Love You Too Much

Love You Too Much
Sensitif



Keesokan harinya, Ethan mengunjungi Laurine lagi.


Saat ini, Chris sedang memeriksa keadaan Laurine.


"Bagaimana keadaannya Chris?"


"Laurine sudah semakin baik Ethan."


"Syukurlah."


Ethan bernapas lega.


"Bukankah ini jam kantor? Apa kau sedang tidak bekerja Ethan?"


"Aku bekerja. Aku hanya menyempatkan waktuku memeriksa keadaannya."


"Oh ya, bisakah kau menemani Laurine hari ini?"


"Tentu saja."ucap Chris.


"Baiklah, aku akan pergi ke kantor. Aku titip Laurine bersamamu."


Chris menganggukkan kepalanya.


Ethan langsung pergi dari sana dan masuk ke dalam mobilnya.


--


Jessica melihat penampilannya di depan cermin.


"Sangat memuaskan."ucapnya dengan ceria.


Jessica langsung mengambil tasnya dan membawa bekal makan siang Ethan.


Sebenarnya ia sama sekali belum memberitahu Ethan. Ia hanya ingin memberikan kejutan pada Suaminya.


Mereka sudah memutuskan bahwa Jessica tidak perlu bekerja lagi di kantor. Sarah akan kembali ke posisinya sebagai Sekretaris Ethan.


Jessica juga senang jika dirinya akan berada di rumah saja. Dengan begitu, ia bisa melaksanakan tugasnya sebagai Istri yang baik untuk Ethan.


Jessica menyunggingkan senyumnya saat melangkah menuju ruangan Ethan.


Namun ia menghentikan langkahnya saat ia mendengar pembicaraan 3 orang Karyawan.


"Apa kamu yakin bahwa Pak Ethan sudah mencintai Istrinya?" tanya salah satu Karyawan.


"Aku juga tidak yakin. Kita semua tahu, bahwa Pak Ethan dulunya berpacaran dengan Bu Laurine. Bahkan mereka sudah berpacaran selama 15 Tahun. Apa semudah itu melupakan Bu Laurine?" ucap Karyawan lainnya.


Jessica memegang erat gaunnya.


"Aku mengira bahwa Pak Ethan akan menikah dengan Bu Laurine. Dulu, mereka adalah pasangan favoritku. Mereka begitu setia satu sama lain. Kemesraan mereka juga membuat orang lain iri."


"Sayang sekali bukan?"


"Iya, betul.


Apa ada kemungkinan Pak Ethan akan kembali pada Bu Laurine dan meninggalkan Istrinya?"


"Mungkin saja."


Jessica langsung melangkahkan kakinya menuju Toilet. Ia tidak tahan lagi mendengar pembicaraan itu.


Walaupun ia tahu itu tidak mungkin, namun entah mengapa ia begitu takut saat ini. Ia takut Ethan akan meninggalkannya.


"Mengapa kamu begitu cengeng Jess?"


tanya Jessica di depan cermin.


Jessica berusaha menahan air matanya namun air mata itu semakin keluar mengaliri wajahnya.


Jessica begitu sensitif akhir-akhir ini terutama jika hal itu menyangkut Ethan.


Setelah berhasil menenangkan dirinya, Jessica pergi menuju ruangan Ethan.


Sarah menyapanya dan mempersilahkan dirinya masuk.


Jessica membuka pintu ruangan Ethan.


Pria itu sedang berdiri di depan jendela sambil mengangkat telepon.


Ethan tidak menyadari kedatangan Jessica.


"Iya, besok aku akan pergi ke sana lagi."


Ethan menutup panggilannya dan membalikkan tubuhnya.


Ia terkejut melihat keberadaan Jessica di ruangannya.


"Jess.."


Jessica tersenyum pada Ethan.


Jessica mendekat pada Ethan.


"Mengapa kamu tidak memanggilku tadi sayang?"


"Kakak tadi sedang bertelepon, tidak mungkin aku mengganggu Kakak."


Ethan tersenyum pada Jessica.


"Lagian aku juga ingin memberikan kejutan pada Kakak."


"Benarkah?"


Jessica menganggukkan kepalanya.


"Kalo begitu kamu berhasil sayang."


Jessica tersenyum pada Ethan dan kemudian menyodorkan bekal makan siang itu.


"Aku membawa makan siang untuk Kakak.".


"Terima kasih sayang."


Ethan memberikan kecupan pada bibir Jessica.


--


Jessica sedang memegang buku di tangannya. Ia berusaha membaca buku itu, namun pembicaraan Karyawan itu sangat mengganggu pikirannya.


Ethan yang sedang memeriksa berkas-berkas juga menyadari hal itu.


Ia kemudian menghampiri Jessica dan duduk di samping gadis itu.


"Apa ada sesuatu yang mengganggumu? Kakak melihatmu melamun dari tadi Jess. " tanya Ethan.


Jessica menatap wajah Ethan.


Ia langsung memeluk tubuh Ethan dengan erat dan menangis di sana.


Saat ini ia tidak bisa mengendalikan dirinya.


"Ada apa sayang?" tanya Ethan lagi.


Namun Jessica masih belum menjawabnya.


"Apa kamu baik-baik saja Jess? Aku begitu khawatir padamu."


"Aku hanya begitu merindukanmu Kak."


Ethan tersenyum mendengar jawaban Jessica.


Ia kemudian mengelus kepala Jessica dengan lembut.


"Aku di sini sayang. Aku tidak akan meninggalkanmu."


Jessica melepaskan pelukannya.


"Aku akan berada di sisimu selamanya."


Jessica tersenyum pada Ethan.


"Akhir-akhir ini aku memang sering merindukanmu Kak. Memang terdengar konyol mengingat setiap hari kita bertemu.


Tapi.."


"Itu tidak konyol sayang. Aku juga sering merindukanmu."


Ethan memegang tangan Jessica.


"Itu karena kita saling mencintai."


Ethan mendekatkan dirinya pada Jessica untuk menghapus air mata Jessica.


"Kamu cantik saat kamu menangis."


Mereka saling bertatapan hingga akhirnya Jessica menutup matanya saat Ethan mencium bibirnya.


Ethan meletakkan tubuh Jessica di tempat tidur yang berada di ruangannya.


Ia perlahan membuka jas dan kemeja yang berada di tubuhnya.


Ethan kemudian menindih tubuh Jessica dan mencium Jessica lagi.


Mereka melakukannya di sana. Saat ini hasrat yang dimiliki Ethan tidak bisa ia kendalikan.


Walaupun sedang berada di kantor, namun Ethan yakin tidak ada seorangpun yang bisa mengganggu mereka.


Ethan mencium kening Jessica dan kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka.


Mereka tidur dengan posisi saling berpelukan.