
Keesokan Paginya.
Ethan keluar dari kamar Sam.
Ia melihat sekelilingnya, tidak ada siapapun di sana.
Sam tiba-tiba masuk ke dalam rumah.
"Kakak sudah bangun?"
Ethan tersenyum pada Sam.
"Maaf Kak karena meninggalkan Kakak di rumah. Tadi aku membantu Kakak merangkai bunga. Sementara Ibu, sedang pergi menghadiri acara Kak."
"Tidak apa-apa Sam.
Ngomong-ngomong, apa Kakak yang kamu maksud adalah orang yang merangkai bunga indah kemarin?"
"Iya Kak. Apa Kakak mau bertemu dengannya? Atau mungkin Kakak ingin melihat proses merangkai bunga itu."
"Boleh Sam."
"Ayo ikut aku Kak."
Samuel menarik tangan Ethan menuju tempat dimana Jessica merangkai bunganya.
Mereka sudah sampai. Namun mereka tidak melihat Jessica di sana.
"Oh, mungin Kakak sedang mengambil persediaan bunga dari rumah.
Kita menunggunya saja disini Kak."
Ethan menatap pemandangan di depannya. Seandainya ia bertemu dengan Jessica, ia akan mengajak Jessica ke tempat ini.
Jessica pasti menyukainya. Gadis itu sangat menyukai pantai.
Tiba-tiba Samuel mengingat sesuatu.
"Oh ya Kak, aku punya sesuatu untuk Kakak.
Sebaiknya kita kembali ke rumah Kak."
"Baiklah."
Ethan mengikuti langkah Samuel. Namun sebelum pergi dari sana, ia sempat membalikkan tubuhnya menatap ke arah si perangkai bunga yang belum kelihatan di sana.
"Ini Kak. Sebelum pergi, Ibu menitipkan ini pada Kakak."
Ethan menatap plastik itu dan kemudian membuka isinya.
Ternyata plastik itu berisi pakaian untuknya.
Ethan tersenyum. Ibu Riana begitu baik padanya.
"Sampaikan ucapan terima kasih dari Kakak untuk Ibu Sam."
"Nanti aku sampaikan pada Ibu Kak.
Cepat ganti pakaian Kakak. Kakak pasti sangat tampan menggunakannya."
Ethan tersenyum dan kemudian masuk ke dalam kamar.
Beberap saat kemudian, Ethan keluar dengan pakaian barunya.
"Wahh, Kakak sangat cocok dengan baju itu. Ibu memang pandai dalam memilih pakaian."
Samuel mengingat sesuatu.
"Kak, aku ingin mengatakan sesuatu pada Kakak."
"Apa itu Sam?"
Samuel tampak ragu mengucapkannya.
"Sebenarnya kita tidak memiliki makanan di rumah Kak. Ibu pergi sejak pagi, jadi tidak sempat untuk memasak makanan untuk kita."
"Hem, tidak apa-apa Sam.
Oh ya, apa kita masih memiliki bahan-bahan masakan di dapur?"
"Masih Kak."
"Baiklah, Kakak akan masak untuk kita berdua"
"Benarkah Kak? Apa Kakak pandai memasak?"
Ethan sebenarnya sedikit ragu, namun ia akan berusaha sebaik mungkin.
Ethan kemudian menganggukkan kepalanya pada Sam.
Mereka berdua pergi ke dapur dan kemudian menyiapkan semua bumbu dapur yang dibutuhkan.
Rencananya Ethan akan masak nasi goreng.
Ethan mengiris bumbu dapur.
Sesekali ia mengusap matanya yang terasa pedih karena bawang.
Samuel menertawakan Ethan yang tampak begitu lucu. Bahkan Ethan terlihat hampir menangis saat ini.
"Apa Kakak yakin ini akan berhasil?"
"Kakak yakin Sam. Kamu harus percaya pada Kakak."
Setelah selesai mengiris bumbu dapur, Ethan memasukkannya ke dalam wajan yang sudah berisi minyak.
Seketika minyak tersebut keluar mengenai tangan Ethan.
Ethan langsung menghindar, namun tangannya kecipratan minyak panas tersebut.
Ethan merasakan pedih di tangannya.
"Apa Kakak tidak apa-apa?"
"Aku tidak apa-apa Sam."
Ethan kemudian lanjut memasak.
Beberapa menit kemudian, nasi goreng buatan Ethan terhidang di atas meja makan.
Walaupun sedikit gosong, namun makanan itu masih layak untuk dimakan.
"Bagaimana? Apa rasanya lezat Sam?"
tanya Ethan saat melihat Samuel menyantap masakannya.
Samuel hanya menganggukkan kepalanya.
Ethan penasaran dengan rasa masakannya. Ia kemudian menyendokkan nasi goreng itu ke mulutnya.
Kurang garam, itu pendapatnya pada masakan yang dibuatnya.
"Tidak lezat ya Sam.
Kalau begitu, kita mencari makanan di luar saja."
"Tidak, tidak Kak. Makanan ini lezat kok Kak.
Lagian, di daerah sini tidak ada yang berjualan makanan."
"Aku bisa menghabiskan semua ini Kak." ucao Samuel pada Ethan.
Ethan tersenyum mendengar penuturan Samuel.
Mereka kemudian menghabiskan semua makanan itu.
Ethan mengoleskan tangannya yang melepuh dengan odol.
Ia melihat sekitarnya, Samuel belum kembali dari tadi.
Kemana perginya anak itu?
Ethan mengambil handphonenya yang berada di atas meja.
Dan tiba-tiba handphonenya mati.
Ethan pergi ke luar rumah. Ia memandagi cuaca yang sangat cerah.
"Apa yang sedang kamu lakukan saat ini Jess?"
Rencananya ia akan pergi dari rumah Sam hari ini. Namun sebelum pergi, ia harus bertemu dengan Riana terlebih dahulu.
"Kakak tidak melihat Ibu dari tadi Sam.
Ibu ada dimana?"
"Ibu pergi pagi-pagi sekali menghadiri acara di desa sebelah Kak."
"Oh, apa kamu sudah makan?"
"Sudah Kak. Kakak tampan yang masak makanan hari ini."
"Apa dia masih di rumah? Kakak kira dia sudah pergi."
"Belum Kak. Aku pikir, Kakak itu pasti menunggu Ibu pulang dulu."
"Tapi aku kasihan dengan Kakak itu Kak. Tangannya tampak terluka saat memasak tadi."
Jessica menghentikan kegiatannya.
"Kakak kecipratan minyak panas Kak.
Apa Kakak punya obat luka bakar?"
"Sepertinya Kakak punya. Kakak akan mengantarkannya nanti padamu."
"Baiklah Kak."
Hari sudah semakin malam, namun Ibu Riana belum kembali juga.
"Kak, aku mandi dulu ya." ucap Samuel pada Ethan.
"Baik Sam."
Samuel masuk ke dalam kamar mandi.
Jessica membawa obat luka bakar di tangannya untuk ia berikan pada Samuel.
Jessica melangkahkan kakinya menuju rumah Samuel.
Jessica masuk ke dalam sana saat melihat pintu rumah terbuka.
Tidak biasanya, pikirnya.
"Sam..." panggil Jessica.
Ethan yang sedang memandang langit dari jendela kamar, langsung mengalihkan perhatinnya pada sumber suara.
Suara itu sangat familiar di telinganya.
Apa saat ini ia sedang berhalusinasi?
Namun saat mendengar suara itu untuk kedua kalinya, ia yakin ia sedang tidak berhalusinasi.
Suara itu, suara yang begitu ia rindukan.
Ya, itu suara Jessica.
Ethan langsung keluar dari kamar.
Ia begitu terkejut melihat kehadiran seorang gadis yang tengah membelakanginya.
Sosok yang memiliki rambut panjang yang tergerai begitu indah.
Gadis itu tampak memegang sesuatu di tangannya.
Jessica tidak melihat Samuel di sana.
Tiba-tiba ia menyadari kehadiran seseorang di belakangnya. Ia mengira itu adalah Sam.
Jessica kemudian membalikkan badannya.
Ia begitu terkejut melihat sosok yang juga sedang menatapnya.
Jessica sontak menjatuhkan obat itu ke lantai.
"Kak Ethan.."
Jessica menutup mulutnya, tidak percaya.
"Jess.." ucap Ethan.
Ethan langsung memajukan langkahnya mendekati Jessica.
Namun sebaliknya, Jessica malah memundurkan langkahnya dan menghindari dirinya.
"Jess."
Ethan ingin mencapai tubuh Jessica.
"Tidak Kak, jangan sentuh aku."
Jessica semakin memundurkan langkahnya hingga ia berada di depan pintu.
Ia kemudian membalikkan badannya dan kemudian melarikan diri dari Ethan.
Ethan mengejar Jessica yang tampak sangat menghindarinya.
"Jess, dengarkan Kakak dulu.."
Jessica langsung masuk ke dalam rumahnya dan mengunci pintu dari dalam. Ia tidak ingin Ethan masuk.
"Jess tolong buka pintunya.
Kakak bisa jelasin semuanya Jess. Kamu hanya salah paham sayang."
Jessica menangis di balik pintu.
Ia kemudian meluruhkan badannya.
Ia tidak menyangka bisa bertemu kembali dengan Ethan di sini.
"Jess.." panggil Ethan dari luar.
Jessica memutuskan masuk ke dalam kamar.
Ia tidak mau mendengar suara Ethan.
Jessica duduk di tepi ranjang dengan mata yang masih mengeluarkan cairan.
Hari sudah semakin malam, udara juga semakin dingin di luar.
Sementara Ethan, ia masih berdiri di sana.
Ia sama sekali tidak akan menyerah sampai Jessica mau bertemu dengannya.
Namun, setelah beberapa jam menunggu, Jessica sama sekali tidak membuka pintu untuknya.
Ethan duduk di kursi yang berada di beranda rumah Jessica.
Ternyata selama ini Jessica berada di dekatnya. Jessica juga sekaligus Perangkai bunga yang Samuel maksud.
Ia sangat sedih saat mengingat tatapan Jessica yang begitu kecewa padanya. Jessica bahkan sangat menghindarinya tadi.
Ethan menundukkan kepala sambil memijit keningnya.
Hal yang ia takutkan selama ini benar-benar terjadi.
Ethan mulai mengantuk, matanya tidak bisa diajak kompromi.
Ethan kemudian memutuskan tidur di kursi panjang itu walaupun masih kurang untuk menampung bobot tubuhnya.
Ia tidur dengan posisi meringkuk seperti bayi.
Sesekali ia menepuk bagian tubuhnya yang terkena gigitan nyamuk.
Ia juga merasa kedinginan. Namun ia sama sekali tidak berniat meninggalkan tempat itu.
Ia akan menunggu sampai Jessica keluar dari sana.