Love You Too Much

Love You Too Much
Tidak akan melepasmu lagi



Setelah selesai makan bersama, mereka berjalan menuju parkiran.


"Terima kasih untuk makan siang dan obrolan kita tadi. Senang bisa lebih mengenal kalian." ucap Jason pada Ethan dan Laurine.


"Sama sama Pak Jason." ucap Ethan.


"Oh ya, bagaimana jika mulai sekarang kita memanggil nama saja? Aku rasa bahasa informal lebih baik. Kita juga seumuran. Gimana? Ayolah.. " ucap Jason dengan nada santai.


"Baiklah Jason, senang berkenalan dengan anda." ucap Ethan dengan memegang pundak Jason.


Mereka saling tertawa bersama.


"Baiklah, kita berpisah di sini. Kau bisa mengantar Nona Laurine pulang sekarang." ucap Jason pada Ethan.


Ethan menatap wajah Jessica.


"Ayo Jess, aku akan mengantarmu pulang." ajak Jason pada Jessica.


Jessica tersenyum tipis pada Jason dan kemudian mengikuti pria masuk ke dalam mobil.


Ethan masih diam terpatung di tempatnya.


Laurine melihat Ethan yang masih menatap kepergian Jason dan Jessica.


Ia lalu mendekati Ethan dan memegang lengan pria itu.


"Kak.." ucap Laurine menyadarkan Ethan.


Ethan mengalihkan pandangannya pada Laurine.


Mereka lalu pergi dari tempat itu dan masuk ke dalam mobil.


"Kak..." ucap Laurine.


"Hemm..." ucap Ethan tanpa mengalihkan pandangannya.


"Aku pikir sepertinya dulu Jason dan Jessica memiliki hubungan khusus."


Sontak Ethan mengalihkan pandangannya pada Laurine.


"Apa saat di Amerika mereka berpacaran, lalu Jessica meninggalkan Jason sendirian di Amerika?"


Ethan melihat ke arah jalanan.


"Bukankah itu bagus Kak? Dengan begitu, tidak ada lagi penghalang di antara kita. Jessica akan mempertahankan cintanya pada Jason dan akhirnya berpisah dengan Kakak."


Ethan refleks mengerem secara mendadak begitu mendengar penuturan Laurine.


"Ada apa Kak?" tanya Laurine dengan napas yang naik-turun sambil memegang dadanya.


"Apa Kakak baik-baik saja?" tanya Laurine lagi.


"Aku baik-baik saja Lau. Tadi ada kucing yang tiba-tiba lewat." Ethan berbohong pada Laurine.


Ethan kemudian melajukan mobilnya kembali.


Ia begitu terpengaruh dengan perkataan Laurine tadi.


Bercerai?


Entah mengapa Ethan merasa sakit mendengar kata itu. Itu artinya Jessica akan pergi dari hidupnya.


--


Sementara di dalam mobil, sesekali Jason tersenyum sambil melihat ke arah Jessica.


"Ada apa Kak?


Mengapa Kakak tersenyum?" tanya Jessica saat melihat Jason tersenyum.


"Aku begitu senang bisa bertemu denganmu lagi Jess."


Jessica tersenyum menanggapi penuturan Jason.


"Bukankah itu artinya kita berjodoh?"


Ucapan Jason membuat Jessica terkejut.


"Aku tidak akan melepasmu lagi." ucap Jason lagi.


Jasson kemudian menghentikan mobilnya.


Jessica mengeratkan tangannya pada gaunnya.


Jason melihat itu, ia kemudian mengambil tangan Jessica dan kemudian menggenggamnya.


"Aku datang ke Indonesia karenamu Jess.


Setelah aku tahu kamu di Indonesia, aku memutuskan untuk menghampirimu ke sini.


"Aku sudah berubah menjadi pria yang baik sekarang. Kamu pernah memintaku untuk berubah dan menuruti perintah Daddy.


Jason tersenyum mengingat perubahan dirinya karena Jessica.


"Akhirnya aku mau mengambil alih perusahaan Daddy.


Semua itu aku lakukan untukmu."


Jason menatap wajah Jessica.


Jessica melihat keseriusan di wajah Jason.


Hal itu membuat Jessica semakin takut untuk menyakiti pria itu lagi.


(Bagaimana cara memberitahumu bahwa aku sudah menikah Kak? Aku tidak ingin Kakak terluka lagi)


Jason tersenyum pada Jessica dan kemudian mengelus kepala gadis itu.


"Kamu memang tidak berubah Jess...


Kamu selalu diam ketika aku menyatakan perasaanku padamu."


Jessica hanya diam tidak menjawab penuturan Jason.


Jason kemudian melajukan mobilnya kembali.


Beberapa lama kemudian, mereka sudah sampai di Apartemen There.


"Masuklah.." ucap Jason pada Jessica.


"Baik Kak. Hati-hati Kak."


Jessica langsung membalikkan badannya.


"Jess.." panggil Jason.


"Iya Kak?"


"Apa kamu mau pergi bersamaku ke suatu tempat besok?"


Jessica diam tidak menjawab pertanyaan Jason.


"Ayolah aku baru di sini, aku butuh teman jalan-jalan. Kamu mau kan menemaniku?" tanya Jason.


Jessica menganggukkan kepalanya dengan pelan.


There baru pulang kantor. Ia melangkahkan kakinya menuju apartemen. Namun ia begitu terkejut melihat Jessica bersama seorang pria.


There menghampiri mereka.


"Jess... " ucap There sambil mengarahkan pandangannya pada Jason.


Tampan sekali, pikirnya.


There diam sesaat sambil memandang wajah Jason.


Seketika ia merasa seperti bertemu dengan pangeran yang ia mimpikan selama ini.


"Perkenalkan Kak. Ini There, sahabat aku."


Jason tersenyum ke arah There dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan There.


There kemudian melihat ke arah tangan Jason. Ia kemudian membalas uluran itu sambil tersenyum.


"Aku Jason Arthur. Senang berkenalan denganmu."


"Aku There." ucap There sambil tersenyum.


There belum melepaskan tangannya dari tangan Jason. Ia masih menatap wajah pria itu.


Kemudian ia menyadarinya, dan langsung melepaskan salaman mereka. Ia begitu malu saat ini.


"Baiklah, aku kembali dulu ya Jess, There."


"Iya Kak, hati-hati di jalan."


Kemudian Jason membalikkan badannya.


There masih memandang kepergian Jason.


"Ayo kita masuk Re."


Jessica masuk duluan dan There berada di belakangnya.


There dengan cepat melangkahkan kakinya mendekati Jessica.


"Siapa dia Jess?"


There menganggukkan kepalanya dengan cepat.


"Oh, Kak Jason senior sekaligus sahabatku saat di Amerika."


"Bukankah dia pria yang tampan?"


Jessica tersenyum mendengar penuturan There.


"Menurutku Kak Jason lebih tampan dari Kak Ethan."


Jessica menghentikan langkahnya.


Tapi entah mengapa hatinya hanya tertuju pada pria itu.


Jessica tersenyum sendiri.


--


Ethan masuk ke dalam rumah. Ia melihat ke arah kamar Jessica. Kamar itu gelap dari luar.


Penasaran, Ethan membuka pintu kamar Jessica. Ia tidak melihat Jessica di sana.


(Apa ia masih pergi bersama Jason?)


Ethan memutuskan untuk menunggu Jessica pulang di sofa.


Sudah pukul 12 Malam namun Jessica belum juga kembali.


Ethan mulai berpikiran yang tidak-tidak.


Ia kemudian berjalan kesana kemari. Ia sangat gelisah.


"Tidak, aku begitu mengenalnya. Jessica bukan gadis yang seperti itu."


"Aku akan menunggunya sebentar lagi." ucap Ethan lalu duduk kembali di sofa.


Ia memijit kepalanya. Sudah satu jam Ethan menunggu Jessica tapi Jessica belum juga kembali.


Ethan sangat mengantuk, ia akhirnya tertidur di sofa.


--


Besok paginya, Ethan terbangun dari tidurnya. Ia langsung berdiri dan berjalan menuju kamar Jessica.


Ia membuka pintu itu, lagi lagi gadis itu tidak ada di sana.


"Kamu di mana Jess?" ucap Ethan dengan nada gusar.


Jessica mendekati There yang sedang berdandan di meja rias.


"Re.."


"Iya Jess?"


"Hari ini aku akan pergi bersama Kak Jason."


There begitu terkejut mendengar penuturan Jessica.


"Kak Jason memintaku menemaninya ke suatu tempat."


There kemudian tersenyum.


"Baiklah, pergilah Jess."


"Dan besok aku berencana akan kembali ke rumah Kak Ethan Re.


"Aku selalu mendukung keputusanmu Jess."


"Terima kasih Re."


There menganggukkan kepalanya sambil tersenyum pada Jessica.


--


Ethan memanggil There ke ruangannya. Setelah ia pikir-pikir, Jessica pasti tinggal bersama There. Karena gadis itu adalah Sahabat Jessica.


"Masuk." ucap Ethan saat mendengar suara ketukan pintu.


There masuk ke dalam ruangan Ethan.


"Duduklah.." ucap Ethan pada There.


There lalu duduk di kursi yang letaknya berhadapan langsung dengan Ethan.


"Aku memanggilmu untuk menanyakan tentang sesuatu."


"Menanyakan soal apa Pak?"


"Soal Jessica."


There begitu terkejut mendengar ucapan Ethan.


"Apa Jessica sekarang tinggal bersamamu?"


There pikir ia harus memberitahukan Ethan. Bagaimanapun Jessica masih berstatus sebagai Istri Ethan dan tidak baik jika ia menyembunyikan Jessica dari Ethan.


"Iya Pak. Jessica tinggal dengan saya.


Ethan menarik napas lega. Ia tahu Jessica bukanlah gadis seperti itu.


Setelah There keluar dari ruangannya, Ethan memandangi alamat yang diberikan There padanya.


Ethan begitu merindukan Jessica. Apalagi semenjak gadis itu tidak lagi memberi perhatian kepadanya.


(Ya, aku harus menjemput Jessica dari apartemen There)


--


Sementara Jessica sedang berjalan bersama Jason di Taman hiburan.


Jessica tersenyum geli saat mengetahui Pria itu mengajaknya ke Taman Hiburan.


Jason tidak pernah berubah. Saat di Amerika Jason sering mengajaknya ke Taman Hiburan.


Jason tiba-tiba menarik tangan Jessica.


"Ayo kita bermain itu." ucap Jason menunjuk ke permainan Roller Coaster.


Jessica menahan tangannya.


"Tidak Kak, aku takut."


"Ayolah Jess, kamu tidak perlu takut. Kakak ada di sampingmu. Bukankah dulu kita sering melakukannya?"


Jason menarik tangan Jessica. Akhirnya Jessica menuruti keinginan Jason.


Jessica sangat deg-deg an berada di ketinggian. Ia menarik napasnya dengan perlahan.


Jason tersenyum geli melihat Jessica. Ia kemudian mengenggam tangan Jessica sama seperti yang ia lakukan dulu. Ia akan menggenggam tangan Jessica saat gadis itu takut.


Jason tersenyum menatap Jessica.


Jessica tahu Jason melakukannya agar ia tidak takut. Ia kemudian membalas senyuman Jason.


Beberapa menit kemudian mereka keluar dari tempat duduk saat permainan sudah selesai.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Jason sangat khawatir. Wajah Jessica tampak pucat.


"Aku hanya pusing Kak. Mungkin karena sudah terlalu lama tidak bermain itu lagi."


"Duduklah."


ucap Jason sambil membantu Jessica duduk di kursi.


"Aku akan membeli air minum.


Tunggu di sini Jess." ucap Jason dan kemudian pergi.


Beberapa saat kemudian Jason kembali dan memberikan air minum pada Jessica.


"Apa benar tidak apa-apa?" ucap Jason sambil jongkok di hadapan Jessica.


Jason kemudian mengelus kepala Jessica dengan lembut.


"Apa masih sakit?"


Jessica menatap wajah Jason.


Pria itu masih sangat peduli padanya.


"Apa aku perlu mengambil obat?"


"Tidak perlu Kak. Aku baik-baik saja."


"Sebagai permintaan maafku, Kakak akan mengajakmu ke pantai. Kamu begitu menyukai tempat itu. Kamu mau kan?"


Jessica menganggukkan kepalanya dan tersenyum pada Jason.


Ia sudah lama tidak pergi ke tempat itu.Terakhir ia pergi ke pantai bersama Keluarga Ethan.


Jessica begitu senang saat ini.


Jason memang begitu mengenalnya.