
Jessica menunggu Ethan pulang ke rumah.
Ia benar-benar ingin tahu apakah Ethan akan memberitahunya malam ini.
Jessica akan berusaha memahami alasan mengapa Ethan tidak memberitahunya selama ini.
Yang paling penting bagi Jessica adalah Pria itu mau jujur padanya.
Jessica keluar dari rumah.
Waktu sudah menunjukkan pukul 9 Malam, namun Ethan belum juga kembali.
Rasa kecewa mulai merambat di hati Jessica. Namun ia akan tetap menunggu Ethan untuk memberikan penjelasan padanya.
Angin malam mulai menyentuh kulit Jessica.
Namun, rasa kedinginan tidak ia hiraukan sama sekali.
Jessica mengusap-usap lengannya.
Tiba-tiba Jessica merasa dejavu. Ia pernah 2 kali berada di posisi ini, menunggu Ethan di tengah angin malam. Pada saat itu Ethan juga sedang bersama Laurine.
Ia menunggu Ethan dengan waktu yang lama, namun Pria itu tidak datang. Hingga Jessica mengetahui bahwa Ethan ternyata sedang bersama Laurine.
Apakah nanti ia akan merasakan hal yang sama?
Jessica meneteskan air matanya.
Sudah banyak yang ia lakukan untuk Ethan, namun Pria itu belum juga benar-benar mencintainya.
Cintanya yang tulus, sama sekali belum bisa meluluhkan hati Pria itu.
Kekecewaan yang ia alami selama ini tidak pernah membuat Jessica untuk berhenti menunggu saat dimana Ethan akan membalas cintanya. Walau ia pernah berpikir untuk menyerah.
Namun saat ini, hatinya benar-benar lelah. Lelah untuk mendapatkan hati Ethan.
Nyatanya Ethan masih mencintai Laurine walaupun mereka sudah berjanji untuk memulai awal yang baru.
--
"Pulanglah Ethan, aku akan menjaganya di sini.
Kasihan Istrimu, ia pasti sedang menunggumu di rumah." ucap Chris pada Ethan.
Ethan menganggukkan kepalanya.
"Apa kau sudah memberitahukan soal ini pada Istrimu?"
"Belum.
Malam ini aku aku akan memberitahu Jessica."
Chris menepuk pundak Ethan.
"Kau harus memberitahukan Jessica secepatnya.
Jangan sampai ada kesalahpahaman di antara kalian berdua."
Rasa kantuk mulai menyerang Jessica.
Ia juga mulai merasa tidak enak badan.
Mungkin karena ia tidak memakai jaket.
Jessica memutuskan masuk ke dalam rumah dan membaringkan tubuhnya di tempat tidur.
Ia sangat lelah hari ini. Bukan hanya tubuhnya, tapi juga hatinya.
Jessica menutup kedua matanya.
Sejenak ia ingin melupakan segalanya.
Ethan memarkirkan mobilnya di depan rumah.
Ia masuk ke dalam rumah.
Ethan mengedarkan pandangannya, tidak ada Jessica di sana.
Biasanya Jessica akan menunggunya pulang.
Ethan tersenyum.
Jessica pasti kelelahan, pikirnya.
Ia melangkahkan kakinya menuju kamar.
Ethan membuka pintu dan masuk ke dalam sana. Ia melihat Jessica yang terbaring di tempat tidur.
Ia meletakkan jasnya kemudian naik ke tempat tidur.
Ethan menggeser posisi Jessica dan membuat tangannya sebagai penopang kepala gadis itu.
Ethan memandang kedamaian yang terlukis di wajah indah Jessica.
Ia menyisipkan rambut yang menutupi wajah Jessica.
Ethan tersenyum dan kemudian mengecup kening Jessica dengan lembut.
Ethan menatap wajah itu lagi.
Setelah itu, ia memeluk tubuh Jessica dengan erat.
Entah mengapa akhir-akhir ini ia begitu merindukan Jessica.
--
Keesokan harinya, Jessica bangun dalam pelukan Ethan. Ia menatap tubuh seorang Pria yang masih terbungkus oleh kemeja.
Jessica kemudian menaikkan wajahnya dan melihat Ethan yang masih tertidur pulas.
Ethan sama sekali belum mengganti pakaian kantornya.
Apa kemarin Ethan pulang larut malam?
Rasa kecewa itu muncul kembali.
Sampai kapan ia akan seperti ini?
Jessica mengangkat tangan Ethan dengan hati-hati. Ia kemudian menggeser tubuhnya untuk keluar dari tempat tidur.
Jessica masih merasa pusing. Malah lebih parah dari yang sebelumnya.
Jessica langsung berlari menuju kamar mandi.
"Uhekk..." Jessica mengeluarkan cairan dari mulutnya.
Ethan terbangun saat mendengar suara Jessica. Ia langsung keluar dari tempat tidur dan menghampiri Jessica.
Jessica masih mengeluarkan cairan itu.
Ethan berdiri di belakangnya dan menepuk-nepuk punggung Jessica.
Setelah tidak merasa mual lagi, Jessica mencuci mulutnya.
"Apa kamu tidak apa-apa Jess?"
Jessica membalikkan tubuhnya.
"Wajahmu sangat pucat. Apa kamu sakit?"
Ethan menyentuh kening Jessica untuk memeriksa suhu tubuhnya.
"Tidak Kak, aku baik-baik saja.
Ini pasti karena aku masuk angin."
Jessica mengingat kejadian semalam saat ia menunggu Ethan di luar.
Ya, ini pasti karena semalam.
Tubuhnya memang sangat lemah saat ini.
"Kakak akan mengantarmu ke rumah sakit, hem?" ucap Ethan dengan nada membujuk.
Jessica tersenyum tipis pada Ethan.
"Aku tidak apa-apa Kak."
Ethan menarik Jessica ke dalam pelukannya.
"Aku sangat khawatir padamu Jess."
Jessica membalas pelukan Ethan.
Entah mengapa ia tidak bisa menolak perlakuan manis Pria ini.
Namun jauh di dalam hati Jessica, ia merasa sangat takut. Takut jika Ethan saat ini sedang berpura-pura padanya.
Jessica menghapus air matanya.
Ethan melepaskan pelukannya.
"Jika kamu tidak ingin pergi ke rumah sakit, sebaiknya kamu istirahat sampai kamu pulih hem?".
Jessica menganggukkan kepalanya.
Lalu Ethan menggenggam tangannya dan membawanya menuju tempat tidur.
Ethan menyelimuti tubuh Jessica dan kemudian mengecup keningnya.
Ia memandang wajah pucat itu lagi.
"Aku akan menemanimu di rumah Jess.
Aku sangat khawatir dengan keadaanmu."
"Kakak tidak pergi ke kantor hari ini?"
"Tidak, Kakak akan merawatmu."
"Kak, aku hanya masuk angin.
Aku baik-baik saja. Aku janji akan istirahat sampai aku pulih.
Kakak harus pergi ke kantor, hem?"
"Baiklah."
Jessica tersenyum mendengar jawaban Ethan.
"Kakak mandilah."
Namun bukannya mandi, Ethan malah naik ke tempat tidur dan meletakkan kepalanya di perut Jessica.
"Kak.." ucap Jessica.
"Sebentar lagi Jess. Kakak masih ngantuk."
Ethan menggeser badannya ke samping dan menatap wajah Jessica.
Ia kemudian menaruh tangan Jessica ke wajahnya.
Ethan menutup matanya dan akhirnya tertidur.
Jessica memandang Ethan dan mengelus lembut wajahnya.
Jessica meneteskan air matanya. Ia takut kebahagiaannya tidak akan bertahan lama.
Saat ini hanya ingin menghentikan waktu agar kebahagiaan ini selalu bersamanya.
--
Rasa gelisah mulai memenuhi perasaan Jessica.
Apakah Ethan akan pergi ke rumah Laurine lagi? Itu yang membuatnya penasaran sekaligus takut.
Jessica langsung keluar dari tempat tidur.
"Ya, aku harus memastikan sendiri kebenarannya."
Jessica memutuskan untuk pergi ke kantor Ethan. Jika Ethan tidak berada di sana, ia akan pergi ke rumah Laurine.
Ia ingin mengetahui dengan pasti apakah Ethan benar-benar masih mencintai Laurine atau tidak.
Jika memang Ethan masih mencintai Laurine, kali ini ia tidak ingin menjadi benalu dalam hubungan mereka.
Ia akan meninggalkan Ethan selamanya.
Kedatangannya ke Indonesia memang kesalahan. Ia telah memisahkan dua orang yang saling mencintai.