Love You Too Much

Love You Too Much
Kecewa



Laurine duduk di kursi taman, menghirup udara Pagi yang begitu segar.


Laurine melihat sekelilingnya.


Begitu sepi, pikirnya.


Memang tidak ada seorangpun di sana.


Mungkin karena ini masih sangat pagi.


Tapi hal itu tidak masalah untuk Laurine.


Malah ia senang. Ia bisa meluapkan perasaanya, tanpa dilihat oleh orang lain.


Beberapa menit kemudian, Laurine masuk ke dalam kamarnya.


Namun saat hendak membuka pintu, Laurine mendengar suara yang sangat ia kenali.


Laurine mendekat ke ruangan yang tak jauh dari ruangannya.


Laurine dirawat di ruangan 15, sementara kamar itu berada di kamar 18. Yang berseberangan dengan ruangannya.


Laurine melihat dari luar.


Ternyata benar dugaannya.


Chris berada di sana.


Ia sedang berbincang dengan seorang Gadis.


Dan Gadis itu adalah Pasien yang berada di ruangan Chris kemarin.


Seorang yang mengatakan sangat ingin menjadi Kekasih Chris.


Mereka tampak sangat akrab. Bahkan tak jarang Chris tersenyum pada Gadis itu.


Perasaan kecewa Laurine kembali muncul saat melihat Chris bersama Gadis lain.


Gadis itu juga terlihat sangat cantik dengan usia yang masih muda belia. Laurine melihat Gadis itu berpakaian seragam SMA kemarin.


Cantik dan masih Muda.


Pria mana yang tidak akan jatuh hati padanya?


Bila dibandingkan dirinya, yang jauh lebih tua Gadis itu.


Bisa saja Chris berbalik mencintai Gadis itu.


Laurine memijit keningnya.


Pikiran-pikiran itu mulai memenuhi otak cantikya.


Laurine memegang erat bajunya.


Apa sekarang ia sedang cemburu?


Laurine menarik napas panjang dan kemudian masuk ke dalam ruangannya.


--


"Apa? Kakak mau pergi keluar?"


Monica begitu terkejut mendengar permintaan Laurine.


Laurine menganggukkan kepalanya.


"Tidak, tidak bisa Kak. Kondisi Kakak masih belum pulih. Bahaya jika Kakak pergi dengan kondisi seperti itu."


"Mon, please. Aku pergi hanya untuk membeli perlengkapan menyulam, aku tidak akan lama.


Kamu tidak lihat, aku sangat bosan di dalam ruangan tanpa melakukan apa-apa.


Paling tidak, dengan menyulam aku bisa mengatasi kebosananku."


Monica mulai terpengaruh dengan ucapan Laurrine.


Memang ia juga kasihan dengan Laurine yang sering terlihat bosan di dalam ruangan.


"Baiklah Kak, tapi aku harus meminta izin pada Dokter Chris terlebih dahulu."


Monica hendak keluar, namun Laurine segera menahannya.


"Tidak, jangan beritahu dia soal ini Mon."


"Kenapa aku tidak boleh memberitahunya Kak? Dia adalah Dokter utama yang menangani Kakak. Dia harus tahu soal ini."


Tidak, Chris tidak perlu mengetahuinya.


Hal ini juga sama sekali tidak berarti apapun untuk Chris.


Bukankah Pria itu sedang bersenang-senang dengan Gadis lain?


"Mon, ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan dia. Lagian, sekarang kamu adalah Dokter yang mendampingiku. Aku hanya perlu izin darimu Mon."


Monica hanya diam di tempatnya.


"Tolonglah Mon, kali ini saja. Aku janji tidak akan pergi kemanapun lagi."


"Baiklah Kak.


Tapi Kakak harus janji akan memberitahuku jika terjadi apa-apa."


Laurine tersenyum mendengar persetujuan Monica.


"Aku janji Mon."


Monica dari tadi gelisah di ruangannya.


Haruskah ia memberitahu Chris soal kepergian Jessica?


Itu yang ia pikirkan dari tadi.


Di satu sisi, ia sudah berjanji pada Laurine untuk tidak memberitahu Chris soal itu. Namun di sisi lain, ia baru menyadari bahwa ia juga sudah berjanji pada Chris untuk memberitahu apapun soal Laurine padanya.


"Apa yang harus kulakukan sekarang?"


Monica berpikir sejenak.


"Ya, aku akan memberitahu Dokter Chris soal ini. Bagaimanapun aku sudah berjanji padanya. Mungkin nanti ia akan marah padaku, tapi aku harus menanggung resikonya."


Monica melangkahkan kakinya menuju ruangan Chris.


"Mengapa kamu diam saja dari tadi Mon?" tanya Chris pada Monica yang terlihat gugup di depannya.


"Apa kamu ingin mengatakan sesuatu padaku?"


"Sebenarnya Dok, Kak Laurine...."


Monica berusaha untuk memberanikan dirinya.


"Kak Laurine pergi keluar Dok."


"Apa? Maksudmu Laurine pergi keluar dari rumah sakit?"


Monica perlahan menganggukkan kepalanya


"Mengapa kamu mengizinkannya pergi Mon? Kamu tahu sendiri tubuhnya masih lemah."


Terlihat guratan marah di wajah Chris.


"Kak Laurine mengatakan bahwa ia hanya pergi sebentar untuk membeli perlengkapan menyulam Dok." ungkap Monica dengan nada merasa bersalah.


"Jadi mengapa kamu tidak memberitahuku terlebih dahulu sebelum mengizinkannya?"


"Sebenarnya, Kak Laurine melarangku untuk memberitahu Dokter soal ini."


Chris memijit keningnya.


Saat ini ia marah sekaligus kecewa.


Apa sebegitu tidak pedulinya Gadis itu pada perasaanya, sampai-sampai tidak memberitahunya soal ini?


Padahal ia sendiri sangat khawatir dengan Laurine.


Khawatir jika terjadi sesuatu yang buruk pada Gadis itu nantinya.


"Aku sangat minta maaf Dok. Aku bersalah karena sudah mengizinkan Kak Laurine keluar. Aku bahkan tidak memberitahu Dokter soal itu terlebih dahulu."


Chris menatap raut wajah bersalah Monica.


"Kali ini aku memaafkanmu Mon. Tapi jangan melakukannya lagi. Kedepannya, kamu harus memberitahukan apapun menyangkut Laurine kepadaku."


"Baik Dok. Saya tidak janji tidak akan mengulanginya."


Chris menunggu kedatangan Laurine di depan pintu masuk rumah sakit.


Dari tadi ia gelisah di tempatnya.


Ia takut terjadi apa-apa pada Laurine.


Chris menatap jam tangannya.


Ini sudah dua jam, namun Laurine belum pulang.


"Mengapa kamu belum kembali juga Lau?"


Bukankah hanya membeli perlengkapan menyulam? Namun mengapa bisa selama ini?


Beberapa menit kemudian, Chris melihat taksi berhenti di depan rumah sakit.


Pandangannya menatap ke arah itu.


Ia pikir itu pasti Laurine.


Dan benar sekali, Laurine keluar dari taksi itu.


Laurine tersenyum sambil membawa belanjaannya.


Namun ia begitu terkejut melihat Chris yang berjalan mendekatinya.


Chris mengambil barang belanjaan itu dari tangannya dan membawanya.


Chris berjalan meninggalkan Laurine yang masih diam terpaku di tempatnya.


Laurine masih belum bisa mencerna apa yang dilakukan Chris tadi.


Tunggu, itu berarti Chris mengetahui soal kepergiannnya.


Pasti Monica yang memberitahu Chris soal itu.


Laurine perlahan membuka pintu ruangannya dan melihat Chris berada di sana.


Pria itu terlihat sedang menunggunya.


Laurine berdiri di hadapan Chris.


Mereka berdua saling bertatapan namun tidak ada pembicaraan di antara keduanya.


Hingga Laurine berencana pergi ke kamar mandi untuk mengalihkan perhatian Chris.


Namun saat hendak pergi, tangan Chris menahan langkahnya.


"Mengapa kamu melakukan ini padaku Lau?


Apa aku tidak berarti sama sekali untukmu?"


Laurine hanya diam membisu.


Matanya menangkap kekecewaan pada kedua manik itu.


"Mengapa kamu tidak perduli perasaanku yang begitu khawatir padamu?"


"Apa kamu sebegitu membenciku sehingga tidak memberitahuku soal ini?"


Pertanyaan bertubi-tubi Chris membuat Laurine sangat merasa bersalah.


"Kak Chris..." ucap Laurine dengan wajah senduh.


Bukan, bukan itu alasannya.


Ia hanya berpikir, bahwa perhatian Chris sudah teralihkan pada orang lain.


Jadi tidak perlu memberitahu Chris soal kepergiannya.


Ia juga sempat marah melihat kebersamaan Chris dengan Gadis itu sehingga ia berpikir bahwa Chris tidak peduli lagi dengannya.


"Kak Chris, aku..."


Kalimat Laurine langsung terpotong.


"Kamu tidak perlu memberitahuku Lau. Aku sudah tahu alasannya."


Setelah itu, Chris langsung keluar dari ruangan Laurine.


Ia sangat kecewa menyadari bahwa Laurine sama sekali tidak menganggapnya.


Laurine meneteskan air matanya. Ia tidak menyangka akan seperti ini jadinya.


Chris, Pria itu terlihat sangat kecewa padanya.


Apa yang harus ia lakukan?