
Ethan membuka pintu mobil dan membawa Jessica masuk dalam rumah.
Ethan memegang pundak Jessica dan tersenyum.
"Aku lega, akhirnya Jason mengetahui pernikahan kita.
Dia tidak punya alasan lagi untuk mendekatimu."
Ethan tersenyum lagi.
"Perlahan Laurine juga akan mengingat semuanya."
Jessica masih memikirkan Jason.
Pria itu pasti kecewa dengannya.
Apa yang harus ia lakukan untuk menjelaskan semuanya pada Jason?
Ethan melihat Jessica yang diam membisu dari tadi.
"Ada apa Jess? Apa kamu tidak bahagia?"
Perkataan Ethan menyadarkan Jessica.
"Tidak Kak, aku sangat bahagia. Aku berharap semoga ini awal yang baik untuk pernikahan kita."
Ethan kemudian membawa Jessica ke dalam pelukannya.
Jessica juga berharap semoga Jason bisa mengerti dengan penjelasannya nanti.
--
Keesokan paginya, Chris membuka ruangan Laurine.
Gadis itu tampak sedang sibuk membereskan pakaiannya.
"Apa kamu ingin pergi ke suatu tempat?
Kamu sepertinya membawa semua pakaianmu."
"Sebenarnya aku ingin pulang ke rumah Kak."
Aku tidak ingin di rumah sakit lagi."
"Tapi kondisimu belum memungkinkan untuk pulang ke rumah Lau.
Sebaiknya kamu tetap di sini.
Aku juga bisa memantau jika terjadi apa-apa denganmu, hem?"
"Tidak Kak, aku sebaiknya istirahat di rumah saja.
Aku juga sudah sehat Kak."
Laurine berdiri dan berjalan menghampiri Chris.
"Kakak lihat? Aku sudah sangat sehat sekarang."
Laurine tersenyum pada Chris.
Ia tahu Chris sangat peduli dengannya.
"Terima kasih karena sudah mengkhawatirkanku Kak.
Di saat tidak ada satupun yang peduli dengan kondisiku, Kakak sangat peduli.
Laurine memegang tangan Chris.
"Terima kasih sudah menjadi Sahabatku Kak."
Chris tersenyum pada Laurine.
Walaupun Laurine hanya mengganggapnya sebagai seorang Sahabat, hatinya sudah sangat senang saat ini.
"Sama-sama Lau. Jika kamu perlu sesuatu, kamu bisa menelpon Kakak.
Aku juga akan sering mengunjungimu.
Bolehkan?"
"Tentu saja boleh Kak."
Chris mendekati Laurine.
"Kamu yakin tidak dirawat di rumah sakit saja Lau?"
"Aku yakin Kak.
Mama, Papa juga tidak datang mengunjungiku.
Aku akan menunggu mereka di rumah Kak."
Chris mengerti kesedihan Laurine.
Gadis itu pasti sangat mengharapkan kehadiran kedua orang tuanya.
Namun sampai sekarang mereka belum datang juga.
"Baiklah Lau. Kamu boleh istirahat di rumah.
Tapi kamu harus menjaga kesehatanmu.
Berjanjilah untuk menghubungi Kakak jika terjadi apa-apa denganmu."
"Iya Kak. Aku janji."
"Anak pintar."
Chris mengelus kepala Laurine dengan lembut.
--
Jessica mengantar Ethan ke depan rumah.
"Jangan lupa makan sarapannya Kak, hem?"
"Baiklah Istriku."
Ethan mencium kening Jessica.
"Aku pergi sayang, jangan nakal ya."
Jessica tersenyum geli.
"Iya, aku tidak akan nakal kak."
Ethan tersenyum dan kemudian masuk ke dalam mobil.
Jessica melambaikan tangannya pada Ethan.
Hari ini Jessica tidak pergi ke kantor. Ethan memang menyuruh Jessica untuk sementara waktu tidak pergi ke kantor sampai suasana kantor lebih kondusif.
Kejadian semalam pasti membuat semua karyawan bingung dengan kebenaran penikahan mereka.
Secepatnya mereka berdua akan memberikan penjelasan pada semua orang.
Jessica masuk ke dalam rumah.
Tiba-tiba wajah Jason terlintas di pikiran Jessica.
(Sepertinya aku harus bertemu dengan Kak Jason. Aku harus menjelaskan semuanya padanya)
Jason tersenyum melihat pesan Jessica.
Ia tahu gadis itu pasti ingin meminta maaf padanya.
Jason mendatangi Kafe dimana ia bertemu dengan Jessica.
Ia menghampiri Jessica yang sudah menunggu di sana.
"Kak.."
Jason duduk di depan Jessica.
Kak, aku.." ucap Jessica.
Jessica menatap Jason namun bibirnya keluh seakan tidak tahu apa yang harus ia ucapkan saat ini.
Jessica menundukkan wajahnya.
Ia berusaha menguatkan hatinya.
Jessica sangat merasa bersalah karena telah membohongi Jason selama ini.
Jessica menaikkan wajahnya.
"Kak, aku minta maaf.
Aku tidak memberitahu Kakak tentang pernikahanku dengan Kak Ethan.
Aku bersalah Kak.
Aku juga berbohong pada Kakak.
Aku memang gadis yang jahat."
Jessica meneteskan air matanya.
Jason tersenyum melihat wajah senduh Jessica. Sangat lucu mengingat dari awal ia sudah mengetahui semuanya.
"Sebenarnya dari awal aku sudah megetahui semuanya Jess.
Bahkan saat aku masih berada di Amerika."
Jessica terkejut dengan penuturan Jason.
"Maksud Kakak?"
"Kamu tahu? Semenjak aku menghilang darimu, aku selalu mencari informasi tentangmu Jess.
Bahkan saat itu aku berniat untuk melamarmu.
Namun kabar itu sangat mengejutkanku, pernikahanmu dengan Ethan membuatku sangat tidak berdaya.
Aku rasanya ingin mati saja saat itu.
Aku pikir kamu menikah dengannya karena cinta. Namun setelah aku selidiki, ternyata pernikahan kalian atas permintaan Mama Ethan.
Ethan juga sangat mencintai Laurine sehingga ia tidak menghargaimu sebagai Istrinya.
Aku pikir aku masih punya kesempatan hingga akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke Indonesia.
Aku berniat membawamu kembali ke Amerika."
Jason menghela napasnya.
"Awalnya aku tidak percaya bahwa Ethan sudah mencintaimu Jess.
Tapi memang itulah kebenarannya, Pria itu sangat mencintaimu."
Jason memegang tangan Jessica.
"Aku bahagia melihatmu bahagia Jess.
Itu adalah cara terakhirku untuk mencintaimu"
Jessica begitu terharu mendengar penuturan Jason. Ia tidak menyangka Jason sudah mengetahui semuanya.
"Terima kasih Kak.
Terima kasih banyak."
Jessica menghapus air matanya.
"Kakak Pria yang sangat baik. Aku yakin Kakak akan menemukan gadis yang tepat nanti."
"Aku berharap gadis itu sepertimu Jess."
Jessica tertawa mendengar penuturan Jason.
"Harus lebih baik dariku Kak."
"Tidak, aku mau gadis yang sepertimu."
"Kak Jason.."
--
Ethan melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
Siang ini ia ingin menjenguk Laurine.
Sesampainya di rumah sakit, ia melangkahkan kakinya ke ruangan Laurine.
Ia membuka pintu ruangan itu, namun Laurine tidak ada di sana.
Ethan memutuskan pergi ke ruangan Chris untuk bertanya soal keberadaan Laurine.
"Laurine sudah kembali ke rumah."
"Apa maksudmu? Bukankah kondisinya belum pulih sepenuhnya?"
"Iya, kondisinya memang belum pulih. Tapi Laurine tetap memaksaku untuk beristirahat di rumah saja."
Chris menghela napasnya.
"Aku hanya tidak ingin membuatnya terluka lagi. Semenjak dirawat di rumah sakit, kedua orang tuanya tidak pernah sekalipun menjenguknya.
Aku mengerti perasaannya Ethan."
Ya, Ethan juga mengerti apa yang dirasakan Laurine saat ini sama seperti yang gadis itu rasakan saat ia masih kecil.
Orang tua Laurine sangat sibuk sehingga Laurine tumbuh menjadi gadis yang pemurung.
Dulu ia merasa kesepian dan sendirian hingga Ethan hadir di dalam hidupnya. Sosok yang sangat peduli dan perhatian padanya.
Kasih sayang Rossa juga membuat Laurine melupakan kerinduannya pada kasih sayang kedua orang tuanya.
Mulai saat itu, Ethan sangat berarti di dalam hidup Laurine.
Chris memegang pundak Ethan.
"Kau tidak usah khawatir. Aku akan sering menjenguknya dan memeriksa keadaannya."
Ethan menatap wajah Chris.
"Terima kasih Chris."
Chris menganggukkan kepalanya.
--
Ethan memarkirkan mobilnya di depan rumah Laurine. Ia memutuskan untuk memeriksa sendiri keadaan gadis itu. Ia sangat khawatir dengan kondisi Laurine, ia tidak mau gadis itu kembali menjadi sosok yang dulu.
Mulai saat ini, ia akan menjaga Laurine seperti adik kandungnya sendiri.
Ethan mengetuk pintu rumah Laurine.
Kemudian pintu terbuka menampilkan seorang gadis yang terlihat pucat.
"Kak Ethan.."ucap Laurine yang sedikit terkejut melihat kehadiran Ethan.
Mereka berdua duduk di sofa ruang tamu.
"Bagaimana kondisimu Lau?"
"Aku baik-baik saja Kak."
"Tapi wajahmu tidak menunjukkan kamu baik-baik saja."
Laurine mengalihkan tatapannya ke arah lain.
"Kembalilah ke rumah sakit bersama Kakak, hem?"
Laurine menundukkan kepalanya
"Aku tidak bisa Kak.
Aku ingin istirahat di sini saja."
"Lau.."
"Kak, tolong jangan paksa aku." ucap Laurine dengan nada memohon.
Ethan melihat wajah senduh itu. Ia tidak tega jika harus memaksa Laurine lagi.
"Baiklah, kamu boleh istirahat di rumah. Kakak akan sering mengunjungimu.
Ethan memegang tangan Laurine.
"Kamu harus cepat pulih, hem?"
Laurine menatap wajah Ethan.
(Bagaimana mungkin aku bisa pulih jika hatimu tidak lagi untukku Kak?
Mungkin badanku akan pulih, namun hatiku tidak akan pernah Kak.)
"Wajahmu sangat pucat. Apa kamu sudah makan siang?"
Laurine menggelengkan kepalanya.
"Kamu tidak boleh melewatkannya lagi. Seharusnya kamu sudah makan siang saat ini.
Tunggu di sini, Kakak akan menyuruh Bibi masak makanan kesukaanmu."
Ethan langsung beranjak menuju dapur.
Laurine menatap kepergian Ethan.
Ia senang Ethan perhatian padanya.
Setelah makanan terhidang, Ethan dan Laurine makan bersama di meja makan.
"Bagaimana rasanya? Apa masih sama seperti dulu?"
Laurine langsung menganggukkan kepalanya.
"Rasanya sangat nikmat Kak."
"Syukurlah."
Mereka menikmati makan siang bersama sambil saling bercengkrama.
--
Ethan mengantar Laurine ke kamarnya dan membawa obat.
"Minumlah Lau.
Setelah ini, kamu harus istirahat."
"Baiklah Kak."
Laurine memasukkan obat itu ke dalam mulutnya dan langsung meneguk air yang diberikan oleh Ethan.
Kemudian Laurine memposisikan dirinya berbaring di tempat tidur.
Ethan menaikkan selimut ke tubuh Laurine.
"Istirahatlah."
Laurine tersenyum kemudian memejamkan matanya.
Ethan memandangi wajah Laurine.
Ia berharap Laurine segera menemukan Pria yang mampu melindungi gadis itu.