
Laurine langsung melihat ke arah jendela saat mendengar suara mobil dari luar.
Ia begitu bahagia melihat Chris ke luar dari sana.
Laurine melangkahkan kakinya dengan cepat untuk bertemu Chris.
Ia sangat merindukan Chris yang telah pergi selama sebulan ke luar negeri untuk menghadiri peresmian rumah sakit keluarganya yang berada di sana.
Walaupun sempat berniat untuk tidak mengizinkan Chris pergi, namun Laurine akhirnya mengizinkan Chris pergi.
Bagaimanapun ia tidak boleh egois, karena ini juga menyangkut keluarga Chris.
Apalagi mengingat Chris adalah Pewaris dari Keluarganya.
Selama berjauhan, mereka hanya bisa berkomunikasi melalui telepon, sosial media dan juga video call.
Laurine langsung berhambur ke pelukan Chris.
Ia memeluk Chris dengan erat seakan-akan melampiaskan kerinduan yang selama ini ia rasakan.
Chris tersenyum dan kemudian membalas pelukan Laurine.
Ia juga begitu merindukan Laurine.
Laurine mengurai pelukannya dengan tangannya yang masih mengalung di leher Chris.
"Kamu merindukanku sayang?"
Laurine perlahan menganggukkan kepalanya.
"Kakak tidak boleh meninggalkanku lagi.
Aku tidak bisa berjauhan dengan Kakak.
Berjanjilah padaku."
"Aku berjanji sayang.
Kalaupun harus pergi, aku akan membawamu bersamaku."
Chris mengecup kening Laurine dengan lembut.
Laurine tersenyum mengembang.
"Hari ini aku akan mengajakmu pergi ke suatu tempat sayang. Anggap saja sebagai pengganti hari-hari kita yang hilang.
Bagaimana?"
"Baiklah Kak, aku mau.
Tapi kita akan pergi kemana Kak?"
"Kamu akan mengetahuinya saat kita sudah sampai di sana Lau."
"Hem, baiklah Kak.
Beri aku waktu 10 menit untuk berganti pakaian Kak."
Chris menganggukkan kepalanya.
Laurine langsung kembali ke dalam kamarnya.
Setelah selesai berganti pakaian, Laurine ke luar rumah dan kemudian masuk ke dalam mobil Chris.
Selama perjalanan, Laurine meletakkan kepalanya di bahu Chris sambil mendengarkan instrumen musik kesukaannya.
Chris hanya bisa tersenyum melihat Laurine yang terlihat begitu menggemaskan.
Alunan musik membuat Laurine perlahan menutup kedua matanya.
Perjalanan yang panjang membuatnya akhirnya tertidur di dalam mobil.
Chris menyadari hal itu.
Ia kemudian menepikan mobilnya sebentar.
Chris membuka jaketnya dan kemudian memasangkannya ke tubuh Laurine.
Chris memperbaiki anak-anak rambut Laurine yang menutupi wajah Gadis itu.
Chris tersenyum.
Sebentar lagi, ia akan menjadikan Gadis itu sebagai Pendamping Hidupnya.
Gadis yang akan menjadi pemandangan pertamanya saat ia membuka mata di pagi hari.
Ia pasti begitu bahagia.
Chris kembali melajukan mobilnya.
Beberapa saat kemudian, mereka sampai di tempat favorit Laurine.
Laurine pernah bercerita padanya bahwa Pantai ini adalah tempat favoritnya sejak kecil.
Oleh karena itu, ia ingin memberikan kejutan pada Kekasihnya itu di tempat ini.
Chris membawa tubuh Laurine ke dalam kamar hotel yang telah ia pesan.
Ia meletakkan tubuh Laurine ke ranjang dengan hati-hati.
Rasanya tidak tega untuk membangunkan Laurine yang tampaknya begitu kelelahan.
Lagian, ini momen yang pas untuk memberikan Laurine kejutan.
Chris kemudian keluar dari kamar itu untuk mulai menjalankan kejutan yang sudah ia rencanakan selama ini.
--
Laurine perlahan membuka matanya.
Ia kemudian tersadar dan kemudian bangun dari tidurnya.
Ia begitu terkejut melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 18.00.
Bagaimana mungkin ia bisa tidur selama itu?
Laurine melihat ke sekelilingnya.
Dimana sebenarnya ia sekarang?
Dan Chris? Mengapa Pria itu tidak membangunkannya?
Laurine berniat keluar dari kamar. Namun matanya menangkap sebuah memo yang berada di atas kotak.
Special Gown for Special Woman.
Laurine tersenyum.
Chris pasti mengajaknya makam malam nanti.
Ia kemudian membuka isi dari kotak itu.
Laurine begitu terpukau melihat benda yang berada di hadapannya.
Gaun yang indah, pikirnya.
Laurine menempelkan gaun itu di tubuhnya.
Sangat pas dengan ukuran tubuhnya.
Bagaimana Chris bisa mengetahui ukurannya?
Wajah Laurine merona seketika.
Ia bertekad akan membuat Chris terpesona saat melihat penampilannya nanti.
Laurine tersenyum dan kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
--
Laurine tersenyum mengembang melihat penampilannya di depan cermin.
Menurutnya penampilannya malam ini terlihat begitu memukau.
Mulai dari gaun, sepatu, hingga riasannya terlihat sempurna.
Ia yakin Chris juga pasti akan menyukai penampilannya malam ini.
Laurine tidak sabaran untuk melihat ekspresi Chris nanti.
Ia kemudian mengambil tasnya dan bergegas keluar dari kamar.
Laurine melangkahkan kakinya.
Namun ia tiba-tiba berhenti.
Tempat ini begitu familiar dengannya.
Bukankah hotel ini adalah hotel yang dulu ia sering kunjungi bersama keluarganya?
Juga bersama Ethan dan Dave saat mereka masih anak-anak.
"Nona Laurine? tanya seorang pegawai hotel.
"Saya?"
Pegawai hotel itu tersenyum.
"Seseorang telah menunggu anda di luar Nona. Saya akan mengantar anda ke sana."
Apa itu Chris? tanya Laurine di dalam hati.
Laurine mengikuti langkah pegawai hotel itu.
Ternyata dugaannya tadi benar.
Chris membawanya ke pantai yang menjadi tempat favoritnya. Tempat yang berisi banyak kenangan masa kecilnya.
"Saya hanya bisa mengantar Nona sampai di sini. Selebihnya, Nona harus berjalan lurus sampai menemukan Seseorang yang telah menunggu anda."
"Baiklah, terima kasih banyak."
"Sama-sama Nona.
Saya permisi."
Laurine menatap sekelilingnya dengan penuh haru. Ia sudah lama tidak pergi ke sini.
Tempat yang begitu ia rindukan.
Terakhir kali ia pergi ke sini bersama Ethan.
Dan sekarang, ia berada di sini bersama dengan Pria yang berbeda.
Pria yang ia cintai sekaligus yang mencintainya.
Keharuan Laurine semakin bertambah saat matanya menangkap pemandangan yang begitu indah di depannya.
Lampu-lampu dan lilin-lilin di sekelingnya menyala dengan terang sehingga mampu menampilkan keindahan pantai dari luar.
Dan apa ini?
Instrumen musik kesukaannya mulai terdengar di telinganya.
Ia begitu menyukainya.
Laurine melanjutkan langkahnya dan melihat sosok yang sedang berdiri membelakanginya.
Pria yang begitu tampan dengan setelan jas yang melekat pas di tubuh atletisnya.
Dari kejauhan, Laurine sudah mengetahui dengan pasti siapa Pria itu.
Chris perlahan membalikkan tubuhnya dan berjalan menghampirinya.
Pria tampan itu memegang rangkaian bunga di tangannya.
Chris berdiri di hadapan Laurine dan kemudian memberikan rangkaian bunga itu pada Laurine.
Laurine tersenyum mengembang saat menerimanya.
Tidak hanya sampai itu saja.
Chris tampak mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya.
Ternyata Chris mengeluarkan sebuah buku.
Laurine sempat mengira bahwa itu adalah sebuah buku dongeng, namun perkiraannya salah saat Chris mulai mengarahkan isi buku itu padanya. Kalimat-kalimat mulai terlihat di lembar pertama
Pertama kali aku bertemu denganmu, aku sudah mengetahui bagaimana isi hatiku padamu.
Setiap orang pasti tidak menyukai sebuah kecelakaan, begitu juga dengan aku.
Namun aku sekarang sadar, bahwa kecelakaan itulah yang telah mempertemukan aku denganmu.
Laurine tersenyum kala mengingat hari itu, hari dimana ia begitu frustasi karena hubungannya dengan Ethan berakhir.
Hingga akhirnya ia dipertemukan dengan Chris, si pelaku yang menabraknya.
Dan sekarang, si pelaku itu menjadi Pria yang begitu ia cintai.
Chris membuka lembar kedua.
Aku tidak menyangka perasaanku padamu semakin bertambah walaupun dari awal aku sudah tahu bahwa hatimu sudah terisi oleh Pria lain.
Lembar ketiga,
Saat itu aku tidak berharap banyak. Aku hanya ingin melihatmu selalu tersenyum. Walau hanya sebagai teman, aku ingin selalu berada di sampingmu, menghiburmu saat kamu sedih, dan menghapus air matamu saat kamu menangis.
Mata Laurine mulai berkaca-kaca. Kalimat itu mengingatkannya dengan Chris yang dari awal selalu menemaninya saat tidak ada seorangpun di sisinya.
Pria itu selalu ada di kala ia membutuhkan kehadiran seseorang.
Lembar keempat,
Aku tidak ingin menjadi Pria yang egois dengan memaksakan perasaanku. Hingga saat dimana aku memutuskan untuk menyatakan perasaanku padamu, sebenarnya aku juga tidak berharap banyak.
Lembar kelima,
Kamu sempat menolakku. Aku pikir memang tidak ada kesempatan untukku untuk mengisi hatimu.
Menyerah adalah jalan satu-satunya.
Maaf, aku menghindarimu waktu itu. Lagi-lagi, aku hanya tidak ingin menjadi Pria yang egois. Aku tidak ingin kamu semakin terluka.
Lembar keenam,
Dan waktu itu...
Aku begitu terkejut sekaligus bahagia saat mendegarmu mengatakan bahwa kamu juga mencintaiku.
Kamu tahu? Rasanya aku ingin mati saat mendengarnya.
Jujur, aku tidak menyangka bahwa aku akhirnya memiliki kesempatan itu.
Laurine tersenyum membaca kalimat itu.
Lembar ketujuh,
Lau, rasanya waktu yang aku miliki selama ini belum cukup untuk membuatmu tersenyum.
Aku ingin selama sisa hidupku, menghabiskan waktuku bersamamu, menjagamu, membahagiakanmu, dan juga mencintaimu sepuasnya dengan waktu yang kumiliki.
Lambar kedelapan,
Aku ingin bangun di pagi hari dengan melihatmu di sampingku, menutup mataku dengan memeluk tubuhmu.
Aku ingin melakukannya setiap hari sampai kita tua nanti.
Lembar kesembilan,
Aku tidak ingin menjadi Kekasihmu lagi Lau...
Tapi aku ingin menjadi Keluargamu...
Keluarga yang berisi aku, kamu dan anak-anak kita nanti.
Maukah kamu membangun keluarga itu bersamaku?
Lembar terakhir,
Aku begitu mencintaimu sayang...
Will you marry me?
Laurine meneteskan air matanya.
Saat ini Chris sedang melamarnya.
Chris ingin menikahinya!!!
Perasaannya begitu bercampur saat ini.
Bahagia sekaligus bangga dicintai oleh Pria hebat di hadapannya.
Ia menatap Chris yang sedang tersenyum padanya.
Chris kemudian membuka sebuah kotak yang berisi cincin permata.
Laurine langsung berhambur ke pelukan Chris.
"Iya Kak, aku mau menikah dengan Kakak."
Tentu saja ia akan menerima lamaran Chris.
Siapa yang tidak mau menikah dengan Pria yang dicintainya?
Chris tersenyum puas.
Ia begitu bahagia mendengar jawaban Laurine.
Ia kemudian memasangkan cincin itu ke jari manis Laurine.
Chris mencium tangan Laurine dengan lembut dan kemudian menarik Laurine ke dalam pelukannya.
"Terima kasih sayang , terima kasih."
Kening mereka menyatu.
Mereka berdua saling meneteskan air mata.
Chris menangkup pipi Laurine dengan tangannya dan kemudian mencium pipi Laurine yang dibasahi oleh air mata.
"Aku mencintaimu Lau."
"Aku juga mencintaimu Kak."
Akhirnya Laurine menemukan Kebahagiaan sejatinya. Kebahagiaan yang pernah ia miliki sebelumnya, namun tdak berakhir dengan bahagia.
Sempat berpikir untuk menutup hatinya rapat-rapat untuk Pria lain setelah Ethan. Namun cinta tulus Chris yang dimiliki padanya mampu menghancurkan niatnya itu.
Bahkan ia dan Chris akan segera menikah nantinya.
Ia ingin hidup bahagia bersama Chris, memiliki anak yang banyak dan tumbuh tua bersama sampai maut memisahkan mereka berdua.