
Sesuai janjinya, Jessica membuatkan Kevin Kue rasa cokelat kesukaanya.
"Bagaimana Sayang? Apa kamu suka??"
"Suka banget Tante", ucap Kevin dengan lahap memakan kue buatan Jessica.
"Pelan-pelan Sayang", ucap Joshua pada Kevin.
"Bukankah dia menggemaskan Pa? Lihat cucumu wajahnya belepotan seperti itu ", ucap Veronica pada Joseph dengan nada terharu.
"Terima kasih banyak Jess", ucap Joshua pada Jessica
"Sama-sama Kak."
"Hei jagoan, sebentar Om membersihkan wajahmu. Kamu tidak akan menjadi anak tampan jika wajahmu seperti ini", ucap Dave menghampiri Kevin dan membersihkan wajah anak itu.
"Om salah, wajahku akan tetap tampan Om."
"Benarkah? Siapa yang mengatakannya padamu?", ucap Dave dengan nada bercanda.
Semua anggota keluarga tertawa melihat tingkah keduanya.
Kevin langsung berlari menuju Ethan yang baru datang.
"Om Ethan yang mengatakannya padaku. Iya kan Om?"
"Tentu saja sayang. Kamu anak yang tampan."
Laurine yang berada di samping Ethan mendekati Kevin dan mensejajarkan tubuhnya dengan anak itu
"Hai sayang."
Kevin tampak tidak suka melihat Laurine, ia kemudian berlari menuju Jessica dan memegang erat tangan gadis itu.
"Sayang, tidak boleh seperti itu. Beri salam pada Tante Laurine," ucap Merry membujuk Kevin.
"Maaf Ya Laurine. Kevin memang seperti itu pada orang yang baru ia kenal. Dulu juga Jessica merasakan hal yang sama."
"Ayo sayang, beri salam pada Tante Laurine." bujuk Merry lagi.
Namun Kevin tetap tidak mau.
Jessica kemudian berdiri di hadapan Kevin dan mensejajarkan tingginya. Jessica mengelus kepala anak itu.
"Sayang, Tante Laurine ingin menjadi Teman Baik Kevin. Nanti Tante Laurine juga akan mengajak Kevin ke taman, sama seperti kita kemarin. Kevin mau kan?"
Kevin menganggukkan kepalanya kemudian menghampiri Laurine dan mencium tangan gadis itu.
Laurine tersenyum melihat anak itu menghampirinya.
"Hai Sayang. Aku Tante Laurine."
"Aku Kevin Tante."
Mereka semua tersenyum melihat Kevin yang akhirnya mau berkenalan dengan Laurine.
Dave kemudian berdiri di samping Jessica kemudian membisikkan sesuatu padanya.
"Apa kamu menjadi pawang anak kecil sekarang?"
Jessica menatap Dave dengan senyuman.
"Kak Dave..."
Mereka berdua saling tersenyum.
Ethan merasakan ada sesuatu yang aneh pada Dave. Cara ia menatap Jessica begitu berbeda. Ia tahu seperti apa sepupunya itu. Ia jarang menaruh hati pada gadis manapun. Seperti yang diketahui Dave juga belum memiliki kekasih walaupun sudah lama di London.
(Apa Dave menyukai Jessica?)
Seketika perasaan aneh menyelimuti Ethan. Ia mulai tidak suka dengan perilaku Dave. Bagaimana mungkin ia bisa menyukai Istri dari sepupunya sendiri. Ethan tidak mengambil pusing apa alasan ia tidak menyukainya, karena ia pikir wajar bila ia mempertanyakan hal itu walaupun dia tidak memiliki perasaan pada gadis itu.
--
Semua anggota keluarga sedang sarapan pagi. Jessica tampak menyuapi Kevin, sedari tadi anak itu tidak mau makan kecuali disuapi oleh Jessica.
"Nenek, apakah aku boleh memanggil Tante Jecika 'Mama' ?" tanya Kevin pada Veronica.
Semua orang terkejut mendengar pernyataan Kevin.
"Sayang, Mamanya Kevin kan cuman satu. Tante Jessica ya manggilnya Tante." ucap Veronica menjelaskan pada Kevin.
"Kalo Tante Jecika jadi Mama kedua Kevin, boleh tidak?"
Mereka semua semakin terkejut dengan penuturan Kevin. Bahkan Ethan menghentikan makannya setelah mendengar hal itu.
"Tante Jessica kan istri Om Ethan Sayang, tidak boleh dong." ucap Veronica.
"Om Ethan, apa Tante Jecika boleh jadi Mama kedua Kevin?", tanya Kevin pada Jessica.
Jessica seketika menatap wajah Ethan. Apa yang akan dijawab pria itu, pikirnya
"Kevin...", ucap Joshua pada Kevin dengan nada sedikit keras.
"Kevin boleh mengganggap Tante Jessica sebagai Mama Kevin, tapi tidak dengan menikah dengan Papa. Tante Jessica kan istri Om sayang."
ucap Ethan mencoba memberikan pengertian pada Kevin.
Laurine tidak suka dengan penuturan Ethan. Tapi ia tahu, pria itu menjawab seperti itu karena sedang berada di depan orang banyak. Ia yakin sebenarnya Ethan juga sangat rela jika harus melepaskan gadis itu menjadi milik orang lain.
Begitu juga dengan Jessica. Ia mengerti apa maksud Ethan mengatakan hal itu.
"Baiklah sekarang Kevin mengerti.
Kevin sangat menyayangi Tante Jecika.", ucap Kevin lalu memeluk tubuh Jessica dengan erat.
Semua orang tahu, Jessica telah mengubah Kevin menjadi anak yang baik. Dulu Kevin merupakan anak yang tergolong nakal dan rewel. Namun sebenarnya wajar saja, karena Kevin tumbuh tanpa perhatian dan kasih sayang seorang Ibu.
Kevin melepaskan pelukannya. Ia meghapus air matanya sendiri. Mereka semua terharu melihat Kevin yang sudah bersikap dewasa.
"Bagaimana kalo kita pergi jalan-jalan setelah ini?"
Joseph bermaksud untuk menghibur cucunya.
"Boleh. Kita harus jalan-jalan dong Kek, Kevin sudah menjadi anak baik sekarang. Kevin mau jalan-jalan kan sayang?" tanya Veronica.
Kevin menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Baiklah semuanya bersiap-siap , karena setelah ini kita akan pergi jalan-jalan ke pantai. Oh ya bawa tenda juga. Kita akan berkemah malam ini.
"Yeayy", ucap Kevin dengan kegirangan.
--
Mereka semua sudah sampai di pantai. Para pria sedang bermain volli, sementara para wanita sedang menyiapkan makanan dan minuman.
Ethan satu tim dengan Dave, sedangkan Joshua satu tim dengan Joseph.
Jessica tampak menonton permainan voli dari belakang. Ia tersenyum melihat tim Ethan yang begitu pandai bermain volli.
Laurine menghampiri Jessica dan berdiri di sampingnya. Jessica teesenyum melihat kedatangan Laurine.
"Dari dulu Kak Ethan dan Kak Dave memang sangat pandai bermain Volli. Wajar kalo tim Kak Joshua dan Paman Joseph sulit mengalahkan mereka."
"Waktu kecil Kami bertiga sering bermain di sini.
Aku beruntung tumbuh bersama mereka. Mereka selalu menjagaku." Laurine menambahkan.
Jessica tersenyum tipis menanggapi penuturan Laurine.
"Kak Dave tidak pernah berhubungan dengan seorang wanita. Bahkan menatap wanita saja dia tidak pernah. Tapi akhir-akhir ini aku sering melihat Kak Dave menatapmu secara diam-diam.
Jessica seketika menatap Laurine. Ia tidak mengerti apa maksud gadis itu.
"Kak Ethan..." ucap Laurine dengan panik.
Jessica mengalihkan pandangannya. Dave dan Ethan bertabrakan sewaktu mengambil bola.
Jessica mengurungkan niatnya, ia kemudian melangkahkan kakinya menuju Dave.
"Apa Kakak tidak apa-apa?, ucap Laurine dengan khawatir.
Ethan tidak menghiraukan Laurine. Ia melihat Jessica yang begitu perhatian dengan Dave, bukan pada dirinya. Bahkan gadis itu tidak menghampirinya sama sekali.
"Kakak berdarah." ucap Jessica dengan nada panik.
"Sebentar Kak, aku akan kembali."
Jessica melangkahkan kakinya dengan cepat untuk mengambil kota obat.
Jessica membuka kotak obat itu dan membersihkan luka Dave.
Dave memandangi wajah Jessica yang sedang mengobati lukanya dengan serius. Ia bahagia melihat gadis itu sangat khawatir padanya.
Ethan masih belum memutuskan tatapannya pada mereka. Hatinya tidak suka melihat pemandangan itu. Ia kemudian memutuskan berdiri sendiri walaupun sebenarnya kakinya sangat sakit. Laurine yang berada di sampingnya bingung dengan sikap Ethan yang mengacuhkannya. Pria itu bahkan meninggalkannya sendirian.
Ethan sedang duduk di suatu tempat. Dia berusaha mengontrol emosinya.
Kemudian ia menyadari bahwa itu hal yang seharusnya tidak membuatnya marah. Ia bingung dengan perasaan aneh yang sedang ia alami sekarang. Ia begitu tidak suka melihat gadis itu perhatian pada pria lain.
Ethan mengambil batu dan melemparkannya ke depan.
(Apa yang telah aku lakukan? Aku bahkan meninggalkan Laurine yang begitu mencemaskanku)
--
Mereka semua sedang makan malam bersama di ruang terbuka.
"Bagaimana keadaan kaki kalian berdua?", tanya Joseph pada Ethan dan Dave."
"Kakiku baik-baik saja Pa. Untung saja Jessica begitu cepat mengobatiku tadi."
Perasaan aneh itu timbul lagi saat Ethan mendengar penuturan Dave.
"Bagaimana denganmu Ethan?"
Ethan hanya diam, tidak menjawab pertanyaan Dave.
Jessica menatap wajah Ethan.
(Apa dia baik-baik saja?)
Ethan kemudian menyadari semua tatapan orang, termasuk tatapan Jessica.
"Aku baik-baik saja."
Laurine hanya memandang Ethan dengan wajah sedih. Ia mengingat perlakuan pria itu tadi siang.
--
Ethan membuatkan tenda untuk dirinya dan Jessica. Tenda mereka terpisah dengan tenda yang lain karena di sana sudah tidak ada tempat untuk tenda mereka.
Sementara Jessica masih bersama Kevin di sana.
"Kevin, tidurlah bersama Papa. Ya sayang?", ucap Joshua pada Kevin
Kevin hanya diam dengan wajah murung.
Joshua menghampiri Kevin
"Sayang... Tendanya sangat kecil, hanya muat untuk 2 orang. Kalau Kevin ikut, nanti Om Ethan dan Tante Jessica kesempitan sayang. Kan kasihan Om Ethan dan Tante Jessica."
"Baiklah Pa.", dengan terpaksa Kevin menuruti keinginan Papanya.
"Ya sudah Pamit sama Tante Jessica."
"Kevin tidur dulu ya Tan", dengan nada tidak rela.
"Baiklah sayang. Selamat tidur", Jessica mengelus kepala anak itu.
--
Jessica menuju tenda mereka, ia melihat Ethan yang tengah memasukkan selimut dan bantal ke dalam tenda.
Kemudian mata Jessica tertuju pada kaki Ethan yang berdarah. Perban yang digunakan pria itu tampak tidak ketat. Ia langsung mengambil kotak obat di dalam mobil.
Jessica melangkahkan langkahnya kembali menuju tenda mereka. Di dalam tenda ia melihat Ethan tengah duduk sambil memegang kakinya.
Ia menghampiri Ethan. Ia melihat kaki Ethan yang begitu banyak mengeluarkan darah. Karena panik, ia langsung di duduk di depan Ethan dan memeriksa kaki pria itu.
"Apa Kakak baik-baik saja?", ucapnya dengan panik.
Ethan tidak menjawab pertanyaan Jessica. Ia begitu menikmati wajah khawatir itu.
Jessica langsung membuka kotak obat dan membersihkan luka Ethan. Ethan merasakan kesakitan saat Jessica menyentuh lukanya.
"Maafkan aku Kak. Aku tidak sengaja", ucap Jessica dengan nada rasa bersalah.
Jessica melihat wajah Ethan yang sepertinya sangat kesakitan.
"Aku janji akan melakukannya dengan hati-hati Kak."
Jessica memberikan Ethan senyuman meyakinkan. Lalu ia kembali membersihkan luka pria itu.
Dave ingin mengajak Jessica ke sebuah tempat indah sebagai ucapan terima kasih karena sudah mengobati lukanya. Ia mengedarkan pandangannya, Ia tidak menemukan Jessica sama sekali. Ia kemudian memutuskan menghampiri Jessica ke tendanya.
Dave melihat tenda Jessica terbuka dari kejauhan. Dia melangkahkan kakinya dengan cepat.
"Jess..." ucap Dave. Dave terkejut melihat Ethan yang juga berada di sana.
Jessica mengalihkan pandangannya setelah mendengar suara Dave memanggilnya.
"Iya Kak?"
Ethan begitu terkejut dengan kehadiran Dave yang mengusik mereka.
Ethan mengetahui apa maksud kehadiran Dave ke tenda mereka, ia langsung memegang tangan Jessica.
Sontak Jessica terkejut melihat tangan Ethan menyentuhnya.
"Istriku sedang membersihkan lukaku. Apa yang ingin kau katakan? Katakanlah.", dengan nada datar.
Jessica mendengar penuturan Ethan dengan rasa tidak percaya.
Dave masih menatap tangan Ethan yang menempel di tangan Jessica.
"Tidak sekarang. Besok aku akan menyampaikannya sendiri pada Jessica.
Aku pergi Jess."
"Baiklah Kak. Hati-hati Kak."
Dave langsung meninggalkan tempat itu. Ia tahu Ethan pasti sudah mengerti maksud kedatangannya.
(Mengapa dia melarang Jessica pergi denganku?)
Jessica dan Ethan saling bertatapan sebentar. Setelah menyadari tindakannya, Ethan langsung melepaskan tangannya pada tangan Jessica dan mengalihkan tatapannya ke arah lain. Bahkan ia bingung mengapa ia bisa melakukan hal itu.
Jessica kembali mengobati luka Ethan dan memasangkan perban pada kakinya.
Luka Ethan sudah selesai diobati, Jessica mengubah posisinya menjadi duduk di samping Ethan.
"Aku akan tidur. Selimut dan bantal tersisa satu. Pakailah bantalnya, tapi kita harus berbagi selimut."
Jessica hanya menganggukkan kepalanya.
Mereka saling berbaring dengan posisi saling membelakangi.
Jessica masih memikirkan perkataan Ethan tadi. Ia begitu tidak menyangka Ethan akan mengatakan hal itu.
Ethan juga sedang memikirkan hal yang sama. Ia sendiri tidak tahu apa alasan dirinya mengatakan hal itu pada Dave di depan Jessica.
(Apa sebenarnya arti dari yang kurasakan ini?)