
Jason dan Jessica sedang berjalan di sekitar pantai.
Tanpa beralaskan sepatu, mereka tampak senang menghirup udara segar pantai.
"Pantai Indonesia tidak kalah indah dengan Pantai di Amerika."
Jessica tersenyum menanggapi penuturan Jason.
"Apa kamu sudah pernah datang ke sini?" tanya Jason.
"Sudah Kak, aku sudah pernah datang ke sini sekali."
Jason kemudian mendekati Jessica dan berdiri di hadapannya.
"Apa kamu menikmati hidupmu di sini?"
Jessica mengangguk dan tersenyum tipis pada Jason.
"Raut wajahmu menunjukkan sebaliknya Jess.
Jika kamu tidak bahagia di sini, aku harus membawamu kembali ke Amerika."
"Tidak Kak, aku bahagia di sini." ucap Jessica.
Jason memegang pundak Jessica dan memandang wajah Jessica.
"Aku begitu merindukanmu Jess..."
ucap Jason lalu memeluk tubuh Jessica dengan erat.
Jessica membalas pelukan Jason.
Beberapa saat kemudian, mereka melepaskan pelukan.
"Perasaanku padamu masih sama. Aku akan selalu mencintaimu Jess.." ucap Jason dengan nada kesungguhan.
Jessica meneteskan air matanya.
Jika ia bisa merubah perasaannya, ia akan mencintai Pria ini. Tapi ia tetap tidak bisa, Hatinya masih untuk Ethan. Walaupun pria itu selalu menyakitinya, ia tidak bisa berhenti mencintai Ethan. Ia sangat mencintai pria itu baik dulu maupun sekarang.
Bukannya tidak pernah mencoba untuk melupakan pria itu, ia bahkan pernah pergi ke Amerika untuk melupakan Ethan.
Sampai sekarang ia tidak bisa..
"Kembalilah ke Amerika bersamaku, hem?"
Jessica diam tidak menjawab perkataan Jason.
(Aku mohon jangan berbohong padaku lagi Jess. Aku mohon.)
"Aku masih ingin tinggal di sini Kak, aku masih merindukan Indonesia."
Ya, iya tahu ia akan kembali ke Amerika saat ia berpisah dengan Ethan nanti. Tapi tidak sekarang. Ia masih harus melakukan sesuatu di sini.
Jason tersenyum pada Jessica.
Jason sudah menduga bahwa Jessica akan menolak ajakannya kembali ke Amerika.
"Baiklah, aku akan menunggumu sampai kamu mau kembali denganku."
--
Ethan langsung menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Malam ini ia akan menjemput Jessica dari apartemen There.
Ethan melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 7 Malam.
Ethan tersenyum kemudian mengambil jasnya dan keluar dari kantor.
Jason mengantar Jessica kembali ke apartemen There.
"Terima kasih banyak Kak." ucap Jessica pada Jason.
"Aku yang harusnya berterimakasih padamu Jess. Kamu sudah menemaniku mengenal sebagian daerah Indonesia."
"Baiklah Kak.
Kakak hati-hati di jalan ya.."
Jason menganggukkan kepalanya dengan lembut pada Jessica.
Jessica kemudian keluar dari mobil.
Jessica melambaikan tangannya dan tersenyum pada Jason.
Jason membalas senyuman Jessica.
Jessica kemudian membalikkan badannnya.
Jason masih menatap punggung Jessica. Ia kemudian membuka pintu mobilnya dan melangkahkan kakinya dengan cepat menuju Jessica.
Jessica berhenti saat ada orang yang memeluknya dari belakang.
Dari bau parfumnya, Jessica tahu bahwa yang memeluknya adalah Jason.
Jessica membalikkan badannya dengan perlahan. Saat ini ia sedang berhadapan dengan Jason.
Mereka saling bertatapan.
Jason kemudian memajukan wajahnya dan mencium kening Jessica dengan lembut.
Jessica menutup matanya.
Jason melepas ciumannya dan kembali memeluk Jessica.
Jason mengelus kepala Jessica dengan lembut sambil tersenyum.
Kemudian Jason melepas pelukannya dan menatap wajah Jessica
"Masuklah, kamu harus segera masuk. Aku takut aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri."
Jessica menganggukkan kepalanya dan segera pergi dari sana.
Ethan memukul setir mobilnya dengan keras. Hatinya begitu marah saat melihat Jason mencium Jessica. Ingin keluar dan memukul Jason, namun ia tidak bisa, mengingat Jason adalah klien pentingnya.
Ethan melajukan mobilnya dengan cepat. Untuk kedua kalinya, ia pergi ke bar.
Ethan masuk ke dalam bar. Dan menghampiri Mark, seorang batender sekaligus teman Ethan.
"Berikan aku satu botol Mark."
ucap Ethan pada Mark.
Mark datang sambil membawa satu botol wine.
"Ini kedua kalinya kau datang ke sini. Apa Laurine tidak akan marah jika ia tahu kau datang ke sini?"
Ethan menatap Mark sebentar lalu menuangkan wine ke dalam gelas.
Ia menghabiskan satu gelas dalam satu kali tegukan.
"Apa dengan alasan yang sama maksud kedatanganmu kemari?"
Ethan tidak menjawab pertanyaan Mark. Ia meneguk wine kembali.
Ethan memandangi gelas yang ada di tangannya.
"Saat ini aku bingung dengan perasaanku Mark. Gadis itu berhasil mengubah hidupku."
"Aku merasakan hal yang baru karenanya.
Aku selalu marah bahkan emosi setiap kali ia bersama pria lain, hal yang tidak pernah aku rasakan saat melihat Laurine bersama pria lain.
Aku mencoba meyakinkan diriku bahwa aku tidak terpengaruh dengan hal itu karena aku hanya mencintai Laurine.
Tapi aku tetap tidak bisa mengontrol diriku sendiri."
Mark menghampiri Ethan dan duduk di sampingnya.
"Kau sudah mencintainya. Kau cemburu berarti gadis itu memiliki tempat di hatimu."
"Yang harus kau lakukan sekarang adalah menentukan siapa yang akan kau pilih antara Laurine atau dia.
Kau tidak boleh menyakiti keduanya. Kau harus memutuskan. Jika kau pilih Laurine, ada baiknya kau melepas gadis itu. Dia berhak bahagia bersama pria lain."
Ethan memegang gelas yang di tangannya dengan erat.
"Tidak, aku tidak akan melepasnya." ucap Ethan dan langsung meninggalkan tempat itu.
Mark tersenyum melihat Ethan. Ia bisa melihat bahwa Ethan sudah mencintai Istrinya.
Ethan melajukan mobilnya menuju Apartemen There.
Jessica belum tidur juga. Ia masih memikirkan hal tadi.
Jason menciumnya karena pria itu tidak tahu ia sudah menikah.
Ia harus memberitahu Jason secepatnya. Bagaimanapun ia masih berstatus sebagai Istri Ethan, ia takut hal seperti tadi terulang lagi.
Ethan sudah sampai di Apartemen There.
Ia menekan Bel apartemen.
"Jess..." panggil Ethan.
Jessica mendengar suara bel apartemen. Ia melihat jam yang menunjukkan pukul 12 Malam.
"Siapa yang berkunjung jam segini?"
Jessica melihat ke arah sampingnya. There sudah tidur. Ia ingin membangunkan There, namun ia tidak tega melakukannya.
Jessica kemudian turun dari tempat tidur dan keluar dari kamar.
Ia mendengar suara ketukan dari luar.
"Jessica buka pintunya", ucap Ethan lagi.
Suara itu..., pikir Jessica
Awalnya Jessica takut membuka pintu, namun ia memutuskan untuk membukanya.
Jessica begitu terkejut melihat Ethan berdiri di depan itu.
"Kak Ethan.."
Ethan menatap wajah Jessica. Sekilas ia teringat dengan kejadian saat Jason mencium Jessica. Amarahnya muncul kembali.
Ethan menarik tangan Jessica dengan kasar.
"Kak Ethan..." ucap Jessica.
Jessica berusaha mengimbangi jalan Ethan.
Ia pikir Ethan pasti marah karena pergi tanpa memberitahunya.
Ethan memasukkan Jessica ke dalam mobil.
Ethan melajukan mobilnya dengan tangan kirinya yang memegang tangan Jessica.
"Kak aku mohon jangan mengebut" ucap Jessica dengan nada memohon.
Ethan melajukan mobilnya dengan sangat cepat. Rasa cemburunya membuatnya tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.
Beberapa saat kemudian, mereka sampai di rumah. Ethan keluar dari mobil dan membuka pintu mobil dari sisi Jessica.
Ethan menarik tangan Jessica lagi.
Jessica begitu terkejut saat Ethan membawanya ke kamar pria itu.
"Kak, mengapa Kakak membawaku ke sini?" tanya Jessica.
Jessica kemudian melangkahkan kakinya ke luar dari kamar Ethan.
Ethan menarik tangan Jessica dan menyudutkannya ke dinding.
"Kak..." ucap Jessica.
Ingatan itu muncul kembali di pikiran Ethan.
Hal yang tak terduga Ethan menarik tengkuk Jessica dan mencium bibirnya.
Awalnya Ethan hanya menempelkan bibirnya pada bibir Jessica. Namun ciuman itu berubah menjadi lumatan.
Ethan menarik tubuh Jessica lebih dekat. Ia mencecapi bibir Jessica dengan lembut.
Jessica masih terdiam di tempatnya. Saat ini ia tidak tahu harus menolak atau tidak.
Lama berciuman, Ethan melepaskan bibirnya dari bibir Jessica.
Ethan dan Jessica saling menempelkan kening mereka.
Tangan Ethan menyentuh wajah Jessica dengan lembut.
Jessica menatap wajah Ethan.
"Aku mohon jangan menjauh lagi dariku." ucap Ethan dengan nada memohon.
"Aku tidak bisa berjauhan darimu. Tetaplah di sampingku."
Jessica tidak menyangka Ethan akan berkata seperti itu.
Jessica kemudian menjauhkan dirinya dari Ethan.
"Kak.. Aku tidak bisa...
Kakak mencintai Laurine, tolong jangan lakukan ini padaku." ucap Jessica dengan nada lirih.
"Jalani pernikahan ini sebagaimana awalnya."
Jessica membalikkan badannya.
"Bagaimana jika hatiku tidak lagi untuk Laurine?"
Jessica menghentikan langkahnya.
Ethan mendekati tubuh Jessica dan memeluknya dari belakang.
"Kamu sangat mempengaruhiku akhir-akhir ini. Kamu membuatku melupakan segalanya, termasuk Laurine.
Aku pikir, kita harus memulai pernikahan kita dari awal."
Jessica sama sekali belum mengerti maksud dari perkataan Ethan.
Ethan memintanya untuk tetap di sampingnya?