Love You Too Much

Love You Too Much
Bertemu Jason Arthur



Ethan pulang dari kantor. Ia melangkahkan kakinya menuju kamar nya. Namun sejenak ia berhenti untuk memandang ke arah kamar Jessica.


Ada rasa sedih di hatinya saat gadis itu menjauhinya. Ya, hari ini Jessica tidak memasangkan dasinya. Tidak ada lagi senyuman itu, senyuman yang slalu terpancar di wajah Jessica.


Ia kemudian teringat dengan tujuan awal pernihahan ini. Dia yang meminta Jessica untuk tidak menganggap serius pernikahan ini. Bahkan gadis itu selalu memberikan perhatian padanya.


Ethan sadar bahwa dirinya pantas menerima ini semua..


Sementara di apartemen There.


"Kamu belum tidur Jess?" tanya There yang melihat Jessica duduk di tepi ranjang.


Jessica hanya menanggapi pertanyaan There dengan senyuman.


There kemudian duduk di samping Jessica dan memegang tangan Jessica.


"Apa kamu masih memikirkannya, hemm?"


"Tidak, aku.."


"Kamu tidak usah menyembunyikan perasaanmu Jess. Aku mengenalmu."


"Kalau kamu belum siap, kamu masih bisa menjalaninya sampai kamu benar-benar siap."


"Terima kasih Re."


ucap Jessica lalu memeluk tubuh There.


Jessica meneteskan air matanya.


Kemudian ia langsung menghapus air matanya. Ia tidak ingin There ikut bersedih.


Jessica melepaskan pelukannya.


"Sekarang tidurlah. Aku tidak mau kamu sakit lagi." ucap There.


Jessica menganggukkan kepalanya.


Kemudian ia mengambil posisi berbaring di tempat tidur.


Setelah There keluar dari kamar, Jessica mengangkat tangan kirinya dan memandang lirih cincin pernikahannya.


Keesokan harinya.


Ethan berangkat ke kantor pagi-pagi benar. Karena hari ini ia akan bertemu dengan Direktur Utama Perusahaan Marketing Amerika yang akan bekerja sama dengannya.


Ia tahu bahwa orang ini adalah orang yang sangat disipilin dan tegas. Oleh karena itu Ethan memerintahkan semua Karyawannya untuk datang lebih cepat hari ini.


Ethan masuk ke dalam mobil dan melanjukannya dengan cepat.


"Bukankah kamu berangkat terlalu pagi Re?" ucap Jessica saat melihat There yang sedang bersiap-siap.


"Kak Ethan memerintahkan kami datang lebih cepat Jess. Karena hari ini kami akan menyambut kedatangan Client penting.


"Client penting?"


There menganggukkan kepalanya.


"Aku dengar, Client penting dari Perusahaan Marketing Amerika."


There memasukkan barang-barangnya ke dalam tas.


"Oh ya Jess, kamu tidak boleh lupa janji kita. Aku akan menelponmu saat jam makan siang."


"Baiklah." ucap Jessica.


"Aku berangkat dulu Jess." ucap There lalu mencium pipi Jessica.


Jessica tersenyum melihat tingkah lucu sahabatnya.


--


Seorang pria tampan memasuki gedung. Semua orang terpukau mengetahui bahwa Client penting mereka adalah seorang pria tampan yang masih muda. Wajah bulenya namun tidak terlalu mencolok itu menunjukkan bahwa ia merupakan keturunan campuran Indonesia-Amerika. Pria itu juga bisa berbahasa Indonesia.


Semua orang menyapanya dengan sopan dan hormat.


Ia juga membalas semua sapaan itu dengan senyuman.


Seorang pria datang menghampirinya.


"Selamat Pagi Pak Jasson Arthur.


Selamat datang di kantor kami." ucap Ethan sambil bersalaman dengan Jasson.


"Terima kasih Pak Ethan Samuel Jeconiah. Senang bertemu dengan anda."


"Silahkan masuk ke ruangan sebelah ini."


ucap Ethan dengan menunjukkan ruang rapat.


Jasson berjalan bersama Ethan menuju ke ruang rapat.


Jessica pergi ke kantor Ethan untuk makan siang di luar bersama There. Jessica memutuskan untuk menunggu There di luar.


Ia mengambil handphonenya dari tas dan mengirim pesan pada There.


Rapat sudah selesai, Ethan akan mengantar Jasson masuk ke dalam mobilnya.


"Apa yang membuat anda setuju untuk bekerja sama dengan kami? Bukankah anda sebelumnya menolak?" tanya Ethan pada Jasson.


Jasson tampak berpikir dan kemudian tersenyum.


"Saya ingin bertemu dengan seorang gadis, dia sedang berada di Indonesia saat ini. Jadi saya pikir saya harus kembali ke Indonesia."


"Saya rasa dia adalah gadis yang sangat spesial untuk anda."


"Ya, dia adalah gadis yang saya cintai."


Ethan bisa melihat dari raut wajah Jasson bahwa ia sangat mencintai gadis itu.


Tiba-tiba Laurine datang menghampiri Ethan dan Jasson.


"Kak.." ucap Laurine pada Ethan.


"Laurine.."


"Apa gadis cantik ini kekasih anda?"


Ethan hanya tersenyum tipis menanggapi pertanyaan Jasson.


"Saya Laurine."


ucap Laurine sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Jasson


"Saya Jasson Arthur. Senang berkenalan dengan anda."


Jasson membalas uluran tangan Laurine.


Jessica masih menunggu balasan pesan dari There. Gadis itu juga belum menghampirinya sampai sekarang.


Jessica memutuskan menghampiri There di kantor. Bagaimanapun ini sudah jam makan siang.


Jessica melangkahkan kakinya menuju pintu masuk namun wajah seseorang menghentikan langkahnya.


Jessica melihat lagi wajah itu. Ya, dia sangat mengenali pria itu, sosok yang sangat dirindukannya.


"Kak Jason.." ucap Jessica.


Jessica melangkahkan kakinya dengan cepat. Ia tidak ingin kehilangan pria itu lagi.


Mobil itu sudah berjalan.


Jessica berlari mangejar mobil itu.


"Kak Jason....." , teriak Jessica.


Mobil itu sudah tidak terlihat lagi.


"Kak Jason..." ucap Jessica dengan lirih.


Jessica masih menatap ke arah perginya mobil itu.


Jessica menundukkan kepalanya. Jessica begitu sedih. Ia bertemu dengan Jason tapi ia melewatkan kesempatan itu.


Ethan berhenti sebentar, ia lalu menutup pintu mobilnya kembali. Laurine bingung dengan apa yang dilakukan Ethan.


"Ada apa Kak? Mengapa Kakak tidak masuk ke dalam mobil? Bukankah kita akan pergi makan siang? Aku sangat lapar Kak.. " ucap Laurine dengan nada memelas.


"Tunggu sebentar di sini Lau. Aku akan kembali." ucap Ethan lalu meninggalkan Laurine sendirian


Ethan merasa mendengar suara Jessica tadi. Ya, itu pasti suara Jessica, pikir Ethan.


"Kak Ethan akan pergi kemana?"


Laurine kemudian mengikuti Ethan.


Ethan melihat Jessica sedang berada di tengah jalan tempat mobil keluar masuk.


Gadis itu tengah menundukkan wajahnya. Ethan melangkahkan kakinya untuk menghampiri Jessica, ia khawatir Jessica tidak memperhatikan ada mobil yang datang.


Namun ia menghentikan langkahnya saat melihat Jasson berlari menuju Jessica.


Jasson mendekati Jessica yang masih terdiam di tempatnya.


Gadis itu tidak menyadari kehadirannya.


Jessica melihat ada bayangan di depannya. Ia kemudian menaikkan wajahnya untuk melihat siapa yang berada di depannya.


Jessica melihat Jason berada di depannya.


"Kak Jason..." ucap Jessica dengan lirih.


Jessica langsung memeluk tubuh Jason dengan erat. Ia begitu senang bertemu dengan Jason.


Jason membalas pelukan Jessica. Ia tersenyum dengan senang. Akhirnya ia bisa bertemu dengan gadis yang menjadi alasannya kembali ke Indonesia.


Ethan bingung dengan pemandangan yang ada di depannya.


(Jessica mengenal Jason?


Ada rasa tidak suka di hati Ethan saat melihat Jessica berpelukan dengan pria lain.


Laurine yang baru datang pun heran melihat Jessica dan Jason yang saling berpelukan.


(Mereka terlihat sangat dekat sepertinya)


Jessica dan Jason saling melepas pelukan.


"Kak, aku..." ucap Jessica dengan nada menyesal.


"sshhttt.. Ini adalah pertemuan pertama kita setelah lama tidak bertemu. Kita harusnya bersenang-senang, okey?", ucap Jason dengan memegang pundak Jessica.


Jessica tersenyum tipis pada Jason.


Sebenarnya ia masih sangat merasa bersalah pada pria itu.


Dulu Jasson pernah mengajaknya pergi ke suatu tempat. Jessica sempat menolaknya, namun Jason tetap menunggu Jessica di tempat itu, berharap Jessica akan datang.


Jessica merasa dilema saat itu. Di satu sisi ia tidak ingin Jason menunggu namun di satu sisi ia tidak ingin memberi harapan pada pria itu. Jason sudah Jessica anggap seperti Kakak nya sendiri.


Jessica tahu Jason akan menyatakan perasaannya saat itu. Jason memberikan pilihan bahwa jika Jessica datang ke tempat itu berarti ia menerima perasaannya namun sebaliknya jika Jessica tidak datang berarti gadis itu menolak perasaanya.


Pada akhirnya Jessica tidak datang ke tempat itu. Dan mulai hari itu juga Jason tidak menghubunginya lagi, pria itu juga seakan menghilang dari kehidupan Jessica.


Sejak saat itu, Jessica merasa kehilangan sosok yang berarti di dalam hidupnya.


Jessica masih memandangi sosok yang berada di depannya. Ia tidak menyangka akan bertemu Jason di Indonesia.


"Apa Kakak tadi memiliki urusan di sini?"


Jason menganggukkan kepalanya dengan lembut.


"Kakak bekerja sama dengan perusahaan ini." ucap Jason sambil mengarahkan pandangannya pada gedung perusahaan.


Jason melihat Ethan dan Laurine yang berada tidak jauh dari mereka.


Jessica begitu terkejut dengan penuturan Jason. Berarti Jason bekerja sama dengan Ethan.


"Itu dia Direktur Utama Perusahaan ini."


ucap Jason mengarahkan Jessica pada Ethan yang juga sedang menatapnya.


Mereka saling bertatapan sebentar.


Kemudian Jason memegang tangan Jessica


"Ayo aku perkenalkan dengannya."


Jason lalu menarik tangan Jessica.


Jessica sempat bingung dengan apa yang akan dikatakannya nanti pada Jason.


Ia tidak mungkin mengatakan pada Jason bahwa Ethan adalah suaminya. Ethan pernah menyuruhnya untuk tidak mengatakan pada siapapun soal pernikahan mereka.


Ya, lebih baik mereka seakan tidak saling mengenal. Bagaimanapun Jason adalah Client penting Ethan.


"Pak Ethan, perkenalkan ini Jessica Ornetha." ucap Jason.


"Saya datang ke Indonesia untuk bertemu dengannya." ucap Jason lagi.


Ethan begitu terkejut dengan penuturan Jason.


Itu berarti gadis spesial yang disebut Jason tadi adalah Jessica.


Jessica juga begitu terkejut dengan apa yang dikatakan Jason.


Bukankah pria itu datang ke Indonesia untuk bekerja sama dengan perusahaan Ethan?


"Jessica, ini Pak Ethan, Direktur Utama Perusahaan ini."


Jessica menatap Ethan dan mengulurkan tangannya pada pria itu.


"Saya Jessica Ornetha."


Ethan membalas uluran tangan Jessica dan memandang lekat wajah Jessica.


"Saya Ethan Samuel Jeconiah."


Jessica kemudian melepaskan tangannya dari Ethan.


"Dan ini, Kekasih Pak Ethan."


"Halo, aku Laurine Exaudy. " ucap Laurine dengan tersenyum.


Laurine senang bahwa apapun yang terjadi, dirinyalah yang diperkenalkan sebagai Kekasih Ethan. Bukan Jessica, walaupun gadis itu adalah Istri Ethan.


"Aku kekasih Kak Ethan." ucap Laurine dengan memegang lengan Ethan.


Jessica tersenyum tipis pada Laurine.


"Oh ya, Bukankah kalian tadi akan pergi makan siang?" tanya Jason.


"Sebenarnya kami akan pergi Tuan Jason. Tapi tadi ada urusan sebentar." ucap Laurine.


"Bagaimana kalau kita pergi makan siang bersama?" tanya Jason.


Jessica sontak menatap Jason.


Apa yang harus ia lakukan?


Mereka seharusnya saling menghindar saat ini.


"Ide yang bagus. Kita bisa makan siang bersama." ucap Laurine dengan semangat.


Ethan dan Jessica heran dengan apa yang dikatakan Laurine barusan. Mengapa Laurine melakukan hal itu?


"Baiklah, ayo kita pergi sekarang." ucap Jason.


Kemudian Jason menarik tangan Jessica.


Ethan melihat tangan Jason pada Jessica.


Ia marah, namun ia berusaha mengontrol perasaannya. Ia sudah berjanji pada Jessica untuk menjalani kehidupan mereka masing-masing.


--


Mereka berempat berada di sebuah Restoran. Jessica duduk di samping Jasson dan berhadapan dengan Ethan. Sementara Laurine duduk di samping Ethan.


Seorang pelayan datang dan memberikan menu.


"Kamu ingin memesan menu apa?" tanya Jason pada Jessica.


Jessica menatap Jason sebentar.


"Ah aku tahu. Kita akan pesan makanan kesukaanmu.


Kami berdua pesan 2 steak daging sapi dengan saus pedas tapi tanpa kecap Mbak."


ucap Jason pada pelayan.


Ethan melihat ke arah mereka berdua.


Bahkan Jason tahu makanan kesukaan Jessica, pikirnya.


"Kakak ingin pesan apa?" tanya Laurine pada Ethan.


Ethan sontak mengalihkan pandangannya pada Laurine.


"Aku pesan nasi goreng seafood."


Pelayan mencatat semua pesanan dan pergi meninggalkan mereka.


"Oh ya, kapan anda dan Nona Laurine menuju ke jenjang yang lebih serius?" tanya Jason pada Ethan.


Ethan tidak menjawab pertanyaan Jason. Ia malah menatap Jessica yang tengah menundukkan wajahnya.


Bagaimanapun ia sudah menikah dengan Jessica. Jessica adalah istrinya walaupun mereka sudah memutuskan untuk menjalani kehidupan masing-masing.


Mengenai hubungannya dengan Laurine, ia juga tidak tahu. Bahkan ia tidak pernah berpikir untuk menikahi gadis itu semenjak ia menikah dengan Jessica.


"Kami masih ingin berlama-lama pacaran Tuan Jason. Lagian saya rasa kehidupan pacaran jauh dari romantis dari kehidupan pernikahan." ucap Laurine sambil melihat ke arah Jessica.


Secara tidak langsung ia ingin mengatakan pada Jessica bahwa pernikahannya dan Ethan tidak ada apa-apanya dibandingkan hubungannya dengan Ethan.


"Bagaimana dengan anda? Apa anda sudah menemukan gadis yang spesial?" tanya Laurine.


Tiba-tiba Jason memegang tangan Jessica.


Dan melihat ada cincin di jari manis Jessica.


Seketika Jessica sangat gugup saat Jason melihat ke arah cincin pernikahannya.


Ethan juga melihat Jason yang menatap cincin pernikahan mereka.


Jason menatap cincin itu sebentar dan kemudian tersenyum.


"Kamu belum berubah Jess. Bukankah dulu aku sering mengatakan padamu untuk tidak memakai cincin di jari manis? Orang akan mengira kamu sudah menikah.


Mulai besok kamu harus melepaskannya. Okey?" ucapnya sambil menatap Jessica.


Ethan berusaha mengontrol emosinya.


Ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi.


Jessica tidak boleh melepaskan cincin pernikahan mereka.


Ethan ingin sekali mengatakan pada Jason bahwa Jessica adalah istrinya. Tapi Jason sudah terlanjur mengetahui bahwa Laurine adalah kekasihnya. Ia rasa ia akan memberitahukan Jason setelah ia menyelesaikan bisnisnya bersama Jason.


Jessica melihat cincin itu dan menatap Ethan sekilas.


(Kamu sudah mendengarnya Kak. Itu berarti Kakak sudah mengizinkan aku untuk melepaskan cincin ini)


Ya, Jessica pikir kelak ia akan melepaskan cincin itu.


Ethan juga tidak akan melarangnya jika ia melepaskannya.