Love You Too Much

Love You Too Much
Ulang tahun Ethan



Pagi pagi benar Jessica sudah menyiapkan segalanya untuk merayakan ulang tahun Ethan. Kali ini dia akan memasak kue ulang tahun untuk Ethan. Dia lebih memilih membuatnya sendiri dibandingkan membelinya dari toko kue. Dia juga berencana mendekorasi rumah untuk memberikan kejutan pada Ethan pada saat pulang kantor nanti.


--


"Mengapa ia tidak menelponku? Biasanya setiap aku ulang tahun, paling tidak dia menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku," ucap Ethan saat belum mendapatkan ucapan ulang tahun dari Laurine.


"Atau mungkin dia ingin mengerjaiku? Ya, dia pasti ingin memberikan kejutan malam ini", ucap Ethan dengan optimis.


Tiba-tiba handphone Ethan berdering, dia mengira Laurine yang menghubunginya, namun bukan nama Laurine yang tertera di layar Handphonenya melainkan nama Mamanya.


"Halo Ma."


"Halo sayang. Selamat ulang tahun sayang."


"Terima kasih Ma."


"Apa kamu akan merayakan ulang tahunmu di rumah?"


"Ethan belum memikirkannya Ma. Ethan masih memiliki banyak pekerjaan."


"Ethan, tolong jangan mulai lagi. Hari ini ulang tahunmu. Kamu bebas melakukan apa saja. Paling tidak bawalah istrimu makan malam ke luar."


Ethan hanya diam mendengar penuturan Rossa. Ia hanya tidak mau Rossa memaksanya lagi. Tidak untuk kali ini. Karena malam ini dia akan makan malam bersama Laurine.


"Ma please, hari ini hari ulang tahun Ethan. Paling tidak biarkan Ethan menentukan apa yang akan Ethan lakukan hari ini."


"Baiklah sayang.Semoga harimu menyenangkan", Rossa menuruti keinginan Ethan kali ini.


"Terima kasih Ma."


Ethan menutup panggilannya. Ia memijit kepalanya. Lalu ia menatap layar handphonenya lagi.


"Mengapa Laurine tidak menghubungiku?", ucapnya dengan nada kecewa.


--


Laurine menatap wajahnya yang sembab di depan cermin. Hari ini ia akan mengakhiri hubungannya dengan Ethan. Ia sangat sedih, mengingat bahwa ini adalah hari ulang tahun Ethan. Ia bahkan belum mengucapkan selamat ulang tahun pada pria itu. Sekelebat memori ulang tahun Ethan setahun lalu terbayang di pikiran Laurine. Memori saat mereka makan malam, berdansa bahkan mengobrol sampai pagi hari. Ia tidak menyangka bahwa hari itu adalah tahun terakhirnya bersama Ethan merayakan ulang tahun bersama.


"Tidak akan ada lagi momen seperti itu Kak. Tidak juga untuk hari ini", Laurine menangis lagi.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 7 Malam. Ethan sudah berada di tempat favorit mereka, tempat mereka merayakan ulang tahun masing-masing setiap tahunnya.


Ethan melihat jam tangannya.


Ia mulai cemas, tidak biasanya Laurine seperti ini.


Dari kejauhan seorang wanita cantik datang menghampiri Ethan. Laurine mengenakan dress yang pernah diberikan Ethan pada saat ulang tahunnya yang ke 20 tahun.


Ethan senang sekali. Ia langsung menghampiri Laurine dan memberikan tempat duduk pada gadis itu.


"Duduklah."


Laurine tidak menjawab dan langsung duduk di tempat yang Ethan berikan.


"Apa kamu sakit?", tanya Ethan melihat wajah Laurine yang sangat pucat. Untungnya Laurine bisa menutupi wajah sembabnya dengan Make Up.


"Tidak Kak. Aku hanya lelah kerena bekerja sepanjang hari."


(Apa karena itu dia tidak menghubungiku sama sekali?)


"Baiklah."


"Selamat ulang tahun Kak. Maaf aku terlambat mengucapkannya. Hari ini aku sangat sibuk", Laurine merasa bersalah karena telah berbohong pada Ethan.


"Tidak apa-apa Lau. Yang penting sekarang kamu sudah mengucapkannya. Bagiku itu tidak masalah."


"Oh ya, selain makan kue ulang tahun kamu mau memesan apa?"


Laurine hanya diam tidak menanggapi pertanyaan Ethan.


"Ah aku tahu, pasti menu yang sama dengan menu tahun lalu. Baiklah kita akan pesan ayam goreng asam manis dan es krim Vanilla.


Laurine hanya tersenyum tipis. Ia tidak ingin berbicara. Ia takut menangis di depan Ethan.


Mereka hanya diam tanpa ada obrolan-obrolan manis yang biasanya mereka lakukan.


"Kak", ucap Laurine membuka percakapan.


"Iya?"


"Jessica istri yang baik bukan? Mengapa Kakak tidak mencoba mencintainya?"


Ethan yang mendengar penuturan Laurine sangat terkejut, tidak mengerti dengan apa yang sedang Laurine katakan.


"Apa maksud kamu Lau? Mengapa kamu bicara seperti itu?"


"Aku pikir, Kakak sudah menikah dengannya. Sebaiknya Kakak memulai hubungan pernikahan yang serius dengannya."


"Lau, dengar aku menikah dengannya bukan karena serius atau apalah. Aku menikah dengannya hanya karena permintaan Mama."


Ethan memegang tangan Laurine.


"Aku sudah mengatakan padamu Lau, kalau Kakak hanya mencintaimu. Tidak ada yang berubah."


"Ada kak. Status Kakak sudah berubah, Kakak sudah menjadi Suami orang lain. Otomatis Kakak tidak milikku lagi. Bibi benar, bahwa aku tidak boleh berada di antara kehidupan pernikahan kalian berdua."


"Mama? Apa Mama mengatakan sesuatu padamu? Katakan Lau."


"Bibi tidak mengatakan apa-apa Kak. Aku hanya baru menyadari bahwa hubungan kita memang tidak bisa lagi dilanjutkan", sambil meneteskan air mata.


"Lau, please jangan dengarkan apa perkataan Mama. Kakak tahu Mama yang memaksamu melakukan ini."


"Tidak Kak. Aku yang ingin melakukannya. Aku ingin hubungan kita berakhir", ungkap Laurine menangis terisak sambil menundukkan kepalanya.


"Selamat ulang tahun Kak," ucapnya melepaskan tangan Ethan dan pergi meninggalkan pria itu di sana.


Ethan diam membisu. Dia tidak menyangka Laurine akan memberikan kejutan ini padanya. Dia meneteskan air matanya. Baru saja Laurine memutuskan kembali ke Jakarta dan kembali padanya. Dan sekarang, gadis itu mengakhiri hubungan mereka.


Tiba-tiba Pelayan datang membawa pesanan mereka. Dia menatap kue ulang tahun itu. Biasanya dia dan Laurine akan saling bersuapan kue.


Ethan membayar pesan mereka dan memutuskan pergi ke Bar.


Ini pertama kali baginya datang ke tempat seperti ini. Dulu sebisa mungkin ia tidak datang ke tempat ini, walaupun client mengadakan pertemuan di tempat itu, ia pasti selalu meolaknya.


Laurine selalu melarangnya, ia selalu memperingatkan Ethan untuk tidak datang ke tempat itu. Namun, untuk sekarang dia akan melakukannya.


Ethan menggenggam erat gelas yang digunakannya. Dia yakin gadis itu yang membuat Rossa bertindak sejauh ini. Hingga gelas itu pecah, ia tidak memperdulikannya.


"Mengapa kamu melakukannya? Mengapa?", ungkap Ethan dengan perasaan kesal dan marah.


--


Sementara di rumah, Jessica sedang berdandan di depan meja rias. Ia akan membuat dirinya terlihat berbeda malam ini.


Ia melihat kado yang akan ia berikan pada Ethan, "Apa Kakak akan menyukainya?", ungkap Jessica degan perasaan sangat gugup. Ia kemudian menarik napas dan tersenyum di depan cermin.


Ia menuju ruang makan. Sudah ada kue ulang tahun dan makanan kesukaan Ethan di atas meja. Jessica melihat dekorasi yang dibuatnya. Ada foto Ethan balita yang menggemaskan di sana. Jessica sangat senang, semua selesai tepat pada waktunya. Dia melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 8 Malam.


Mungkin sebentar lagi Kak Ethan akan kembali, pikirnya.


Ethan keluar dari bar itu dengan tubuh yang sempoyongan. Ia tidak perduli dengan tatapan orang-orang yang melihatnya. Ia menuju parkiran. Tiba-tiba hujan deras datang. Dia langsung melajukan mobilnya menuju taman yang sering ia kunjungi bersama Laurine saat masih kecil.


Ethan membuka pintu mobilnya, ia tidak memperdulikan tubuhnya yang basah kuyup. Dia menatap tempat itu sebentar, kemudian duduk di ayunan yang sering ia gunakan. Ia melihat ayunan yang berada di sampingnya. Ia menyentuhnya. Laurine selalu duduk di ayunan itu. Ethan menangis tersedu-sedu sambil mengucapkan nama Laurine.


"Laurine.."


Sudah pukul 10 Malam, namun Ethan belum pulang juga. Perasaan Jessica tidak enak, tidak seperti biasanya. Dia memegang erat dress putih yang digunakannya.


"Tidak, tidak. Kak Ethan pasti sedang merayakan ulang tahunnya bersama Karyawan Kantor", ungkapnya dengan optimis.


Ia langsung duduk di sofa dan menyalakan TV untuk melupakan kekhawatirannya.


Pukul 11 Malam Ethan kembali ke rumah dengan kondisi yang berantakan. Ethan membuka pintu rumah dengan sempoyongan. Pintu itu terdengar sangat keras. Jessica langsung terkejut, dan melihat siapa datang.


"Kak Ethan, " ucap Jessica dengan senyuman.


"Selamat ulang tahun Kak.", Jessica menambahkan.


Ethan menatap penampilan gadis itu dengan tidak suka. Ethan langsung meninggalkannya. Namun tubuhnya langsung jatuh seketika. Saat Jessica melihat Ethan jatuh, ia langsung menghampirinya dan membantu tubuh Ethan berdiri.


"Kak, apa Kakak baik-baik saja?"


Jessica kemudian menyadari tubuh Ethan terasa sangat panas.


"Tubuh Kakak sangat panas", ucapnya dengan cemas.


"Lepaskan aku", bentak Ethan sambil melepaskan tangan Jessica dengan kasar.


"Jangan pernah sentuh aku." ucapnya lagi sambil berusaha berdiri sendiri.


Ethan menuju tangga. Namun langkahnya berhenti melihat dekorasi rumah dan semua makanan yang sudah tersedia di atas meja. Ia membalikkan tubuhnya dan menatap Jessica dengan wajah marah.


"Apa kamu yang melakukan semua ini? Bukankah aku sudah mengatakan padamu untuk berhenti melakukannya?", dengan nada yang sangat keras.


Jessica menatap Ethan dengan perasaan takut dan gemetar. Ini pertama kalinya Ethan membentaknya dengan nada yang sangat keras.


"Apa kamu mencoba membuatku mencintaimu? Oh, kamu ingin membuat pernikahan ini menjadi sungguhan ternyata. Bermimpilah sepuasmu karena hal itu tidak akan pernah terjadi. Aku hanya mencintai satu wanita, yaitu Laurine."


Jessica meneteskan air matanya mendengar pengakuan Ethan.


"Aku tidak akan pernah mencintaimu", Ethan menambahkan lagi.


Hati Jessica semakin sakit mendengar pernyataan Ethan barusan. Tubuhnya bergetar.


Ethan berniat pergi meninggalkan Jessica, namun ia membalikkan tubuhnya lagi.


"Aku tahu kamu yang menyuruh Mama untuk mengakhiri hubunganku dengan Laurine. Mengapa kamu melakukan itu semua?"


"Tidak Kak, aku tidak pernah mengatakan hal itu pada Mama."


"Aku begitu membencimu. Aku tidak ingin melihatmu lagi."


ucap Ethan lalu meninggalkan Jessica.


Jessica diam membisu setelah mendengar pernyataan Ethan. Ia kemudian melihat Ethan yang berhenti di tangga sambil memegang kepalanya. Jessica sangat khawatir Ethan akan jatuh, ia langsung mengikuti Ethan dari belakang. Sesampainya di kamar, Ethan langsung membaringkan tubuhnya di tempat tidur.


Jessica menatap Ethan yang membaringkan tubuhnya dengan baju yang basah. Ia takut Ethan akan sakit. Ia mengambil air minum dan memberanikan diri memberikannya pada Ethan.


" Kak, minumlah", sambil mengangkat tubuh Ethan."


"Lepaskan aku", tolak Ethan dengan sangat kasar hingga membuat gelas itu pecah dan mengenai kaki Jessica.


Jessica tidak menyerah begitu saja.


"Kak aku mohon, izinkan aku melakukan tugasku sebagai seorang istri untuk terakhir kali. Aku janji tidak akan melakukannya lagi", ungkap Jessica dengan nada memohon.


Akhirnya Ethan menerima permohonannya.


Ia mengambil air lagi kemudian memberikannya pada Ethan. Ia menyentuh kening Ethan untuk memeriksa suhu tubuhnya, "Sangat panas. Apa yang harus kulakukan?", ucapnya dengan kebingungan.


Ia melihat tubuh Ethan. Ia tidak mungkin membiarkan Ethan tidur dengan baju yang basah. Ia kemudian perlahan membuka baju Ethan dan membersihkan tubuhnya. Ia tidak memikirkan apapun selain kondisi Ethan.


"Laurine.. "


Jessica menatap Ethan yang sedang memanggil nama Laurine di dalam tidurnya. Ia meneteskan air matanya.


"Aku mohon jangan tinggalkan aku Laurine.


Aku sangat mencintaimu...", ucap Ethan lagi di dalam tidurnya.


Jessica sangat merasa bersalah saat ini. Karenanya hubungan Ethan dan Laurine berakhir.


Setelah selesai membersihkan tubuh Ethan, ia mengambil baskom air, kemudian mengompres kening Ethan.


"Ahh", Jessica baru menyadari kakinya terkena kaca dari gelas yang pecah tadi. Ia mengambil kota obat dan mengobati lukanya yang sangat perih. Ia seketika meluruhkan tubuhnya di lantai dekat ranjang. Ia menangis terisak sambil memeluk lututnya. Ia menundukkan wajahnya perlahan dan kemudian tertidur dengan posisi seperti itu.


Pukul 4 Pagi Jessica terbangun dari tidurnya dengan wajah yang sembab. Ia dengan cepat menghampiri Ethan dan memeriksa suhu tubuhnya. Ia tersenyum karena Ethan sudah sembuh dari demamnya. Ia kemudian menaikkan selimut pada tubuh Ethan. Ia menatap wajah Ethan sebentar dan kemudian meninggalkannya, ia sudah berjanji kepada Ethan untuk tidak akan melakukannya lagi.


Jessica perlahan menuruni anak tangga. Makanan dan kue ulang tahun masih ada di atas meja. Ia menatap lirih semuanya, Ia kemudian membereskan semua makanan dan membuangnya.


"Aku benar-benar orang yang tidak bersyukur kan Tuhan?", ungkap Jessica saat membuang semua makanan ke dalam tong sampah.


Jessica membereskan dekorasi juga. Ia kemudian menatap foto balita Ethan. Ia mengambil foto itu dan memeluknya dengan erat sambil menangis terisak.


Ia melihat kado yang rencananya akan ia berikan pada Ethan. Ia menyentuhnya sebentar dan kemudian meletakkannya di dalam lemari makan.


Jessica memutuskan pergi ke rumah Neneknya. Untuk sementara ia akan tinggal di sana. Ia tidak ingin Ethan semakin membencinya jika melihatnya saat bangun nanti. Ia mandi dan membereskan baju-bajunya.


Setelah selesai, Ia menuruni tasnya dan masuk ke dalam taxi yang sudah menunggu di depan rumah. Ia tidak akan mengatakan hal ini pada keluarganya ataupun There, walaupun ia sudah berjanji pada gadis itu.