
Keesokan Paginya.
Riana dan Samuel begitu terkejut melihat Ethan tidur di kursi yang berada di depan rumah Jessica.
"Kak Ethan.." panggil Samuel.
Samuel menatap Riana.
"Mengapa Kak Ethan bisa berada di sini Bu?
Sam sudah mencari Kak Ethan kemana-mana kemarin. Ternyata Kak Ethan ada di sini."
Samuel mendekati Ethan yang masih tertidur pulas dengan posisi meringkuk kedinginanan.
"Kak, Kak Ethan bangun."
Samuel memegang tubuh Ethan dengan pelan.
Perlahan mata Ethan terbuka. Ia melihat Samuel berada tepat di depannya.
"Sam.."
Ethan kemudian memperbaiki posisinya menjadi duduk.
"Ibu.." ucap Ethan pada Riana.
"Mengapa anda bisa berada di sini Tuan?"
Tiba-tiba pintu rumah Jessica terbuka.
Seketika mata Jessica bertatapan dengan Riana.
Jessica melihat sekelilingnya.
Dan Jessica terkejut melihat Ethan yang masih berada di sana.
Ethan kemudian berdiri dan mendekati tubuh Jessica.
"Jessica adalah Istri saya Bu. Saya baru mengetahui kalau Istri saya tinggal berada di daerah ini juga.
Dan.."
Ethan menatap wajah Jessica.
"Jessica adalah perangkai bunga indah itu."
Riana dan Samuel terkejut dengan penuturan Ethan barusan.
Selama ini mereka mengira Jessica belum menikah.
Mengingat Jessica yang tidak memakai cincin pernikahan dan Gadis itu juga sama sekali tidak pernah memberitahu mereka kebenarannya.
Ethan melihat keterkejutan di wajah Riana dan Samuel.
"Sebenarnya ada masalah kecil antara saya dan Jessica Bu. Jadi saya datang kesini untuk memberikan penjelasan pada Istri saya.
Jessica menatap wajah Ethan.
Apa masalah kecil?
Bagaimana bisa Ethan mengatakan "kebohongan" adalah masalah kecil?
Ethan menggenggam tangan Jessica namun Jessica segera melepaskannya.
"Maafkan Jessica Bu. Sam..."
Jessica merasa bersalah pada Riana dan Sam.
"Jessica nggak bermaksud untuk berbohong pada Ibu dan Sam karena kedatangan Jessica ke sini juga sudah berstatus bercerai dengan Kak Ethan."
Ethan langsung menatap Jessica.
"Jess..
Apa maksudmu?"
Jessica memberanikan diri untuk menatap wajah Ethan.
Ia berusaha untuk tetap kuat di hadapan Ethan.
"Apa Kakak lupa?
Aku sudah melepaskan cincin pernikahan kita Kak. Dan aku juga sudah menandatangani Surat Perceraian kita. Itu artinya kita sudah bercerai."
"Tapi aku belum menandatangani Surat itu. Dan tidak akan pernah. Aku tidak akan menceraikanmu sampai kapanpun Jess.
Kamu hanya salah paham. Aku hanya mencintaimu Jess."
Jessica mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia tidak ingin mendengar pernyataan cinta Ethan lagi.
Air mata Jessica luruh begitu saja, walau ia berusaha menahannya agar tidak keluar.
Riana bisa melihat bahwa dua sosok di depannya masih saling mencintai.
Walaupun Jessica terlihat acuh pada Ethan, namun gadis itu pasti begitu mencintai Suaminya itu. Hanya saja, kekecewaannya menutupi perasaanya.
Jessica langsung pergi dan masuk ke dalam rumah.
"Jesss.."ucap Ethan saat melihat Jessica masuk ke dalam rumah.
--
Ethan sedang duduk di ruang tamu bersama Sam dan Riana.
"Jessica mengira saya mencintai wanita lain Bu. Memang ini semua salah saya. Saya tidak memberitahu Jessica dari awal."
"Saya pikir, Jessica perlu waktu untuk menerima kebenarannya Tuan. Jessica sudah terlanjur kecewa, sehingga sulit baginya untuk menerima penjelasan apapun."
"Iya Bu.
Tapi saya sangat takut Jessica tetap bersikeras ingin berpisah dengan saya.
Saya sangat mencintainya Bu."
"Tenanglah Tuan. Saya yakin, anda dan Jessica akan bersatu kembali. Jessica juga masih memiliki perasaan yang sama dengan Tuan.
Saya sudah mengerti bagaimana Jessica walaupun saya baru mengenalnya.
Dia Gadis yang sangat baik, dia pasti akan memaafkan Tuan.
Ethan tersenyum pada Riana.
"Iya Kak, aku yakin Kak Jessica pasti memafkan Kakak."
"Terima kasih Bu, Sam."
Ethan menghampiri Jessica yang sedang membawa bunga-bunga di tangannya.
Gadis itu tampak sangat kerepotan
"Aku akan membawanya Jess."
"Tidak perlu, aku bisa membawanya sendiri."
Jessica langsung berlalu begitu saja.
Ethan menemani Jessica yang sedang menjual rangkaian bunga di dekat pantai.
Hari mulai terik, Ethan kemudian membeli minuman pada Jessica.
"Jess..
Ini, minumlah.."
Ethan menyodorkan minuman itu pada Jessica.
Jessica menatap ke arah minuman itu, namun ia sama sekali tidak berniat menerima minuman itu dari tangan Ethan.
--
Hari mulai sore. Jessica membereskan semua barang-barangnya.
Saat Jessica ingin mengangkatkannya, Ethan tiba-tiba mengangkat semua barang-barang itu dan berlalu meninggalkannya.
Jessica menatap ke arah perginya Ethan dan kemudian mengikuti Pria itu dari belakang.
Kali ini ia akan membiarkannya.
Namun tidak di lain waktu.
Ethan meletakkan semua barang-barang itu.
Ia mendekati Jessica, namun gadis itu menghindarinya lagi.
Ethan memegang tangan Jessica.
"Kamu masih menghindariku Jess?
Izinkan Kakak untuk menjelaskan semuanya padamu."
Jessica menatap Ethan.
"Tidak ada yang perlu di jelaskan Kak. Karena semuanya sudah jelas, Kakak berbohong padaku. Kakak juga masih mencintai Laurine."
"Jess kamu hanya salah paham.
Kakak akan menjelaskan semuanya padamu, hem?"
Namun Jessica melepaskan tangan Ethan dan pergi meninggalkannya.
Malam harinya Ethan pergi ke rumah Jessica bersama Riana dan Sam.
Riana dan Sam berjanji akan membantu Ethan agar Jessica mau memaafkannya.
Jessica membukakan pintu rumah.
Ia tersenyum melihat kedatangan Riana dan Sam. Namun senyum itu memudar tatkala melihat Ethan juga berada disana.
"Masuklah Bu, Sam."
Jessica sama sekali tidak menyapa Ethan.
Mereka semua duduk di ruang tamu.
"Apa Ibu dan Sam ingin mengatakan sesuatu pada saya?"
Jessica bertanya-tanya di dalam hati, mengapa Ethan ikut bersama Riana dan Sam.
"Jess, Ibu mau memberitahumu bahwa warga di sini sudah tahu bahwa kamu dan Tuan Ethan adalah sepasang suami Istri."
Jessica menatap Ethan. Ethan pasti yang melakukan ini semua.
"Terus Bu?"
"Ibu pikir, ada baiknya kamu dan Tuan Ethan tinggal bersama mulai saat ini."
"Apa Bu?"
"Tidak baik jika Suami Istri tinggal terpisah Jess.
Warga di sini akan mengatakan yang tidak-tidak nanti. Apalagi kamu dan Tuan Ethan adalah pendatang baru."
Ethan tersenyum di dalam hati.
Ini adalah salah satu rencananya agar ia bisa berdekatan dengan Jessica. Dengan begitu, perlahan Jessica mau memafkannya.
Jessica menatap Ethan yang sedang tersenyum padanya.
Apa yang harus ia lakukan?
Itu berarti ia dan Ethan harus tinggal bersama.
Jessica takut hatinya perlahan akan luluh pada Ethan bergitu saja.
Setelah Riana dan Sam pulang, Jessica dan Ethan masih duduk di tempatnya.
Mereka tidak berbicara sama sekali.
Ethan kemudian berdiri dan mendekati Jessica.
Jessica melihat Ethan yang berusaha mendekatinya.
Jessica lalu berdiri di hadapan Ethan.
"Walaupun kita tinggal bersama, tapi kita tidak akan tidak akan pernah tidur bersama Kak."
"Mengapa, hem?"
Jessica memundurkan langkahnya saat melihat Ethan semakin mendekatinya.
"Bukankah kita Suami Istri Jess?" ucap Ethan dengan nada menggoda.
Ethan kemudian menarik tubuh Jessica mendekat kepadanya.
Jarak mereka sangat dekat saat ini.
Jessica berusaha melepaskan kedua tangan Ethan yang melekat di tubuhnya.
"Lepaskan aku Kak.."
"Tidak, Kakak tidak akan melepaskanmu."
Jessica berusaha kembali, namun kedua tangan Ethan semakin erat.
Jessica akhirnya pasrah.
"Apa sebenarnya yang Kakak inginkan?"
Ethan mendekatkan wajahnya dan membisikkan sesuatu ke arah telinga Jessica.
"Kita sudah lama tidak tidur bersama. Bagaimana kalau kita melakukannya malam ini?"
Ethan kemudian mencium pipi Jessica.
Jessica seketika menegang saat Ethan menciumnya.
Sesaat Jessica akhirnya tersadar lalu melepaskan tangan Ethan dari tubuhnya.
Dan akhirnya berhasil.
Jessica pergi meninggalkan Ethan di sana.
Jessica menghentikan langkahnya sebentar namun tidak membalikkan tubuhnya sama sekali.
"Kakak tidur di sofa."
Jessica kemudian masuk ke dalam kamar.
Ethan tersenyum kesenangan menatap kepergian Jessica.
Ia begitu mengenal Jessica, termasuk semburat merahnya.
Jessica pasti sedang mengalaminya saat ini.
Jessica menutup pintu kamarnya rapat-rapat.
Ia duduk di tepi ranjang sambil memegang erat bajunya.
Jessica meneteskan air matanya.
Ia tahu hal ini akan terjadi jika Ethan bersamanya.
Mengapa Ethan selalu berhasil melakukan sesuatu atasnya?