Love You Too Much

Love You Too Much
Beruntung



Setelah berhari-hari melakukan pengobatan, akhirnya kaki Laurine bisa pulih kembali.


Itu semua juga berkat Chris. Pria itu selalu memperhatikan kondisinya.


"Kak Chris..." panggil Laurine di tempat tidurnya.


Biasanya saat bangun tidur Chris selalu berada di dalam ruangannya.


Laurine beranjak dari tempat tidur dan kemudian keluar dari ruangannya.


Laurine mencari Chris ke ruangannya, namun Chris tidak berada di sana.


Laurine melangkahkan kakinya ke luar rumah sakit. Namun langkahnya terhenti saat mendengar suara Chris. Laurine mengikuti sumber suara dan akhirnya ia menemukan Chris tengah berbincang dengan Tania di taman.


"Apa Dokter benar-benar berpacaran dengan pasien yang bernama Laurine?"


"Iya Tania. Aku berpacaran dengan Laurine seminggu yang lalu. Oh ya, umurnya lebih tua dibandingkan dirimu. Kamu harus memanggilnya dengan sebutan Kakak."


Tania mengerucutkan bibirnya.


"Terus mengapa Dokter tidak menangangiku lagi dan malah digantikan oleh Dokter lain?"


Tiba-tiba Laurine datang dan menggenggam tangan kiri Chris.


Chris melihat ke sampingnya saat menyadari kehadiran seseorang.


Dan orang itu adalah Laurine.


Tania memandang Laurine dengan tatapan tidak suka.


Dasar pengganggu, pikirnya.


"Hai.." ucap Laurine.


"Hai.." ucap Tania dengan malas.


"Oh ya, sebelumnya kalian belum pernah berkenalan. Laurine, ini Tania. Dan Tania, ini Laurine."


"Aku Laurine, pasien di rumah sakit ini juga. Dan aku..."


Kalimat Laurine terputus sejenak.


Ia melihat ke arah Chris dan tersenyum pada Pria itu.


"Aku Pacar Kak Chris. Senang bertemu denganmu.


Oh ya, maaf ya sebelumnya. Sebenarnya aku yang meminta Kak Chris untuk menjadi Dokter pendampingku.


Dari awal sejak masuk rumah sakit, Kak Chris yang selalu menanganiku. Dan sekarang, aku ingin dia juga yang menanganiku.


Lagian, aku ingin selalu berada di dekatnya."


Laurine mempererat genggamannya pada Chris.


(Aku sudah tahu bahwa kaulah penyebabnya.)


"Dokter Monica tergolong Dokter yang handal di rumah sakit ini. Aku yakin ia bisa menanganimu Tania. Dia juga akan selalu memantau kondisi kesehatanmu. Kamu tidak perlu khawatir." ucap Chris pada Tania.


Tania hanya diam. Dia tidak berniat untuk merespon penuturan Laurine dan Chris.


"Kamu di sini rupanya Tania."


Laurine dan Chris melihat Monica yang berjalan menghampiri mereka.


"Kembalilah ke ruanganmu Tania. Sekarang aku harus memeriksa perkembangan fisikmu"


Tania sekilas melihat ke arah Chris dan Laurine sebelum ia akhirnya pergi dari sana.


Monica tersenyum pada Chris dan Laurine dan kemudian menyusul Tania yang sudah berjalan jauh darinya.


Setelah kepergian mereka, Chris memposisikan dirinya berhadapan dengan Laurine.


"Apa kamu tadi mencariku Lau?"


Laurine menganggukkan kepalanya.


"Aku hanya sudah terbiasa bangun tidur dengan melihatmu berada di dalam kamarku Kak. Konyol bukan?"


Chris tersenyum pada Laurine.


"Hem, memang konyol


Tapi..."


Chris berpikir sejenak dan kemudian melanjutkan kalimatnya.


"Tapi aku begitu menyukainya sayang."


Chris memeluk tubuh Laurine.


Tiba-tiba terdengar suara perut Laurine yang menunjukkan Gadis itu tengah kelaparan.


Chris melepaskan pelukannya dan kemudian tertawa geli pada Laurine.


"Baiklah sayang, aku akan membawakan sesuatu yang lezat untukmu.


Ayo kita kembali ke ruanganmu."


Chris menarik tangan Laurine menuju ke ruangan Laurine.


--


Lain halnya dengan pasangan yang masih belum beranjak dari tempat tidur.


Mereka sama sekali tidak menghiraukan cahaya matahari yang mulai menerangi semua sudut kamar.


Sosok yang satu tengah sibuk memandangi sosok lainnya yang masih tertidur pulas.


Jessica mencubit pipi Ethan dengan gemas.


Entah mengapa, sejak hamil ia senang melakukannya dan hal itu menjadi kebiasaannya setiap bangun Pagi.


Ia tersenyum pada Jessica yang juga sedang tersenyum padanya.


"Pagi Cantik..."


"Pagi."


Ethan meluruhkan tubuhnya ke bawah.


Ia mendekati perut Jessica bermaksud untuk menyapa bayinya juga.


"Pagi sayang."


Ethan mencium perut Jessica dengan lembut dan kemudian bermanja-manja di sana.


Itu juga sudah menjadi kebiasaan Ethan setiap Pagi. Sedangkan pada malam harinya, Ethan akan mengajak bayi mereka berbicara.


"Papa sangat mencintaimu sayang."


Ethan kembali mencium perut Jessica dan mengelusnya dengan lembut.


Jessica tersenyum melihat Ethan yang begitu mencintai bayi mereka.


Di usia kandungannya yang masih 2 bulan, Ethan sudah menunjukkan kewas-wasannya pada bayi mereka.


Ethan menjadi Suami yang Siaga.


Bahkan Ethan menuruti semua permintaanya.


Pernah sekali ia meminta Ethan membuat rujak untuknya saat tengah malam.


Walaupun sebenarnya ngantuk berat dan baru saja tidur karena pekerjaan kantor yang menumpuk, Ethan tetap semangat memenuhi permintaannya.


Ethan sama sekali tidak menunjukkan bahwa ia sedang mengantuk.


Dan hal yang cukup mengharukan untuk Jessica adalah saat Ethan tetap tersenyum padanya dan mengatakan "apapun untukmu dan bayi kita sayang."


Ethan juga rela menggiling bumbu rujak yang begitu banyak karena Jessica begitu menginginkannya.


Pertama kali seumur hidupnya, dan itu ia lakukan untuk Istri dan anaknya.


Hingga besok paginya, Ethan merasakan panas yang luar biasa di tangan kanannya akibat cabai yang digilingnya.


Jessica selalu tersenyum setiap kali mengingatnya.


Jessica kemudian mengelus kepala Ethan dengan lembut.


Setelah memasak sarapan, Ethan membuat susu untuk Jessica.


Setiap Pagi Ethan akan membuatkan susu untuk Jessica.


Ia percaya, susu sangat baik untuk perkembangan bayi mereka dan juga mengurangi rasa mual-mual yang sering di alami Jessica di awal-awal kehamilannya.


Ethan sering berkonsultasi dengan Dokter kandungan yang menangani Jessica.


Baginya, ia harus mengetahui apapun yang berhubungan dengan kehamilan Jessica, termasuk mengenai apa larangan yang harus dihindari dan apa yang seharusnya dilakukan.


Ia bahkan seringkali meninggalkan pekerjaan kantornya hanya untuk menemani Jessica.


Ia takut terjadi apa-apa pada Jessica.


Jessica dan bayi mereka adalah hidupnya.


"Apa kamu masih merasa mual lagi sayang?"


"Sedikit Kak.


Tapi sudah lebih baik Kak."


"Baiklah sayang. Kamu harus memberitahuku jika sesuatu terjadi padamu. Termasuk jika kamu menginginkan sesuatu."


"Baiklah Kak. Terima kasih Kak, aku mencintamu."


Ethan mengelus kepala Jessica dan kemudian mengecup bibir Istrinya itu.


"Aku juga mencintaimu sayang."


"Oh ya Kak, Kakak harus segera siap-siap pergi ke kantor. Aku takut Kakak akan telat."


Ethan tersenyum dan kemudian duduk di samping Jessica.


"Hari ini aku tidak pergi kantor sayang."


"Bukankah Kakak ada janji dengan Kak Jason?"


"Ya, tapi aku sudah memberitahunya bahwa aku tidak bisa pergi dan Thomas yang akan menggantikanku."


"Apa karena aku Kak? Aku baik-baik saja Kak.


Aku hanya mual, itu saja."


"Tidak sayang. Aku hanya ingin bersamamu dan bayi kita. Entah mengapa, akhir-akhir ini aku sering merindukanmu dan dia."


Ethan mengelus perut Jessica.


"Aku begitu tidak sabar bertemu dengannya Jess. Aku ingin melihat wajahnya, memegang tangan kecilnya yang menggenggam erat jariku dan mengatakan secara langsung bahwa aku begitu mencintainya.


Menjadi seorang Ayah, membuatku merasa menjadi orang yang paling beruntung di dunia ini.


Terima kasih Jess. Terima kasih telah membuatku menjadi orang yang paling beruntung."


Jessica tersenyum penuh haru dan kemudian memegang pipi Ethan.


"Aku juga beruntung memiliki Suami seperti Kakak. Suami yang begitu mencintai aku dan anak kita. Dan aku yakin, kelak anak kita juga akan bangga memiliki Kakak sebagai Ayahnya."


Mereka saling tersenyum satu sama lain.


Ethan kemudian menarik Jessica ke dalam pelukannya.


(Aku akan selalu menjaga kamu dan Anak kita Jess.)