Love You Too Much

Love You Too Much
Kembali ke Jakarta



Tidak terasa sudah seminggu Jessica dan Ethan bulan madu di Bandung. Walaupun tidak meninggalkan momen seperti yang dirasakan suami istri pada umumnya, namun bagi Jessica itu sangat berkesan dan menyenangkan. Ia bisa bertemu dengan Nenek Hana yang begitu baik. Ia juga bisa belajar merangkai bunga dari Nenek Hana.Jessica sudah menganggap Nenek Hana seperti Neneknya sendiri. Selama seminggu bersama Nenek Hana, Jessica bisa melupakan kesedihan di hatinya selama Bulan Madu.


Jessica memasukkan kembali barang-barangnya yang ada di lemari ke dalam koper. Jessica melihat Ethan yang sedang menuruni kopernya. Ia segera membereskan barangnya. Ia tidak ingin Ethan menunggu terlalu lama.


Jessica memasukkan kopernya ke dalam bagasi mobil. Ia langsung membuka pintu mobil dan ingin masuk. Namun Jessica teringat sesuatu. Nenek Hana mengatakan bahwa Jessica harus menemuinya terlebih dahulu sebelum pergi.


Ya, aku harus bertemu Nenek Hana sebelum pergi, pikirnya.


"Kak, apa Kakak boleh menungguku sebentar? Ada seseorang yang harus aku temui sebelum pergi."


Ethan melihat wajah Jessica yang begitu mencoba meyakinkannya bahwa ia hanya pergi sebentar.


"Baiklah, pergilah."


"Terima kasih Kak", ungkap Jessica dengan semangat.


Jessica langsung menutup pintu mobil dan melangkahkan kakinya dengan cepat.


Ethan membuka pintu mobil. Ia menjawab panggilan dari Laurine.


"Apa Kakak sudah berangkat?", tanya Laurine


"Belum Lau. Ada apa? Apa kamu mengubah keputusanmu?"


Laurine diam sebentar. Kemudian ia menjawab pertanyaan Ethan.


"Baiklah Kak, aku akan kembali ke Jakarta."


"Benarkah? Aku sangat senang sayang. Aku akan menunggumu di Jakarta."


Ethan menutup panggilannya.


Ia tersenyum bahagia, akhirnya Laurine mau kembali ke Jakarta.


Ethan melihat jam tangannya, "Kemana perginya gadis itu?"


--


"Kamu akan pergi Neng?", ungkap Hana dengan memegang tangan Jessica."


"Iya Nek. Tapi sebenarnya Jessica sedih karena harus meninggalkan Nenek."


"Jangan bersedih Neng. Oh ya, Nenek punya sesuatu sama Neng."


Hana mengambil plastik yang berisi benih mawar putih dan memberikannya pada Jessica


"Apa ini Nek?", ungkap Jessica dengan senyuman.


"Ini benih mawar putih. Neng bisa menanamnya di rumah. Neng bisa mengingat saya melalui bunga itu."


Jessica sangat senang. Ia langsung memeluk tubuh Hana.


"Terima kasih Nek. Jessica akan merawat benih ini dengan baik."


Hana mengelus punggung Jessica.


Jessica melepaskan pelukannya, "Jessica tidak akan melupakan Nenek. Jika Jessica kembali ke sini,Jessica akan mengunjungi Nenek.


"Nenek juga tidak akan melupakan Neng. Neng gadis yang sangat baik."


"Pergilah Neng, suamimu pasti sedang menunggu.


"Baiklah Nek. Terima kasih untuk semuanya Nek. Nenek jaga kesehatan ya."


"Baik Neng. Oh ya, jangan menyiramnya dengan terlalu banyak air."


r


Jessica tertawa, "Baiklah Nek."


Jessica ingat ketika ia pertama kali menanam benih, ia memberinya terlalu banyak air. Akibatnya keesokan harinya benih itu mati.


--


Ethan melihat Jessica membawa sesuatu dari kaca mobil.


"Maaf membuat Kakak menunggu lama," ungkap Jessica dengan perasaan bersalah.


"Masuklah."


Sepanjang jalan Jessica memandangi benih itu sambil tersenyum.


Ethan melihat Jessica sekilas.


(Apa yang terjadi dengannya? Siapa yang dia temui tadi?)


--


Keesokan harinya, Jessica menyiapkan sarapan untuk Ethan. Walaupun Ethan sering menolaknya, tapi ia tetap akan melakukannya. Paling tidak, ia sudah berusaha menjadi istri yang baik untuk Ethan.


"Pagi Kak," ungkap Jessica sambil menghampiri Ethan.


Belum sempat Jessica melanjutkan berbicara, Ethan langsung menjawab, "Aku sarapan di luar."


Ethan langsung pergi. Sebenarnya ia sudah bosan dengan perlakuan gadis itu. Ia selalu membuat sarapan untuknya, bahkan menunggunya setiap pulang malam dan membuatkannya air panas untuk mandi. Ia selalu menolaknya, tapi gadis itu tetap saja melakukannya.


--


Bel berbunyi, Jessica langsung membuka pintu rumah. Ia terkejut melihat There datang ke rumahnya dengan wajah cemberut.


"There...


There langsung masuk dan duduk di sofa.


"Sampai kapan kamu berdiri di situ? Kamu tidak akan memberitahuku alasan mengapa berhenti bekerja?"


Jessica menanggapi pernyataan There dengan senyuman, dan menghampiri sahabatnya itu.


"Apa dia memaksamu berhenti bekerja?", There membuka suara.


"Tidak Re. Aku sendiri yang memutuskan untuk berhenti bekerja."


"Jangan berbohong. Aku tahu dia yang menyuruhmu berhenti bekerja. Dia tidak ingin siapapun mengetahui pernikahan kalian agar dia bebas berhubungan dengan Laurine. Benarkan?" ungkap There dengan wajah kesal.


"Dia berhak berhubungan dengan Laurine."


"Apa? Walaupun kalian menikah tanpa cinta, dia juga harus menghargai perasaanmu sebagai istrinya. Mengapa kamu mengorbankan dirimu terus Jess? Apa jangan-jangan kamu masih mencintai Kak Ethan?"


Jessica menundukkan wajahnya, tidak menjawab pertanyaan There.


There tahu bahwa Jessica masih mencintai Ethan bahkan sebelum mereka menikah.


There langsung memeluk tubuh Jessica.


"Bodoh. Kamu pergi jauh-jauh selama 5 tahun ke Amerika untuk melupakannya. Dan sekarang, dengan mudahnya perasaan itu datang lagi."


"Apa yang harus kulakukan Re? Aku ingin membina hubungan pernikahan yang sesungguhnya dengannya. Salahkah aku, menginginkan milik orang lain?", ungkap Jessica sambil menangis tersedu-sedu.


There melepaskan pelukan mereka dan menghapus air mata Jessica.


"Tidak, kamu tidak salah Jess. Kak Ethan adalah suamimu, kamu berhak menginginkan pernikahan yang sesungguhnya. Pernikahan bukanlah hal yang main-main."


"Mulai sekarang, kamu harus tetap melakukan tugasmu sebagai istri yang baik walau Kak Ethan masih mencintai orang lain. Buktikan Jess, bahwa cintamu sangat tulus untuknya. Aku yakin kelak dia akan menyadari cintamu."


Jessica menganggukkan kepalanya.


"Dan aku marah karena kamu tidak mengatakan ini padaku. Bukankah kamu sudah berjanji untuk memberitahukan apapun padaku? Paling tidak, aku bisa memberikan pundakku saat kamu bersedih", ungkap There dengan senyuman bercanda.


Jessica langsung memeluk tubuh sahabatnya itu, "Makasih Re. Makasih karna selalu ada untukku."


There mengelus punggung Jessica dengan lembut.


"Aku akan selalu berada di sampingmu Jess.


Aku tidak akan pernah meninggalkanmu."


Jessica tersenyum mendengar ungkapan There. Sahabatnya itu sangat berarti dalam hidupnya.