
Pukul 10 malam, Ethan kembali ke rumahnya. Rossa yang mendengar suara mobil, segera berdiri menuju ruang tamu untuk memberikan kabar baik pada putranya.
Ethan memasuki rumah dan melihat Mamanya sedang duduk di sofa dengan wajah ceria.
"Ma, aku sudah mengetahui apa yang akan mama katakan padaku."
Ethan bergegas menuju ke kamarnya, ia tidak ingin mendengar kata "perjodohan" lagi. Namun Rossa tetap mengikuti langkahnya dari belakang.
"Sayang, kali ini dia gadis yang sangat tepat untukmu. Dia gadis yang cantik, baik, pintar memasak, perhatian dan Mama sudah mengenalnya dengan baik. ", katanya dengan penuh keyakinan.
Ethan menghentikan langkahnya dan kemudian menghadap Rossa dengan wajah kecewa.
"Ma, aku sudah berkali-kali mengatakan bahwa aku tidak akan mau dijodohkan. Mama juga tahu bahwa aku sudah memiliki kekasih."
"Ethan, Mama juga sudah mengatakan padamu jika kamu dan Laurine itu..
"Hanya Kakak dan adik?", ungkap Ethan.
"Aku sangat mencintainya Ma. Mengapa Mama selalu mengatakan bahwa Laurine akan selalu menjadi adikku?"
"Karna Mama tahu yang terbaik buat kamu sayang. Kamu dan Laurine sudah tumbuh bersama-sama sejak kalian kecil. Oleh karena itu, Mama sudah menganggap Laurine seperti putri kandung Mama sendiri."
"Mama sudah mendapatkan gadis yang sangat cocok untukmu Ethan. Dia gadis yang sempurna. Mama mohon, kali ini kamu menuruti permintaan Mama ya Ethan."
Rossa menatap Ethan dengan tatapan memohon.
Ethan memijit kepalanya. Dia tidak bisa lagi begini. Masalah ini akan terus berlanjut. Dia kecewa dengan Mamanya yang tidak pernah memberikan kesempatan untuk hubungannya dengan Laurine.
Dengan wajah kesal ia membentak Rossa," Aku tidak akan pernah mau dijodohkan dengan siapapun. Kalaupun aku menikah, aku hanya akan menikah dengan Laurine Ma.
Ma, aku mohon berhenti melakukan ini."
Ethan langsung menaiki tangga menuju kamarnya. Ini pertama kalinya ia membentak Rossa. Ada rasa bersalah saat ia berada di kamar. Ia sangat mencintai Mamanya.
Ia pernah berjanji akan menuruti permintaan Mamanya tapi tidak untuk yang satu itu. Ia tidak ingin kehilangan salah satu dari kedua wanita yang dicintainya.
Besok ia akan meminta maaf pada Rossa.
Di kamar Rossa menangis, tidak menyangka Ethan akan membentaknya. Ini pertama kali Ethan melukai hatinya.
Tiba tiba ia merasa sakit kepala hebat. Ia langsung mengambil obat dan Gelas yang berisi air di atas meja. Rossa memiliki penyakit yang tidak serius tapi apabila ia mengalami stres, penyakit itu akan bertambah parah. Ia selalu berusaha menenangkan pikiran dan Ethan juga selalu mengingatkannya agar tidak stress. Namun, perkataan Ethan tadi cukup membuatnya terluka.
---
Sudah 3 Hari Rossa menghindari Ethan. Rossa bahkan tidak ingin berbicara dengannya. Ada rasa bersalah pada diri Ethan. Ia tidak seharusnya membentak Rossa pada Malam itu. Bagaimanapun ia sangat mencintai Mamanya itu.
Semenjak Papanya meninggal, hanya Mamanya penopang hidupnya. Ia berjanji tidak akan membuat Mamanya sedih tapi malam itu ia melakukannya.
Sebelum ke Rumah Sakit, Rossa memutuskan pergi menemui Jessica. Entah mengapa ia ingin menceritakan semua kesedihannya pada gadis itu.
"Hai Tante. Apa Tante sudah menunggu lama?"
"Tidak, Tante juga barusan datang sayang."
Jessica melihat wajah Rossa tampak pucat dan lesu.
"Apa Tante baik-baik aja? Wajah Tante terlihat sangat pucat.", ungkap Jessica dengan wajah khawatir.
"Tante tidak apa-apa sayang."
"Tidak, Tante pasti sedang sakit. Ayo Tante, Jessica antar ke Rumah Sakit. Atau Jessica akan mengantar Tante ke rumah Tante saja kalau begitu."
"Kamu gadis yang baik sayang. Terima kasih", dengan nada lemah dan Rossa menitihkan air matanya.
Melihat Rossa menangis, Jessica langsung memegang tangan Rossa.
Dengan wajah tersenyum, "Tante jadi mengingat pertemuan pertama kita. Perkataanmu sama dengan saat itu Jess."
Jessica tersenyum,"Jessica berjanji, Jessica akan selalu bersama Tante. Tapi Tante juga harus berjanji bahwa Tante tidak akan bersedih lagi."
"Tante berjanji sayang."
Setelah makan dan mengobrol, Jessica mengantar Rossa terlebih dahulu sebelum kembali ke kantor.
Namun saat menunggu taksi, Rossa tiba-tiba pingsan. Melihat Rossa pingsan, Jessica langsung mengangkat kepala Rossa ke pangkuannya. Ia sangat khawatir. Ia semakin yakin bahwa Rossa memang sedang sakit.
"Tante tolong bangun.", dengan wajah khawatir.
Jessica langsung mengambil Handphonenya dan memanggil ambulans.
Sesampainya di rumah sakit, Rossa langsung diberikan oksigen dan dibawa ke Ruang ICU. Disampingnya Jessica menangis melihat keadaan Rossa.
"Ibu tolong tunggu di sini, kami akan memeriksa keadaannya.", ungkap seorang Suster yang melarangnya untuk masuk.
"Tuhan, tolong lindungi Tante Rossa," sambil melipat tangan dan menunduk.
Setelah menunggu beberapa lama, Ruangan itu terbuka dan tampak seorang Dokter keluar.
"Dokter bagaimana keadaan Tante Rossa?", dengan wajah khawatir.
"Mari ke ruangan saya. Saya akan menjelaskan bagaimana kondisi pasien."
--
"Pasien memang tidak memiliki penyakit yang serius. Hanya saja bila ia mengalami stress dan tertekan, ia akan pingsan dan kondisinya akan parah. Pasien bisa saja mengalami koma seperti apa yang dialami Ibu Rossa saat ini."
Mendengar pernyataan Dokter, Jessica merasa sangat panik.
"Koma Dok? Apa Tante Rossa koma dalam jangka waktu yang lama?"
"Ada kemungkinan dalam waktu yang lama dan bisa juga dalam waktu yang sebentar. Itu tergantung dari kemauan Pasien untuk bangun dari komanya."
(Apa yang harus kulakukan? Apa aku harus memberitahu keluarga Tante Rossa? Ya aku harus melakukannya. Bagaimanapun mereka harus tahu kondisi Tante Rossa)
--
Jessica mencari nama kontak di Handphone Rossa yang kira-kira bisa dihubungi. Dan pencarian Jessica berhenti di nama "Ethan Putraku". Ya, Rossa pernah mengatakan bahwa putra Rossa bernama Ethan. Jessica memutuskan untuk menelepon orang itu. Awalnya, panggilan itu lama terjawab. Namun setelah beberapa detik kemudian, suara orang itu terdengar.
"Halo Ma. Mama tidak marah lagi kan padaku?", ungkap Ethan dengan nada gembira saat melihat panggilan Mamanya.
Jessica seperti mengenali suara itu. Namun bukan waktunya untuk berusaha mengenali suara itu.
"Halo.."
Ini bukan suara Mamanya pikir Ethan.
"Anda siapa? Mengapa Handphone Mama saya berada pada anda?"
"Halo, saya ingin memberi tahu anda bahwa Tante Rossa sedang di rawat di Rumah Sakit. Saya sedang menemaninya disini. Kalo boleh, tolong segera ke Rumah Sakit Pelita Harapan secepatnya."
"Apa? okey saya akan kesana secepatnya."
Tanpa berpikir panjang, Ethan langsung memakai jasnya dan menuju mobilnya.
Ethan sangat khawatir saat ini. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana Rossa terbaring di rumah sakit. Ini salahnya. Dia yang membuat Mamanya sakit. Rossa pasti tertekan karena perkataannya kemarin.
"Maafkan aku Ma. Tolong bertahanlah Ma", ungkap Ethan dengan meneteskan air mata.