Love You Too Much

Love You Too Much
Perceraian???



Pukul 10 Pagi Jessica terbangun dari tidurnya. Ia merasa sangat pusing karena tidak bisa tidur semalam.


Jessica memegang keningnya, suhu tubuhnya terasa panas.


Jessica keluar dari tempat tidur, namun tubuhnya sangat lemah.


Ia berusaha mengambil handphonenya yang berada di atas meja. Ia akan menelpon There untuk meminta bantuannya.


Akhirnya Jessica berhasil mengambil handphonenya dari atas meja. Ia kemudian mencari kontak There dan menelpon gadis itu.


Jessica menarik napasnya secara perlahan.


"Aku mohon jawab panggilanku Re." ucap Jessica dengan lirih.


Panggilan itu akhirnya tersambung.


"Halo Jess.."


"Re..." ucap Jessica dengan nada lirih.


"Ada apa Jess? Apa kamu sedang sakit?" tanya There dengan nada panik.


"Re.. Tolong kesini . Aku sangat membutuhkanmu."


"Baiklah, aku segera kesana Jess."


There langsung meninggalkan pekerjaannya. Ia tidak peduli dimarahi oleh Bossnya. Baginya yang paling penting adalah Jessica. Sahabatnya itu sangat membutuhkannya saat ini.


There sudah sampai di rumah Ethan. Ia langsung masuk dan mencari keberadaan Jessica.


"Jess..." panggil There.


Jessica mendengar suara There.


"Re.. Aku di sini."


There mendengar suara Jessica dari kamar yang berada di lantai bawah. Ia kemudian melangkahkan kakinya dengan cepat menuju kamar itu.


"Jess...", ucap There mendekati Jessica yang terbaring lemah di tempat tidur.


"Tubuhmu sangat panas.


Sebaiknya kira pergi ke rumah sakit."


Jessica menganggukkan kepalanya dengan lemah.


There membantu Jessica berdiri dan membawa Jessica masuk ke dalam Taksi yang sudah menunggu di depan rumah.


"Bertahanlah Jess." ucap There yang memegang tubuh Jessica dengan erat.


Piluh yang membasahi tubuh Jessica semakin membuat There khawatir dengan kondisi Jessica.


"Pak, tolong lebih cepat lagi." ucap There pada supir.


"Baik Nona."


Supir itu melajukan mobilnya dengan cepat.


Akhirnya Jessica dan There sudah sampai di rumah sakit. Jessica kemudian dibawa ke ruang IGD.


There menunggu di luar dengan perasaan gelisah.


Beberapa menit kemudian, Dokter yang memeriksa Jessica keluar dari ruangan itu.


There langsung menghampirinya.


"Bagaimana keadaanya Dok?"


"Sepertinya pasien mengalami demam tinggi disertai Dehidrasi. Saya sarankan pasien lebih banyak istirahat dan minum air putih."


"Baik Dok. Terima kasih."


Setelah Dokter itu pergi, There langsung masuk ke ruangan itu.


There duduk di samping Jessica yang kondisinya terlihat sudah baikan.


"Makasih Re, karena sudah menolongku dan membawaku ke rumah sakit." ucap Jessica dengan senyuman.


There memegang tangan Jessica.


"Sama-sama Jess. Aku akan selalu ada di saat kamu membutuhkanku."


"Oh ya, mengapa kamu bisa sakit begini Jess? Kamu tahu, aku sangat panik tadi. Tubuhmu sangat lemah."


Entah mengapa Jessica meneteskan air matanya.


Melihat Jessica menangis, There langsung mendekati tubuh Jessica.


"Ada apa Jess? Apa ada sesuatu yang terjadi?


Cerita padaku, hemm?"


Jessica semakin meneteskan air matanya.


"Apa dia menyakitimu lagi? Katakan padaku."


"Aku berhenti untuk membuat pernikahan kami menjadi pernikahan yang sesungguhnya Re."


"Apa yang membuatmu berhenti Jess?"


Jessica menceritakan semuanya pada There.


"Aku mendukung keputusanmu Jess. Selama ini kamu sudah sangat menderita.


Yang penting kamu sudah berusaha menjadi istri yang baik."


"Apa kamu sudah menyerah dengan pernikahanmu?" tanya There pada Jessica.


"Maksudmu Re?"


"Untuk saat ini kamu bisa menjalani pernikahanmu.


Tapi Jess, jika kamu sudah tidak tahan lagi dengar pernikahan ini, akan lebih baik jika kalian berpisah.


"Maksudmu bercerai?"


There menganggukkan kepalanya.


"Aku tidak ingin kamu semakin tersakiti Jess. Kak Ethan mencintai gadis lain, pernikahan ini juga tidak akan pernah membuat kalian berdua bahagia.


Kamu sudah berusaha sejauh ini, namun Kak Ethan juga tidak mengubah perasaannya sama sekali.


Kamu berhak untuk bahagia Jess. Semua ini belum terlambat. Kamu gadis yang sangat baik, kamu tidak layak mendapatkan ini semua."


There melihat raut wajah sedih Jessica. Ia tahu bahwa Jessica sangat mencintai Ethan.


There manyentuh tangan Jessica.


"Aku tahu kamu sangat mencintainya. Kamu pasti perlu waktu untuk memikirkannya.


Jika kamu sudah memang benar-benar yakin untuk bercerai, kamu bisa mengatakannya padaku. Aku akan membantumu untuk mengatakannya pada Tante Rossa."


---


Di kantor


Ethan memijit keningnya. Sedari tadi ia tidak fokus bekerja. Rasa sedih sangat melingkupinya tatkala mengingat Gadis itu menjauhinya lagi. Perasaan itu kini mendominasi dirinya.


Gadis itu membuatnya melupakan segala hal.Bahkan saat rapat tadi, ia sama sekali tidak memperhatikan presentasi dari Client nya.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari luar.


"Masuk." , ucap Ethan.


Seorang karyawan menghampiri Ethan.


"Ada apa?"


"Direktur perusahaan marketing terbesar di Amerika setuju untuk menjalin kerja sama dengan kita Pak."


Ethan begitu terkejut mendengar pernyataan karyawannya itu.


"Apa yang membuatnya setuju? Bukankah sebelumnya ia menolak bekerja sama dengan kita?"


"Saya juga tidak mengerti Pak. Beliau hanya mengatakan bahwa ia berubah pikiran."


"Baiklah. Saya harap kita bisa berkerja sama baik dengan perusahaan itu."


"Baik Pak."


Saya akan kembali ke ruangan saya Pak."


"Baiklah, kau boleh pergi."


Ethan masih bertanya-tanya mengapa Direktur Utama perusahan itu mau bekerja sama dengan perusahaannya.


--


There membawa Jessica ke apartemennya. Kemudian ia membantu Jessica berbaring di tempat tidur.


"Istirahatlah Jess. Untuk sementara waktu, tinggallah bersamaku. Kamu juga sedang sakit saat ini."


"Baik Re. Terima kasih banyak Re, aku sudah banyak merepotkanmu. Bahkan kamu harus meninggalkan perkerjaan di kantor.


"Tidak apa-apa Jess. Kamu lebih penting dari pekerjaanku.


Sekarang istirahatlah di kamar. Jika kamu lapar, aku sudah memasak bubur dan meletakkannya di microwave. Kamu jangan lupa minum obat ya.


Aku akan kembali ke kantor Jess.


Aku berjanji aku tidak akan lama."


"Baiklah Re. Pergilah, aku akan baik-baik saja."


There tersenyum pada Jessica kemudian pergi dan menutup pintu kamar.


Jessica turun dari tempat tidur. Ia kemudian mendekati jendela kamar. Ia melihat ke arah luar gedung apartemen.


(Apa perceraian adalah pilihan yang terbaik?)


Jessica meneteskan air matanya.


Jessica memandangi cincin pernikahan yang berada di jari manisnya.


Ia kemudian teringat dengan Rossa dan keluarganya.


Ia takut Rossa akan begitu terluka saat mengetahuinya. Ia juga tidak ingin menyakiti perasaan semua keluarganya.


Tapi ia rasa ucapan There benar. Ia tidak boleh menahan Ethan lebih lama lagi. Pria itu berhak bahagia bersama Laurine.


Seketika ada rasa sakit Jessica saat ia harus melepaskan Ethan untuk bahagia bersama Laurine. Ya, suatu hari hal itu pasti akan terjadi. Walaupun perasaan Jessica sangat sakit, namun bagaimanapun berpisah adalah keputusan yang tepat untuk kebaikan mereka berdua.