Love You Too Much

Love You Too Much
Berhenti mengharapkan cintamu



Jessica perlahan membuka matanya dan kemudian sedikit terkejut melihat wajah Ethan yang begitu dekat dengannya. Ethan tidur dengan posisi tangan kiri memegang badan Kevin dan tangan kanannya ia gunakan sebagai bantal. Ia begitu tampan dengan posisi itu.


Jessica kemudian tersenyum. Selama pernikahan, ini pertama kali baginya tidur seranjang dengan Ethan. Ia lalu melihat ke bawah, Kevin yang masih begitu pulas di pelukannya. Ia mengelus kepala anak itu.


--


Hari ini adalah acara peringatan kematian Robert. Semua keluarga tampak sibuk mempersiapkan segalanya, sebentar lagi mereka akan pergi ke makam Papa Ethan. Tamu -tamu juga tampak berdatangan meramaikan acara.


Seorang gadis masuk ke dalam rumah. Sebenarnya berat rasanya menghadiri acara peringatan acara itu, namun hatinya berkata ia harus pergi. Paling tidak ia harus melihat wajah pria itu walau harus dari kejauhan.


--


Semua anggota keluarga sedang berada di makam Robert. Ethan tampak diam memandangi makam Papanya. Jessica tahu kesedihan yang dirasakan Ethan saat ini. Ia ingin berada di samping Ethan dan memeluk tubuh pria itu. Ia ingin Ethan membagi kesedihannya. Tapi Jessica tidak bisa melakukan semua itu. Ia tidak ingin menyakiti hati pria itu lagi.


Jessica meneteskan air matanya. Sebagai istri dia hanya bisa diam melihat suaminya terpuruk.


Seorang gadis juga tampak menangis melihat kondisi Ethan dari kejauhan.


"Maafkan aku Kak. Untuk kali ini aku tidak bisa berada di samping Kakak."


--


Jessica memberikan makanan dan minuman pada para tamu. Jessica sepertinya mengenali seorang gadis yang menutupi wajahnya dengan selendang. Ia menghampiri wanita itu.


"Hai...," ucap Jessica pada gadis itu.


Gadis itu hanya diam tidak menjawab Jessica.


Jessica mulai menerka nerka siapa gadis itu. Dia akhirnya mengetahui siapa gadis itu sebenarnya.


Melihat Jessica yang sudah tampak mengenalinya, Laurine memutuskan untuk pergi. Namun suara Jessica menghentikan langkahnya.


"Laurine.."


Jessica kemudian mendekati Laurine.


"Laurine aku tahu itu kamu."


Laurine membalikkan tubuhnya dan membuka penutup wajahnya.


"Apa kamu ingin bertemu dengan Kak Ethan?"


Laurine hanya diam.


"Aku tahu kamu pasti tidak enak dengan Mama. Mama pernah memintamu untuk mengakhiri hubungan Kalian."


"Kamu bisa bertemu dengannya Lau.


Aku mohon temui dia."


Dengan berat hati Jessica mengucapkannya. Lagi-lagi ia melakukannya demi Ethan.


Laurine langsung menatap Jessica dengan wajah tidak percaya.


"Dia pasti sedang menunggumu di sana."


Jessica melihat ke arah Ethan yang sedang duduk sendirian.


"Tenanglah, kamu tidak perlu takut. Aku akan meyakinkan Mama nanti." ucap Jessica meyakinkan Laurine.


"Pergilah..


Dia sangat membutuhkanmu saat ini." Jessica memegang pundak Laurine.


"Terima kasih Jess."


Jessica hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum tulus pada Laurine.


Laurine langsung pergi menghampiri Ethan.


Jessica terdiam sejenak. Ia menundukkan kepalanya dan kemudian menghapus air matanya.


Dave melihat semuanya. Dave mendengar percakapan Laurine dan Jessica. Bagaimana mungkin Jessica membiarkan Ethan bersama Laurine?, tanyanya di dalam hati.


Laurine menghampiri Ethan.


"Kak..."


Ethan menaikkan wajahnya.


"Laurine.."


Ethan langsung berdiri memeluk gadis itu.


Jessica melihat mereka berpelukan dari luar jendela. Jessica menangis tersedu-sedu. Bahkan di saat Ethan terpuruk pun Jessica tidak bisa berada di samping pria itu. Selamanya hanya gadis itu yang bisa menenangkan Ethan, bukan dirinya.


(Sekarang kamu bisa mencintainya sepuasnya Kak. Aku tidak akan mengharapkan cintamu lagi. Aku melepasmu)


Dave menatap Jessica yang begitu rapuh. Entah mengapa ia tidak ingin melihat gadis itu bersedih. Ia kemudian mengalihkan pandangannya pada Ethan dan Laurine yang sedang berpelukan. Selama ini ia pikir Ethan sudah lama putus dengan Laurine dan jatuh cinta dengan Jessica. Namun ternyata perkiraannya salah. Dave tidak tega melihat Jessica yang sepertinya sangat mencintai Ethan.


--


Jessica sedang memandangi langit dari balkon rumah.


"Apa yang akan kamu minta jika ada bintang jatuh?" tanya seorang pria yang tiba-tiba muncul dan berdiri di samping Jessica.


"Kak Dave.. ucap Jessica dengan senyuman.


"Apa yang Kakak lakukan di sini?"


"Kamu belum menjawab pertanyaanku."


"Kebahagiaan", ucap Jessica.


Jessica tersenyum, "Tentu saja boleh Kak. Aku yakin semua orang akan meminta kebahagiaan jika ada bintang jatuh."


"Benarkah?"


Jessica menganggukkan kepalanya dengan yakin.


"Saat SMP aku pernah meminta Guruku tidak datang ke sekolah selama seminggu."


Jessica langsung tertawa mendengar penuturan Dave.


"Aku tidak bercanda Jess. Aku tidak ingin kuis dilaksanakan pada saat itu. Jadi aku meminta guruku tidak hadir.


Lagi-lagi Jessica tertawa.


(Aku senang melihatmu tertawa)


Jessica dan Dave bersama-sama masuk ke dalam rumah. Mereka tengah tertawa bersama. Hingga mereka bertemu dengan Ethan dan Laurine yang datang dari arah yang berlawanan.


"Hai Kak Dave,"ucap Laurine.


"Hai Lau, lama tidak berjumpa denganmu."


Dave dan Laurine sudah lama saling mengenal. Mereka bertiga dulu tumbuh bersama. Namun Dave memutuskan melanjutkan bangku SMA di London bersama kedua orang tuanya.


"Iya Kak. Oh ya, sampai berapa lama Kakak berada di Indonesia?"


" Entahlah, tapi sepertinya aku sudah memiliki alasan untuk tetap tinggal di sini." Dave melirik ke arah Jessica.


Ethan melihat arah lirikan Dave yang tertuju pada Jessica. Ethan kemudian mengalihkan tatapannya pada Jessica. Sedari tadi gadis itu sama sekali tidak menatapnya.


"Baguslah. Kakak sudah lama tidak kembali dari London. Kakak harus tinggal lebih lama di Indonesia."


"Aku juga berpikir seperti itu.


Oh ya, kalian akan pergi ke mana?"


"Kami tidak ingin pergi kemana-mana Kak. Kak Ethan hanya ingin mengantarku bertemu dengan Bibi."


"Oh baiklah. Kalian bisa lanjutkan perjalanan kalian. Kami akan masuk ke dalam rumah.


Ayo Jess."


Dave mengajak Jessica masuk ke dalam rumah. Jessica membalas ajakan Dave dengan anggukan.


--


"Maaf Bibi, aku tidak memberi tahu terlebih dahulu sebelum datang ke sini."


"Tidak papa sayang. Bagaimana pun kamu sudah tumbuh bersama dengan Ethan. Kamu juga bagian dari keluarga kami."


Rossa mengelus kepala Laurine, "Terima kasih sayang, kamu sudah mau nurutin permintaan Bibi."


Laurine hanya tersenyum menanggapi penuturan Rossa.


"Oh ya , bagaimana kalau kamu di sini sampai acara selesai? Kamu mau kan?"


"Iya, Laurine mau Bi."


Dengan begini Laurine bisa bertemu dengan Ethan walau hanya sebentar. Mulai sekarang ia akan bersikap egois. Ia dan Ethan saling mencintai. Bagaimanapun tidak adil jika mereka dipisahkan oleh pernikahan yang tidak ada hubungan serius di dalamnya. Melihat Ethan yang begitu tidak ingin kehilangannya, rasanya tidak tega meninggalkan pria itu. Ia yakin suatu saat nanti keluarga ini akan mengakui bahwa pernikahan ini tidak patut untuk dipertahankan. Ia akan memperjuangkan cinta mereka.


--


Ethan masuk ke dalam kamar. Ia melihat Jessica yang sedang membacakan cerita dongeng pada Kevin. Kevin begitu semangat mendengarnya. Hal itu membuat Ethan tersenyum


"Om Ethan..." Kevin beranjak dari tempat tidur kemudian menuntun Ethan ke tempat tidur.


Jessica mengalihkan pandangannya. Entah mengapa ia tidak ingin bertatapan dengan Ethan.


"Apa Om suka mendengar dongeng?"


"Hem..


Tentu saja sayang?"


Ethan menatap Jessica yang sedang melihat ke arah lain.


"Baiklah Om. Kita akan tidur sambil mendengar Tante Jecika bercerita ", ucap Kevin dengan nada menggemaskan.


Ethan menatap Jessica, namun gadis itu tetap mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Jessica membaca dongeng itu tidak menyadari mata Ethan masih terbuka sambil menatapnya. Saat Jessica berhenti membaca, Ethan langsung menutup kedua matanya dengan cepat. Ia tidak ingin Jessica mengetahui bahwa dari tadi ia menatap gadis itu. Ia hanya heran mengapa gadis itu menghindari tatapannya.


Jessica melihat Ethan dan Kevin sudah tidur. Ia menaikkan selimut ke tubuh mereka. Kemudian ia pergi ke balkon kamar.


(Kemana perginya gadis itu?)


"Apa yang kulakukan? Mengapa aku marah setiap melihat Kak Ethan? Apa aku cemburu melihatnya bersama Laurine?


Tidak, tidak. Please Jess, kamu sudah berjanji untuk berhenti mengharapkan cinta Kak Ethan. Dia mencintai gadis itu. Mereka berhak bahagia."


Jessica kemudian menatap langit.


"Mungkin suatu saat nanti mereka akan kembali bersama dan kami akan berpisah pada saat itu juga. Dia pasti sangat bahagia. Dan, aku juga pasti akan menemukan kebahagiaanku sendiri."


Jessica mencoba meyakinkan dirinya sendiri.


Jessica kembali ke dalam kamar. Ia naik ke tempat tidur dan membaringkan tubuhnya menghadap tubuh Ethan.


(Aku memang tidak pantas untuk cemburu Kak. Kamu bahkan tidak pernah mengganggapku sebagai Istrimu)


Jessica menatap wajah Ethan dengan lirih. Kemudian Jessica tertidur setelah lama menatap Ethan.