Love You Too Much

Love You Too Much
Selamat tinggal!



Jessica memandang dirinya di depan cermin.


Kali ini ia akan siap menerima kenyataannya.


Apapun yang terjadi, ia harus berusaha menguatkan dirinya.


Ia harus menjadi wanita yang kuat.


Selama ini ia sudah melakukan yang terbaik untuk pernikahannya, tidak ada lagi yang perlu disesalinya saat ia memang harus berpisah dengan Ethan.


Jessica mengambil tasnya dan keluar dari kamar.


Beberapa saat kemudian, Jessica sudah sampai di depan gedung kantor Ethan.


Rasa cemas mulai menghantuinya namun ia berusaha untuk siap.


Jessica mengeratkan tangannya.


Ia kemudian memasuki gedung itu.


Ia melihat sekelilingnya.


Karyawan yang berlalu lalang tampak tersenyum dan menyapanya. Ia pun membalas sapaan mereka satu per satu.


Jessica masuk ke dalam lift hingga akhirnya sampai di lantai ruangan Ethan berada.


Jessica menghampiri Sarah untuk menanyakan keberadaan Ethan.


"Selamat Pagi Sarah."


Sarah yang melihat kedatangan Jessica langsung berdiri dan membalas sapaan Jessica.


"Selamat Pagi Bu."


Melihat perubahan raut wajah Jessica, "Maafkan aku, Selamat Pagi Jess."


Jessica memberikan Sarah senyuman.


"Ada yang bisa aku bantu?" tanya Sarah.


"Aku ingin memberikan bekal makan siang Kak Ethan. Apa Kak Ethan ada di dalam ruangannya?"


"Sayang sekali Jess, Pak Ethan sedang keluar Pukul 10 Pagi tadi. Pak Ethan tampaknya terburu-buru, aku kira kurasa ada urusan penting. Bahkan Pak Ethan membatalkan rapat penting hari ini.


Apa kamu belum mengetahuinya?"


Jessica tersenyum tipis pada Sarah.


"Tidak, sepertinya Kak Ethan akan memberitahuku saat pulang nanti."


"Oh begitu.


Apa kamu ingin menunggu Pak Ethan di ruangannya?"


"Tidak Sarah. Sepertinya aku kembali saja.


Aku pikir, Kak Ethan pasti sudah makan siang di tempat lain."


"Baiklah Jess. Aku akan memberitahukan Pak Ethan soal kedatanganmu hari ini."


"Terima kasih Sarah.


Baikah, aku harus pergi."


" Hati-hati di jalan Jess."


Jessica tersenyum kemudian pergi dari sana.


Jessica keluar dari lift dan melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.


Ia berhenti sejenak.


Ia memikirkan perkataan Sarah soal kepergian Ethan tadi pagi.


Urusan penting? Urusan apa yang membuat Ethan harus membatalkan rapat pentingnya?


Apa urusan yang dimaksud adalah Laurine?


Jessica menutup kedua matanya.


Napasnya terasa sesak saat membayangkan bahwa hal itu memang benar, Ethan sedang bersama Laurine saat ini.


Jessica menumpukan dirinya pada dinding sebagai penopang tubuhnya.


Tubuhnya terasa lemah, seakan-akan ia tidak mampu untuk berdiri.


"Aku harus kuat. Aku harus kuat..."


Jessica berusaha untuk menguatkan dirinya sendiri.


Walaupun terasa sangat sulit, namun ia yakin dirinya mampu menghadapinya.


Setelah menenangkan dirinya, Jessica melangkah menuju pintu keluar.


Ia kemudian masuk ke dalam taksi menuju tempat yang ia yakini dimana keberadaan Ethan saat ini.


--


"Bagaimana keadaanya Chris?"


"Ia sudah berhasil melewati masa kritisnya.


Sisa benturan itu kemungkinan kembali menyerang kepala Laurine sehingga ia mengalami kejang-kejang dan berujung pingsan."


"Kau tidak perlu khawatir Ethan. Dia akan baik-baik saja."


"Apa keluarga Laurine sudah menghubunginya?" tanya Ethan.


"Orang tuanya belum menghubunginya sampai saat ini."


Ethan memandang Laurine yang sedang tertidur di ranjang.


Ia begitu kasihan dengan gadis itu.


Laurine pasti sangat menderita sehingga ia tidak tega jika membiarkan gadis itu sendirian.


Bukan karena ia masih memiliki perasaan pada Laurine, namun karena ia ingin menaruh perhatiannya sebagai Kakak yang baik untuk Laurine.


Ya, semenjak Jessica memenuhi hatinya, Ethan sudah menganggap Laurine sebagai adiknya sendiri.


Tidak lebih.


Ia sama sekali tidak pernah berpikiran untuk kembali lagi bersama Laurine. Yang ia hanya pikirkan adalah masa depannya bersama Jessica, bersama anak-anak mereka kelak.


Ethan duduk di kursi yang berada di samping ranjang.


Ethan masih menunggu Laurine sadar.


Laurine perlahan membuka matanya. Awalnya ia menatap langit-langit kamar, namun setelah itu ia menggeser kepalanya ke samping saat mendengar suara seorang Pria


"Lau, kamu sudah sadar?"


"Syukurlah, Kakak senang melihatmu sudah sadar."


Laurine memandang wajah Pria itu.


Ia tahu, bahwa selama ini Ethan menaruh perhatian padanya bukan karena Ethan masih mencintainya, namun layaknya seorang saudara yang begitu perhatian padanya.


Laurine tersenyum pada Ethan dan kemudian berusaha untuk memperbaiki posisinya.


"Laurine apa yang kamu lakukan?


Kamu harus istirahat, kondisimu belum pulih sepenuhnya."


"Aku sudah pulih Kak."


"Tidak, istirahatlah Lau."


Ethan tetap memaksa Laurine untuk istirahat kembali. Ia membimbing Laurine kembali ke posisi semula.


Namun perkataan Laurine menghentikannya.


"Apa Jessica tidak marah?"


Ethan tidak mengerti maksud dari ucapan Laurine barusan.


Apa Laurine sudah mengingat segalanya?


"Laurine, kamu..."


"Kakak tidak perlu menyembunyikannya lagi dariku. Aku baik-baik saja Kak. Aku tahu, kalian menyembunyikan ini karena khawatir akan kondisiku. Tapi kelak aku akan mengetahuinya juga Kak."


Laurine menatap wajah Ethan.


"Aku egois Kak. Dulu aku terlalu memaksakan hubungan kita. Aku pikir, hubungan kita bisa kembali seperti dulu. Namun semuanya sudah terlambat. Hati Kakak sudah dimiliki oleh Jessica sepenuhnya.


Tidak ada tempat untukku lagi di sana."


"Maafkan aku Kak..,"


Laurine perlahan menangis.


"Bahkan saat ini, aku masih mengusik pernikahan kalian berdua."


"Lau..."


Ethan mendekatkan dirinya pada Laurine dan menarik gadis itu ke dalam pelukannya.


Sementara Jessica sudah berada di depan rumah Laurine.


Ia masuk ke dalam sana dan bertemu dengan satpam yang berada di pos.


"Mencari siapa Nona?" tanya Satpam tersebut.


"Saya Jessica, teman Laurine Pak."


Jessica menganggukkan kepalanya.


"Nona boleh masuk, Nona Laurine sedang berada di kamar bersama temannya."


"Teman? Apa dia seorang Pria Pak?"


"Iya, Nona. Beliau bernama Ethan. Dia sering mengunjungi Nona Laurine ke sini."


Ucapan Bapak itu seolah membenarkan dugaannya selama ini.


Pria yang ia cintai, ternyata selama ini masih berhubungan dengan Mantan Kekasihnya.


Jessica berusaha menahan air matanya yang ingin keluar.


"Nona, anda bisa masuk ke dalam."


"Baiklah, terima kasih Pak."


Jessica berusaha melangkahkan kakinya yang terasa sangat berat menuju rumah.


Hatinya sakit, dan terasa semakin sakit saat melihat pemandangan di depannya.


Ia melihat Ethan sedang berpelukan erat bersama Laurine dari jendela kamar.


Jessica menutup mulutnya, tidak menyangka dengan bahwa ini memang benar-benar terjadi.


Kali ini, ia tidak bisa menahan air matanya. Air mata itu terus-menerus lolos dari matanya.


Ia menangis tersedu-sedu.


Ternyata selama ini diam-diam Ethan masih menyimpan perasaan pada Laurine.


Jadi apa maksud pernyatan Ethan selama ini yang selalu mengatakan bahwa Pria itu mencintainya?


Mengapa Ethan menginginkan awal yang baru bersamanya jika ia masih mencintai gadis lain?


Apa Ethan bermaksud untuk menyakitinya?


Ia ingin membalas dendam atas pernikahan mereka?


Pertanyaan-pertanyaan mulai muncul di pikiran Jessica untuk mengetahui apa alasan Ethan sehingga begitu tega menyakitinya.


Jessica tidak mampu lagi menghadapi semua ini.


Ia sangat lelah, ia ingin menyerah.


Jessica langsung pergi dari sana.


Ia tahan melihat pemandangan itu.


Jessica keluar dari gerbang.


Satpam itu keluar dari pos. Ia heran mengapa Jessica begitu cepat keluar dari sana. Padahal Jessica baru saja datang.


Jessica langsung masuk ke dalam taksi dan pergi dari tempat itu.


Di dalam taksi, Jessica menangis sejadi-jadinya. Ia mencurahkan kesedihannya di dalam sana.


Setelah sampai di rumah, Jessica melangkahkan kakinya menuju kamar.


Ia langsung mengambil kopernya dan memasukkan semua pakaiannya ke dalam sana.


Jessica berhenti sejenak.


Ia berusaha mengatur napasnya yang tidak terkontrol karena menangis sedari tadi.


Ia menepuk-nepuk dadanya berusaha untuk mengontrol dirinya.


Setelah memasukkan semua pakaiannya, Jessica memasukkan barang-barang miliknya.


Tangannya berhenti saat melihat bingkai foto pernikahannya bersama Ethan.


Ia memutuskan tidak membawa benda itu.


Kali ini, ia tidak akan membawa apapun yang berhubungan dengan Ethan.


Ia akan pergi jauh dan berusaha untuk melupakan segalanya tentang Pria itu, termasuk pernikahan mereka.


Setelah pergi, Jessica akan menyuruh seorang Pengacara untuk mengurus perceraian mereka.


Termasuk benda yang berada di jari manisnya.


Jessica memandang cincin pernikahannya.


Cincin yang belum bertengger selama 1 tahun di jari manisnya.


Ya, perceraian mereka membuat Jessica juga


harus melepaskan cincin itu dari jarinya.


Jessica berusaha untuk melepaskan cincin itu.


Namun tiba-tiba Jessica teringat dengan perkataan Ethan yang selalu melarangnya untuk melepaskan cincin pernikahan mereka.


Jessica menangis lagi, ia memegang erat meja sebagai tumpuan ia berdiri.


Tubuhnya sangat lemah, bahkan dari tadi Jessica tidak mampu menopang tubuhnya sendiri.


--


Jessica masuk ke dalam ruangan kerja Ethan.


Ia memandang keseluruhan isinya.


Termasuk foto pernikahan mereka yang terletak di meja kerja Ethan.


Dulu, bukan foto itu yang terletak di sana melainkan foto Ethan bersama Laurine.


Ethan menggantikannya.


Sekilas ingatan saat awal pernikahan mereka muncul di pikiran Jessica.


Ethan yang terpaksa tidur di sofa ruang kerjanya agar tidak tidur seranjang dengannya.


Pria itu juga sering ke sana untuk menghindarinya.


Bukan hanya momen duka, namun juga ada momen bahagianya bersama Ethan di sana.


Jessica sering menunggu Ethan menyelesaikan pekerjaannya. Ia juga masih mengingat dengan jelas bagaimana momen romantis yang mereka berdua lakukan di sana.


Jessica tersenyum namun sebaliknya hatinya malah bersedih.


Hal itu tidak akan pernah terjadi lagi di dalam hidupnya.


Jessica keluar dari sana.


Foto yang terpajang di dalam kamar berhasil menyita perhatiannya.


Foto pernikahannya bersama Ethan.


Ethan tampak tersenyum di sana.


Namun Jessica tahu, bahwa itu adalah senyuman terpaksa.


Jessica menyadari bahwa memang sejak awal Ethan terpaksa dengan Pernikahan mereka.


Senyum itu tidak akan pernah tulus untuknya.


Seberapa besarpun pengorbanan Jessica, rasa kebencian dan keterpaksaanlah yang selalu diberikan Ethan padanya.


Jessica masih mengingat tatapan itu, tatapan Ethan saat menolak segala perlakuannya dulu.


Ia memang terlalu berharap dengan Pernikahan mereka. Hingga ia menjadi korban atas perasaannya sendiri.


Ia juga sudah memisahkan pasangan yang saling mencintai.


Kedatangannya kembali ke Indonesia hanya membawa dampak buruk bagi dirinya sendiri dan juga orang lain.


Ia sangat menyesal kembali ke Indonesia.


Mengapa dulu ia tidak mendengar permintaan Natalie yang menginginkannya untuk bekerja di Amerika saja?


Takdir mempertemukannya lagi dengan Ethan hingga berujung pada pernikahan.


Kali ini, ia akan pergi jauh dan tidak akan kembali lagi. Ia akan melupakan segalanya tentang Ethan dan memulai hidup yang baru.


Ia memang begitu mencintai Ethan, namun ia harus melepaskan Ethan bersama Gadis yang dicintainya.


Jessica melepaskan Ethan karena ia begitu mencintainya.


Itu adalah usaha terakhirnya.


Jessica membawa kopernya keluar rumah menuju ke taksi yang sudah menunggunya di di depan rumah.


Jessica menghentikan langkahnya dan kemudian membalikkan tubuhya memandang rumah itu.


Jessica menyunggingkan senyumnya.


Ia akan pergi meninggalkan tempat ini, tempat yang berisi banyak kenangannya.


(Selamat tinggal)


Jessica kemudian menghampiri taksi itu dan memasukkan barangnya ke sana.


Setelah itu ia masuk ke dalam taksi dan taksi itu perlahan meninggalkan area rumah.


Jessica menatap lurus ke depan. Ia takut hatinya goyah kembali.


(Selamat tinggal Kak Ethan)


Jessica menghapus air matanya.


Ia akan memulai hidup yang baru, tanpa Ethan.