
Jessica masuk ke dalam ruangan Ethan.
Ia tersenyum geli melihat Ethan yang memasang wajah cemberutnya. Itu karna ia meninggalkan pria itu saat bertemu dengan There tadi.
Jessica mendekati Ethan yang sedang mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Maafkan aku karna telah membuat Kakak menunggu terlalu lama." ucap Jessica dengan nada memelas.
Ethan menatap wajah Jessica.
Satu ide terlintas di pikirannnya.
"Aku akan memaafkanmu jika kamu melakukan ini." Ethan menunjuk pipinya dengan jari tangannya.
Jessica mengerti maksud Ethan. Ia kemudian memajukan wajahnya perlahan dan mencium pipi Ethan.
Ethan tersenyum puas saat Jessica menciumnya.
Ia menatap wajah Jessica, "Lain kali jika kamu melakukannya lagi, kamu harus melakukannya di sini."
Ethan menunjuk ke bibirnya.
"Baiklah Kak." Jessica tersenyum pada Ethan.
"Oh ya, ayo kita makan. Perutku sangat kelaparan Jess."
"Baiklah Kak."
Jessica mengambil bekal makan siang mereka dan mempersiapkan makanan di atas meja.
Jessica menyendokkan makanan untuk Ethan dan kemudian untuknya.
Sebelum makan, mereka berdoa bersama.
Ethan tampak menikmati masakan Jessica.
Pria itu makan dengan sangat lahap.
Setelah selesai makan, mereka bekerja bersama di dalam ruangan Ethan. Sesekali mereka tertawa bersama.
Ethan mengelus kepala Jessica dengan lembut.
"Apa kamu ngantuk? Kamu bisa istirahat di sana." Ethan mengarahkan pandangannya pada sofa besar yang terdapat di dalam ruangannya
Jessica menggelengkan kepalanya.
"Tidak Kak. Aku tidak mengantuk."
Ethan tersenyum pada Jessica.
"Baiklah."
Sementara di Rumah Sakit, Laurine sedang berada di ruangan Chris.
"Apa Nona yakin akan pergi ke sana? Kondisi anda baru saja pulih."
Entah mengapa Chris sangat mengkhawatirkan kondisi gadis itu.
"Saya yakin Dok.
Oh ya, bagaimana kalau aku memanggil anda dengan sebutan "Kak Chris?"
Chris menatap Laurine dengan wajah heran.
"Maksudku, terlalu formal jika aku memanggil Kakak dengan sebutan "Dokter".
Usia anda juga hampir seumuran denganku.
Bagaimana?"
Chris tersenyum pada Laurine.
"Baiklah. Nona boleh memanggil saya dengan sebutan itu."
Laurine memasang wajah cemberut.
"Kakak juga tidak boleh memanggilku dengan sebutan "Laurine atau anda"
Panggil saja aku "Laurine."
Okey?"
Chris tersenyum lagi pada Laurine. Gadis itu sangat lucu rupanya.
"Baiklah, Laurine."
Laurine tersenyum mendengar penuturan Chris.
Laurine sudah sampai di depan kantor Ethan. Ia membayar taksi dan kemudian masuk ke dalam kantor itu.
Ia melangkahkan kakinya menuju ruangan Ethan.
Laurine bertanya-tanya dimana Sarah, gadis itu biasanya selalu menyambutnya setiap kali ingin bertemu dengan Ethan.
Laurine pikir, Sarah pasti sedang berada di dalam ruangan Ethan.
Ia memutuskan duduk di sofa, menunggu Sarah keluar dari ruangan Ethan.
Beberapa menit kemudian.
Laurine berdiri, ia bingung mengapa Sarah belum keluar juga dari ruangan Ethan.
Padahal ia sudah menunggu selama 30 menit.
Samar-samar ia mendengar suara orang tertawa dari sana.
(Apa itu suara tertawa Kak Ethan bersama Sarah?)
Perlahan Laurine merasakan panik. Ia mulai berpikiran yang aneh-aneh tentang mereka berdua.
Tiba-tiba pintu itu terbuka.
Tampak seorang Pria dan seorang Gadis keluar dari sana.
Hal yang membuat Laurine lebih terkejut lagi adalah saat melihat gadis yang ternyata bukan Sarah, melainkan Jessica.
Dua sosok itu juga terkejut melihat Laurine berada di depan pintu ruangan Ethan.
"Laurine.." ucap Ethan dengan memasang wajah heran.
"Kak.."
Laurine masih menatap wajah Jessica.
Ethan menyadari hal itu. Laurine pasti bingung dengan kehadiran Jessica di ruangannya.
"Jessica adalah Sekretaris baruku." ucap Ethan.
Laurine mengalihkan pandangannya pada Ethan. Ia tersenyum tipis.
Laurine sebenarnya ingin bertanya pada Ethan, apa yang mereka lakukan di sana. Namun ia mengurungkan niatnya. Ia tidak mau Ethan berpikir bahwa ia mencurigai Ethan.
Jessica tersenyum pada Laurine.
"Terima kasih."
"Oh ya, apa Kakak sudah makan siang?
Sebenarnya aku datang ke sini untuk mengajak Kakak makan bersama."
"Aku sudah makan siang tadi Lau.
Maaf ya."
"Tidak apa-apa Kak.
Bagaimana kalau kita jalan-jalan saja?"
"Hem, sepertinya aku sangat sibuk hari ini Lau. Besok akan diadakan rapat besar bersama Pemegang Saham.
Aku dan Jessica akan pergi ke Kafe untuk melanjutkan pekerjaan kami."
"Baiklah Kak.
Aku akan ikut dengan kalian. Bolehkan?"
Jessica dan Ethan saling bertatapan.
Jessica menganggukkan wajahnya dengan pelan pada Ethan sebagai tanda bahwa ia setuju Laurine ikut dengan mereka.
"Baiklah."
Laurine tersenyum senang.
--
Mereka bertiga sudah berada di Kafe.
Jessica dan Ethan tampak sibuk bekerja sampai sampai tidak menghiraukan Laurine yang juga berada di sana.
Mereka asyik mengobrol bersama.
Rasa sedih menyeruak di hati Laurine melihat Ethan tidak memperdulikannya dari tadi. Pria itu sangat sibuk dengan pekerjaannya.
Tangan Ethan yang berada di bawah meja tiba-tiba menggenggam tangan Jessica yang juga berada di bawah meja.
Hal itu membuat Jessica sedikit terkejut. Namun kemudian ia tersenyum pada Ethan.
Mereka saling bertatapan sambil tersenyum seakan tidak peduli dengan keberadaan Laurine di sana.
"Aku akan mengantarmu kembali ke rumah sakit. Tidak baik jika kamu berpergian. Kamu baru saja pulih Lau."
Laurine tersenyum tipis pada Ethan
"Baiklah Kak."
Sesampainya di rumah sakit, Ethan dan Jessica mengantar Laurine ke ruangannya.
Mereka bertemu dengan Chris di sana.
"Dokter Chris."
ucap Ethan dengan tersenyum.
"Saya mohon jaga Laurine selama di rumah sakit. Akhir-akhir ini saya sibuk di kantor. Kemungkinan saya tidak sering menjenguk Laurine.
Laurine bingung dengan pernyataan Ethan.
Pria itu seakan-akan berubah. Sosok yang dulu sangat peduli dengan kondisinya, dan sekarang malah sebaliknya. Pria itu bahkan lebih memilih pekerjaan kantor dibanding dirinya.
"Baiklah, saya akan menjaga Laurine selama di rumah sakit."
"Terima kasih banyak Dokter Chris." ucap Etham pada Chris.
"Baiklah, kami pergi dulu. Kami akan kembali ke kantor.
Jaga dirimu Lau."
Ethan dan Jessica langsung pergi dari tempat itu. Namun tangan Laurine menghentikan langkah Ethan.
"Kak.." ucap Laurine.
Ethan membalingkan badannya
"Kakak akan mengunjungiku lagi kan?"
Ethan tersenyum pada Laurine kamudian menganggukkan kepalanya.
"Iya, Kakak akan mengunjungimu."
Laurine tersenyum mendengar penuturan Ethan. Ia kemudian melepaskan tangannya pada lengan Ethan.
Ethan dan Jessica kemudian meninggalkan mereka berdua di sana.
Laurine masih menatap punggung Ethan yang semakin lama semakin jauh.
Chris bisa melihat kesedihan di wajah Laurine. Ia tahu pasti sulit bagi gadis itu saat ini karena Laurine lupa bahwa Ethan sudah menikah dengan gadis lain.
"Mari Laurine, aku akan mengantarmu ke ruanganmu.
Laurine mangalihkan pandangannya pada Chris. Ia kemudian masuk ke dalam ruangannya.
Sesampainya di lobi rumah sakit, Ethan menggenggam tangan Jessica.
Jessica tersenyum pada Ethan. Ia kemudian membalas genggaman pria itu.
Mereka masuk ke dalam mobil.
Ethan memasangkan seatbelt pada Jessica.
Ia kemudian mendekatkan dirinya pada Jessica.
"Kamu sangat cantik saat tersenyum.
Senyum itu hanya milikku, hem?"
Jessica tersenyum geli pada Ethan.
"Maksud Kakak, aku tidak boleh tersenyum pada orang lain?"
"Boleh, hanya saja kamu harus tersenyum tipis saja pada orang lain."
"Baiklah Kak." ucap Jessica sambil memasang senyum manisnya.
Hal itu membuat Ethan gemas pada Jessica, ia kemudian mengecup bibir Jessica sekilas.
Mereka bertatapan sejenak.
Ethan kembali mengecup bibir Jessica. Kali ini dalam waktu yang cukup lama.
Ethan dan Jessica menikmati kemesraan mereka di dalam mobil.