Love You Too Much

Love You Too Much
Alva Benedict Jeconiah



Tiba waktunya, hari yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga.


Hari ini, Jessica akan melahirkan anak pertama mereka di rumah sakit milik Chris.


Ethan selalu berada di samping Jessica. Ia tidak berniat sedikitpun untuk pergi dari sisi Jessica walau hanya sebentar.


Sedari tadi, ia menggenggam erat tangan Istrinya sambil memberikan semangat pada Jessica.


Keluarga juga sedang menunggu di luar ruangan. Hari ini adalah momen yang sangat berarti pada mereka, saat anak pertama Ethan dan Jessica akan segera lahir.


Mereka semua berharap agar proses persalinan Jessica berlangsung dengan baik dan lancar. Dan semoga Jessica dan bayinya baik-baik saja nantinya.


Saat ini Ethan dan Jessica sedang mendengar instruksi Dokter sebelum nantinya akan memulai proses persalinan.


Jessica menarik napas panjang. Ia berusaha mengontrol dirinya.


Ini merupakan yang pertama kalinya untuknya. Jessica merasa sedikit gugup walau perasaan bahagianya lebih besar.


Ia sangat tidak sabaran untuk melihat Putranya.


"Kamu gugup sayang?" tanya Ethan.


"Sedikit Kak. Tapi aku sangat ingin bertemu dengannya."


Ethan tersenyum pada Jessica.


Ia kemudian mengelus kepala Jessica dengan lembut.


"Aku akan berada di sampingmu Jess. Kakak tidak akan meninggalkanmu. Jadi kamu tidak perlu khawatir, hem?"


Jessica menganggukkan kepalanya.


"Baik Bu. Kita bisa mulai proses persalinannya." ucap Dokter pada Jessica.


Jessica berbaring di ranjang dan mengikuti perintah yang diucapkan oleh Dokter.


Ethan berdiri di samping Jessica dan mencium kening Istrinya.


"Apapun yang terjadi, aku akan selalu mencintaimu Jess.


Semangat Istriku!


Jessica meneteskan air matanya dan kemudian menganggukkan kepalanya.


Ethan kembali mengecup kening Jessica.


Ia kemudian mempererat genggaman tangannya pada Jessica.


Erangan-erangan mulai dikeluarkan Jessica saat berusaha mendorong bayinya keluar dari perutnya.


Piluh dan keringat membasahi tubuh Jessica.


Saat ini ia merasakan sakit yang luar biasa


Air mata juga membanjiri wajahnya.


Ethan begitu kasihan dengan Istrinya yang terlihat sangat kesakitan.


Sedari tadi ia menyemangati Jessica dan bahkan ikut menangis dengan perjuangan Istrinya yang begitu luar biasa untuk melahirkan Putera mereka.


Ethan memegang pipi Jessica yang terlihat sangat pucat.


"Kamu bisa sayang. Kamu bisa.


Bayi kita juga pasti ingin bertemu dengan Ibunya yang begitu hebat ini.


Kamu bisa sayang."


Ethan kembali meneteskan air matanya.


Jessica melihat air mata itu.


Perlahan semangatnya kian bertambah.


"Ibu tarik napas dan kemudian dorong. Ibu pasti bisa."


ucap Dokter.


Jessica menganggukkan kepalanya.


Ia kembali mengerang, kali ini ia sangat berusaha untuk mengeluarkan bayinya.


Dan akhirnya...


Bayi mereka berhasil keluar dari perut Jessica.


Dokter kemudian mengangkat bayi mereka.


Perlahan sosok itu mengeluarkan suara tangisnya.


"Terima kasih sayang. Terima kasih.


Ethan menciumi wajah Jessica dan langsung memeluk tubuhnya dengan erat.


Mereka kemudian melihat ke arah bayi mereka yang tubuhnya sudah dilapisi kain.


Dokter memberikannya pada Jessica.


Jessica langsung menimang bayi mereka.


Ia perlahan meneteskan air matanya.


Begitu juga dengan Ethan yang berdiri di samping Jessica.


Ia begitu bahagia melihat bayi mereka.


Sosok yang memiliki wajah yang begitu mirip dengannya.


Putera mereka lahir dengan paras yang rupawan mewarisi wajah Papanya.


Keseluruhan wajahnya meniru wajah Ethan, hanya saja bibirnya mirip dengan bibir Mamanya.


"Dia begitu mirip denganmu Kak." ucap Jessica.


"Iya sayang. Aku yakin kelak dia juga akan setampan Papanya.


Benarkan sayang?"


Bayi mereka perlahan tersenyum tipis.


Melihat respon Putranya, Ethan tersenyum mengembang.


"Putraku juga akan menjadi Pria yang cerdas nantinya."


--


Semua keluarga tengah berkumpul di ruangan Jessica.


Semua tampak sangat bersukacita melihat bayi mereka yang begitu menggemaskan.


Terlebih Merry, yang saat ini tengah menggendong bayi mereka dengan penuh perasaan gembira. Bahkan ia tidak memperdulikan tubuhnya yang sudah tua.


"Cicitku begitu menggemaskan. Wajahmu sangat mirip dengan wajah Papamu sayang."


"Iya, wajahnya begitu mirip dengan Ethan. Padahal sebelumnya aku berdoa agar bayi kalian mirip denganku. Karna aku tahu, bahwa Pamannya ini lebih tampan dari Papanya."


Semua orang tertawa mendengar candaan Dave.


"Dave..." ucap Ethan dengan nada memperingati.


"Oh ya, apa kalian sudah menemukan nama yang cocok untuk bayi kalian?" tanya Rossa.


"Sudah Ma. Aku dan Jessica sudah menemukan nama untuk Putra kami.


Nama Putra kami adalah Alva Benedict Jeconiah." ucap Ethan.


"Alva yang berarti Pria yang Agung dan Benedict yang artinya diberkati.


Jadi keseluruhan arti dari nama Putra kami adalah Pria Agung yang diberkati.


Kami berharap Putra kami dapat menjadi Pria yang agung dan diberkati oleh Tuhan."


"Iya sayang. Semoga Alva tumbuh menjadi Pria yang agung dan diberkati oleh Tuhan." ucap Natalie.


"Berarti mulai sekarang, kita akan memanggilnya dengan sebutan "Alva." ucap Dave.


Semua orang tersenyum.


"Alva, Bibi mohon jangan tumbuh begitu cepat. Agar Bibi bisa menciummu seperti ini."


Sera mencium pipi Alva dengan gemas.


"Kalau begitu, segeralah menikah Sera. Nenek yakin, kamu akan memiliki bayi yang begitu menggemaskan seperti Alva."


Mendengar ucapan Merry, wajah Sera seketika merona.


Dave tersenyum geli dan kemudian mendekat dan berbisik padanya.


"Kamu dengar itu? Kamu harus segera menikah. Kalau kamu mau, aku siap menjadi pengantin Prianya."


Wajah Sera semakin merona dan kemudian berusaha menyembunyikannya dari Dave.


Sera memalingkan wajahnya ke arah lain.


Ia tidak ingin Dave mengetahuinya.


Entah apa yang sedang ia rasakan saat ini pada Dave.


Ia kesal sekaligus penasaran dengan Pria itu.


Akhir-akhir ini, Dave sering kali menggodanya. Bahkan Pria itu sering kali menghubunginya dan mengajaknya untuk jalan.


Ia pikir, Dave melakukan semua itu untuk menjalin pertemanan dengannya mengingat bahwa Dave adalah Sepupu dari Adik Iparnya. Dan ia akhirnya merespon dan menyetujui semua ajakan Dave.


Namun sekarang ia mulai bertanya-tanya, mengapa Dave sering mendekatinya.


Dave juga pernah memintanya untuk menjadi Pacarnya yang awalnya ia pikir sebagai gombalan semata dan tidak bermaksud serius. Sehingga ia hanya bisa tertawa saat Dave mengucapkan hal itu.


Dan sekarang, Dave ingin menjadi Pengantin Prianya.


Apa sebenarnya maksud dari semua ini?


Apa Dave benar-benar serius dengan permintaannya saat itu?


Sebenarnya ia juga perlahan memiliki perasaan pada Dave. Namun saat ini, ia ingin melihat keseriusan Pria itu lebih jauh lagi.


Baginya, menjalin sebuah hubungan membutuhkan sebuah komitmen yang kuat.


Di usianya yang sudah menginjak 27 Tahun, ia ingin mendapatkan Pria yang benar-benar yang mencintainya dan siap melangkah ke hubungan yang lebih serius.


--


Setelah beberapa hari kemudian, Jessica dan bayinya akhirnya diperbolehkan pulang ke rumah.


Jessica bahagia karena sekarang ia pulang bersama dengan bayinya.


Keluarga kecil mereka akhirnya lengkap dengan kehadiran Alva di dalam hidup mereka.


Jessica membawa Alva di gendongannya.


Sementara Ethan membawa semua barang-barangnya.


Sesampainya di kamar, Jessica terpukau melihat hiasan yang begitu indah di dalam kamar mereka.


Balon warna-warni menempel di setiap sudut kamar, tidak lupa dengan mawar putih yang begitu banyak.


Jessica tersenyum melihat namanya dan nama Alva terpampang di di dinding kamar.


Peralatan Putra mereka juga kian bertambah


Pasti Suaminya yang melakukan semua itu.


Ethan memang Suami sekaligus Papa yang romantis dan penyayang.


"Apa kamu menyukai semua ini sayang?"


ucap Ethan yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar.


"Sangat Kak. Terima kasih banyak untuk semua ini Kak."


"Aku yang harusnya berterima kasih denganmu sayang. Melihat perjuanganmu saat melahirkan anak kita, rasanya aku tidak sanggup untuk kehilanganmu.


Aku bersyukur, sangat bersyukur pada Tuhan. Kamu dan Putra kita baik-baik saja.


Aku sangat mencintaimu sayang."


Ethan mengecup kening Jessica dengan lembut.


"Dan, Papa juga sangat mencintaimu sayang."


Ethan juga memberikan kecupan pada Alva.


Ethan kemudian mengambil Alva dari Jessica dan membimbing Jessica duduk di tempat tidur.


"Sekarang istirahatlah sayang.


Dokter sudah mengatakan bahwa kamu harus banyak istirahat mulai sekarang."


"Tapi Kak, Alva.."


"Aku yang akan mengurus Alva sayang."


"Popok?" tanya Jessica.


"Aku sudah mengetahui semuanya sayang. Aku sudah belajar banyak jauh sebelum Alva lahir."


"Bagaimana mungkin Kak?"


"Aku sengaja melakukannya agar aku bisa menggantikanmu sementara kamu harus banyak istirahat."


Lagi-lagi, Ethan berhasil membuatnya terharu.Mulai dari mengandung hingga melahirkan, Ethan selalu memanjakannya.


Bahkan Suaminya itu sering melakukan hal-hal yang romantis untuknya.


"Terima kasih Kak."


"Kali ini kamu harus memberikan hadiah untukku Jess."


Ethan memajukan bibirnya pada Jessica bermaksud agar Jessica menciumnya.


Jessica berdiri dan kemudian mencium bibir Ethan.


Ethan tersenyum puas dan berniat untuk melanjutkan kegiatan berciuman mereka.


Namun saat hendak mencium Jessica, Alva bergerak di dalam gendongannya.


Jessica tersenyum geli.


"Dasar kamu Nak. Kamu tidak mengizinkan Papa dan Mama bermesraan sebentar saja."


Ethan kemudian mengecup kening Jessica.


"Istirahatlah sayang."


"Baik Kak."


Jessica berbaring di tempat tidur.


Dan kemudian matanya menatap ke arah Ethan yang sedang berusaha menidurkan bayi mereka.


Suaminya itu begitu menggemaskan saat ini.


Ethan sedang bertingkah seperti anak kecil hanya untuk membuat Alva tidur.


Jessica begitu bahagia.


Akhirnya harapannya terkabul.


Memiliki Suami yang begitu mencintainya dan Putra yang begitu tampan adalah harapannya dari dulu.