduli padanya.


Bahkan Pria itu tidak segan-segan datang ke ruangannya hanya untuk memastikan dirinya baik-baik saja.


Laurine menatap ke arah pintu saat Chris sudah pergi.


(Diam-diam kamu memperhatikanku ternyata)