
Jessica sudah sampai di depan rumah.
Saat hendak membuka pintu, tiba-tiba handphone nya berdering.
Jessica tersenyum melihat nama Ethan tertera di sana.
Ethan pasti ingin bertanya tentang hasil pemeriksaan rumah sakit tadi.
"Halo Kak.."
"Halo sayang..
Apa kamu masih di rumah sakit?"
"Aku sudah pulang Kak."
"Bagaimana hasil pemeriksaan Dokter sayang? Dari tadi aku selalu memikirkanmu, aku begitu khawatir padamu Jess."
Jessica berpikir sejenak dan kemudian tersenyum.
"Kata Dokter aku baik-baik saja Kak. Aku hanya masuk angin dan kelelahan. Dokter menyarankan agar aku lebih banyak beristirahat dan tidak melakukan pekerjaan berat."
"Ah syukurlah sayang. Makanya, mulai sekarang kamu tidak boleh lagi melakukan pekerjaan berat sayang. Kalau perlu, Kakak akan saja yang melakukan pekerjaan rumah."
Jessica tersenyum mendengarkan penuturan Ethan. Suaminya itu sangat perhatian padanya.
Bagaimana jadinya jika Ethan mengetahui jika ia sedang hamil sekarang?
Ethan pasti begitu protective padanya
"Baiklah. Aku berjanji aku tidak melakukannya lagi Kak."
"Oh ya, aku akan pulang cepat sayang. Aku akan masak makanan malam spesial untukmu."
"Wah, benarkah Kak? Aku sungguh tidak sabaran."
"Iya sayang, tunggu saja aku di rumah. Kamu pasti semakin mencintaiku nanti."
"Baiklah Kak."
"Aku mencintaimu sayang."
"Aku juga mencintaimu Kak."
Jessica menutup panggilan Ethan.
Jessica memandang perutnya.
Untuk sementara, ia akan merahasiakan kabar kehamilannya dari Ethan. Ia berencana memberikan kejutan di hari ulang tahun Ethan Ethan, lusa nanti.
Bahkan ia akan memberikan test pack kehamilannya sebagai kadonya untuk Ethan.
Mulai saat ini Jessica akan mempersiapkan kejutannya pada Ethan.
--
Ethan masuk ke dalam rumah. Ia langsung melangkahkan kakinya menuju kamar.
Ia tersenyum melihat Jessica sedang berias di depan cermin.
"Kak.."
Jessica membalikkan tubuhnya saat menyadari kehadiran Ethan.
Jessica menghampiri Ethan.
"Kakak baru sampai?"
Ethan menganggukkan kepalanya.
"Kamu pasti sudah lapar kan?"
"Iya Kak."
"Baiklah, Kakak akan memasakkan makanan lezat untukmu."
Ethan menarik tangan Jessica menuju dapur.
"Duduklah sayang."
Ethan menarik kursi dan membimbing Jessica duduk di sana.
"Apa Kakak yakin?"
"Tentu saja sayang. Aku sangat ahli dalam memasak."
Jessica berusaha menahan dirinya agar tidak tertawa di depan Ethan.
"Tapi sebelum itu, aku harus mendapat kekuatanku terlebih dahulu."
"Kekuatan?"
Ethan kemudian mendekatkan wajahnya pada Jessica sambil menunjuk jarinya ke pipinya.
Jessica tersenyum melihat Ethan yang sepertinya menginginkan ciuman darinya.
Jessica kemudian mencium pipi Ethan dengan lembut.
Ethan tersenyum puas lalu mengacak rambut dengan gemas.
Ethan langsung mempersiapkan bahan-bahan yang diperlukan.
Jessica tersenyum geli melihat Ethan yang tampak sangat serius memasak.
Padahal setahunya Ethan sama sekali tidak pandai memasak.
Bahkan terakhir kali Ethan masak, masakannya gagal alias gosong.
Ethan menghidupkan kompor dan memasukkan semua bumbu dapur ke dalam wajan. Ia juga menambahkan air ke dalamnya.
Ethan kemudian mengiris cabai dan bawang.
Perlahan matanya terasa perih dan air matanya mulai keluar.
Ethan mengucek matanya berharap matanya tidak perih lagi.
Namun matanya malah semakin perih dan bahkan akhirnya Ethan tidak bisa lagi membuka matanya.
Jessica menyadari hal itu.
Ia kemudian berdiri dan menghampiri Ethan.
"Apa Kakak baik-baik saja?"
"Aku tidak apa-apa Jess. Hanya saja, mataku sangat perih."
Jessica melihat irisan bawang yang berada di telenan.
Pasti mata Ethan perih saat mengiris bawang.
Jessica kemudian membawa Ethan ke kursi.
"Tunggu sebentar Kak. Aku akan mengambil sesuatu untuk membersihkan mata Kakak."
Jessica mengambil sapu tangan dan mangkuk yang berisi air.
Ia mencelupkan sapu tangan itu ke dalam air dan kemudian membersihkan mata Ethan dengan hati-hati.
Kedua mata Ethan perlahan dapat terbuka.
Ia begitu menikmati pemandangan di depannya.
Jessica sangat cantik dengan jarak yang begitu dekat dengannya.
Memang Jessica selalu cantik di mata Ethan bahkan sejak pertama kali mereka bertemu.
Gadis itu masih menghapus sisa air matanya.
Jessica menghentikan kegiatannya.
Ia kemudian menatap Ethan yang sedang tersenyum padanya.
"Apa mata Kakak sudah tidak perih lagi?"
Ethan menganggukkan kepalanya.
"Syukurlah Kak."
Ethan kemudian mengelus pipi Jessica dengan lembut dan perlahan menarik tengkuk Jessica.
Ethan dan Jessica lama saling bertatapan, hingga akhirnya Ethan memajukan wajahnya pada Jessica.
Menyadari bahwa Ethan akan menciumnya, Jessica menutup kedua matanya.
Bibir Ethan hampir saja menyentuh bibir Jessica sebelum suara air mendidih terdengar dari wajan.
Ethan langsung menjauhkan wajahnya dari Jessica dan kemudian berdiri, mematikan kompor.
Jessica tersenyum, dan kemudian menghembuskan napasnya.
Mereka hampir saja berciuman tadi.
Ia kemudian menghampiri Ethan yang tampak kesal karena hasil masakannya gosong.
"Sudahlah Kak, aku saja yang masak untuk makan malam kita."
"Tidak Jess. Aku bisa membuatnya dari awal lagi."
"Hem, bagaimana kalau kita masak bersama saja Kak? Dengan begitu, kita bisa memasak semuanya lebih cepat. Aku juga sudah sangat lapar Kak."
Ethan berpikir sejenak. Ia kemudian menyetujui hal itu.
"Baiklah, sayang."
Jessica tersenyum dengan jawaban Ethan.
--
Sementara seorang Gadis tampak berdiri di depan balkon kamarnya. Udara yang dingin, sama sekali tidak ia hiraukan. Sudah lama ia berada di sana, namun ia belum beranjak juga. Seolah-olah tempat itu adalah tempat ternyamannya.
Laurine menatap lurus ke depan dengan pikirannya yang masih terisi oleh sosok yang akhir-akhir ini selalu muncul di pikirannya.
Laurine masih ingat kejadian pada malam itu, saat Chris begitu perhatian dengannya.
Memang bukan pertama kalinya Chris begitu perhatian padanya. Namun entah mengapa malam itu terasa begitu berbeda.
Malam itu, Chris sama sekali tidak menghiraukan tatapan aneh orang lain padanya.
Itulah yang membuat Laurine menyadari bahwa Chris begitu tulus padanya.
Perasaannya begitu nyaman setiap kali bersama Chris.
Namun ia juga selalu berusaha menepis perasaan itu. Jangan sampai ia memberikan harapan pada Chris yang akhirnya dapat membuat Pria itu terluka nantinya.
Ia masih terjebak dengan masa lalunya sehingga sulit untuk merajut kisah cinta yang baru.
Akhir-akhir ini, Laurine sering melewatkan jadwal minum obatnya.
Perasaan gelisahnya membuat Laurine malas untuk meminum obat-obat yang telah diberikan Chris padanya.
Padahal, obat-obat itu sangat mempengaruhi kondisi kesehatan tubuhnya.
--
Laurine perlahan membuka matanya.
Laurine kemudian beranjak dari tempat tidur.
Saat hendak berdiri, Ethan merasakan sakit kepala yang luar biasa.
Sepertinya penyakitnya kambuh.
Pasti karena ia tidak meminum obatnya secara rutin.
Laurine berusaha untuk mengambil obatnya yang berada di atas meja, tangannya sulit untuk menjangkaunya.
Laurine tidak bisa lagi menahannya.
Ia kemudian mencari kontak Chris di hp nya.
Laurine ingin menghubungi Pria itu untuk meminta pertolongan. Karena ia tidak tahu lagi akan menghubungi siapa.
Ethan?
Ia tidak akan mungkin menghubungi Pria itu. Laurine tidak ingin menciptakan kesalahpahaman pada rumah tangga mereka lagi.
Laurine langsung menghubungi Chris dan tak lama kemudian panggilan itu langsung terjawab.
"Halo.."
"Halo Kak..." ucap Laurine dengan nada lemah.
"Laurine...
Apa kamu baik-baik saja?" ucap Chris dengan nada khawatir.
"Kak, aku...."
Kalimat Laurine seketika terhenti.
Ia berusaha menahan sakitnya.
Hal itu membuat Chris semakin khawatir.
"Halo Lau..
Tolong jawab Kakak."
"Kak, aku sakit.." ucap Laurine.
"Tenanglah Lau. Kakak akan segera kesana.
Kakak mohon bertahanlah, hem?"
Chris melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ke parkiran.
Ia langsung masuk ke mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan yang begitu besar.
"Halo, Lau..
Apa kamu masih mendengar Kakak?"
Panggilan itu masih tersambung, namun Laurine tidak menjawab pertanyaannya.
Chris menginjak pedal gasnya.
Ia begitu khawatir saat ini.
Beberapa saat kemudian, ia sudah sampai di depan rumah Laurine.
Ia membuka pintu rumah Laurine, namun pintu itu tertutup.
Chris memutuskan untuk mendobraknya hingga akhirnya pintu berhasil terbuka.
Ia langsung pergi menuju kamar Laurine.
Chris terkejut melihat Laurine yang sudah tidak sadarkan diri.
"Lau..." panggil Chris.
Namun mata Gadis itu belum juga terbuka.
Chris kemudian mengangkat tubuh Laurine dan memasukkannya ke dalam mobilnya.
"Aku mohon bertahanlah Lau.."
Chris langsung melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit.
Chris memberikan suntikan pereda rasa sakit pada Laurine.
Ia menghembuskan napasnya secara perlahan.
Chris tahu, bahwa penyebab penyakit Laurine kambuh pasti karena gadis itu tidak meminum obatnya secara rutin.
Mengapa Laurine melakukannya?
Bukankah ia sangat ingin sembuh?
Laurine perlahan membuka matanya.
Ia melihat Chris berdiri di sampingnya.
Ia kemudian berusaha untuk memperbaiki posisinya.
"Berisitirahatlah Lau. Kondisimu masih belum pulih." ucap Chris.
Laurine menatap Chris yang terlihat khawatir dengannya.
"Aku tidak apa-apa Kak."
"Mengapa kamu tidak meminum obatmu Lau? Bukankah Kakak sudah memberitahumu, bahwa kamu harus meminumnya secara teratur?"
Laurine tidak mungkin memberitahu Chris bahwa dialah penyebabnya.
"Aku ingin ke kamar mandi Kak."
Laurine berniat mengalihkan pembicaraan.
"Lau.."
Mereka berdua saling bertatapan.
"Aku akan membawamu ke kamar mandi."
Belum sempat menjawab, Chris langsung mengangkat tubuh Laurine menuju kamar mandi.
Laurine hanya bisa terdiam saat Chris mengangkat tubuhnya.
Matanya menatap wajah Pria itu dalam diam.
Chris menurunkan tubuh Laurine.
"Jika kamu memerlukan sesuatu, segera panggil Kakak. Kakak akan menunggumu di luar."
Chris langsung pergi meninggalkan Laurine.
Laurine menatap kepergian Chris.
Ia kemudian menatap dirinya di depan cermin.
Mengapa ia tidak bisa menahan dirinya sendiri?
Perasaan itu...
Beberapa saat kemudian, Laurine keluar dari kamar mandi.
Ia melewati Chris yang sedang berdiri di hadapannya dan langsung mengambil handphonenya.
"Aku akan pulang ke rumah Kak."
"Apa maksud kamu Lau? Kamu sama sekali belum pulih. Aku tidak akan mengizinkanmu. Kamu harus dirawat di sini, sampai kondisimu pulih sepenuhnya."
"Tidak Kak, aku baik-baik saja."
Laurine hendak pergi, namun tangan Chris menahannya.
"Apakah kamu tidak tahu aku begitu mengkhawatirkanmu Lau?
Rasanya aku ingin mati saat melihatmu dalam kondisi seperti itu."
"Tolong jangan pedulikan aku Kak.
Aku bisa merawat diriku sendiri."
Chris menarik tubuh Laurine ke hadapannya.
"Bagaimana bisa aku tidak peduli padamu, hem?"
Chris mengambil tangan Laurine dan memegangnya dengan erat.
"Aku mencintaimu Lau.
Aku sangat mencintaimu."
Laurine melihat kesungguhan di sana.
Chris benar-benar mencintainya.
Ada perasaan bahagia Laurine rasakan saat mendengar pernyataan cinta Chris barusan.
Namun, ia langsung menepis hal itu.
Lagi-lagi ia berusaha menolaknya.
Ia tidak boleh seperti itu.
Laurine langsung melepaskan tangannya dari Chris dan membalikkan tubuhnya.
"Maaf aku tidak bisa Kak."
Chris sangat kecewa dengan penolakan Laurine walaupun ia sudah tahu bahwa Laurine memang tidak memiliki perasaan padanya.
Tapi ia tidak akan memaksakan perasaanya pada Laurine.
Baginya kebahagiaan Laurine adalah yang terpenting.
Yang terpenting, ia sudah mengatakan perasaannya pada Laurine.
"Tidak apa-apa Lau.
Aku tidak akan memaksamu untuk menerimaku.
Aku tahu kamu tidak suka dengan kehadiranku Lau.
Tapi sebagai seorang Dokter, aku mohon padamu untuk tetap tinggal di rumah sakit sampai kondisimu benar-benar pulih. Kakak janji tidak akan mengganggumu lagi.
Chris menatap punggung Laurine sebentar dan kemudian keluar dari ruangan itu.
Laurine membalikkan tubuhnya.
Ia meneteskan air matanya mendengar penuturan Chris tadi.
Ia berusaha menahan dirinya.
Lebih baik seperti ini, dari pada Chris yang akan terluka nantinya.
Ia sudah melakukan pilihan yang tepat.