Love You Too Much

Love You Too Much
Berbuah Manis



There kembali memandangi handphonenya.


Hatinya menciut tatkala menyadari bahwa Pria itu sama sekali belum menghubunginya atau mengirim pesan padanya sejak hari dimana Jason mengantarnya pulang.


Itupun di hari Acara Jessica dan Ethan.


Bisa dihitung berapa banyak hari yang ia telah lewatkan hanya untuk menunggu pesan dari Jason.


There teringat dengan perkataan Jessica saat itu, yang mengatakan bahwa Jason juga memiliki perasaan padanya.


Saat itu, ia mulai berpikir ada kemungkinan hal itu memang benar.


Mulai ada harapan di hatinya.


Namun, akhir-akhir ini There mulai menepis hal itu. Bahkan harapannya semakin lama semakin hilang.


Jika Jason memang mencintainya, mengapa Pria itu tidak pernah memberikan kabar padanya walau hanya sekedar mengirim pesan?


Ia merasa menjadi korban sekaligus pelaku atas harapannya sendiri.


Ini sama sekali bukan kesalahan Jason.


There menarik napas panjang.


"Apa kamu tidak apa-apa?" tanya Sania pada There.


There menaikkan wajahnya.


"Aku tidak apa-apa San."


"Apa kamu yakin? Akhir-akhir ini aku sering melihatmu murung dan wajahmu hari ini juga terlihat pucat. Apa ada terjadi sesuatu padamu? Kamu bisa cerita padaku Re."


"Tidak, aku baik-baik saja


Oh ya, aku mau ke toilet dulu, aku permisi."


Sania menganggukkan kepalanya.


There memandang wajahnya di depan cermin toilet. Wajahnya memang terlihat pucat.


There kemudian mencuci wajahnya.


Setelah kembali memoles wajahnya, There keluar dari kamar mandi dan pergi menuju lift.


There menundukkan wajahnya menunggu lift terbuka.


Lift terbuka.


There melangkahkan kakinya ke depan.


Namun saat melangkahkan kakinya ke depan, There terkejut melihat sosok di depannya


Sosok yang menjadi alasan kegelisahannya selama ini.


Jason memandang There yang berada di depannya.


"Kau bisa pergi duluan Lukas."


ucap Jason pada orang kepercayaannya.


Jason kembali menatap There.


"Aku tadi ingin menghampirimu ke ruanganmu Clare. Kebetulan aku bertemu denganmu di sini."


"Apa Kakak ingin mengatakan sesuatu padaku? Kakak harusnya mengirimkan pesan saja padaku."


"Kebetulan aku ada pertemuan dengan Ethan di sini. Jadi aku pikir lebih baik menemuimu secara langsung."


"Boleh kita bicara sebentar?"


There diam sejenak dan kemudian menganggukkan kepalanya.


Jason dan There duduk berhadapan di kursi yang berada di dalam kafe.


Dari tadi, There hanya menundukkan wajahnya.


"Clare, aku ingin mengajakmu pergi bersamaku besok ke acara pertemuan bisnis perusahaan."


There menaikkan wajahnya.


Ia tidak mengerti apa maksud perkataan Jason barusan.


Mengapa Jason tiba-tiba memintanya untuk pergi bersamanya?


Padahal tadi There berniat untuk melepaskan seluruh harapannya pada Jason termasuk melupakannya.


"Bolehkan Clare?" tanya Jason pada There yang belum menanggapi ajakannya.


There mengeratkan tangannya.


Apa yang harus ia lakukan saat ini?


Ia ingin menolak ajakan Jason, namun hatinya tidak bisa.


Pikiran dan hatinya sangat tidak sejalan.


"Aku rasa kamu adalah Gadis yang paling tepat untuk menemaniku ke acara itu."


Jason memegang tangan There dan tersenyum padanya.


"Kamu mau kan Clare?


pease, pergilah bersamaku Clare, hem?"


There akhirnya menganggukkan kepalanya.


Saat ini ia tidak memiliki cara untuk menolak ajakan Jason.


"Besok aku akan menjemputmu pukul 7 Malam."


"Baiklah Kak."


Jason masuk ke dalam mobilnya. Ia tersenyum mengingat tadi There menerima ajakannya.


Akhir-akhir ini ia memang sibuk dengan pekerjaan kantor yang menumpuk sehingga ia tidak sempat untuk memberikan kabar pada There.


Dan sebenarnya ini adalah salah satu caranya untuk meminta maaf pada Gadis itu.


Besok ia akan meminta maaf secara langsung pada There.


Dan ada alasan utama mengapa ia mengajak There bertemu dengan rekan-rekan bisnisnya besok.


Jason tersenyum lagi.


Ia tidak menyangka bahwa ia akan melakukan hal itu lagi pada Gadis lain setelah Jessica.


--


Keesokan harinya, There duduk di tepi ranjangnya.


Malam ini ia akan pergi bersama dengan Jason.


Apa yang akan dilakukannya di sana?


Mengingat bahwa ia akan bertemu dengan rekan-rekan bisnis Jason.


Tidak ada seorangpun yang ia kenal pastinya.


"Apa aku harus memberitahu Jessica soal ini?


Tidak, tidak. Aku tidak mungkin membebani Jessica soal ini. Dia juga sedang hamil."


There kemudian membuka lemarinya.


Baju apa yang akan dipakainya untuk acara malam ini?


"Ah, iya..."


There baru mengingat bahwa Jessica pernah memberikan gaun saat ulang tahunnya tahun lalu.


There menatap gaun merah muda yang berada di tangannya.


There senyum mengembang.


Ia akan memakai gaun itu untuk pertama kalinya.


There memoles wajahnya dengan riasan yang natural.


Ia menyukai riasan yang natural namun meninggalkan kesan yang elegan.


Karena baginya, riasan yang tebal dapat menghilangkan kecantikan alaminya.


There memiliki prinsip yang sama dengan Jessica. Bahkan soal berdandan, mereka saling belajar satu sama lain.


Sedikit lagi, semua riasan akan menempel sempurna di wajah cantik There.


"Selesai.." ucap There dengan senyuman mengembang.


There kemudian berdiri.


Ia melihat penampilannya yang sudah cukup memuaskan.


Rambutnya sudah tergulung sempurna. Gaun yang ia gunakan juga melekat pas di tubuhnya. Walaupun sedikit terbuka di bagian punggung, namun gaun itu masih tergolong sopan.


There kemudian memakai sepatu yang memiliki warna senada dengan gaunnya.


Setelah itu, There mengambil Minaudiere bag bewarna mas miliknya.


There memandang penampilannya lagi.


"Sempurna.." ucapnya.


There tersenyum mengembang.


Tiba-tiba suara bel apartemennya terdengar.


"Apa itu Kak Jason?"


There melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 18.30.


Bukankah ini terlalu cepat?, pikirnya.


There kemudian membuka pintu apartememnya.


Dan benar dugaannya, Jason sedang berdiri di hadapannya sekarang.


Untung saja ia sudah selesai siap-siap.


Jason terpesona dengan penampilan There.


There cantik, begitu cantik.


Jason tidak bisa mengalihkan pandangannya ke arah lain. Pandangannya hanya tertuju pada sosok indah yang berada di hadapannya.


Bahkan bibirnya seakan keluh untuk mengatakan sesuatu.


"Kak..." ucap There.


Panggilan There membuat Jason akhirnya tersadar.


"Oh, iya Clare.


Apa aku datang terlalu cepat?"


There tersenyum pada Jason.


Lagi-lagi senyum itu semakin menambah kecantikan There.


Jason kembali terpesona.


"Tidak Kak.


Lagian aku sudah selesai berdandan."


"Oh benarkah?


Jadi, apa kita bisa berangkat sekarang Clare?"


There menganggukkan kepalanya.


Mereka berdua masuk ke dalam mobil Jason.


Jason menghidupkan mobilnya dan kemudian melajukannya.


Selama perjalanan, Jason sesekali melihat ke arah There.


Entah mengapa, ia tidak bosan melihat wajah There yang sedang menatap lurus ke depan.


Tanpa disangka, perbuatannya tertangkap basah oleh There.


"Apa Kakak ingin mengatakan sesuatu padaku?"


"Hem..


Sebenarnya aku ingin mengatakan bahwa malam ini kamu sangat cantik Clare."


There tersenyum mengembang


Bagaimanapun ia begitu bahagia mendengar pujian Jason padanya.


"Maaf aku lupa mengatakannya tadi."


There kembali tersenyum.


Ia merasa ucapan Jason barusan terdengar lucu.


Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di hotel bintang 5 yang begitu mewah dengan b


gaya klasik.


There mengagumi kemegahan bangunan di depannya.


Begitu indah, layaknya istana.


"Kamu sudah siap Clare?"


There menganggukkan kepalanya.


Jason kemudian menekuk lengannya dan mendekatkannya pada There.


There diam sesaat sebelum akhirnya Jason memberikan kode padanya untuk menautkan tangannya di sana.


There perlahan menautkan tangannya pada lengan Jason.


Jason hanya bisa tersenyum puas.


Ia kemudian mengajak There masuk ke dalam hotel.


Saat mereka berdua masuk ke dalam hotel, semua mata tertuju pada mereka.


Tubuh There seketika menegang saat melihat semua orang sedang menatap ke arah mereka.


Menyadari hal itu, Jason membisikkan sesuatu pada There.


"Tenanglah Clare, aku berada di sampingmu. Tidak apa-apa."


Penuturan Jason membuatnya jauh lebih tenang.


Tiba-tiba 3 orang Gadis datang menghampiri.mereka.


"Hai Jason..." ucap mereka satu per satu.


"Hai Valery, Juli dan Frisca."


"Lama tidak berjumpa Jason." ucap Gadis yang satu.


"Iya, kita terakhir berjumpa di Amerika sekitar 3 tahun yang lalu." ucap gadis yang lainnya.


There hanya bisa diam mendengar obrolan mereka. Jason sama sekali tidak menghiraukannya.


Bahkan Jason tidak menyadari saat There melepaskan tangannya dari lengannya.


Kehadirannya tidak berarti apa-apa di sana.


Jason sangat sibuk dengan para Gadis itu.


Lagi-lagi, Jason tidak menyadari kepergiannya.


There begitu sakit hati saat ini.


Jika memang akhirnya seperti ini, mengapa Jason mengajaknya pergi ke acara ini?


Jason bisa mengajak Gadis lain atau bahkan ia bisa pergi sendiri karena akan banyak Gadis yang menemaninya di sini.


Bodohnya dia yang sempat terlena dengan pujian Jason.


There menepi dari keramaian.


Ia memilih berdiri di balkon hotel yang berhadapan langsung dengan dinginnya malam.


There terkagum-kagum melihat langit yang ditebari banyak bintang.


Begitu indah, pikirnya.


Keindahan itu dapat mengalihkan perasaan sakitnya tadi.


"Hai, apa yang kamu lakukan di sini?"


There melihat ke arah Pria yang sedang mendekat padanya.


"Bukankah kamu Gadis yang datang bersama Jason Arthur tadi?"


"Iya."


"Kamu Kekasihnya bukan?"


"Tidak, Kak Jason dan aku tidak ada hubungan apa-apa. Aku hanya temannya."


"Oh benarkah? Sebelumnya aku mengira kamu dan Jason berpacaran.


Pantas saja ia membiarkanmu sendirian di sini, sementara dia asyik mengobrol dengan para Gadis."


Perasaan There kembali menciut setelah mendengar ucapan Pria itu.


"Seharusnya ia tidak membiarkanmu sendirian di sini walau kamu hanya temannya. Bukankah dia yang mengajakmu ke acara ini?"


Ya, ia sama sekali tidak berarti apa-apa untuk Jason. Bahkan ia tidak pantas menerima predikat sebagai "teman".


Kemudian Pria itu mengulurkan tangannya pada There.


"Hai, aku Brayn Alexius. Aku salah satu Pengusaha yang diundang ke acara pertemuan ini."


There membalas uluran tangan itu.


"Aku Theresia Clare Wijaya."


Brayn tersenyum dan kemudian berdiri di sampingnya.


"Baiklah Clare. Senang bertemu denganmu."


Sontak hal itu membuat There melihat ke arah Brayn. Panggilan yang digunakan Jason untuknya.


"Bolehkah aku memanggilmu dengan panggilan 'Clare'?


Aku rasa semua orang pasti memanggilmu dengan panggilan 'There'.


Aku hanya ingin berbeda dari orang lain.


Bolehkah Clare?"


There menganggukkan kepalanya.


"Oh ya Clare, boleh aku bertanya sesuatu tentangmu? Anggap saja sebagai tanda awal pertemanan kita."


"Boleh."


Mereka mulai mengobrol satu sama lain.


Brayn menceritakan sesuatu padanya, begitu juga sebaliknya.


Bahkan canda dan tawa diselipkan di setiap pembicaraan mereka.


Mereka tampak sudah sangat akrab satu sama lain padahal mereka belum pernah bertemu sebelumnya.


Jason menyadari There sudah tidak berada di sampingnya lagi.


Karena terlalu sibuk mengobrol dengan teman-teman lamanya, sampai-sampai ia tidak menyadari kepergian There.


Perasaan bersalah mulai melingkupi Jason.


Ia telah menyakiti There.


Tadi ia sama sekali tidak menghiraukan kehadiran There di sampingnya.


Jason mulai mencari keberadaan There.


Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut acara, namun ia belum menemukan There.


"Clare..." panggil Jason.


Apa There sudah kembali ke apartemennya?


Ia mulai berpikiran seperti itu.


Tidak, tidak mungkin.


Ia begitu mengenal There.


Walaupun dalam keadaan marah sekalipun, There pasti menghubunginya terlebih dahulu.


Jason kembali mencari keberadaan There.


Ia berniat mencari There ke luar hotel.


Namun saat ia melangkahkan kakinya, ia melihat There sedang berada di balkon hotel.


Jason menarik napas lega.


Namun itu hanya sesaat.


Ternyata There sedang bersama Pria lain.


Gadis itu tampak asyik mengobrol dengan Pria itu.


Bahkan tak jarangThere tertawa lepas pada Pria itu.


Jason tidak menyukainya.


Senyuman There hanya untuk drinya saja.


Jason perlahan menghampiri mereka.


"Kita sudah mengobrol banyak.


Apa besok aku boleh menjemputmu saat pulang kantor? Aku ingin mengajakmu pergi ke suatu tempat, yang aku yakin kamu pasti akan menyukainya."


There berpikir sejenak dan kemudian berniat menjawab ajakan Brayn.


Namun saat ingin membuka suara, suara Jason mendahuluinya.


"Tidak, kau tidak boleh mengajaknya pergi."


Jason berdiri di samping There dan menatap tajam Brayn.


"Kenapa aku tidak boleh mengajaknya pergi? Jika Clare tidak menolak, aku bisa mengajaknya pergi kemanapun."


Rahang Jason mengeras saat mendengar panggilan Pria itu pada There. Panggilan yang sering ia gunakan selama ini.


Jason kemudian berdiri tepat di depan There sehingga menghalangi pandangan Brayn pada There.


"Clare Kekasihku, kau tidak boleh mengajaknya kemanapun."


Jawaban Jason sontak membuat Brayn tertawa sekaligus membuat There begitu terkejut.


Harapan macam apa lagi ini?


Mengapa Jason selalu memberikannya harapan yang tidak ada artinya sama sekali?


There memegang erat gaunnya.


Rasanya ia ingin menangis saat ini.


Jason berusaha mengontrol dirinya.


Ia mengeratkan tangannya dengan keras.


Ia tidak suka ditertawakan seperti ini.


"Apa kau sedang bercanda Jason Arthur? Clare Kekasihmu? Aku tidak percaya kau bisa mengatakan kebohongan seperti ini.


Aku sudah mengetahuinya dari awal. Kau dan Clare bukanlah Sepasang Kekasih. Benarkan Clare?"


There kemudian melangkahkan kakinya ke depan sehingga saat ini ia berdiri di samping Jason.


"Ya, aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Kak Jason. Kami hanya teman biasa."


ucap There tanpa sedikitpun melihat ke arah Jason.


"Kalau begitu, aku bebas mengajak Clare pergi kemanapun.


Oh ya, apa kamu menerima ajakanku tadi Clare?" tanya Brayn lagi.


There hendak menjawab ajakan Brayn, namun lagi-lagi Jason menghalanginya.


Kali ini, Jason menariknya pergi dari sana.


Melihat hal itu, Brayn tidak tinggal diam.


Ia melangkahkan kakinya dengan cepat dan kemudian menarik tangan There yang lain.


"Kau tidak boleh membawanya pergi seperti ini Jason."


Jason membalikkan tubuhnya.


Emosinya bertambah saat melihat tangan Brayn memegang tangan There.


"Lepaskan tangannya!" ucap Jason dengan nada memperingati.


Brayn tidak menggubris peringatan Jason padanya.


Kali ini Jason tidak bisa tinggal diam lagi.


Kesempatan terakhir yang ia berikan pada Brayn tidak digunakan Pria itu.


Jason langsung mendekati Brayn dan kemudian memberikan pukulan keras ke wajahnya.


Brayn seketika tersungkur ke lantai. Bibirnya berdarah akibat pukulan itu.


"Kak Brayn.."


There mendekati tubuh Pria itu.


Amarah dan rasa cemburunya bercampur kali ini. Ia tidak suka melihat There perhatian pada Pria lain.


Ia berniat memukul Brayn lagi, namun There menghentikannya.


Gadis itu memegang tubuhnya dengan erat.


"Aku mohon, jangan lakukan itu lagi Kak."


Jason menatap wajah senduh itu bercampur dengan mata yang berkaca-kaca, memohon padanya.


Akhirnya Jason melepaskan tubuh Brayn dan membawa There pergi dari sana.


Saat sudah berada di luar hotel, There berusaha melepaskan tangannya dari Jason.


"Lepaskan aku Kak."


Akhirnya tangannya terlepas dari Jason.


"Aku tidak tahu, apa sebenarnya alasan Kakak mengajakku ke acara ini. Jika semuanya akan berakhir seperti ini, mengapa dari awal Kakak tidak mengajak Gadis lain saja?


There menatap Jason dengan tatapan sangat kecewa.


"Aku tidak marah saat Kakak tidak menganggap kehadiranku tadi. Tapi aku sangat marah melihat Kakak bertindak kasar pada orang lain."


"Clare..."


There meneteskan air matanya.


"Aku mohon hargai perasaanku Kak. Tolong jangan memberiku harapan kosong lagi.


Kalau perlu, mulai saat ini kita tidak usah bertemu lagi.


Aku berharap, kita bisa menjalani hari-hari sebagai orang asing satu sama lain."


There membalikkan tubuhnya, meninggalkan Jason di sana.


Namun saat beberapa langkah, Jason menarik There mendekat kepadanya.


"Aku mencintaimu Clare." ucap Jason pada There.


There menatap Jason dengan penuh tanda tanya sebelum akhirnya sebuah benda kenyal menempel sempurna di bibirnya.


Jason menciumnya.


Bibir itu perlahan ******* bibirnya dengan lembut.


Bahkan Jason menarik pinggangnya sehingga jarak mereka semakin dekat dan ia semakin leluasa mencium There.


Lama berciuman, Jason melepaskan pagutannya.


Kening mereka saling menempel.


Jason mengelus bibir There yang terlihat sedikit bengkak.


Mata mereka saling bertemu.


"Aku mencintaimu Clare.


Alasanku membawaku ke sini adalah ingin memperkenalkanmu sebagai Kekasihku pada semua orang.


Maaf karena pekerjaan kantor yang menumpuk, aku tidak memberi kabar apapun padamu.


Dan maaf juga untuk hari ini. Aku tidak bermaksud untuk melakukannya Clare.


Tadi, aku memukulnya karena aku begitu cemburu dan aku tidak suka dia menyentuhmu.


Kamu memaafkanku Clare?"


There perlahan menganggukkan kepalanya.


"Apa kamu memiliki perasaan yang sama padaku?" tanya Jason lagi.


"Iya Kak, aku juga mencintaimu."


Jason tersenyum puas dan kemudian membawa There ke dalam pelukannya.


Jason mengelus kepala Jessica dengan lembut.


Ia begtiu bahagia saat ini.


There juga merasakan hal yang sama.


Ternyata harapannya selama ini berbuah manis. Pria yang ia cintai juga mencintainya,Hal yang ia cari selama ini.


Jason melepaskan pelukannya.


"Berjanjilah untuk tidak berhubungan dengan Pria itu lagi."


"Aku janji Kak."


Jason kembali mencium There, namun kali ini di kening.


"Gadis Pintar."


Mereka berdua kembali berpelukan.