
Jessica terbangun dari tidurnya.
Ia begitu terkejut melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 10 Pagi.
Ia bangun kesiangan hari ini.
Mungkin karena semalam ia tidak bisa tidur.
Yang ia lakukan adalah menangis sepanjang malam.
Hingga akhirnya ia bisa tidur pukul 5 Pagi.
Jessica menatap wajahnya di depan cermin.
Kondisinya sangat kacau.
Mata yang sembab, dan wajah yang tampak lelah karena menangis semalaman.
Jessica kemudian membuka pintu kamar.
Ia menatap sekelilingnya, tidak ada seorangpun di sana.
Tumben, biasanya ia melihat Ethan di sana.
Jessica teringat dengan kejadian semalam.
Mungkin kali ini Ethan sudah menyerah padanya.
Apa Ethan benar-benar sudah menyerah?
Jessica pergi keluar rumah.
Ethan benar-benar tidak ada di sana.
Entah mengapa, Jessica sangat sedih menerima kenyataan bahwa Ethan benar-benar menyerah sekarang.
Tiba-tiba Samuel berlari menghampirinya dan Ibu Riana menyusul di belakangnya.
"Kak Jess, apa Kakak tahu Kak Ethan sudah kembali ke Jakarta?"
Jessica begitu terkejut mendengar pertanyaan Samuel.
"Apa maksudmu Sam?"
"Tadi Pagi, Kak Ethan berpamitan pada Ibu dan aku Kak.
Aku kira Kak Ethan akan membawa Kakak kembali ke Jakarta.Tapi Kak Ethan mengatakan bahwa ia pergi sendiri Kak.
Dan sepertinya Kak Ethan menggunakan kapal yang dibawa temannya dari Jakarta Kak. Soalnya, Kak Ethan sempat meminjam handphone Ibu untuk menelpon seseorang."
Jessica meneteskan air matanya.
Ethan sudah pergi meninggalkannya.
Tapi, mengapa ia harus sedih?
Bukankah ini yang ia mau?
Dia yang memutuskan untuk berpisah dengan Ethan.
Riana menghampiri Jessica yang mencoba menyembunyikan kesedihannya.
"Jess, Ibu tahu kamu masih mencintai Tuan Ethan. Kamu tidak perlu menyembunyikannya"
Jessica menatap Ibu Riana yang memegang tangannya.
"Dengar Jess, kamu dan Tuan Ethan masih memiliki kesempatan untuk memulai awal yang baru. Ibu bisa melihat bahwa Tuan Ethan ingin meraih kesempatan itu. Namun sisanya berada padamu Jess. Kamu harus meraih kesempatan itu juga.
Kamu mencintai Tuan Ethan. Kamu tidak boleh membiarkannya melepaskanmu.
Masih ada waktu Jess. Ibu yakin Tuan Ethan masih berada di pelabuhan, dia pasti menunggumu di sana.
Kejarlah dia, katakan bahwa kamu masih mencintainya.
"Iya Kak, Kak Ethan benar-benar mencintai Kakak. Bahkan pada saat bertemu di pelabuhan, Kak Ethan pernah mengatakan padaku bahwa ia sangat mencintai Istrinya. Dan Itu adalah Kakak."
"Ethan sudah berjuang sejauh ini Jess."
Jessica kemudian tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Jessica akan menyusul Kak Ethan Bu."
Riana dan Sam tersenyum mendengar penuturan Jessica.
"Baiklah, pergilah Jess."
Jessica langsung keluar dari rumah dan pergi menuju pelabuhan.
Jessica berlari secepatnya.
Ia takut, Ethan sudah berangkat menggunakan kapal.
(Tunggu aku Kak)
Jessica membayangkan pernyataan Ethan kemarin yang mengatakan bahwa ia sangat mencintainya.
Ia juga teringat dengan apa yang dilakukan Ethan selama ini. Bentuk-bentuk perhatian dan pengorbanan yang dilakukan Ethan hanya untuk menunjukkan bahwa Pria itu sangat mencintainya.
Jessica sudah sampai di pelabuhan.
Tidak ada seorangpun di sana.
Apa Ethan sudah pergi?
Hati Jessica mencelos, namun ia sama sekali belum menyerah untuk mencari keberadaan Ethan.
Ia segera menghampiri petugas yang berada di loket pelabuhan.
"Permisi Pak, apa Bapak melihat ada kapal yang berangkat Pagi ini?"
"Ada Bu, saya tadi melihat ada kapal yang datang, dan kemudian berangkat lagi.
Kira-kita kapal itu berangkat setengah jam yang lalu.
Jessica merasa sangat kecewa mendengar penuturan Bapak itu.
Jessica langsung pergi dari sana.
Ia kemudian duduk di bangku yang berada di depan pelabuhan.
Jessica menutup wajahnya yang mulai dibanjiri oleh air mata.
Ia menyesal karena telah mengatakan pada Ethan bahwa ia sudah tidak mencintai Pria itu lagi.
Pasti itu alasan terbesar mengapa Ethan pergi meninggalkannya.
Ethan pasti mengira bahwa ia tidak mencintainya lagi.
Jessica semakin mengeluarkan air matanya untuk meluapkan perasaan kehilangannya.
Tiba-tiba ada sebuah tepukan di pundaknya.
Jessica tidak menghiraukannya. Orang itu pasti Bapak tadi yang ingin menanyakan kondisinya.
Namun tangan itu semakin menyentuhnya.
Jessica akhirnya menaikkan wajahnya.
Dan ia begitu terkejut melihat sosok yang berada di depannya.
Ethan...
Ethan sedang berdiri di hadapannya.
Seketika Jessica berdiri di hadapan Pria itu.
Ia menatap sosok itu sejenak, untuk membuktikan bahwa ia sedang tidak berhalusinasi saat ini.
Setelah yakin bahwa Pria itu benar-benar Ethan, Jessica langsung memeluk tubuh Ethan dengan erat.
Jessica menangis di pelukan Ethan.
Ethan mengelus punggung Jessica dengan lembut.
Jessica kemudian melepaskan pelukannya.
Ia menatap wajah Ethan dan kemudian meletakkan tangannya pada pipi Ethan.
"Kakak masih berada di sini? Bukankah Bapak itu tadi mengatakan bahwa kapal Kakak sudah berangkat sejak setengah jam yang lalu?"
"Kapalku memang berangkat, namun aku tidak ikut masuk kesana Jess. Karena aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Dan aku tidak akan pernah menyerah walaupun kamu mengatakan bahwa kamu tidak mencintaiku lagi Jess.
Jikalaupun itu benar, seumur hidup aku akan selalu menunggumu sampai kamu kembali mencintaiku.
Karena aku tahu, bahwa kamu ditakdirkan untuk bersamaku selamanya."
"Aku mencintaimu Kak.
Aku berbohong kemarin."
Ethan tersenyum mendengar pernyataan Jessica.
"Aku tahu itu Sayang.
Saat itu, kamu tidak bisa mengucapkannya saat menatap mataku. Itu artinya, kamu terpaksa mengatakannya."
"Kalau begitu, maukah kamu mengatakannya sekali lagi Jess?"
Jessica tersenyum pada Ethan.
"Aku sangat mencintaimu Kak.
"Aku juga sangat mencintaimu Sayang."
Ethan mengecup bibir Jessica dan kemudian membawa Jessica ke dalam pelukannya.
Ethan lalu mengeluarkan cincin dari kemejanya dan mengambil tangan kiri Jessica.
Ia menatap Jessica untuk meminta persetujuan Gadis itu.
Jessica tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Ia setuju untuk memulai awal yang baru bersama Ethan.
Ethan kemudian memasangkan cincin itu ke jari manis Jessica.
Setelah cincin itu terpasang, Ethan mencium tangan Jessica dengan lembut.
"Terima kasih Sayang. Terima kasih karena telah memberikan kesempatan padaku.
Aku berjanji akan selalu membahagiakanmu, dan aku tidak akan pernah menyakitimu lagi."
Jessica meneteskan air matanya.
Ethan lalu menghapus air mata Jessica dan mencium kening Istrinya itu.
Mata Ethan kemudian beralih pada bibir Jessica.
Ia menarik Jessica lebih dekat padanya dan memajukan wajahnya perlahan.
Bibir Ethan akhirnya dapat menyentuh bibir Jessica.
Ethan mulai menikmati rasa yang sudah lama ia rasakan selama ini.
Ia semakin ******* bibir Jessica untuk meluapkan kerinduannya pada Jessica.
Jessica juga begitu menikmati ciuman Ethan.
Perlahan ia mengalungkan kedua tangannya pada leher Ethan.
Untung sudah tidak ada seorangpun berada di sana. Jadi tidak ada yang melihat kemesraan mereka.
Ethan memang sudah merencanakan hal ini dari semalam, termasuk bekerja sama dengan Sam, Ibu Riana dan Bapak yang berada di loket tadi.
Kemarin, ia begitu optimis jika rencananya kali ini berhasil karena ia tahu bahwa sebenarnya Jessica sama sekali tidak ingin berpisah darinya.
Dan lihat, rencananya memang benar-benar berhasil.