
Jessica mengantar Ethan ke depan rumah.
"Hati-hati Kak." ucap Jessica dengan nada lembut.
Ethan menganggukkan kepala sambil tersenyum pada Jessica.
"Aku pergi dulu Jess."
Ethan mencium kening Jessica dan kemudian masuk ke dalam mobil.
Jessica melambaikan tangannya pada Ethan.
---
Ethan langsung menyelesaikan pekerjaannya. Ia mengambil jasnya dan pergi menuju parkiran. Ia melajukan mobilnya menuju Bar. Tidak biasanya Laurine mengajaknya ke sana.
Memang sangat aneh, mengingat Laurine sangat membenci tempat itu.
Tapi ia akan tetap mengabulkan permintaan gadis itu. Ini sebagai tanda bahwa ia menghargai gadis itu sebagai sosok yang pernah hadir di hatinya.
Ethan keluar dari mobil. Ia masuk ke dalam bar dan melihat Laurine duduk di sana.
Laurine tersenyum melihat kehadiran Ethan
"Hai Kak." ucap Laurine sambil tersenyum pada Ethan.
"Hai Lau.
Apa kamu sudah menunggu lama?"
"Tidak juga Kak.
Aku tahu Kakak akan datang. Terima kasih Kak."
Ethan tersenyum tipis.
Seorang batender datang untuk menerima pesanan.
"Kami akan pesan Wine satu botol."
Ethan sangat terkejut mendengar apa yang dikatakan Laurine barusan. Gadis itu sangat membenci alkohol.
Lalu mengapa ia memesan Wine?
"Apa yang kamu lakukan Lau?"
Laurine tersenyum pada Ethan.
"Aku rasa aku harus mencobanya Kak."
Laurine melihat raut wajah Ethan yang tampak sangat terkejut.
"Kakak tidak usah khawatir. Aku janji tidak akan melakukannya lagi. Ini untuk pertama dan terakhir kalinya, dan aku ingin melakukannya bersama Kakak.
Kakak mau kan?" tanya Laurine pada Ethan.
Ethan menganggukkan kepalanya. Ia percaya pada ucapan Laurine, ia begitu mengenal gadis itu.
"Baiklah." Ethan tersenyum pada Laurine.
Laurine tersenyum mendengar jawaban Ethan.
Mereka sudah menghabiskan satu botol wine. Laurine berdiri dan menghampiri batender. Ia memesan kembali 1 botol wine.
"Lau? Kamu sudah minum banyak."
ucap Ethan saat melihat Laurine menuangkan wine kembali ke dalam gelasnya.
Laurine tidak menghiraukan ucapan Ethan.
"Lau..." ucap Ethan dan memegang tangan Laurine.
"Ayolah Kak, bukankah ini untuk terakhir kalinya?" ucap Laurine dengan nada memohon.
Ethan melepaskan tangannya pada Laurine.
Laurine juga menuangkannya ke dalam gelas Ethan.
Keduanya sudah dalam kondisi mabuk.
Mereka keluar dari bar dan pergi bersama menuju parkiran.
"Kakak pulanglah. Aku akan pergi memanggil taksi."
"Apa kamu tidak membawa mobil?"tanya Ethan.
"Tidak Kak. Mobilku sedang di servis."
"Aku akan mengantarmu pulang."
Laurine tersenyum mendengar penuturan Ethan.
"Baiklah Kak." ucap Laurine.
Sementara Jessica sedang menunggu Ethan di rumah. Tidak biasanya pria itu pulang terlambat. Ethan juga sama sekali belum menghubunginya dari tadi. Padahal Jessica sudah menyiapkan makan malam untuk mereka berdua.
Jessica tetap berpikiran optimis. Ia akan menunggu sampai Ethan pulang. Ia yakin Ethan akan memberitahunya alasan mengapa ia pulang terlambat.
Ethan mengantar Laurine ke depan apartemennya. Tiba-tiba Laurine terjatuh.
Ethan terkejut dan mendekati Laurine.
"Kamu tidak apa-apa Lau?"
Laurine memegang kakinya dengan wajah kesakitan.
Ethan memegang kaki Laurine dan membuat gadis itu memekik kesakitan.
"Aku akan membantumu berdiri." ucap Ethan lalu membantu Laurine berdiri.
Mereka masuk ke dalam apartemen.
Ethan membawa Laurine duduk ke dalam sofa.
"Apa masih sakit?" tanya Ethan pada Laurine.
Laurine menganggukkan kepalanya.
"Tunggu sebentar. Kakak akan mengobati kakimu."
Ethan membalikkan badannya menuju dapur.
Ia memasukkan air es ke dalam baskom dan membawa kain untuk mengompres kaki Laurine.
Ethan menghampiri Laurine.
Ia mengompres kaki Laurine dengan hati-hati.
Laurine begitu bahagia melihat Ethan yang masih perhatian dengannya. Ia yakin pria itu masih memiliki perasaan dengannya.
"Bagaimana? Apa masih sakit?" tanya Ethan.
Laurie menggerakkan kakinya.
"Sudah baikan Kak. Terima kasih banyak."
Ethan tersenyum pada Laurine.
Ia berdiri sambil membawa baskom yang berisi air itu dan kemudian membalikkan badannya.
Lantas ia berdiri dan memeluk Ethan dari belakang.
Ethan terkejut saat merasakan pelukan Laurine. Ia kemudian membalikkan badannya dan berhadapan dengan gadis itu.
Mereka saling bertatapan.
Ethan memegang kepalanya. Kepalanya sangat pusing. Alkohol membuatnya sulit mencerna apa yang terjadi.
"Apa Kakak tidak apa-apa?" ucap Laurine mendekati Ethan.
Ethan masih memegang kepalanya. Ia sedikit terhuyung ke samping.
"Kak... Istirahatlah sebentar di kamarku."
Laurine membawa Ethan ke dalam kamarnya. Ia mengarahkan Ethan untuk berbaring di ranjang.
"Tidak Lau. Aku harus pulang. Aku tidak apa-apa." ucap Ethan saat menyadari bahwa Jessica pasti sedang menunggunya di rumah.
"Istirahatlah sebentar Kak. Aku takut Kakak kenapa-kenapa di jalan."
Ethan duduk di tepi ranjang sambil memijit kepalanya.
Laurine mendekati Ethan dan duduk di samping Ethan. Dengan posisi berhadapan, ia melepaskan tangan Ethan dengan pelan dan memijit kepala pria itu.
Mereka saling bertatapan.
Laurine menipiskan jarak diantara mereka.
Ia memajukan wajahnya pada Ethan dan mencium pipi pria itu.
Laurine tersenyum pada Ethan. Pria itu tidak menolak ciumannya.
Ethan masih belum menyadari apa yang terjadi. Ia kemudian kembali memegang kepalanya.
Laurine melepaskan kancing bajunya hingga menyisakan bra.
Laurine kemudian melepaskan tangan Ethan dengan lembut.
Ia kembali memajukan kepalanya dan kali ini berniat mencium bibir Ethan.
Ia perlahan menempelkan bibirnya pada bibir Ethan. Tangannya bergerak membuka kancing baju Ethan.
Wajah Jessica terlintas di pikiran Ethan. Ia kemudian sadar dan langsung menjauhkan dirinya dari Laurine.
Ia melihat kondisi Laurine saat ini. Gadis itu hampir telanjang di hadapannya.
Ethan berusaha mengontrol napsunya. Ia tidak ingin hal yang tidak-tidak terjadi pada mereka.
"Aku harus pergi. Maaf, aku sempat tidak bisa mengontrol diriku tadi."
Ethan langsung pergi dari tempat itu.
Laurine sangat terluka melihat Ethan pergi meninggalkannya. Pria itu menolaknya. Selama berpacaran dengan Ethan, ia selalu menjaga tubuhnya untuk pria itu. Oleh karena itu, malam ini ia berencana menyerahkan tubuhnya pada Ethan. Ia pikir usahanya kali ini untuk mendapatkan Ethan kembali berhasil.
Namun yang terjadi sebaliknya, pria itu tidak menginginkannya.
Laurine menangis tersedu-sedu. Ia meluruhkan tubuhnya ke lantai. Ia tidak menyangka hubungannya dengan Ethan akan berakhir seperti ini. Ia bahkan mengorbankan harga dirinya untuk pria itu.
Ethan melajukan mobilnya dengan cepat. Ia menyesal karena sempat kehilangan kendali.
Untung ia tidak jadi menyentuh Laurine. Bagaimanapun ia mencintai Jessica, ia tidak akan menyentuh gadis menapun selain Istrinya. Walaupun selama pernikahan Ethan belum menyentuhnya sama sekali.
Ethan sudah sampai di rumah. Ia melangkahkan kakinya dengan cepat. Saat ini ia sangat ingin bertemu dengan Jessica.
Dugaannya benar, Jessica sedang menunggunya di sana.
Jessica langsung berdiri setelah menyadari Ethan sudah pulang.
Mereka saling bertatapan. Ethan melepaskan jas di tangannya dan menghampiri Jessica.
Ethan memeluk tubuh Jessica dengan erat.
Ia menatap wajah Jessica dengan posisi masih berpelukan.
Ethan mencium kening Jessica dengan lembut. Ciumannya berpindah ke hidung kemudian pipi dan berakhir pada bibir Jessica.
Ethan semakin memperdalam ciumannya. Ia ******* bibir Jessica sambil menahan tubuh gadis itu dekat dengannya.
Ethan melepaskan ciumannya saat menyadari Jessica kesulitan bernapas.
Ethan kemudian mengangkat tubuh Jessica menuju ke kamar mereka.
Sontak itu membuat Jessica mengalungkan tangannya pada leher Ethan.
Ethan meletakkan tubuh Jessica ke atas ranjang dan naik mendekati Jessica sehingga posisinya berada di atas gadis itu.
Ia menatap wajah Jessica. Ia tersenyum pada gadis itu.
Ethan kemudian menautkan tangannya pada tangan Jessica. Ia memajukan kepalanya dan kembali ******* bibir Jessica.
Ethan beralih mencium leher Jessica. Hal itu membuat Jessica sedikit kegelian.
Ethan berganti menghisapnya dengan lembut dan berhasil membuat Jessica berubah menjadi mendesah.
Ethan semakin mengeratkan tangannya pada tangan Jessica.
Ethan ******* bibir Jessica lagi. Ia semakin mencium bibir Jessica dengan rakus.
Ciuman itu membuat Ethan semakin menginginkan Jessica. Ia ingin menyentuh gadis itu.
Namun satu hal membuat Ethan menghentikan kegiatannya.
Mereka saling menempelkan kening.
Ia memang sangat menginginkan Jessica.
Tapi ia tidak ingin menyentuh Jessica dalam pengaruh alkohol. Ia takut menyakiti gadis itu nantinya.
Ia akan menyentuh gadis itu dalam kesadaran penuh. Ia sangat mencintai Jessica.
Ethan menatap wajah Jessica dengan lembut.
"Maafkan aku.. Maafkan aku Jess." ucap Ethan dengan nada lirih.
"Aku selalu menyakitimu." ucap Ethan lagi.
Jessica memegang wajah Ethan dan kemudian menggelengkan kepalanya.
"Kakak tidak perlu minta maaf."
Ethan kemudian merubah posisinya menjadi di samping Jessica.
Ia menarik tubuh Jessica ke pelukannya.
Jessica membalas pelukan Ethan.
Ethan sesekali mencium kepala Jessica.
"Aku mencintaimu Jess." ucap Ethan
"Aku juga mencintaimu Kak."
Ethan kemudian menarik selimut ke tubuh mereka.
Mereka akhirnya tidur dengan posisi berpelukan.