
Tiba waktunya membicarakan persiapan pernikahan. Sesuai janjinya, Ethan datang walaupun di dalam hatinya ia merasa tidak tenang. Laurine belum menghubunginya sampai sekarang. Ia hanya diam membisu dan membiarkan Rossa bicara tentang persipan pernikahan.
"Jess, apa kamu sudah memberitahu keluarga kamu mengenai pernikahan kalian?"
"Sudah Tan. Mereka juga berencana datang ke Indonesia minggu depan. Sekaligus mengadakan Baptisan Rachel."
"Oh ya, itu hal bagus sayang. Waktu yang tepat untuk membicarakan pernikahan kalian. Tante juga ingin mengenal keluarga kamu. Bagaimanapun kita akan menjadi satu keluarga nantinya ."
Hati Ethan sangat marah mengetahui pernikahannya dengan Jessica sudah dipastikan akan terjadi. Ia tidak ingin menikahi gadis itu. Tapi bagaimanapun ia sudah berjanji pada Rossa.
Lagi-lagi, ia merasa sangat dilema.
--
Keesokan harinya, Jessica pergi ke rumah kakaknya. Dia sangat merindukan Sesil dan Rachel.
"Kakak."
"Hai sayang..."
"Aku sangat merindukan Kakak. Maaf Jessica jarang mengunjungi Kakak."
"Tidak apa-apa Jess. Kakak tahu kamu sibuk."
"Rachel dimana Kak?"
"Rachel sedang tidur di kamar . Dia rewel sekali tadi."
Jessica menyungginggkan senyumannya. Dia mengingat tingkah keponakannya yang begitu lucu dan menggemaskan.
"Oh ya Jess, bagaimana persiapan pernikahan kamu?"
Seketika wajah Jessica berubah. Ia membayangkan bagaimana pernikahannya nanti dengan Ethan. Tapi ia berusaha menyembunyikan kesedihannya dari Sesil. Ia tidak mau keluarganya ikut bersedih juga.
"Sejauh ini lancar Kak. Persiapannya akan dibicarakan lagi saat acara Baptisan Rachel Kak. Keluarga Kak Ethan juga akan menghadirinya."
"Baguslah Jess. Kakak juga ingin bertemu dengan Adik Ipar Kakak. Kakak dengar dari Nicho, dia adalah pria yang sangat sukses. Kakak yakin dia juga pasti memiliki wajah yang tampan. Kakak tidak sabar bertemu dengan Pria yang berhasil membuat adik Kakak ini jatuh cinta."
Jessica melihat wajah Sesil yang sangat bahagia. Dia tidak mungkin memberitahu Sesil bahwa ia sebenarnya sangat ragu dengan pernikahan ini. Biarlah hanya dirinya yang menanggung itu semua.
--
Keluarga Jessica sudah selesai menghadiri Baptisan Rachel di Gereja. Mereka pulang ke rumah untuk membuat persiapan dalam menyambut keluarga Ethan.
Rachel sedang tidur terlelap di gendongan Jessica. Anak itu sangat menggemaskan. Dia juga tidak rewel saat baptisan tadi.
"Apa kamu sudah menghubungi Keluarga Ethan Jess?"
"Sudah Ma. Mereka sedang berada di perjalanan saat ini."
"Rachel begitu terlelap di gendongan kamu sayang. Walaupun masih muda, Mama yakin kamu bisa jadi Ibu yang baik nanti."
Natalie mengelus kepala Putrinya.
"Putri Mama akan segera menikah. Kamu akan memiliki keluarga sendiri. Kamu juga akan tinggal bersama Ethan. Mama sedih sekaligus bahagia sayang. Mama bahagia walaupun harus melepaskanmu."
"Ma... Jessica tidak akan pergi jauh. Jessica akan selalu bersama Mama."
"Mama hanya ingin kamu bahagia dengan pernikahanmu Jess. Kebahagiaanmu adalah yang terpenting untuk Mama."
Jessica hanya bisa memberikan senyuman pada Natalie. Walaupun senyuman itu, berbanding terbalik dengan apa yang ia rasakan saat ini.
--
Keluarga Jessica dengan bahagia menyambut Rossa. Mereka saling berkenalan sambil berjabat tangan satu sama lain.
"Silahkan duduk Besan."
"Baiklah, terima kasih."
"Kami sangat senang bertemu dengan Anda. Dan..."
Natalie melihat ke sekeliling mencari Ethan.
Natalie tersenyum.
"Jessica?", tanya Rossa.
"Jessica masih berdandan di kamarnya Besan. Bukankah ia harus tampil cantik saat bertemu dengan calon Suaminya? "
"Saya pikir juga seperti itu."
Mereka semua tertawa bersama.
--
Jessica sedang berada di depan meja rias. Kedua Kakaknya memaksanya untuk tampil cantik di hadapan Ethan. Walaupun Jessica tahu, penampilannya tidak akan mengubah apapun.
Ethan tidak akan pernah tertarik padanya.
"Selesai. Kamu sangat cantik sayang. Kakak yakin Ethan akan terpukau dengan penampilanmu."
Jessica tampak sangat cantik dengan riasan yang natural. Dress putih yang ia pakai sangat cocok dengan kulitnya yang putih dan semakin menambah keanggunannya.
Entah mengapa Jessica merasa gugup dan jantungnya juga berdetak dengan kencang, membayangkan bahwa ia akan bertemu dengan Ethan. Diam-diam ada rasa bahagia di hati Jessica. Perasaan itu menjadi penyebabnya.
Jessica menuju ke ruang tamu dengan kedua Kakaknya, dan kebetulan di saat yang bersamaan Ethan juga masuk ke dalam rumah. Seketika mata mereka bertemu. Ethan juga sangat tampan dengan Tuxedo hitamnya. Jessica memuji penampilan Ethan di dalam hati.
"Ehem..,"
Suara Sesil membuat mereka mengalihkan tatapan ke arah lain.
"Dia sangat tampan Kak", ungkap Sera dengan nada berbisik.
"Kamu benar Sera. Mereka berdua terlihat sangat cocok."
"Sudah, kalian berdua duduk di sini sayang. Kita akan membicarakan pernikahan kalian, "kata Natalie.
Ethan dan Jessica kemudian duduk berhadapan.
"Bagaimana kalau pernikahannya dilaksanakan minggu depan?", Rossa membuka suara.
"Ma, tidak mungkin. Bukankah itu terlalu cepat? Persiapannya juga sangat banyak", ungkap Ethan dengan nada yang tidak percaya.
"Iya Tante. Kita juga sama sekali belum melakukan apapun."
"Kalian berdua tenang saja sayang. Mama sudah mempersiapkan semuanya. Dalam waktu 3 hari persiapannya akan selesai. Bagaimana besan, apa kalian setuju jika pernikahannya dilaksanakan 1 minggu lagi?
"Kalau saya setuju saja. Tapi keputusannya tetap tergantung Ethan dan Jessica apakah mereka setuju jika pernikahan mereka dilaksanakan minggu depan. Ya kan Pa?"
"Menurut saya juga begitu. Bagaimana sayang, apakah kamu siap jika pernikahan kalian dilaksanakan minggu depan?", Markus bertanya kepada Jessica.
Jessica bingung ingin menjawab apa. Dia sekilas melihat ke arah Ethan. Jessica diam membisu.
(Apa yang harus aku katakan?)
"Kami setuju Ma", ungkap Ethan.
Jessica langsung menatap Ethan. Ia sangat terkejut dengan keputusan Ethan. Bukankah ia sangat tidak menyetujui pernikahan ini? Lantas mengapa ia ingin mempercepatnya?
"Baiklah. Kita sepakat pernikahan kalian akan diadakan minggu depan. Bukankah lebih cepat lebih baik?", ungkap Rossa dengan nada gembira
.
"Benar, mulai besok kalian akan melakukan persiapan pernikahan, ungkap Natalie sambil memegang tangan Jessica.
"Kakak sangat senang sayang. Sebentar lagi kamu akan menikah.", kata Sesil dengan memeluk Jessica."
"Kamu adik yang nakal. Kamu menikah lebih cepat dari Kakak. Tapi tidak apa-apa Jess, Kakak senang kamu sudah menemukan pangeranmu", ungkap Sera dengan menggoda adiknya.
Jessica hanya menjawab pernyataan Kakak-Kakaknya dengan senyuman tipis. Sebentar lagi ia akan menikah dengan Ethan. Ia tidak pernah menyangka hal itu terjadi di dalam hidupnya.
Bahkan sangat mustahil mengingat Ethan sudah memiliki Gadis yang dicintainya.
Ethan setuju mempercepat pernikahan mereka karena baginya cepat atau lambat, pada akhirnya ia akan tetap menikahi gadis itu juga. Pernikahan mereka hanya formalitas baginya, itu sangat tidak mempengaruhinya. Pernikahan itu juga sudah terlanjur menghambat hubungannya dengan Laurine.