Love You Too Much

Love You Too Much
Begitu merindukanmu



Keesokan paginya.


Laurine menghampiri Bibi Liana yang sedang menyiram tanaman di depan rumah.


"Selamat Pagi Bi."


ucap Laurine dengan memeluk Bi Liana dari belakang.


Laurine sudah menganggap Bibi Liana sebagai Ibunya sendiri. Karena sejak kecil, Bibi Liana lah yang menjaganya saat kedua orang tuanya sibuk bekerja.


Bibi Liana salah satu orang yang sangat berarti di dalam hidupnya.


"Selamat Pagi Non Laurine."


"Apa Nona ingin saya buatkan Teh?"


"Tidak, tidak usah Bi."


"Non, tadi Pak Yusuf bilang kalau kemarin ada teman Nona yang datang kemari.


Sepertinya ingin menjenguk Nona.


Tapi yang anehnya, Nona itu langsung pulang sebelum masuk ke dalam rumah."


Laurine melepaskan pelukannya.


"Teman saya Bi? Seorang Gadis?


Siapa? Apa Bibi tahu siapa nama gadis itu?"


tanya Laurine dengan penasaran.


Bibi Liana mencoba mengingat.


"Kalau saya tidak salah, nama Nona itu Jessica Non.


Iya, Nona Jessica."


Laurine begitu terkejut mendengar jawaban Bibi Liana.


"Jessica datang pukul berapa Bi?"


"Pak Yusuf bilang, Nona Jessica datang pukul 12 Siang Non."


Laurine mengingat bahwa kemarin ia sadar sekitar pukul 11 Siang.


Apa Jessica melihat Ethan dan dirinya saat berpelukan?


Itu artinya Jessica pergi tanpa menjenguknya karena salah paham dengan mereka berdua.


(Tidak, ini tidak boleh terjadi.


Aku harus menjelaskannya sendiri pada Jessica.)


Laurine langsung mengganti bajunya dan pergi ke kantor Ethan.


Ia akan bertemu dengan Jessica di sana.


Laurine tidak ingin hubungan Jessica dan Ethan hancur karena dirinya.


Sesampainya di Kantor Ethan, Laurine langsung melangkahkan kakinya menuju ruangan Sekretaris.


Namun, yang ia lihat di sana bukan Jessica, melainkan Sarah, Sekretaris lama Ethan.


"Sarah, dimana Jessica?


Mengapa aku tidak melihatnya?"


"Ibu Jessica tidak bekerja di sini lagi Bu."


"Maksud kamu?"


"Bu Jessica telah memutuskan untuk menjadi Ibu Rumah Tangga saja Bu."


"Apa Kak Ethan ada di dalam ruangannya?"


"Tidak Bu.


Sepertinya hari ini Pak Ethan tidak datang ke kantor Bu. Saya sudah mencoba menghubungi Pak Ethan berulang kali, namun panggilan saya belum dijawab juga.


Terpaksa, Rapat bersama perusahaan Pak Jason yang seharusnya dilaksanakan hari ini juga harus dibatalkan Bu.


Laurine semakin gelisah.


Dari tadi ia juga sudah menghubungi Ethan, namun panggilannya tidak dijawab sama sekali.


(Apa yang sebenarnya terjadi?)


Laurine takut terjadi hal buruk pada pernikahan Ethan dan Jessica.


Laurine melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.


Tiba-tiba matanya menangkap Jason yang sedang mengangkat panggilan seseorang.


Laurine memutuskan untuk menghampiri Jason. Ia ingin menanyakan soal Ethan pada Jason.


Jason menutup panggilan yang berasal dari Suruhannya.


Ia memijit keningnya setelah mendengar informasi bahwa keberadaan Jessica belum ditemukan sampai sekarang.


Namun satu hal yang pasti, bahwa Jessica tidak pergi ke luar negeri.


Gadis itu masih berada di Indonesia


Jason telah mengerahkan suruhannya untuk mengecheck identitas penumpang yang melakukan penerbangan ke luar negeri.


"Tuan Jason.."


Jason langsung melihat ke arah sumber suara.


"Laurine..."


"Kebetulan sekali saya bertemu dengan anda di sini.


Apa anda tahu mengapa Kak Ethan tidak datang ke kantor hari ini?


Apa Kak Ethan sudah memberitahukan alasannya pada anda?"


Jason tidak menjawab pertanyaan Laurine. Tentu ia tahu apa alasan Ethan tidak datang ke kantor walaupun Ethan tidak memberitahunya.


Pria itu pasti tengah fokus mencari keberadaan Jessica.


Melihat wajah Ethan kemarin, bisa ia pastikan bahwa Ethan benar-benar menderita.


Namun, itu kebodohannya sendiri.


Ia yang membuat Jessica pergi dari sisinya.


Melihat Jason yang diam membisu, Laurine pikir Jason sama sekali tidak tahu apa alasan Ethan tidak pergi ke kantor.


"Sebenarnya aku juga ingin bertemu dengan Jessica. Aku mengira Jessica masih bekerja, namun ternyata tidak. Aku ingin mengatakan sesuatu yang penting padanya.


(Apa yang ingin dikatakan Laurine pada Jessica? Apa ia tidak tahu bahwa Jessica pergi?)


"Sesuatu yang penting?


Boleh aku mengetahui apa yang ingin kamu katakan pada Jessica?"


Laurine diam sejenak.


Namun ia memutuskan untuk memberitahu Jason.


"Aku ingin menjelaskan pada Jessica bahwa aku tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan Kak Ethan.


Kemarin, ia datang untuk menjengukku. Tapi aku pikir, dia sempat melihatku dan Kak Ethan sedang berpelukan sehingga ia langsung pergi tanpa bertemu denganku."


Jason terkejut dengan penuturan Laurine.


Itu berarti, Jessica pergi karena hal itu.


"Jujur, aku tidak pernah berniat untuk merebut Kak Ethan dari Jessica.


Saat itu Jessica hanya salah paham.


Oleh karena itu, aku datang ke kantor untuk menjelaskan hal ini padanya.


Aku tidak ingin sesuatu terjadi pada pernikahan mereka."


"Jessica pergi." ucap Jason dengan singkat.


"Pergi?"


Laurine tidak mengerti dengan ucapan Jason barusan.


"Jessica mengira, bahwa kamu dan Ethan akan kembali bersama. Dan ia memutuskan untuk pergi dan berpisah dengan Ethan."


Laurine sangat terkejut dengan penuturan Jason.


Ia tidak menyangka bahwa kesalahpahaman kemarin membuat pernikahan Ethan dan Jessica sampai begini.


Dan itu semua karena dirinya.


"Tuan Jason, aku sama sekali tidak bermaksud untuk memisahkan mereka.


Ini hanya salah paham, mereka tidak boleh berpisah." ucap Laurine dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Jason bisa melihat rasa bersalah dari wajah Laurine.


"Apa yang harus kulakukan? Ini semua karena aku."


Laurine semakin menyalahkan dirinya.


"Laurine..."


Jason mendekati Laurine yang sedang menangis tersedu-sedu.


Laurine menatap wajah Jason.


"Apa yang harus kulakukan Tuan Jason?


Mereka saling mencintai."


Jason mulai menyadari bahwa Ethan dan Jessica memang saling mencintai. Ia harus mengurungkan niatnya untuk menjauhkan Jessica dari Ethan saat ia sudah menemukan keberadaan Jessica.


Terlebih karena ini semua hanya salah paham.


Ethan dan Jessica harus bersatu kembali.


--


Ethan sedang berada di ruang kerjanya yang berada di dalam kamar.


Kondisinya terlihat sangat kacau.


Ia juga belum makan apa-apa sejak pagi tadi karena sibuk mencari informasi tentang keberadaan Jessica.


Ethan juga sudah mengerahkan banyak suruhannya untuk mencari Jessica.


Namun hasilnya tetap Nihil.


Sejak kemarin, pikirannya hanya tertuju pada Jessica hingga tidak memperdulikan dirinya sendiri.


Karena bagi Ethan, Jessica adalah hidupnya.


Istrinya sangat berarti baginya.


Ethan memandangi foto pernikahan mereka yang terletak di meja kerjanya.


Ethan menyentuh wajah Jessica pada foto itu dengan mata berkaca-kaca.


Ia begitu merindukan Jessica.


"Kamu dimana Jess?


Aku tidak bisa hidup tanpamu." ucap Ethan dengan lirih.


Lain halnya dengan seorang gadis yang tengah menjual mawar putih di tengah pantai.


Wajah Jessica tengah berseri-seri saat melihat bunganya terjual habis hari ini.


Ia senang dengan apa yang ia lakukan saat ini.


Ia bisa menghirup udara segar pantai, dan juga bisa merangkai bunga mawar putih dengan hasil karyanya sendiri.


Nenek Hanna telah mengajarinya dengan baik.


Bunga mawar yang ia jual juga merupakan hasil yang ia tanam sendiri.


Sejenak Jessica bisa melupakan perasaan sedihnya.


Ia akan berusaha sebaik mungkin untuk melupakan semuanya dan memulai hidup yang baru.


Jessica berencana akan tinggal sementara di Indonesia selama seminggu sebelum akhirnya kembali ke Amerika.


Sebelum pergi, nanti ia akan mengunjungi Rossa dan Kakaknya, Sesil.


Ia akan mencoba menjelaskan pada mereka terkait soal perceraiannya dengan Ethan.


Saat ini, Jessica ingin menghabiskan waktunya yang tersisa di Indonesia.


Karena Jessica sudah memutuskan, bahwa ia tidak akan pernah kembali lagi ke Indonesia.


Selamanya ia akan tinggal di Amerika.


Pantai dan merangkai mawar putih adalah keinginannya.


Jessica tinggal di dekat pantai pulau terpencil dan ia menjual mawar putih hasil tanamannya.


Jessica sangat bahagia walaupun hatinya sebenarnya merasakan sebaliknya.


"Kak, apa bunganya sudah tidak ada lagi?" tanya seorang anak kecil.


Jessica menghampiri anak kecil yang menggemaskan itu.


"Apa kamu begitu menginginkannya sayang?"


Anak itu menganggukkan kepalanya.


"Ibuku sedang berulang tahun Kak.


Dia begitu menyukai bunga mawar putih.


Jadi aku ingin memberikannya bunga mawar putih sebagai hadiahku."


"Benarkah?


Baiklah sayang, Kakak akan merangkaikan bunga mawar putih khusus untuk Ibumu.


Maukah kamu ikut bersamaku?


Soalnya bunga mawar putih yang tersisa berada di rumah Kakak."


"Mau Kak." ucap anak kecil itu dengan semangat.


Jessica merangkai bunga mawar putih itu dengan telaten. Ia ingin memberikan bunga itu khusus untuk Ibu anak kecil yang sedang berulang tahun itu.


Jessica akan merangkainya dengan saat indah.


Setelah beberapa saat kemudian, Jessica telah selesai merangkai bunga mawar putihnya.


Jessica menghampiri anak kecil itu.


"Sayang, ini..."


Jessica memberikan rangkaian bunga mawar putih itu.


"Wah, ini sangat indah Kak.


Berapa harga bunga ini Kak?"


"Tidak perlu sayang. Kakak memberikan ini khusus untukmu, karena kamu anak yang sangat baik."


"Benarkah Kak?"


Jessica tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


"Ucapkan selamat ulang tahun dari Kakak untuk Ibu."


"Ya Kak.


Terima kasih banyak Kak.


Kakak begitu baik."


Jessica tersenyum pada anak itu.


"Oh ya, siapa nama kamu sayang?"


"Namaku Samuel Kak."


Nama anak itu mengingatkannya kembali kepada Ethan.


Samuel memiliki nama yang sama dengan nama tengah Ethan.


"Kalau nama Kakak siapa?"


"Nama Kakak Jessica sayang."


"Nama yang bagus."


Jessica mengelus kepala Samuel.


"Namamu juga bagus sayang."


Lagi-lagi ia tidak bisa melupakan Ethan.


Pria itu masih selalu menghantuinya.


Jessica sadar bahwa memang butuh waktu lama untuk melupakan Ethan. Sama seperti dulu, saat ia pergi ke Amerika selama 5 tahun untuk melupakan Ethan.