
Pukul 5 Pagi Jessica bangun dari tidurnya. Tubuhnya begitu lemah. Ia baru menyadari ia tidak makan malam kemarin dan ia juga sempat hujan-hujanan. Kepalanya juga terasa sakit.
Jessica berusaha berdiri untuk mengambil obat di dalam tasnya. Beruntung kemarin Jessica membawa persediaan obat. Ia melihat wajahnya di depan cermin.
"Apa aku akan demam?", sambil memeriksa suhu tubuh pada keningnya. Suhu tubuhnya hangat namun ia tidak memperdulikan dirinya yang sakit. Ia tetap akan melakukan aktivitasnya sebagai seorang istri. Ia juga mencoba melupakan kejadian semalam. Ia sudah berjanji untuk bertahan walau terasa sangat menyakitkan sekalipun.
Jessica membersihkan rumah kemudian berencana akan belanja terlebih dahulu untuk membeli bahan-bahan makanan. Setelah selesai berbelanja, Jessica menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan di atas meja.
Aroma masakan membangunkan Ethan dari tidurnya. Ia yakin bahwa gadis itu yang sedang memasak. Ia langsung bangun dan membuka handphonenya. Ia menyunggingkan senyum tatkala ia menerima balasan Laurine yang setuju untuk pergi dengannya hari ini.
Ethan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah selesai siap-siap, Ethan keluar menuruni tangga. Ia melihat gadis itu sedang memasak di dapur.
Kemudian gadis itu dengan wajah pucatnya tersenyum menyapanya. Ethan memperhatikan celemek yang digunakan Jessica, celemek yang sering digunakan Laurine setiap berkunjung ke Villa mereka.
"Pagi Kak, apa Kakak akan sarapan sekarang? Aku akan segera menyiapkan makanan , "ucap Jessica dengan senyuman tulus.
"Tidak perlu, aku akan sarapan di luar", dengan nada datar.
"Baiklah Kak."
Jessica kembali melanjutkan masakannya.
Ethan langsung membalikkan badannya. Namun ia menghentikan langkahnya sejenak. Ia berniat minta maaf pada gadis itu.
(Tidak, tidak perlu. Dia juga sepertinya tidak marah padaku)
Ethan langsung menuju pintu keluar. Kali ini ia akan menjemput Laurine menggunakan mobil. Mereka berencana akan jalan-jalan ke tempat wisata yang sering mereka kunjungin.
Semua makanan sudah terhidang di atas meja. Jessica mengambil sendok dan mencoba menu baru yang ia masak.
"Tidak buruk", ucapnya dengan puas.
Menu baru yang Jessica masak adalah makanan kesukaan Ethan. Rossa mengatakan padanya bahwa makanan kesukaan Ethan sejak kecil adalah Nasi Goreng Ayam Asam Manis. Ia berniat memasak menu ini setiap hari.
--
Rambut panjangnya tersapu keras ke wajahnya. Angin yang kencang mampu menggerakkan sweater dan dress yang dikenakannya. Jessica pergi ke pantai. Ia sangat menyukai pantai sejak kecil. Ia dan keluarganya selalu pergi ke pantai saat memiliki waktu senggang. Dulu ia juga sering ke pantai bersama Neneknya. Jessica teringat dengan ucapan Neneknya yang mengatakan bahwa suatu saat nanti Jessica akan pergi ke pantai bersama pria yang dicintainya.
Jessica tersenyum mengingat perkataan Neneknya dulu. Tidak mungkin, pikirnya. Bahkan kemarin ia melihat pria yang dicintainya bersama gadis lain di tempat ini.
Jessica melihat Nenek yang kemarin berbicara kepadanya. Nenek itu sedang menjual bunga mawar putih. Teriknya mata hari membuat Jessica tidak tega membiarkan Nenek itu berjualan sendirian. Jessica menghampiri Nenek itu.
"Nek, bolehkah saya membantu Nenek berjualan?", ucap Jessica dengan senyuman tulus.
"Neng yang kemaren hujan-hujanan kan?"
"Iya Nek."
"Oh tidak perlu Neng. Nanti kulit Neng hitam. Neng tahu sendiri hari ini panas pisan."
"Tidak apa-apa Nek. Saya juga sedang tidak ada kerjaan."
"Apa suami Neng tidak marah?"
"Suami?"
Jessica bingung mengapa Nenek itu tahu bahwa dia sudah memiliki suami.
"Iya, pria yang kemaren mencari neng. Itu suami Neng kan?"
"Iya Nek."
"Kemaren teh, dia mondar mandir nyariin Eneng. Dia sepertinya sangat khawatir. Kelihatan kalo dia mah cinta banget sama Eneng."
Jessica hanya menanggapinya dengan senyuman. Seketika Jessica teringat dengan kejadian kemarin saat Ethan membentaknya.
(Apa benar Kak Ethan khawatir denganku? Tapi mengapa ia membentakku kemarin? Bahkan ia mengatakan aku begitu menyusahkannya)
Dan cinta, jelas-jelas Jessica mendengar sendiri pernyataan cinta Ethan kepada Laurine kemarin.
"Suami saya tidak keberatan sama sekali Nek. Saya bantu ya Nek."
"Baiklah Neng. Neng boleh bantu saya."
--
berjualan."
"Sama-sama Nek."
"Nek jika ada waktu senggang, bolehkah saya membantu Nenek berjualan sampai 5 hari ke depan?"
"Boleh boleh saja Neng. Tapi bukankah Neng dan Suami Neng ke sini untuk liburan? Apa kalian sedang bertengkar?", ungkapnya dengan penasaran.
"Tidak kok Nek. Saya hanya merasa bosan di rumah terus. Saya juga suka merangkai bunga, apalagi bunga mawar putih Nek."
"Baiklah kalau begitu Neng. Pergilah Neng, nanti suamimu menunggu di rumah."
"Baiklah Nek. Oh ya, Jessica tadi sudah meletakkan perlengkapannya di dalam kotak agar Nenek tidak kerepotan mencarinya."
"Baiklah, makasih banyak Neng."
"Sama-sama Nek."
Jessica langsung pergi menuju Villa.
(Dia gadis yang baik, aku yakin dia istri yang baik juga)
Nenek itu menatap kepergian Jessica dengan senyuman.
Sesampainya di Villa, Jessica langsung membersihkan dirinya. Hari sudah hampir malam, Jessica melihat jam di dinding. Ini waktunya memanaskan makanan. Ia ingin menyambut Ethan dengan makanan yang sudah terhidang di atas meja.
--
"Ini sudah jam 8 Malam, apa Kak Ethan akan pulang terlambat?", Jessica menatap makanannya yang sudah terhidang di atas meja.
"Aku akan menunggunya. Kami akan malam bersama."
Sebenarnya ia sudah merasa lapar. Namun ia tetap bersikeras menunggu Ethan.
Jessica merasa mengantuk sekali. Ia membaringkan tubuhnya di sofa sambil menunggu Ethan pulang. Namun rasa kantuknya membuat ia tertidur.
Pukul 11 Malam Ethan kembali ke rumah. Dia melihat gadis itu tidur di sofa.
(Apa dia tertidur saat menonton TV?)
Namun ia melihat TV tidak menyala sama sekali. Kemudian ia menghentikan langkahnya saat melihat banyak makanan terhidang di atas meja. Tiba tiba gadis itu terbangun. Jessica sangat senang melihat kedatangan Ethan. Ia langsung menghampiri Ethan.
"Apa Kakak mau makan? Syukurlah, aku sudah masak makanan kesukaan Kakak.
Ethan masih memandang semua makanan itu dan tidak menjawab pertanyaan Jessica.
"Apa kamu masak semua makanan ini?"
"Iya Kak."
"Mulai besok kamu tidak perlu memasak apapun untukku. Percuma, karna aku akan tetap makan di luar. Baik sarapan pagi, makan siang ataupun makan malam", ungkapnya dengan nada datar.
Ethan melihat sekilas ke arah Jessica dan kemudian langsung menaiki tangga.
Jessica masih diam di tempatnya. Dia mengingat usahanya tadi pagi. Ia begitu semangat masak makanan kesukaan Ethan agar dapat menyenangkan suaminya itu. Bahkan ia menahan lapar agar dapat makan malam bersama Ethan. Namun Ethan sama sekali tidak menyentuh makanannya.
Jessica menghapus air matanya.
"Kamu sudah berjanji Jess", ungkap Jessica menyemangati dirinya sendiri.
Ia kemudian menuju meja makan dan menyendokkan makanan ke dalam piringnya.
"Makan sendiri sepertinya menyenangkan. Aku juga bisa makan sepuasnya tanpa dilihat orang lain", ungkap Jessica menyembunyikan kesedihannya.
Jessica sudah selesai makan. Perutnya sudah sangat kenyang, namun makanan masih banyak tersisa. Jessica terpaksa membuang semua makanan itu.
"Maafkan aku Tuhan. Aku janji, lain kali aku tidak akan membuang-buang makanan lagi", ungkapnya dengan perasaan bersalah.
"Aku akan tetap masak untukmu Kak. Paling tidak berilah kesempatan kepadaku untuk berusaha lagi", ungkap Jessica saat memikirkan ucapan Ethan tadi.