Love You Too Much

Love You Too Much
Sudah jatuh cinta



Beberapa hari kemudian Rossa kembali ke rumah. Saat ini ia sedang memasak sarapan pagi bersama Jessica.


"Jess, apa ada perkembangan pada hubungan kalian?"


Jessica tersenyum, "Kak Ethan sudah mulai terbuka dengan Jessica Ma."


"Apa Ethan sudah menunjukkan benih-benih?"


"Benih-benih? Maksud Mama?"


Jessica bingung dengan maksud pertanyaan Rossa.


(Apa Ethan belum mencintai Jessica? Pokoknya aku harus berusaha lebih keras lagi)


"Tidak ada apa-apa sayang, syukurlah kalau begitu."


"Oh ya, Mama ingin membeli gaun untuk kamu pakai pada saat perayaan ulang tahun Mama."


"Gaun Jessica sudah ada kok Ma." ucap Jessica dengan senyuman.


Rossa mendekati tubuh Jessica dan memegang tangan gadis itu.


"Sayang, pokoknya Mama mau kamu tampil memukau besok. Mama juga akan mengenalkan kamu pada teman-teman Mama. Kamu mau kan sayang?"


"Baiklah Ma."


Rossa tersenyum lega mendengar jawaban Jessica. Sebenarnya ia berniat membuat Putranya jatuh cinta dengan Jessica. Ia ingin membuat Ethan sadar bahwa Jessica adalah Istri yang sempurna untuknya. Rossa yakin suatu saat nanti Ethan pasti akan mencintai Jessica.


Tibalah hari saat Perayaan ulang tahun Rossa. Untuk membuat penampilan Jessica memukau, Rossa memanggil ahli kecantikan terkenal ke rumah.


"Sayang ini gaun kamu."


Rossa memberikan gaun indah bewarna  hitam berhiaskan swarovski.


Jessica terpesona dengan gaun itu.


"Mama mencocokkan gaun ini dengan warna tuxedo Ethan. Mama yakin kalian adalah pasangan paling memukau malam ini."


"Terima kasih banyak Ma."


"Sama-sama sayang."


"Oh ya El, saya percayakan menantu saya pada kamu. Berikan hasil yang terbaik." ucap Rossa pada seorang perias yang akan mendandani Jessica.


"Siap Bu, saya akan membuat Menantu ibu layaknya seorang putri nanti. Saya yakin semua orang akan terpukau dengan penampilannya."


"Baiklah, saya keluar dulu." Rossa meninggalkan kamar Ethan.


Rossa melihat Ethan yang menyambut para tamu. Putranya sangat tampan menggunakan Tuxedo hitamnya. Rossa tersenyum lalu menghampiri putranya.


"Apa mereka akan segera datang?"


"Iya Ma, Paman tadi memberitahuku bahwa mereka akan sampai sebentar lagi.


Sepertinya itu mereka Ma."


Mereka melihat 2 mobil datang ke depan rumah.


Mereka semua keluar dari mobil.


"Hai sayang, selamat ulang tahun." ucap Merry dengan memeluk tubuh Rossa.


"Terima kasih Ma."


"Selamat ulang tahun Rossa." ucap Joseph pada Rossa.


"Terima Kasih Kak."


"Selamat ulang tahun Bi." ucap Joshua kemudian disusul Dave.


Ethan memandang Dave dengan wajah tidak suka. Ethan teringat dengan ucapan Dave kemarin. Sebisa mungkin ia akan menahan Jessica di sampingnya. Ia tidak ingin pria itu melakukan hal bodoh nanti.


"Hai sayang..." ucap Rossa pada Kevin yang begitu menggemaskan dengan tuxedo nya.


"Tante Jecika dimana Nek?" ucap Kevin.


"Tante Jessica sedang berdandan sayang. Kamu nanti pasti senang melihat Tante Jessica seperti putri di dalam dongeng."


"Yeayy... Kevin ingin bertemu Tante Jecika secepatnya Nek."


Semua anggota keluarga tertawa melihat tingkah lucu Kevin.


Jessica memandangi wajahnya di depan cermin. Dia sangat cantik malam ini.


Gaun yang indah itu menunjukkan kesan elegan di tubuh Jessica. Rambut tergulung sempurna dengan menyisihkan rambut halus dan mahkota di kepala Jessica membuatnya semakin terlihat layaknya seorang putri.


"Kecantikan Nona semakin bertambah.Saya bangga sebagai perias Nona. Saya yakin suami anda akan terpukau dengan penampilan Nona."


"Makasih Kak Eli."


Jessica memegang erat Dress yang digunakannya. Dia sangat gugup saat ini.


(Apa Kak Ethan akan menyukai penampilanku malam ini?"


"Mari, saya akan mengantar Nona ke bawah."


"Baiklah Kak."


Beberapa saat kemudian Jessica muncul bersama Eli. Semua orang menyadari kedatangan mereka, apalagi seorang gadis cantik membuat pandangan mereka hanya terpusat pada gadis itu.


Tidak terkecuali Ethan, ia tersenyum melihat Jessica yang tampak sangat cantik malam ini. Gadis itu membuatnya tidak bisa mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Rossa mendatangi mereka berdua.


"Kamu sangat cantik sayang." ucap Rossa sambil memegang tangan Jessica.


"Terima kasih Eli."


"Sama-sama Bu, menantu anda memang memiliki paras yang sangat cantik."


"Terima kasih. Ayo sayang kita bergabung ke sana."


Rossa mengajak Jessica bergabung bersama anggota keluarga.


Kevin langsung berlari memeluk Jessica.


"Tante terlihat seperti putri di dalam dongeng"


Jessica tersenyum dan mengelus kepala Kevin dengan lembut.


"Kamu sangat cantik Sayang." ucap Veronica.


"Terima kasih Bi."


Dave menatap Jessica dengan senyuman.


(Kamu sangat cantik malam ini. Apa aku bisa melepasmu?)


Ethan melihat arah lirikan Dave yang tertuju pada Jessica. Pria itu tampak memandangi Jessica dari tadi.


Tidak ingin Dave memandangi Jessica lebih lama lagi, Ethan menggenggam tangan Jessica.


Jessica terkejut melihat tangannya yang sudah di genggam oleh Ethan


"Kami akan menyapa teman-teman Ethan yang di sana dulu Ma." ucap Ethan sambil menatap Dave dengan tatapan tidak suka.


Rossa tersenyum puas melihat Ethan yang menggenggam tangan Jessica. Ia pikir rencananya berhasil kali ini.


"Baiklah sayang, pergilah."


Ethan dan Jessica langsung pergi.


Dave masih memandangi kepergian mereka. Ia yakin Ethan sengaja melakukannya.


Ethan menarik tangan Jessica dengan sangat erat. Jessica melihat tali sepatunya terlepas, akibatnya jalannya menjadi terseok-seok. Ethan menyadari hal itu dan melihat tali sepatu Jessica yang terlepas.


Ethan melepaskan tangan Jessica. Jessica langsung menurunkan tubuhnya untuk memasang tali sepatunya.


Mengejutkan Ethan juga menurunkan tubuhnya. Ethan mengambil alih tali sepatu itu. Ethan memasangkan tali sepatu Jessica. Jessica menatap wajah itu, ini kedua kalinya Ethan membantunya memasangkan tali sepatunya.


Ethan sudah selesai memasangkan tali sepatu Jessica. Ethan lalu menatap mata Jessica. Mata itu langsung mengarahkan tatapannya ke arah lain.


"Kamu terlihat sangat cantik malam ini."


Jessica langsung menatap mata Ethan. Pria itu barusan memujinya.


Mereka saling bertatapan.


Menyadari perbuatan mereka, Ethan langsung berdiri.


"Bangunlah..." ucap Ethan dengan mengulurkan tangannya pada Jessica.


Jessica tersenyum, kemudian menerima uluran tangan Ethan.


Mereka berdiri dengan saling berhadapan. Keduanya merasa salah tingkah.


Tiba-tiba teman Ethan datang bersama istrinya.


"Hai Ethan, apa kabar?"


"Baik Daniel."


"Apa ini istrimu?"


"Iya, kenalkan ini Jessica."


"Halo.." ucap Jessica sambil menyalami keduanya.


"Istrimu sangat cantik", ucap Ester memuji Jessica.


Ethan melihat Jessica sekilas, "Terima kasih." ucap Ethan.


Mereka saling mengobrol tentang banyak hal. Hingga Ethan menyadari sesuatu.


"Oh ya Daniel, sepertinya kami ada urusan sebentar. Nikmati acara ini ya." ucap Ethan pada Daniel.


"Okey, tidak apa-apa Ethan. Bersenang-senanglah bersama Istrimu."


Ethan tersenyum dan mengajak Jessica pergi.


"Kamu tunggulah di sini Jess. Aku ada urusan sebentar. Kamu jangan kemana-mana, hem?"


"Baiklah Kak, pergilah." ucap Jessica dengan senyuman.


Ethan tersenyum sekilas dan membalikkan tubuhnya, namun ia menghentikan langkahnya dan kembali pada Jessica.


Ethan memegang pundak Jessica.


"Berjanjilah kamu tidak akan kemana-mana. Aku hanya pergi sebentar, tunggu aku. Kamu mengerti?"


"Aku akan menunggu Kakak, aku berjanji."


Ethan sangat puas dengan jawaban Jessica. Ia kemudian membalikkan badannya dan pergi meninggalkan Jessica di sana.


Jessica tersenyum sambil memandangi kepergian pria itu sampai punggung itu tidak kelihatan lagi.


Jessica memegang kedua wajahnya. Dirinya sangat senang mengingat Ethan mengatakan dirinya "cantik" tadi.


Ethan melangkahkan kakinya dengan cepat menuju rumah Laurine. Ia lupa menjemput gadis itu.


Ia mengetuk pintu rumah itu. Tampak seorang gadis keluar dengan wajah cemberut.


Ethan melihat Laurine yang belum berdandan sama sekali.


"Kakak terlambat, jadi aku mengganti gaunku dan menghapus semua riasan di wajahku, " ucap Laurine dengan nada kecewa.


"Maafkan Kakak Lau.


Baiklah, pestanya baru saja dimulai, Kakak rasa kamu masih bisa datang ke sana. Lagian Mama tidak akan marah padamu. Kamu ganti baju sekarang dan berdandanlah, Kakak akan menunggu kamu di sini."


"Kakak berjanji tidak akan meninggalkanku?"


"Kakak berjanji Lau."


"Baiklah, tunggu sebentar Kak."


ucap Laurine kemudian berlari menuju kamarnya.


Jessica masih melihat ke arah perginya Ethan tadi, pria itu belum juga kembali padahal Jessica sudah menunggunya selama 30 Menit. Kaki Jessica mulai pegal karena menunggu Ethan dari tadi.


Jessica memutuskan mencari Ethan, ia mengikuti arah perginya pria itu tadi.


Jessica mengedarkan pandangannya, namun juga belum menemukan Ethan. Jessica berhenti mencari Ethan dan menunggu Ethan di luar rumah.


Lama menunggu, Jessica mengalihkan tatapannya ke depan dan melihat Ethan bersama Laurine dari kejauhan. Laurine memegang lengan Ethan dengan mesra dan pria itu tampak tersenyum bahagia bersama Laurine.


Air mata Jessica mulai menetes. Ia tidak menyangka urusan yang dimaksud oleh Ethan adalah menemui Laurine. Padahal ia sudah menunggu Ethan begitu lama, berharap pria itu akan kembali padanya.


Jessica pergi dari tempat itu dengan berlari. Ia kemudian berhenti di area kolam renang.


Perasaannya sangat sedih saat menyadari bahwa apapun yang ia lakukan tidak akan membuat Ethan mencintainya.


"Mengapa gadis cantik ini menangis sendirian di sini?" ucap Dave yang datang tiba-tiba.


Jessica menolehkan wajahnya pada Dave.


Dave melihat wajah Jessica yang begitu terluka. Gadis yang ia cintai sedang menatapnya dengan tatapan senduh.


Dave mendekati Jessica dan berdiri di sampingnya.


"Apa aku boleh menemaninya di sini?"


Jessica masih menangis tidak menjawab pertanyaan Dave.


"Kemarilah." ucap Dave lalu menarik tubuh Jessica ke pelukannya.


Jessica menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan Dave. Sementara Dave membiarkan Jessica meluapkan seluruh perasaannya. Dave mengelus punggung gadis rapuh itu.


Setelah lebih tenang, Jessica melepaskan pelukannya dari tubuh Dave.


"Terima kasih banyak Kak Dave."


Dave menghapus sisa air mata Jessica, "Dasar cengeng."


Jessica tersenyum pada Dave. Dave senang akhirnya Jessica tersenyum lagi.


"Apa kamu ingin pergi dari tempat ini? Menghirup udara segar mungkin?"


Jessica tersenyum dan menganggukkan kepalanya pada Dave.


"Baiklah, ayo kita pergi Nona Cantik."


Jessica tertawa melihat tingkah lucu Dave, pria itu selalu berhasil membuat perasaannya menjadi lebih baik.


Ethan mengantar Laurine pada Rossa.


Sementara Laurine yang sedang mengobrol dengan Rossa, Ethan melangkahkan kakinya menuju tempat dimana ia menyuruh Jessica menunggunya.


Ethan sudah ada di tempat itu namun tidak menemukan Jessica berada di sana.


Ethan memutuskan mencari Jessica di dalam dan di luar pesta. Ethan mengedarkan pandangannya dengan teliti, namun ia belum melihat gadis itu dimanapun.


Ethan panik, ia melihat jam tangannya. Memang ia terlalu lama meninggalkan Jessica.


Ethan menemui Joshua yang berada di dalam pesta.


"Kak, apa kakak melihat Dave?" tanya Ethan.


"Kakak tadi melihatnya keluar, tapi ia belum kembali sampai sekarang."


Jawaban Joshua membuat Ethan berpikir bahwa Dave sedang membawa Jessica pergi.


"Baiklah terima kasih Kak."


Ethan lalu meninggalkan Joshua. Ethan pergi keluar, ia berkacak pinggang sambil menaik-turunkan napasnya. Ia begitu emosi saat ini.


Apa Dave benar-benar akan menyatakan perasaannya pada Jessica?


Jika hal itu terjadi, ia tidak akan segan-segan bertindak lebih walaupun Dave adalah sepupunya.


Jessica dan Dave sedang berada di taman bermain anak-anak. Tempat itu sangat indah saat malam hari.


Lampu kelap kelip beserta taman yang begitu indah membuat Jessica melupakan sejenak perasaan sedihnya.


"Jess.."


"Iya Kak?"


"Besok aku akan kembali ke London."


Jessica begitu terkejut mendengar pernyataan Dave. Dia begitu sedih mendengar Dave akan pergi meninggalkannya.


"Benarkah Kak? Baguslah." Jessica berusaha memberikan senyuman pada Dave. Bagaimanapun ia tidak bisa memaksa Dave untuk tetap tinggal.


"Apa Kakak sudah memberikan hadiah Kakak pada gadis itu?", Jessica menambahkan.


Dave menggelengkan kepalanya.


"Sepertinya aku tidak sanggup meninggalkannya, dia sedang terluka sekarang."


Jessica menatap wajah Dave.


"Benarkah? Apa dia jauh lebih terluka dariku Kak?"


"Sepertinya sama. Dia sama terlukanya denganmu."


Jessica berdiri dan melangkahkan kakinya. Ia berhenti sambil memandang langit.


"Apa ada orang yang sama terlukanya sepertiku Kak? Aku kira aku orang yang paling terluka saat ini. Ternyata ada orang lain juga.


Kakak seharusnya menghiburnya saat ini, bukan malah bersamaku di sini." ucap Jessica pada Dave.


Dave langsung berdiri dan memeluk bahu Jessica dari belakang.


Jessica begitu terkejut dengan perlakuan Dave yang sedang memeluknya.


"Kak Dave..."


"Kamu salah, aku sedang menghiburnya saat ini."


"Apa maksud Kakak?"


Dave melepaskan pelukannya pada Jessica dan memutar tubuh Jessica menjadi berhadapan dengannya.


Dave mengambil kotak gelang yang berada di dalam sakunya kemudian mengambil gelang itu dari tempatnya.


Dave menatap Jessica sekilas, dan langsung memasangkan gelang itu pada tangan Jessica.


"Kak Dave, bukankah gelang ini akan Kakak berikan pada gadis itu?"


"Aku sudah memberikan gelang itu saat ini."


Jessica menatap Dave dengan wajah tidak percaya. Apa gadis yang dimaksud Dave adalah dirinya?


"Aku mencintaimu Jess."


Jessica diam membisu mendengar pernyataan Dave.


"Aku sudah memiliki perasaan khusus untukmu saat kita pertama kali bertemu. Dan


entah mengapa lama kelamaan rasa itu bertambah menjadi cinta walaupun aku tahu kamu adalah Istri Ethan."


"Apa kamu mau ikut. denganku ke London?"


"Kak Dave..."


"Aku tahu kamu sangat mencintai pria brengsek itu. Mendengar jawabanmu kemarin membuatku mundur untuk merebutmu dari Ethan. Aku hanya perlu mencintaimu dengan tulus bukan?


Aku pergi karena aku tidak ingin egos dan memaksamu untuk mencintaiku juga. Aku akan membawa cintaku ini bersamaku.


Apa kamu mengizinkan aku mencintaimu?"


Jessica meneteskan air matanya mendengar penuturan Dave.


Jessica menganggukkan kepalanya dan memeluk langsung tubuh Dave.


"Maafkan aku Kak Dave."


"Tidak apa-apa. Aku melepasmu bukan karena aku menyerah tapi aku ingin memberikan kesempatan pada Ethan untuk menunjukkan perasaannya padamu."


Jessica melepaskan pelukannya.


"Kak Ethan memiliki perasaan padaku? Tidak mungkin Kak. Kak Ethan hanya mencintai Laurine, dan selamanya akan seperti itu."


"Kamu salah Jess. Diam-diam ia sudah jatuh hati padamu, hanya saja dia masih selalu mengelak perasaannya sendiri."


"Berusahalah untuk mendapatkan cintanya. Jangan menyerah, aku begitu mengenalnya Jess. Dia memang masih terbiasa dengan Laurine, tapi aku yakin dia akan segera menyadari siapa yang sebenarnya ia cintai.


Kamu sangat mencintainya kan?"


Jessica menatap wajah Dave dan menganggukkan kepalanya.


"Nah, aku tidak mungkin memisahkan orang yang saling mencintai."


"Oh ya, kamu harus menjaga gelang ini. Kamu mengerti?"


"Siap Boss.." ucap Jessica dengan semangat.


"Anak pintar." ucap Dave sambil mengusap kepala Jessica dengan lembut.


Dave membawa Jessica kembali ke pesta.


"Masuklah ke kamarmu, Kakak akan memberitahu yang lain kalau kamu sedang tidak enak badan."


"Baiklah Kak."


Jessica mendekati Dave dan memeluk tubuh pria itu.


"Terima kasih untuk semuanya Kak, terima kasih karena selalu ada untukku. Aku akan merindukan Kakak."


Mereka melepaskan pelukan.


Dave tersenyum, "Kamu bisa melihat gelang itu saat merindukanku."


"Tenanglah, teknologi saat ini sangat canggih, kamu bisa menelponku."


Jessica tersenyum mendengar penuturan Dave.


"Masuklah, di luar sangat dingin."


"Baiklah Kak, selamat tinggal Kak." ucap Jessica dengan tersenyum lirih.


Jessica langsung meninggalkan Dave.


Dave tersenyum melihat kepergian Jessica. Ia kemudian melangkahkan kakinya.


Tiba-tiba Ethan datang dan memberikan pukulan padanya. Dave langsung terjatuh akibat pukulan itu.


Ethan mendekati Dave, dan menarik kerahnya dengan kasar


"Dimana Jessica?", tanya Ethan dengan nada sangat marah.


"Kamu sangat ingin tahu rupanya." ucap Dave dengan nada santai.


"Aku bilang dimana Jessica?" ucap Ethan dengan nada meledak-ledak.


"Aku tahu kau sudah memiliki perasaan padanya." ucap Dave.


Mendengar penuturan Dave, Ethan perlahan melepaskan kerah pria itu.


Dave berdiri dan melihat darah dari sela bibirnya


Dave tersenyum dan mendekati tubuh Ethan.


"Kau hanya perlu menyadari perasaanmu. Kau takut saat aku mendekatinya bahkan kau tidak segan-segan memukulku tadi.


Aku sudah menyatakan perasaanku padanya."


Ethan mengalihkan tatapannya pada Dave.


"Dia menolakku. Dia tidak ingin pergi ke London bersamaku.


Dave menghela napasnya.


"Kau pasti sudah tahu alasannya."


"Aku menyerah. Aku tidak mungkin merebutnya darimu. Aku memberi kesempatan padamu. Jika aku kembali dan kamu masih berhubungan dengan Laurine, aku pasti akan benar-benar merebutnya darimu tidak peduli kau adalah sepupuku."


"Dia gadis yang baik, kau harus menjaganya, jangan sampai ada orang lain yang ingin merebutnya lagi darimu." ucap Dave menasehati Ethan.


"Tenanglah, Jessica ada di kamar. Dia terlalu lama menunggumu di luar tadi, jadi aku menyuruhnya masuk."


ucap Dave dengan menepuk pundak Ethan.


Laurine meluruhkan tubuhnya ke lantai. Ia tidak sengaja mendengar semua apa yang dikatakan Dave. Bahkan Ethan tidak menyangkal semua yang dikatakan pria itu. Hal yang ditakutkannya selama ini menjadi kenyataan.


Laurine menangis lirih saat menerima kenyataan bahwa Ethan sudah tidak mencintainya lagi.


"Tidak, tidak. Kak Ethan tidak boleh mencintai gadis itu. Sebelum terlambat aku harus membuat Kak Ethan menyadari bahwa hatinya hanya untukku.


Aku tahu apa yang dikatakan Kak Dave tidaklah benar."


Laurine mencoba meyakinkan dirinya bahwa Ethan hanya mencintai dirinya. Ia akan melakukan segala cara agar Ethan tidak berdekatan lagi dengan Jessica.


"Lihat saja, aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi."


Laurine mengepalkan tangannya dengan erat.