
Jessica sudah selesai membereskan barang-barangnya ke dalam koper. Jessica melihat Ethan tengah membereskan barang-barangnya. Jessica menghampiri Ethan berniat membantunya.
"Aku akan membantumu Kak. Mandilah", ungkap Jessica dengan senyuman tulus.
"Tidak perlu. Aku bisa membereskannya sendiri. Tunggulah di dalam mobil", ungkap Ethan dengan nada datar.
Ada rasa kecewa di dalam hati Jessica. Sebagai istri, ia hanya ingin membantu suaminya. Jessica keluar dari kamar membawa kopernya dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil.
Beberapa waktu kemudian, Ethan memasukkan kopernya dan menutup bagasi mobil. Ia masuk dan menghidupkan mobilnya. Selama perjalanan, tidak ada percakapan di antara mereka. Dari ekor matanya, Jessica melihat Ethan yang sedang fokus menyetir. Ia tersenyum melihat penampilan Ethan yang sangat tampan.
Jessica menghirup udara daerah Bandung yang sangat sejuk. Dia mendekati kaca mobil yang terbuka sambil menggerakkan tangannya yang terkena angin. Dia sangat bahagia, sebentar lagi ia akan melihat pantai.
Mereka sudah sampai di Villa keluarga Ethan. Lokasinya sangat berdekatan dengan pantai. Pemandangan dapat dilihat dari sana. Jessica tersenyum. Aku akan menyukai tempat ini, pikirnya.
Mereka memasuki rumah.
"Ini kamarmu. Kamarku ada di atas. Jika kamu perlu sesuatu, hubungi aku."
Senyum Jessica hilang seketika.
(Ya, aku dan dia adalah 2 orang asing walaupun kami sudah menikah)
Jauh di dalam lubuk hati Jessica ia ingin pernikahan yang sesungguhnya. Ia tahu Ethan tidak akan pernah membalas cintanya, tapi ia akan berusaha mempertahankan pernikahan mereka. Ia tidak ingin menyia-nyiakan pernikahan, karna baginya pernikahan sangat kudus dan hanya dilakukan sekali seumur hidup.
Pukul 7 Malam Ethan langsung pergi menuju lokasi dimana Laurine berada. Dia berjalan kaki, karena lokasinya sangat berdekatan dengan Villa Ethan. Ethan pergi tanpa memberitahu Jessica. Sementara Jessica sedang membereskan pakaiannya ke dalam lemari.
Ethan pergi ke Villa keluarga Laurine. Ethan mengetuk pintu.
"Sebentar", ucap seorang gadis yang sedang turun dari tangga. Ethan mengenali suara itu. Pintu itu terbuka, tampak seorang gadis yang sangat ia rindukan sedang berdiri di depan pintu.
"Laurine.."
Dengan wajah terkejut, "Kak Ethan.."
Ethan langsung memeluk Laurine dengan erat. Ia sangat merindukan gadis itu.
"Aku sangat merindukanmu Lau."
Laurine membalas pelukan Ethan. Ia merasakan hal yang sama, Ia juga begitu merindukan Ethan.
Jessica merasa sangat lapar. Dia baru menyadari dia dan Ethan belum makan malam. Dia mengecek bahan makanan di kulkas, namun kosong tidak ada apa-apa. Dia menuju ke kamar Ethan, ia berniat mengajak Ethan makan malam. Ia mengetuk pintu, namun Ethan tidak menyahut. Jessica masuk dan tidak ada siapa-siapa di dalam.
(Apa Kak Ethan sedang pergi membeli makan malam?)
"Aku akan menunggunya sebentar lagi."
Sudah 1 Jam Jessica menunggu, namun Ethan belum kembali juga. Jessica mengingat perkataan Ethan untuk menghubunginya apabila memerlukan sesuatu. Jessica mengambil handphonenya dan menghubungi nomor Ethan berkali-kali,namun panggilannya tidak dijawab.
Perut Jessica semakin berbunyi sebagai tanda perutnya belum terisi apapun. Jessica bingung harus melakukan apa. Jika ia pergi mencari makan sendiri, ia takut tersesat dan lupa jalan pulang. Tapi ia tidak tahan lagi. Ia sangat lapar.
"Aku harus mencoba mencari makan di sekitar sini. Ya, aku akan menghapal jalan agar aku tidak tersesat."
Jessica menutup pintu rumah dan berjalan mencari makanan. Namun tidak ada satupun tempat penjual makanan di sekitar Villa.
Sementara Ethan sedang berjalan bersama dengan Laurine di pantai. Laurine sejak kecil sangat menyukai pantai. Mereka berdua dulu sering bermain disini saat keluarga mereka berlibur. Ethan tersenyum saat mengingat betapa menggemaskannya Laurine dulu.
"Mengapa Kakak tersenyum?"
Ethan menghentikan langkahnya. Dia menatap wajah Laurine, dan menggenggam tangannya.
"Kakak teringat, kita sering bermain di sini dulu. Kamu sangat lucu dengan kucir kudamu. Kamu tidak bisa berenang, tapi kamu bersikeras mandi di pantai. Oleh karena itu Kakak selalu menemanimu ke sini."
"Kakak masih mengingatnya?"
"Tentu saja. Kita berdua juga pernah berjanji di sini bahwa selamanya kita akan selalu bersama apapun yang terjadi."
Laurine tersenyum mendengar penuturan Ethan. Ya, mereka memang pernah berjanji di sini.
"Laurine, berjanjilah bahwa kamu tidak akan pergi meninggalkanku lagi."
"Aku berjanji Kak. Tapi tolong beri aku waktu untuk memikirkan semua ini. Bagaimanapun Kakak sudah menikah. Kakak sudah menjadi Suami orang lain."
Jessica berjalan di sekitar pantai. Ia sangat takjub dengan hiasan lampu-lampu di sekitar pantai.
"Wahhh, indag sekali." Jessica melihat sekelilingnya yang begitu mengagumkan.
Tiba tiba pandangannya berhenti pada sosok yang ia hubungi dari tadi. Pria itu sedang bersama gadis lain. Ada rasa sesak di dada Jessica mengetahui bahwa Ethan ternyata bersama Laurine. Pria itu menggenggam tangan Laurine dengan perasaan cinta dan memeluk tubuhnya.
Tidak tahan melihat pemandangan itu, Jessica perlahan meneteskan air matanya.
"Aku harus pergi, bukankah tadi aku sangat kelaparan?", dengan tersenyum sambil menghapus air matanya.
Jessica berniat membalikkan tubuhnya.
"Tidak ada yang berubah Lau. Walaupun aku sudah menikah, hatiku masih dan akan slalu untukmu. Pernikahan ini tidak ada artinya bagiku. Kamu juga tahu kalo aku terpaksa menikah dengannya. Semua ini hanya karna permintaan Mama. Aku sangat mencintaimu Laurine Exaudy. Aku tidak bisa hidup tanpa kamu."
Laurine membalas pelukan Ethan, "Aku juga sangat mencintaimu Kak."
Hati Jessica sangat sakit mendengar penuturan Ethan yang mengatakan pernikahan mereka tidak berarti baginya. Jessica menangis terisak. Seketika Jessica teringat dengan momen SMA saat ia mengetahui siapa gadis yang dicintai Ethan. Jessica memegang dadanya yang begitu sesak, perasaan sakit itu datang lagi menimpanya.
Tiba-tiba gerimis datang. Namun Jessica masih berada di tempat yang sama. Rasa sakit membuatnya sama sekali tidak menyadarinya. Hingga ada seseorang yang menepuk bahunya.
"Neng, sebentar lagi hujan. Nanti Neng bisa sakit."
"Terima Kasih Bu."
Jessica tidak berniat kembali ke Villa. Dia memutuskan berteduh di sebuah pondok.
Hujan semakin deras, waktu sudah menunjukkan pukul 10 Malam. Angin malam di pantai semakin dingin, Jessica merasa sangat kedinginan. Ia menghusap-usap tubuhnya. Ia lupa membawa Jaket saat keluar tadi.
Ethan kembali ke rumah. Saat ingin menuju kamarnya, ia melihat kamar Jessica terbuka. Ia masuk ke dalam kamar itu. Tidak ada siapa-siapa, pikirnya.
"Kemana perginya gadis itu?"
Ethan mengambil Handphonenya untuk memeriksa apakah ada panggilan dari gadis itu. Namun belum sempat memeriksa, Handphone Ethan mati. Ia baru menyadari
Handphone nya lowbatt.
Dia memeriksa seluruh ruangan, namun gadis itu tidak ada disana.
Ethan melihat jam tangannya, jam sudah menunjukkan pukul 11 Malam. Ethan sedikit panik, gadis itu baru pertama kali ke tempat itu.
"Apa dia lupa jalan pulang?", Ethan mulai berasumsi.
Ethan mengambil payung dan memutuskan mencari Jessica di sekitar pantai. Ia mengunjungi setiap rumah makan disana, namun hasilnya tetap nihil. Ia merasa kesal, ia sudah pergi kemana-mana dan bertanya pada setiap pengunjung namun belum menemukan gadis itu.
"Mengapa ia pergi begitu jauh?", ungkapnya dengan nada kesal.
Ethan mengelilingi pantai. Dia mengedarkan pandangannya. Ia melihat gadis itu di sebuah pondok, dengan wajah tertunduk sambil memeluk lututnya. Dia kemudian mendekati gadis itu.
"Ternyata kamu disini."
Gadis itu mengangkat wajahnya. Wajahnya masih dipenuhi air mata.
"Apa kamu tidak tahu aku sudah mencarimu kemana-mana?", dengan nada ketus.
Jessica hanya diam membisu.
"Kamu ingin Mama menyalahkanku? Mengapa kamu begitu menyusahkanku?", ungkap Ethan dengan nada membentak.
Jessica langsung menatap Ethan, ia begitu tertohok dengan pernyataan Ethan.
(Apa aku begitu menyusahkanmu Kak?)
Perlahan air mata itu keluar lagi. Jessica menundukkan kepalanya, ia tidak ingin Ethan melihatnya menangis.
Menyadari perkataannya membuat Jessica menangis, Ethan menarik napasnya dengan perlahan. Ia berusaha mengontrol emosinya.
"Pakai payung ini, ayo kita pulang", dengan nada rendah. Ethan langsung membalikkan badannya.
Jessica memakai payung pemberian Ethan. Ia melihat Ethan berjalan di depannya tanpa payung.
(Apa kamu begitu membenci pernikahan ini? Bahkan kamu membiarkan tubuhmu kehujanan agar tidak berada dekat denganku)
Jessica teringat dengan perkataan Ethan tadi bahwa pernikahan mereka tidak ada apa-apanya baginya. Jessica menangis sambil menutup mulutnya. Ia kemudian menghapus air matanya.
Sesampainya di Villa, Ethan langsung menuju kamarnya. Jessica sekilas melihat kepergian Ethan dan kemudian masuk ke dalam kamar.
Dia duduk di tepi tempat tidur. Dia diam sejenak memikirkan pernikahannya. Dia berlutut di tempat tidur, melipat tangannya dan menutup mata berdoa pada Tuhan.
"Tuhan, apa yang harus kulakukan dengan pernikahanku? Aku mencintainya namun dia mencintai orang lain. Apa aku harus menyerah?"
Tiba tiba Firman Tuhan berkata dalam pikirannya, "Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."
Jessica menangis di dalam doanya. Dia sadar dia sudah berjanji di hadapan Tuhan pada saat mengucapkan Janji Suci Pernikahan. Dia memohon ampun pada Tuhan.
Jessica membuka matanya dan terseyum lega sambil menghapus air matanya. Tuhan seolah mengingatkannya untuk bertahan. Jessica mengangkat tangan kirinya dan melihat cincin yang tersemat di jari manisnya.
"Ya, aku akan bertahan Tuhan", ucap Jessica dengan senyuman memandang cincin pernikahannya.
Sementara itu Ethan baru saja selesai mandi dan segera memakaikan bajunya. Ia menghidupkan Handphonenya yang baterainya sudah terisi. Ia begitu terkejut saat melihat pemberitahuan banyak panggilan dari gadis itu.
Ada rasa bersalah menyelimutinya. Ia sudah membentak gadis itu tadi. Ethan juga masih ingat bagaimana Jessica menangis saat ia mengucapkan kata-kata kasar pada gadis itu. Ethan begitu merutuki dirinya. Bagaimanapun ini kesalahannya bukan kesalahan gadis itu.
"Apa yang harus aku lakukan?", ucap Ethan dengan memijat keningnya.