
Ethan melangkahkan kakinya dengan cepat menuju kamarnya. Ia membuka pintu kamar dan masuk, tampak seorang gadis tengah duduk di tepi ranjang sambil menundukkan kepalanya. Gadis itu masih memakai gaun pestanya.
Ethan mendekati Jessica dan berdiri di hadapannya. Sontak Jessica menyadari kehadiran Ethan dan langsung berdiri.
"Apa kamu marah padaku karena telah membuatmu menunggu terlalu lama?" ucap Ethan dengan nada lembut.
Jessica menggelengkan wajahnya.
"Aku tidak pantas untuk marah pada Kakak."
ucap Jessica dengan lirih.
Ethan langsung membawa Jessica ke dalam pelukannya.
(Apa Kak Ethan memang sudah memiliki perasaan padaku?)
Jessica masih belum yakin dengan apa yang telah diucapkan Dave padanya.
Lama mereka saling berpelukan kamudian Ethan melepaskan pelukannya.
"Istirahatlah, dan segera ganti pakaianmu. Aku akan mengatakan pada yang lain bahwa kamu sedang tidak enak badan." ucap Ethan sambil memegang bahu Jessica.
Jessica menganggukkan kepalanya dengan pelan.
"Aku harus menyapa tamu yang lain dulu. Aku pergi." ucap Ethan dengan senyuman lalu pergi keluar dari kamar.
Jessica menatap punggung pria itu kemudian pergi ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.
--
Acara sudah selesai dan semua tamu sudah pulang.
Ethan kemudian mengantar Laurine kembali ke rumahnya.
"Masuklah" ucap Ethan pada Laurine.
Gadis itu tidak menjawab perkataan Ethan.
Ethan tersenyum pada Laurine kemudian membalikkan badannya untuk kembali ke rumah namun Laurine menghentikan langkahnya. Gadis itu memeluknya sangat erat dari belakang.
"Aku begitu mencintaimu Kak.
Berjanjilah Kakak tidak akan meninggalkan aku." ucap Laurine dengan lirih.
Ethan melepaskan pelukan Laurine dengan lembut dan membalikkan badannya berhadapan dengan Laurine.
Ethan memegang pundak Laurine.
"Ada apa hemm?"
"Kita selamanya akan bersama kan Kak? Tidak akan ada yang bisa menghalangi cinta kita. Baik Bibi Rossa atau siapapun itu. Iya kan kak?"
Ethan belum menjawab pertanyaan Laurine. Sekilas ia mengingat pernyataan Dave yang mengatakan bahwa ia sudah jatuh cinta pada Jessica. Walaupun ia belum mengetahui dengan pasti bagaimana perasaannya, namun saat ini ia begitu peduli pada gadis itu. Ia juga tidak ingin Jessica berhubungan dengan pria lain.
Memang egois, namun itulah yang sedang ia rasakan saat ini.
Melihat wajah Laurine yang berubah menjadi sedih, Ethan kemudian menganggukkan kepalanya sambil memberikan senyuman pada Laurine.
Laurine tersenyum bahagia melihat jawaban Ethan. Ia yakin hati Ethan hanya akan selalu miliknya. Pria itu sangat mencintainya baik dulu maupun sekarang hingga selamanya.
"Masuklah.."
"Baik Kak..." ucap Laurine dengan senyuman.
Gadis itu membuka pintu rumah kemudian masuk ke dalam.
Ethan masih berdiri di tempat itu, ia masih belum mengerti dengan perasaannya saat ini.
Kemudian ia melangkahkan kakinya menuju rumah.
Ethan membuka pintu kamar dan melihat Jessica yang baru keluar dari kamar mandi dengan handuk yang berada di kepalanya.
"Apa kamu baru mandi jam segini?"
tanya Ethan pada Jessica.
Jessica menganggukkan kepalanya.
"Kamu bisa sakit dengan rambut basah seperti itu. Duduklah di sana." ucap Ethan menunjuk ke arah kursi di depan meja rias.
Jessica mengikuti perintah Ethan, ia mendudukkan tubuhnya ke kursi itu.
Ethan mengeringkan rambut Jessica menggunakan handuk itu.
Jessica menaikkan wajahnya melihat Ethan yang sedang mengeringkan rambutnya. Ia ingin menghentikan Ethan, ia begitu tidak enak pada Ethan.
Ethan sesekali melihat wajah Jessica. Jessica tampak begitu cantik dari posisi dekat. Ia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari gadis itu.
Jessica mengangkat tangannya, seketika Ethan menghentikan kegiatannya saat tangan Jessica menyentuh tangannya.
Mata mereka saling bertatapan.
Ethan meurunkan badannya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Jessica.
Gadis itu tampak menurunkan wajahnya.
Jessica mengeratkan gaun tidurnya melihat wajah Ethan yang begitu dekat dengannya. Bahkan hembusan napas pria itu sangat terasa.
Entah keberanian dari mana, Ethan memegang dagu Jessica dan mengarahkan wajah itu lebih dekat kepadanya.
Jessica semakin mengeratkan genggamannya saat melihat wajah itu semakin dekat kepadanya.
Ethan memajukan wajahnya untuk mencium bibir Jessica.
Bibirnya sudah mencapai bibir itu.
Bibir mereka saling menempel.
Tubuh Jessica sangat menegang saat Ethan mencium bibirnya. Jessica berusaha mengontrol jantungnya yang berdetak dengan cepat.
Ethan menyadari hal itu. Gadis itu tampaknya begitu gugup saat ini.
Ethan melepaskan ciumannya, ia melihat wajah Jessica yang begitu memerah.
"Bukankah kamu adalah Istriku? Kamu harus terbiasa dengan hal itu."
Ethan tersenyum melihat Jessica yang masih sangat gugup.
Ia kemudian membalikkan badannya dan meninggalkan Jessica di kamar sendirian.
Pintu kamar sudah tertutup.
Jessica menggeser posisinya dan melihat wajahnya yang begitu memerah di depan cermin.
Gadis itu kemudian memegang bibirnya. Ethan menciumnya tadi.
"Ahh.. Apa yang harus aku lakukan?"
Jessica kemudian teringat lagi saat Ethan menciumnya tadi.
Jessica memegang dadanya yang berdetak dengan sangat kencang.
(Apa saat ini aku sedang bermimpi?)
Sementara Ethan sedang berdiri di balkon rumah. Ia tersenyum saat membayangkan wajah itu.
Ia sama sekali tidak menyesali perbuatannya barusan.
Jessica adalah Istrinya, baginya bukan perbuatan yang salah jika ia mencium Istrinya sendiri.
Ethan kembali ke kamar. Ia melihat Jessica sudah tidur dengan posisi membelakanginya.
Ethan tersenyum lalu membaringkan tubuhnya ke sofa.
Ethan kemudian menutup matanya, ia sangat lelah hari ini.
Sebenarnya Jessica belum tidur sama sekali. Entah mengapa matanya tidak bisa tertutup walaupun ia sudah berusaha dari tadi.
Setelah memastikan bahwa Ethan sudah tidur, Jessica kemudian membalikkan badannya melihat Ethan yang berada di sofa. Pria itu tampak tidak memakai selimut.
Jessica takut Ethan kedinginan. Ia kemudian keluar dari tempat tidur sambil membawa selimut untuk Ethan.
Jessica mendekati sofa dan menyelimuti seluruh tubuh Ethan. Ia menatap wajah damai itu dan tersenyum.
Ada rasa bahagia di hati Jessica.
Jessica kemudian membalikkan badannya dan berbaring di tempat tidur.
(Apa ini jawaban dari Tuhan atas doaku selama ini?)
Jessica kemudian menutup matanya.